BELAKANGAN saya sering ke bilangan Pademangan, di daerah ujung jalan Gunung Sahari, ke arah Ancol, Jakarta Utara. Bila masuk ke arah jalan Pademangan Raya, maka, di kanan tampak sebuah kali yang tak mengalir lagi airnya. Konon air itu diam di tempat sejak puluhan tahun lalu. Jika musim hujan tiba, banjir seketika. Air kali meluap.
Luapan menjadi sebuah kenikmatan bagi sang kali agaknya. Ada momen baginya
menumpahkan aliran air yang terus-terusan sarat-mampat. Masyarakat menyebut kali
itu cocok dengan faktanya: Kali Mati. Airnya hitam, butek.

Penghujung tahun lalu, di kiri dan kanan Kali Mati itu, masih banyak ditumbuhi
pohon-pohon keras ukuran besar. Tetapi kini, karena adanya pembangunan pembatas
jalan berpagar besi, pohon-pohon rindang ditebang. Kawasan itu memang menjadi
lebih terang.

Tetapi dengan membabat kayu yang tumbuh sejak puluhan tahun, bahkan beberapa
pohon di antaranya tumbuh sejak zaman Belanda, sangatlah disayangkan. Laku
aparat Pemda DKI yang membabat pohon itu laksana membabat pula sebuah perjalanan
sejarah.

Bila Anda terus berjalan ke arah ujung, maka melewati rel kereta api. Entah
mengapa di setiap pelintasan jalan kereta api, kondisi aspal jalan di negeri ini
banyak terkelupas, berlubang. Di sini selain aspal mengelupas, antara ruas rel
kereta ada lubang dalam. Jalan seakan naik dan turun berbatu. Setelah itu ada
pula pertigaan menghadang. Bila di siang atau petang, macet bukan kepalang

Uniknya, jika di daerah lain di DKI Jakarta kini sudah tidak ada becak – –
angkutan rakyat itu – – di bilangan Pademangan itu, berseliweran tukang becak.
Jadi kesemrawutan di pertigaan, antara mobil, ojek motor, mobil, truk sayur dan
buah yang menuju pasar tradisional di dekat situ, saling berlomba menembus
jalan.

Anak-anak muda , yang dijuluki polisi cepek, turut mengatur jalan. Terkadang
mereka lebih tepat dijujuki penabuh macet. Mereka tak mampu bekerja menertibkan,
Sebaliknya mereka hanya mengacungkan tangan meminta uang receh dari pengendara
yang berseliweran itu.

Bila di malam hari, saya masih melihat beberapa tukang becak yang tidak punya
rumah, tidur melingkar di kursi becaknya. Saya masih bisa menyaksikan keadaan
itu, sebuah situasi yang pertama kali saya lihat ketika pada penghujung 1979,
dua puluh delapan tahun lalu, ketika pertama ke Jakarta, itu kini: Jumat malam,
11 April 2008.

Tepat di Jalan Pademangan II Gang 5, di pojok jalan masuk, tiga orang tukang
becak duduk di pojok jalan. Pandangan mata mereka kosong. Dari bulak-balik ke
lingkungan yang umumnya berpenghuni kalangan keturunan Cina itu, saya perhatikan
saluran got, semuanya mampat. Bau sampah busuk memainkan hidung. Dan si abang
becak yang mangkal itu, karena sudah terbiasa, udara yang mengalir mereka
nikmati laksana mawar mewangi.

Saya tak paham mengapa hingga kini Wali Kota Jakarta Utara, dan Pemda DKI tidak
pernah berinisitif untuk membuat terobosan, mengalirkan air Kali Mati.

Kawasan itu memang lebih rendah lokasi di banding daerah lain. Namun bukan
sesuatu yang sulit, jika pemerintah daerah punya kemauan, memasangkan alat
penyedot atau lebih tepat alat pengangkat air kali, lalu dialirkan melalui pipa
ke ke kawasan pantai yang tak sampai tiga kilometer dari Kali Mati itu.

Sebetulnya teknologi penemuan lokal, kini bisa dipilih. Setidaknya Gubernur
Gorontalo, Fadel Muhammad, kini sudah membeli 16 unit alat pengagkat air, temuan
anak negeri ini.. Alat itu hebat. Dengan teknologi mekanika yang dimampatkan ke
dalam sebuah tabung, terjadi gerakan mekanis otomatis, membuat tekanan tinggi,
memompakan air. Alat ini bahkan mampu menghasilkan energi listrik. Bukan
sebaliknya, alat yang harus digerakkan listrik. Unik bukan?

Jika alat itu dipasang, dan air dialirkan saya menjamin 100% got-got yang mampat
di kawasan Pademangan itu pastilah bisa mengalir semua. Warga bisa diajak
bersama-sama bergotong royong, mengalirkan air got di gang-gang ke Kali mati
yang mengalir itu. Drainase lingkungan akan baik. Bau busuk hilang. Kerawanan
penyakit deman berdarah, yang terus-terusan berulang di DKI, setidaknya dapat
dihindari.

Sayangnya, hingga saya menuliskan hal ini, tak ada yang namanya laku proaktif
Pemda. Areal pemukiman padat itu, dibiarkan semrawut, kumuh, dan masyarakat yang
bermukim kian sesak di lingkungan udara kali dan udara mampat, kotor.

Padahal, jika kawasan satu kelurahan itu bisa dibereskan, bukan mustahil sosok
pemrakarsanya bisa dikenal. Ia menjadi buah bibir. Ia akan bisa dicalonkan
menjadi presiden. Akan tetapi, karir di pemerintah, juga jabatan publik, jabatan
politik di negeri ini, tidak ditanggap dari kemaslahatan apa yang telah
dilakukannya bagi masyarakat. Tidak dilihat dari porto folio manfaat apa yang
telah diberikan bagi masyarakat.

DI SALAH satu gang di Pademangan II itu saya sering berkunjung ke kediaman
Anthony Seger. Sosok pria keturunan ini lulusan fakultas elektro Universitas
Southern California (USC), AS. Ia yang pertama kali memasukkan generasi komputer
canggih Silicon Graphic (SGI) pertama kali Indonesia pada 1980-an akhir.
Kalangan pedagang komputer mengenal Anthony, sebagai sosok yang membawa masuk
Hard Disk bermerk Sea Gate ke Indonesia. Ia pula kemudian mengenalkan pola
penjualan bergaransi, barang rusak, ganti produk.

Sebuah laku berbisnis di dunia komputer yang mengadop langgam berdagang berbagai
produk di AS. Kini Anthony terus-terusan berkutat di pengembangan konten dan
aplikasi.

Jumat malam itu ia bercerita ihwal kedatangannya ke sekolah anaknya di
penghujung semester lalu. Ia duduk di belakang di ruang kelas, menunggu giliran
anaknya dipanggil tampil ke depan kelas. Saat itu seorang anak putri, di kelas
dua SD itu, diminta ke depan. Ibu guru lalu menjelaskan bahwa anak itu belum
bisa banyak hal. Ibunya yang mendampingi diperingatkan.

“Anak ibu tidak lancar membaca. Anak ibu tidak bisa kali-kali. Anak ibu kalau
dikelas suka tidak memperhatikan guru, dikasih tahu suka melawan,” ujar
Anthony menuturkan ulang kalimat sang guru.

Mendengar kalimat itu Anthony berdiri. Kupingnya seakan terbakar.Mukanya merah.
Kendati bukan anaknya yang berdiri di depan itu, ia maju ke kelas.

“Hei ibu guru!. Ibu mau main bulutangkis jangan sama anak-anak.”

“Ibu smes dia terus-terusan, kapan dia bisa memukul bola. Kalau mau
smes-smesan, ayok main bulu tangkis sama saya.”

Begitu Anthony menganalogikan bahwa langgam guru yang sangat tidak tepat itu.

Obrolan Jumat malam itu, memang bagaimana runyamnya kondisi pengajaran dan
pendidikan dasar di negeri kita kini. Pada tulisan Tajuk yang lalu, saya pernah
mengatakan bahwa setiap akhir semester, sebagai orang tua, kita akan selalu
mendengar ujaran pihak sekolah, bahwa anak Anda belum bisa ini, belum bisa itu.

Entah apa yang bisanya anak kita?

Anthony mengalami hal yang lebih dramatis, putera keduanya, entah karena beban
“tekanan” pelajaran sekolah, atau entah karena tekanan guru yang selalu
mengatakan anak-anak tidak bisa, belum bisa, guru-guru yang marah – – guru-guru
yang stress karena beratnya kehidupan ekonomi kini – – anak harus disiplin,
tidak boleh melawan, harus rapi, dan harus lainnya. Selalu harus, wajib, kudu!

Situasi itu membawa psikis kepada laku anaknya. Cara berjalan anaknya, seperti
orang gugup. Tangannya kaku. Ia menjadi kurang percaya diri. Padahal sebelum
masuk sekolah, anak Anthony sosok yang ceria, cerdas dan penggembira.

Anthony mengambil langkah ekstrem. Ia memberhentikan anaknya sekolah kini. Ia
berpikir untuk mengajar sendiri anaknya. Toh kini sudah pula dikenal home
schooling, bersekolah di rumah. Suatu terbosan yang layak dipertimbangkan, bila
sekolah kemudian sudah macam penjajah, yang tidak lagi memberikan pengajar, yang
tidak mendidik.

Suatu hari, isteri saya, kewalahan meminta anak saya menghafal kali-kali di
pelajaran matematikanya. Sejak awal saya memang mengingatkan anak-anak untuk
fokus ketiga mata pelajaran; matematika, bahasa Inonesia dan bahasa Inggris.

Ketika ibunya anak-anak marah-marah, saya datang dengan anjuran:

Kali-kali melulu, kapan belajar membaginya? Saya tersenyum, menyamankan suasana.

Mungkin kemarahan ibu guru di sekolah anaknya Anthony yang menyinggung urusan
kali-kali, juga isteri saya yang pernah marah urusan kali-kali, saya menjadi
nyeleneh berpikir, jangan-jangan dinegeri ini logika bagi-berbagi memang sedang
“dilenyapkan”.

Buktinya, kali mati di Pademangan itu, hingga kini tetap saja kali mati.

Guru di sekolah mengajar seakan mati hati.

Dan orang-orang di pemerintahan daerah kini seakan selalu “kali-kali”
proyek, tanpa mau bagi membagi anggaran untuk sesuatu terobosan berarti bagi
lingkungan, bagi meningkatkan peradaban.

Iwan Piliang