Jumat, 11 April 2008  Ada seorang tokoh yang pada banyak tempo sering  saya kagumi keberaniannya dalam menyatakan pendapat. Bukan hanya di dalam kandangnya sendiri, tetapi di tengah kandang lain yang banyak macan ganas di mana dia terpaksa harus berada.

Sudah lama saya tidak mendengar khabar Tuan Kwik Kian Gie, kemarin di National Library of Singapore (disebut juga sebagai Lee Kong Chian Reference Library, sesuai dengan nama penyumbang sebesar Sing$ 60 juta) berlantai s/d 13 tingkat di 100 – Victoria Street, sesuatu di dalam sebuah buku yang menyebabkan   saya tergugah untuk membuat catatan kecil. Buku itu  berjudul: Dari Ibu Rumah Tangga Sampai Istana Negara, mengenai Megawati Sukarnoputri. Ada banyak tulisan di dalamnya, Kata Pengantarnya ditulis oleh Arbi Sanit. Kwik Kian Gie mebuat Konferensi Pers LitBang PDIP tentang Penilaian terhadap 1 tahun Megawati menjabat menjadi Presiden RI. Isinya amat banyak menanggapi isu politik dan hal-hal lain, yang tuan Kwik ini "mendudukkan" Megawati di tempat yang sesungguhnya. Drs. Kwik Kian Gie selaku Ketua Balitbang PDI membahas banyak masalah di dalam buku tersebut, tetapi yang menarik bagi saya adalah mengenai tuduhan bahwa PDI Perjuangan dibawah Megawati menjadi berantakan dengan keluarnya Sophan Sophiaan, Damayanti dan Dimyati Hartono dari keanggotaan Dewan Perwakilan Rakyat dan PDIP dan dunia politik.

Tanggapannya berbunyi:

Itu bukan habitatnya dan itu adalah sah dan sah saja.

Memang untuk bisa bergerak di dalam bidang politik, untuk bisa menjadi idealis, bisa berjuang untuk kepentingan rakyat, dia harus bisa menghadapi kekotoran karena dunia politik memang kotor. Mengapa dunia politik adalah dunia kotor?

Di dunia politiklah satu-satunya wilayah di mana orang yang sebenarnya tidak bisa apa-apa bisa menjadi penting tanpa bekal pengetahuan dan moral yang memadai.

Asal ngomongnya menarik, walaupun nggak ada isinya yang mengesankan dia bisa menjadi anggota DPR, jadilah dia!!

Sehingga di seluruh dunia, dunia politik adalah dunia yang kotor. Nah, orang yang mulia itu harus bisa berhadapan dengan orang yang kotor, tetapi dirinya sendiri tetap bersih dan teguh. Kalau dia tidak kuat menghadapi yang kotor itu, itu haknya untuk mundur, harus kita hormati.

Tapi bukan politiknya yang salah, bukannya PDI yang salah. Mereka yang tidak kuat menghadapi kenyataan politik yang keras dan kotor. Tetapi kalau ada 3 atau 5 orang yang begitu, tidak berarti seluruh PDIP hancur berantakan.

Saya setuju hampir semua ucapannya di atas. Mengenai hal-hal yang disampaikannya didalam konfernsi Pers di atas, saya yang bukan politikus segan menaggapinya, karena dia mengatakan semua itu sesuai kedudukannya di dalam PDIP. Saya sendiri belum pernah menjadi anggota partai manapun, biarpun ayah saya, Doel Arnowo, adalah tokoh politik sejak tahun 1925an dan anggota PNI 1927. Justru saya melihat kehidupan ayah saya amat gelisah karena politik, di jaman penjajahan belanda dan Jepang telah dipenjarakan  berkali-kali, setelah Proklamasi Kemerdekaan NKRI, beliau bahkan pernah "bertrngkar" dengan teman-temannya seperjuangan dulu. Inti pokoknya adalah beberapa temannya, setelah NKRI, mereka menganut ideologi-ideologi yang diimport dari negeri lain dan agak melupakan bahwa NKRI sungguh-sungguh meminta dan memerlukan perhatian serius dari warga negaranya sendiri. Saya lihat ayah saya berpendirian dan bertindak tidak sesuai dengan pemerintah penjajahan belanda, maka beliau mengalami telah pernah ditangkap, diadili dan dijatuhi hukuman penjara tiga kali, di penjara Kalisosok Surabaya dan di penjara Sukamiskin Bandung. Dari sebelas bersaudara anak-anak ibu dan ayah saya, ada sekitar tiga orang yang kelahiannya tidak ditunggui oleh ayah saya, karena sedang mendekam di penjara, atau di daerah perang gerilya.

Di jaman penjajahan Jepang, sekali lagi beliau mengalami tahanan di penjara oleh Kenpei Tai  sebuah institusi yang paling ditakuti oleh rakyat Indonesia.

Pada masa tahanan penjara ini ayah saya pernah dipukul, meskipun  tidak terlalu keras di kepala beliau dengan menggunakan sebuah  martil oleh salah satu serdadu Jepang, yang melakukannya dengan tertawa-tawa kecil. Ayah saya mengatakan meskipun tidak terlalu keras pukulannya, cukup membuat mata berkunang-kunang dan pusing kepala berkepanjangan.

Hal-hal pengalaman berpolitik di jaman penjajahan itu, kata beliau, memang dilakukan dengan ikhlas dan rela serta penuh semangat keyakinan yang membenarkan tindakannya sendiri dengan nilai  seratus persen, demi kemerdekaan Indonesia. Tetapi ketika beliau mengalami berpolitik di dalam alam kemerdekaan, beliau dua kali bertentangan dengan tingkat amat keras dengan presiden Sukarno, meskipun salah satunya adalah hanya urusan pribadi Bung Karno ketika hendak menikahi Hartini. Sempat satu tahun lamanya atas kemauan kedua belah pihak, Bung Karno tidak mau bertemu dengan ayah saya demikian juga sebaliknya sama-sama tidak mau, yang biasanya pada masa sebelumnya pada hampir setiap minggu satu kali dengan kujungan sosial tidak resmi ke Istana Negara.   

Saya juga melihat kehidupan politik amat tidak menarik dan tidak menyenangkan. Waktu awal pemerintahan orde baru Suharto, ada pembentukan partai baru sebagai fusi dari beberapa partai yang "sejalan" dan dengan seijin penguasa pemerintahan: PDI. Ayah saya dicalonkan oleh PNI di Jawa Timur dan PDI mulai dibentuk. Pemilihan ayah saya disertai dengan kumpul ramai-ramai di rumah kediaman beliau yang tidak pernah sepi dari para anggota  dan juga simpatisan partai baru ini. Kalau dulu, mereka yang datang kentara sekali didominasi orang PNI saja, maka kali ini yang datang ada yang berasal dari banyak bekas partai, orang Katholik, orang Islam dan orang yang agak ke"kiri-kiri"an. Semua dengan ambisi pribadi yang luar biasa banyak jenisnya. Saya, dan tentu saja ibu saya, hanya melihat pembiayaan dan ketenangan rumah tangga tidak seperti biasanya. Sedikit banyaknya terasa terganggu juga.

Apalagi mulai banyak yang datang kerumah untuk ngobrol dan saya amat mencurigai mereka sebagai orang-orang intel dari ABRI serta intansi lain. Simpang siur dan kadang-kadang menjadikan keruhnya pembicaraan yang tak jelas ujung pangkalnya.

Kalau keadaan agak tegang dan panas, datang gerombolan militan, entah bagaimana bentuk dan asal mula pemikirannya, dengan alasan menjaga keselamatan ayah saya, Cak Doel yang mereka "cintai". Saya berpikir dengan diam-diam seperti berikut: mereka ini para militan dan para kader partai serta tokoh-tokohnya itu, sebenarnya sudah bisa atau belum bisa memberi dukungan penuh kepada rumah tangga mereka masing-masing?

Apakah mereka sudah mempunyai dana yang cukup banyaknya untuk menopang dirinya sendiri, dan juga rumah tangga yang telah  menjadi tanggung jawabnya? Menurut pengamatan pribadi saya, sebagian besar masih BELUM. Banyak yang sebenar-benarnya penganggur, tidak mempunyai nafkah apapun, apalagi nafkah yang tetap. Dari pergaulan di luar kalangan inipun, saya pun mengetahui dan melihat hal-hal  yang sama, baik di kubu-kubu massa lain dan partai serta golongan lain yang melakukan kegiatan politik.

Begitulah gambaran oang-orang politik yang keropos di dalamnya. Didalam tubuhnya maupun di dalam sanubarinya dan tentu saja mempengaruhi mentalnya, sekaligus menggambarkan aura yang negative. Dengan mengagungkan tokoh-tokoh panutan mereka, mereka melupakan perlunya menaikkan nilai dan peringkat ilmu pengetahuan serta kepandaian sendiri yang lainnya di dalam  mengisi kehidupan pribadinya. Anda bisa membayangkan bahwa gerombolan politik di dalam PDI maupun PPP maupun Golongan Karya, akan berisi dengan manusia-manusia pemimpi, yang membayangkan kedudukan sebagai anggota dpr yang akan bisa menghasilkan uang untuk pribadinya sendiri-sendiri. Kalau memang tidak ada pemikiran seperti ini, apakah sesungguhnya jawab yang bisa di berikan oleh mereka, kalau ditanya: 'sedang apa mereka berada di dalam gerombolan itu?'

Membela Negara?

Membela terhadap apa dan membela terhadap siapa?   

Bukankah sebelum bisa membela pihak lain setiap orang harus membela, melindungi dan memelihara dirinya sendiri, dan selalu harus konsisten menaruh dirinya sendiri ke tingkat manusia yang bermartabat?  Itu kata saya.

Kalau banyak orang mau dan bersedia serta ingat hal ini, maka keadaan Negara kita tidak separah sekarang. Dunia politik kotor bukan hanya di Indonesia saja, tetapi juga di seluruh dunia. Dunia politik inilah justru yang menguasai pengelolaan Negara beserta pemerintahannya, membelanjakan uang rakyat yang masih msikin dan dalam keadaan susah sepanjang masa kemerdekaan. Semua ini karena tingkah laku kaum politisi yang menurut pendapat Pak Kwik yang nasionalis itu, seperti tersebut di atas !!!

Apa kataKwik Kian Gie tadi?

Mari kita simak kembali isinya yang berupa kata-kata Pak Kwik. Tentunya dengan pergaulannya sekian lama di dpr, pasti amat banyak benarnya isi serta makna yang telah disebutkannya: Di dunia politiklah satu-satunya wilayah di mana orang yang sebenarnya tidak bisa apa-apa bisa menjadi penting tanpa bekal pengetahuan dan moral yang memadai. Asal ngomongnya menarik, walaupun nggak ada isinya yang mengesankan dia bisa menjadi anggota DPR, jadilah dia!!   Itulah kata-kata Pak Kwik yang paling berkesan di hati saya. Padahal bukankah dia sendiri pernah menjabat menjadi anggota dpr????

Kita tidak boleh terlalu lama mengumpat mereka dan menyesali  kesalahan demokrasi dan sistem yang katanya paling baik dari semua yang ada di dunia. Kita harus memperbaiki dan memulai dari diri sendiri, dan membuat setiap anggota lingkungan masing-masing sesanggupnya, bisa menjadi manusia yang bermartabat dan percaya kepada sendiri. Hindarilah tempat kotor yang penuh diisi oleh orang-orang yang kotor dan kita harus mampu untuk segera  menyelamatkan diri sendiri masing-masing. Mereka, para politikus itu tidak bisa lagi diharapkan, sejak jaman dulu sampai sekarang.

Kita boleh bilang agar bersabar menunggu. Tetapi sambil menunggu sebaiknya kita isi dengan perbuatan yang positif. Jangan menunggu kesempatan menggantikan kedudukan mereka.

Ada pepatah yang berbunyi, if you cannot beat them, join them, yang dengan rasa penuh kesedihan, saya harus mengatakan bahwa  itu tidak berlaku di dalam masalah ini. Jangan join them.

Anjuran saya kalau memang anda sudah siap seperti persyaratan Pak Kwik di atas, berbekal pengetahuan dan memiliki moral yang cukup baik, saya silakan!!!

Para politkus yang membaca tulisan ini dan menjadi marah, tidak bisa menerima dan ingin membalas dendam, sebaiknya tarik napas dalam dalam dulu dan merenung. Semedi. Meditasi serta taubat kalau masih sempat!!

 

Anwari Doel Arnowo

Jumat, 11 April 2008 – 10:01:10 AM