Rabu, 16 April 2008  BAGI Anda yang pernah mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, sebelum gerbang utama, di sebelah kiri ada museum yang atapnya bagaikan undukan nasi tumpeng, runcing-runcing. Warnanya pun didominasi macam nasi kuning dan hijau daun pisang.

Di dalamnya ada berbagai produk dan barang, berbagai gift yang pernah diterima
oleh Mantan Presiden Almarhum Soeharto dan Ny. Tien Soeharto. Anda bisa menyimak
pernak-pernik kecil hingga barang berukuran besar, seperti tempat tidur dari
batu giok hijau lumut masif, pemberian Sudono Salim (Liem Sioe Liong) itu.
Tempat tidur batu giok itu, pahatan dari sebongkah batu utuh, yang dipahat
secara halus. Sehingga seluruh rantai-rantai di bagian depan dipan, menyatu utuh
dengan konstruksi keseluruhan tempat tidur. Unik. Beratnya pastilah bukan
kepalang.

Sudah tiga belas tahun saya tak pernah lagi masuk ke museum Purna Bhakti pertiwi
itu. Seingat saya ada tiga tempat tidur giok di situ. Selain hadiah Sudono
Salim, sebuah lagi pemberian Probo Sutedjo, adik sepupu Soeharto. Barang lain
yang juga begitu membekas di ingatan, adalah kerajinan kristal, kaca, berupa
balon-balon kristal tipis warna-warni. Ada yang satu kali satu meter, di
dudukkan macam cawan di tas meja. Kerajinan kristal itu pemberian Bill Clinton
dan Hillary, ketika berkunjung ke Indonesia dalam rangka konperensi APEC,
November 1994.

Kini apakah seluruh barang itu masih ada di tempatnya?

Bayangan akan prodok yang ada di Museum Purna Bhakti Pertiwi itu, seakan
melintas di benak saya, ketika membaca Surat Pembaca Kartika Kusumah di harian
KOMPAS. 10 April 2008 lalu. Begini penuturan Kartika, yang bermukim di Ciputat,
Tangerang, Banten, itu:

Hari Minggu, 16 Maret 2008, saya dan kakak mengunjungi TMII, setelah beberapa
tahun tidak ke sana. Kami berdua memasuki pintu I, yang merupakan pintu utama,
dan langsung berhadapan dengan Museum Bayt Al Quran dan Museum Istiqlal.

Ketika kami memasuki Museum Istiqlal, petugas penjaganya berpesan “Awas
hati-hati, Mbak, banjir di dalam.” Saya berpikir sedang renovasi gedung di dalam
museum. Namun tidak disangka dan tidak diduga seluruh lantai di museum Istiqlal
itu dipenuhi genangan air sekitar mata kaki orang dewasa dan AC di dalamnya
tidak berfungsi. Hanya beberapa kipas angin yang tersedia dan itu pun baru
dinyalakan ketika ada pengunjung.

Bagaimana kami akan melihat koleksi benda-benda di dalam museum, sedangkan
keamanan dan kenyamanan di dalam museum terabaikan?

Perjalanan kami lanjutkan dengan mengunjungi Pusat Peragaan Iptek. Saya berpikir
dengan membayar tiket Rp 15 ribu, kami akan menemukan alat-alat peraga iptek
yang menarik, tetapi kenyataannya alat-alat peraga yang kami temukan kondisinya
sangat memprihantinkan. Banyak tombol alat peraga yang rusak dan banyak pula
alat-alat peraga yang tidak lagi berfungsi. Pihak yang bertanggung jawab
terkesan tidak mempedulikan tentang kondisi alat-alat peraga yang rusak, padahal
mereka tahu bahwa ini butuh perbaikan.

Sungguh tragis nasib TMII, yang museum-museumnya tidak terurus dan alat-alat
peraga yang rusak, sehingga tidak berfungsi dengan baik, padahal sangat penting
sebagai wadah anak-anak Indonesia mengenal iptek sejak dini.

Surat Kartika Kusumah itu diakhiri dengan kalimat himbauan kepada pihak terkait
untuk memperhatikan TMII dan museum-museum yang terdapat di dalamnya, agar tidak
sia-sia.

Membaca surat pembaca itu, terara betul secara kaffah alias secara total foot
ball, bangsa ini memang tidak pernah memberi ruang bagi sebuah museum yang bisa
menjadi tempat bercermin betapa grand-nya budaya dan peradaban bangsa ini.
Museum Gajah yang ada di Thamrin, Jakarta Pusat, kendati banyak dikunjungi
turis, cobalah masuk, ke sana apa yang akan Anda rasakan?

Museum Fatahillah di Kota, di sampingnya ada Musuem Wayang – – kini sebagian
sudah dipindah arsipnya ke TMII di Gedung Pewayangan Binakautaman – – koleksi
wayangnya tidak lengkap. Suasana kumuh, berdebu.

Saya perhatikan, hingga kini pelajaran anak-anak sekolah dasar tingkat awal,
masih banyak kalimat yang menuliskan bahwa kebudayaan kita kaya, alamnya permai,
sumber daya alamnya melimpah, orangnya ramah-ramah.

Akan halnya keramahan, cobalah berpapasan dengan orang yang tidak Anda kenal di
Jakarta. Ucapkan selamat siang kepadanya, acap kali Anda akan mendapatkan
balasan muka masam. Apalagi jika itu Anda ucapkan kepada wanita-wanita bekerja
di bilangan segitiga emas Jakarta, yang sedang keluar makan siang di kawasan
perkantoran itu. Jika mereka ada berdua, makin berani dia bukan cuma memelototi,
juga bisa berujar, “Gatal elo ya?”

Coba deh!

Lain hal misalnya, bila Anda berjalan-jalan di kota Roma, Italia. Anda ucapkan
ke siapa saja yang berselisih, Good Morning, Bonjourno, mereka umumnya membalas
ramah salam kita. Gadis-gadis cantik sekalipun, tidak sombong, membalas santun
dengan hormat, lalu berjalan dengan cepat. Setidaknya itu saya rasakan pada 1992
lalu ketika pertama kali ke Italia.

Keramahan yang sama, bukan hanya milik orang kota Roma. Kehangatan lebih saya
temui ketika di sebuah pulau kecil di Murano di dekat kawasan Venesia.
Nenek-nenek yang sedang merajut, ramah menegur duluan. Saya perhatikan rajutan,
persis yang dipakai nenek-nenek di kampung saya, rajutan dari bahan bambu.

Ketika mampir ke rumah seorang perajan kristal di pulau kecil itu, ia
memperagakan pembuatan teko merah, meniup pipa besi panjang, sekilas bak pemain
sulap, potong sedikit, kasih liukan tangkai steko, maka jadilah produk kristal
unik.

“Apa kabar?” kata perajin kristal dalam bahasa Indonesia.

Saya terkejut.

“Jangan kaget, setiap tahun saya berlibur ke Bali,” ujarnya mengusir kegugupan
saya.

Urusan museum, janganlah ditanya bila di Italia, panjang kata bisa
menuliskannya. Karenanya, bila keluar negeri, saya memang berusaha melihat-lihat
museum. Bahkan ke kota Vatikan di tengah kota Roma. Ketika masuk ke dalam gereja
St. Peter Basilika, saya pun tak lupa mengusap kaki patung Simon Petrus, yang
terbuat dari baja perunggu itu. Jempol kaki dan jari tengahnya sudah licin,
rata, karena hampir setiap hari diusapi oleh pengunjung yang datang, pengunjung
yang meminta berkah.

Saya pun kala itu memanjatkan doa. Terasa betul kebesaran agama Katolik di sana.

Sebaliknya kini, jika Anda menanyakan kebesaran agama Islam Indonesia, melalui
museum dan masjidnya, membaca surat pembaca Kartika Kusumah di Kompas itu, yang
timbul hanyalah kesedihan semata. Bayangkan Museum Bayt Al Quran demikian
adanya; becek, banjir, tidak berpendingin ruang. Jangan pula di tanya apa data
dan produk serta informasi yang dapat di lihat di sana?

Namun di balik keprihatinan terhadap fisik museum yang minim, yang membuat hati
miris bagaikan tersayat-sayat sembilu buluh tajam, laku umat Muslim negeri ini
yang belum bisa hidup plural.

Ada kelompok agama yang mengatas namakan agama, merusak tempat-tempat tertentu,
menghujat kalangan tertentu. Padahal bila orang yang beragama itu belajar pada
agamanya, belajar pada kitabnya akan lain jadinya. Agama tak bisa dipakai
sebagai pembenaran menyakiti sesama, apalagi membunuh sesama.

Sehingga berwisata wawasan, berwisata budaya, memang bisa melalui cara
mengunjungi museum-museum, sehingga sebuah bangsa benar-benar paham bahwa
negerinya benar beradab atau tidak.

Karenanya saya selalu mengajurkan kawan-kawan berjalan-jalan keliling Indonesia,
bila perlu keliling dunia.

Ketika di sebuah milis internet, memperdebatkan rencana kunjungan anggota Komisi
Penyiaran Indonesia (KPI) untuk studi banding ke Las Vegas, kebetulan sekalian
melihat pemeran besar industri penyiaran, NAB, bulan ini, saya mendukungnya.
Yang saya sangat heran, selama ini hampir tak terdengar suara KPI mengkritisi
kepemilikan satu atap akan beberapa jaringan televisi, mengkritisi konten
program gossip, menggritisi program kontes cilik. Saya tak paham, apakah banyak
lembaga-lembaga ad hoc yang banyak muncul setelah reformasi kini, layak pula,
dimuseumkan?

HARI ini Indra Jaya Piliang, kolomnis politik dari CSIS menulis kolom di Kompas.
Judul tulisannya Memuseumkan Pemilu.

Usulan bagus.

Sebuah usulan yang layak kiranya diwujudkan. Melalui museum pemilu, berbagai
laku; membuat stiker, kaos, spanduk, selebaran, begitu manca warnanya. Bisa
dibaca berbagai pesan dan janji gombal calon pemimpin di sana.

Heboh.

Berwarna pasti!

Belum lagi dokumentasi foto, video yang tersaji di museum pemilu. Ada rekaman
bagaimana sosok calon seorang gubernur di arena Pilkada yang harus membawa uang
cash melalui sebuah helikopter, untuk mencapai lokasi kantung-kantung suara.

Simak pula bila di dalam museum pemilu itu ada film didokumenter,
dorong-dorongan gerbang DPR, DPRD, yang berpagar besi bagus, lalu roboh, dan
orang-orang yang merubuhkan itu, persis laksana, maaf, monyet, yang menghuyak
kandang. Betapa lucunya.
Sehingga, bukan karena sesama Piliang, bukan karena sesama kelahiran Pariaman,
bila saya kemudian mendukung usul Indra, sosok kelahiran 1972 itu. Hal itu
pastilah sebuah usulan cerdas. Dengan adanya museum pemilu, kita semua bisa
terbahak-bahak di dalam museum, tidak cuma tertawa menonton sri mulat.

Mungkin karena adanya museum pemilu, kolom-kolom pedas macam tajuk yang saya
tulis ini menjadi tak perlu lagi, toh sudah ada museum pemilu yang sangat lucu,
dengan segenap dokumentasinya?

Yang gawat, dalam kenyataan hidup yang kian sulit hari-hari kini, kalangan bawah
pun sudah mengakali mengoplos cabe rawit merah dengan cabe rawit hijau, demi
survival. Ini bukan celoteh saya, tetapi fakta, yang juga ditulis media.

Anda tertawa?

Di tengah hidup kian sulit kini, lebih baik kita memperbanyak tawa. Kesedihan
timbul bila di saat tertawa karena kepedasan makan berlauk dua butir rawit dan
sepotong tempe, lantas lewat pejabat macam Aburizal Bakrie, Menkokesra, yang
menanggapi ibu-ibu tertawa di atap genteng di saat banjir di Jakarta, Januari
2008 lalu. Maka ia akan mengulang kalimatnya, siapa bilang hidup susah, tuh
lihat saja semua masih tertawa-tawa.

Bila hati dan nurani sudah terpisah-pisah di lubuk hati para penguasa trias
politika, semua masalah memang menjadi tidak klop adanya. Persis tidak
tune-in-nya kondisi Museum Bayt Alquran Istiqlal, dengan besarnya jumlah umat
muslim Indonesia, yang, konon, katanya delapan puluh persen lebih itu.

Pada kemana, ya?

Saya membayangkan joke: anak buta bernyanyi balonku ada lima, rupa-rupa
warnanya. Si anak kecil itu menyahut, katanya- katanya. Begitulah barangkali
kata yang bisa menutup tulisan ihwal museum ini.

Iwan Piliang