Bpk/Ibu/Sdr/i, kawan-kawan milis. Tajuk di bawah ini bentuk dukungan kepada SLANK, jika kelompok ini kemudian diguagat DPR. Selamat membaca, mungkin bisa sebagai teman menikmati singkong goreng di petang hari. Kritik dan saran ke:
iwan.piliang@yahoo.com Selasa, 8 April 2008 JIKA ada ekspor yang tak pernah dibanggakan oleh pemerintah Indonesia kini,
terutama ke negeri jiran Asean, adalah musik. Saya mencari data ke berbagai
pihak, berapa sesungguhnya kaset dan lempingan cakram CD musisi Indonesia
terjual di Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan Korea?

Ya Korea. Di Korea ada sekitar 60 ribu tenaga kerja Indonesia yang resmi, lebih
separuhnya setengah resmi, ilegal. Jika saja 60 ribu yang legal membeli kepingan
CD musik Slank, Peter Pan, Dewa, dan seterusnya, berapa sesungguhnya yang mereka
belanjakan dengan mata uang won? Orang Jepang kini mulai banyak suka musik
dangdut.

Berapa sesungguhnya angka ekspor CD, kaset musisi Indonesia perbulan ke luar
negeri, Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN), tidak punya datanya. Entah
mengapa mereka tak punya. Agaknya karena selama ini sudah terbiasa, yang
dianggap ekspor itu hanyalah barang yang kelihatan saja, seperti sepatu, minyak
sawit dan seterusnya. Musik hanya seakan enak buat dinyanyikan di kamar mandi
saja. Lain tidak.

Pernah dalam sebuah forum indie, musik indie, saya berbicara bahwa seharusnya
negara mensubsidi para musisi untuk belajar bahasa di Inggris, setidaknya enam
bulan. Lalu setelah enam bulan, atau mungkin setahun di negeri orang, lalu
pulang. Kemudian mereka kreatif mengarang lagu dalam bahasa asing itu. Maka
bukan mustahil akan lahir album musik yang dapat merambah dunia. Jika berwujud,
ini ekspor juga kan namanya?

Namun mengusulkan membantu musisi kepada pemerintah, tentulah ibarat laku bicara
kepada tembok. Ribuan unit sekolah dasar saja kini, banyak yang beratap
mengenaskan. Puskesmas dan bantuan susu untuk balita yang kurang gizi, hampir
tak ada lagi.

Ketika Anggun C. Sasmi yang menjajal khasanah musik Perancis, saya selalu
mengulang dia sebagai contoh. Sebagai penyanyi yang merambah dunia. Bagaimana
penyanyi dan musisi lain?

Grup musik marak ke Inggris, bersekolah bahasa, seharusnya kelompok band macam
Dewa yang dipimpin Ahmad Dhani, dengan biaya sendiri, pastilah bisa dapat mereka
lakukan. Dengan setahun di negeri Ratu Inggris itu, misalnya, sudah bisa membuat
lidah mereka cas-cis-cus. Sehingga ketika pulang ke Indonesia, lalu mereka
membuat lagu dalam bahasa Inggris, dan lagu itu masuk ke manca negara. Selain
nama mereka akan melambung di tingkat dunia, pastilah sebagai rakyat kebanyakan
kita bangga dibuatnya.

Sayangnya musisi yang sudah kaya, seperti Dewa, walaupun tetap kreatif
melahirkan album-album baru, lalu disibukkan dengan urusan kekayaan materi yang
masih relatif itu. Urusan pribadi, rumah tangga dan anak-anak kemudian menyita
waktu mereka yang ditingkah oleh laku konten program gossip di televisi. Mereka
akhirnya masuk ke dalam siklus, yang seakan jalan di tempat saja. Paling kita
hanya mendengar rekaman album barunya yang siap rilis. Merambah musik negeri
orang, hanya seakan mengajak mereka bermimpi, apalagi mereka sudah merasa mapan,
merasa dengan pasar Malaysia saja sudah heboh.

Bila kita simak cita-cita musisi kita kebanyakan, pendek saja nafasnya. Seniman
musik pria, dia cuma bercita-cita beristeri cantik, bermobil mewah, bisa beli
Range Rover atau Alphard, berumah gedung di Pondok Indah, Jakarta Selatan.
Sederhana saja jangkauan cita mereka. Belum ada dari mereka yang saya lihat
ingin berumah di sebuah town house yang dekat dengan Hide Park, London macam
mantan menteri ekonomi Malaysia, yang karena berkebun sawit luas di Indonesia,
kini berumah dan berpesawat pribadi di Inggris. Harusnya musisi terlecut juga,
tidak cukup hanya happy kasetnya laku di Malaysia.

SIANG, di medio Maret lalu. Saya melewati kawasan Menara Imperium, Kuningan,
Jakarta Selatan. Tidak seperti biasanya, bila jalan belok kiri, jalur lambat
sepi, kecuali bila ada demo besar di depan kantor Komisi pemberantasan Korupsi
(KPK). Namun hari itu, demo tak ada, tetapi dentuman suara pengeras mengalunkan
lagu-lagu kelompok SLANK.

Saya pikir ayak-ayak wae siang-siang orang demo pakai mutar kaset SLANK, pikir
saya dalam hati. Segerombolan anak muda mengibarkan bendera berlogo SLANK.
Rupanya banyak sekali slanker – – penggemar grup musik itu – – di pinggir jalan.
Mereka teratur, sehingga ruas jalan di depan KPK itu masih bisa dilewati. Saya
tak terlalu memperhatikan.

Ternyata saya kecele. Di televisi petang harinya saya lihat Kaka, dan saudaranya
di kelompok musik SLANK di televisi. Mereka memang bermain musik di gedung KPK.
Konon inilah bentuk dukungannya terhadap KPK memberantas korupsi. Korup sebuah
laku menahun mendarah daging di berbagai lini birokrasi negeri ini, termasuk di
parlemen dan jajaran penegak hukumnya.

Saya terperanjat ketika kemarin Senin petang, 7 April 2008 membaca koran. Badan
Kehormatan (BK) DPR mengeluhkan lirik lagu SLANK mengenai pemberantasan korupsi.
Salah satu bagian lirik lagunya, dinilai sangat menyudutkan anggota dewan. Hal
ini menjadi salah satu materi pembicaraan dalam konsultasi tertutup yang
dilakukan Badan Kehormatan (BK) DPR dan Ketua DPR Agung Laksono, di Ruang Kerja
Ketua DPR, Gedung DPR, Jakarta, Senin (7/4).

"Ada Grup Band yang lagi aktif mendukung KPK, membuat lirik yang menyakiti
lembaga. Bunyi liriknya 'DPR tukang buat UU dan korupsi'. Itu akan
ditindaklanjuti lewat Bamus. Ini grup komersial, bukan LSM. Kalau menjual
memojokkan seseorang itu ada hukumnya. Seluruh bangsa di negara ini,
kehormatannya ada di gedung ini. Ini rumah rakyat," ujar Wakil Ketua BK, Gayus
Lumbuun usai rapat konsultasi dengan Ketua DPR, kepada media di DPR.

Saat ditanya, apakah grup band yang dimaksud adalah Slank, Gayuus
menjawab, "Ya". Ketua BK Irsyad Sudiro menambahkan, pihaknya tengah melengkapi
bahan-bahan berupa kaset dan rekaman, serta meminta pertimbangan komisi hukum
(Komisi III) DPR, apakah layak untuk ditindaklanjuti secara hukum. "Kita akan
minta pertimbangan apakah ini termasuk menistakan lembaga dan layak
ditindaklanjuti, -" kata Irsyad.

SAYA membayangkan wajah Irsyad Sudiro, ketua BK DPR. Bicaranya pelan. Orangnya
santun. Ketika pernah tampil di PRESS TALK QTV, program talk show sejam yang
saya pandu, membahas urusan dana BI ke anggota dewan, Februari 2008 lalu, tampak
sekali ia bicara lurus-lurus saja. Untuk urusan berkelit, Gayuss sebagai wakil
BK, lebih bisa.

Ketika di suatu sore mampir ke rung kerja Irsyad di DPR, ia memberikan setumpuk
buku. Sebagian besar membahas urusan agama, etika. Kala itu ia baru saja shalat
ashar. Pikiran jahil saya membuat hati saya bertutur, kasihan sekali Irsyad yang
baik, ditempatkan sebagai Ketua BK DPR oleh partai Golkar, sementara harus
mengurus segala laku dan tindak tanduk anggota dewan yang melenceng.

Saya melihat di balik kesabarannya, Irsyad sesungguhnya, setuju-setuju saja
dengan seluruh kritik media, kritik masyarakat kepada DPR. Ia hanya menekankan
jika ada laku korup di DPR, “Saya dibantu mendapatkan data tertulis.”

Kali ini bukan data tertulis yang didapat BK DPR. Tetapi sebuah kaset berupa
lagu kritik, laku korup di DPR yang didendangkan SLANK. Saya tak paham, bila
para anggota dewan itu kini menjadi meradang. Bukankah lagu itu enak saja
didendangkan di kamar mandi?

Karena ego dan gengsinya disentuh sebagai anggota dewan, membuat mereka pun
lupa, bahwa sebentar lagi mereka berebutan butuh musisi,berebutan butuh
penyanyi, toh sebentar lagi kita akan memasuki era kampanye Pemilu.

Jika kemudian SLANK juga diobok-obok DPR, walaupun saya bukan Slanker, saya
bercita-cita mengantungi bendera Slank, lalu mengajak Irsyad Sudiro berpura-pura
rekaman gambar Press Talk di QTV, yang di studio SWARA itu, lokasinya di depan
ruang rapat komisi V DPR. Tetapi sesungguhnya, saya akan “menculik” Irsyad, lalu
mengajaknya naik ke atap gedung bundar DPR, dan kami mengibarkan bendera SLANK
berdua.

Sia-sia kata berpanjang-panjang menuliskan laku anggota DPR kini.

Hidup SLANK.

Hidup Rakyat!

Iwan Piliang