Jumat, 08 April 2008 Sudah tiga minggu lamanya atau sebentarnya, berdua dengan istri, saya tinggal di Singapura. Ijin tinggal sudah hampir habis yakni nanti tanggal 8 April 2008, kalau tidak saya mohonkan visa baru pada tanggal 2 April yang lalu. Saya sudah lumayan mengenal serta tahu banyak soal Negara Kota Singapura, meskipun saya sudah beberapa tahun terakhir ini saya tidak tinggal lebih dua hari di Singapura kalau kebetulan sedang  mampir, jadi kurang memahami apa saja kemajuan mutakhir yang terjadi.

 

Saya sudah puluhan kali datang ke Singapura sejak yang pertama kali pada tahu 1969, yakni  hampir 40 tahun yang lalu. Saat ini Singapura yang makmur dan kaya raya, termasuk sepuluh besar negara terkaya di dunia, benar-benar telah berusaha menyejahterakan rakyat semampu  mungkin. Dengan kasat mata memang saya melihat bagaimana baiknya kehidupan rakyat diatur dan dikelola. Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bagus, sedang dan jelek toh ada dimana-mana. Di Australia ada, di Eropa ada, di Amerika ada, di manapun juga ada  tergantung kita sendiri mau apa. Mau melihat keadaan bagusnya, melihat keadaan sedangnya, dan melihat keadaan jeleknya, itu semua tinggal klik saja tombolnya yang berada di dalam hati kita. Karena itu kalau saya menulis sesuatu mengenai negeri lain, atau  mengenai orang lain, maksud saya yang utama  adalah mengajak agar semua orang justru meniru dan mencontoh (menyontoh?) yang baik untuk kita dan yang kurang serta yang tidak baik agar untuk menjadi pembelajaran kita, dan tentu saja tidak menirunya sama sekali.

Saya bisa memberikan conto: Singapura menjadi kaya karena antara lain adanya uang terpendam dan diselimuti oleh penutup yang canggih. Uang? Iya.

Antara lain Uang BLBI, uang haram lain, berkumpulnya para koruptor Indonesia yang bermukim di sini.

Bercokolnya petualang-petualang yang memiliki perusahaan-perusahaan fiktif, tetapi yang telah terdaftar dengan resmi sebagai perusahaan bonafide di Pertamina serta badan usaha milik negara seakan-akan  usaha model lain yakni: BUMS (Badan Usaha Milik Saya Sendiri saya sendiri saja).

Sebagian besar usaha seperti ini menggunakan uang yang sungguh-sungguh akan tetapi sesungguhnya adalah Hak Rakyat Indonesia.

Mendengar saya ungkit masalah ini, sebagian pejabat pemerintah Singapura pasti akan membantahnya dan merasa tidak senang. Tuan Goh Chok Tong juga pernah membantah keberadaan uang para penyeleweng uang BLBI. Tetapi pemerintah Singapura jelas-jelas telah membiarkan para tertuduh dan tersangka BLBI itu tetap  tinggal di Singapura, bahkan sudah banyak yang telah menjadi Permanent Resident atau malah warganegara Singapura. Telah terjadi banyak diskusi dan tukar-menukar dalam jumlah jutaan kata-kata mengenai extradisi dan suaka yang menyangkut penjahat ekonomi asal Indonesia dengan negara kota Singapura, akan tetapi tampak dengan nyata Indonesia telah tidak  mampu mengurusinya. Baru-baru ini ada kesepakatan antara kedua pemerintah, antara lain disebutkan bahwa pemerintah negara Singapura telah menyatakan tidak keberatan apabila dilakukan penindakan langsung terhadap siapapun warga Indonesia yang berbuat sesuatu yang melanggar dan bermukim di Singapura, tetapi disertai dengan syarat: asal mereka belum Permanent Resident ataupun Warganegara negara Singapura. Mungkin dalam mengutip bagian ini kurang lengkap dan kurang teliti, terutama sekali karena selain bukan ahli hukum, saya memang hanya mengandalkan ingatan sendiri saja.

Sekitar lebih dari tigapuluh tahun yang lalu, seorang jaksa pada suatu pagi, bersama-sama makan pagi dengan seorang buronan kejahatan ekonomi, di Hotel Cockpit di Singapura, mereka tampak kenal akrab satu sama lain.  

Kata sang Jaksa: "Anda lekaslah balik pulang ke Indonesia dan menyelesaikan kasus dan perkara anda yang ada di sana". Sambil menelan makanannya sang tersangka dengan ringan menjawab:

"Wah begitu mendarat di lapangan terbang dan saya turun dari pesawat terbang, Bapak pasti sudah menungu dan saya ditangkap. Ciaklat itu namanya" Mereka berdua lalu tertawa hahaha dan sang Jaksa tertawanya masam.

Hal itu karena dia tidak bisa berbuat apapun jua. Oleh karena saya bukan ahli hukum, jadi pantaslah saya juga tertawa masam juga.

Numpuk deh disini macam-macam masalah kejahatan ekonomi dan segala macam sangkutannya.

Bisa terdengar juga bahwa uang BLBI dan semua kejahatan yang dituduhkan dilakukan oleh orang Indonesia yang ada sangkutannya dengan negara ini, bukan seberapa apabila dibandingkan dengan seluruh kekayaan negara Singapura sendiri. Jumlah uang tersebut tidak punya pengaruh kalau misalnya dikeluarkan dari Singapura. Pertanyaan saya sungguh amat simple-sederhana. "Mengapa hal tersebut tidak dilakukan saja agar supaya hubungan antara kedua Negara bisa setara dan baik seterusnya di masa depan?" Saya melihat tidak ada kesulitan kalau dilaksanakan, tetapi memang saya tidak melihat itu, karena saya memang bukan seorang ahli hukum dan terutama sekali saya ini  bukan pula seorang politikus.

Tanah dan pasir yang menimbuni pantai-pantai Singapura, juga  termasuk yang dipakai dan digunakan waktu pembangunan Bandara Changi, banyak yang "berhasil" telah didatangkan dari daerah Riau (daratan dan atau kepulauan). Saya tidak tahu apakah ini semua sudah melalui prosedur yang benar dan legal atau belum? Apakah memang  Indonesia telah menjual tanah/pasir dan airnya? Tanah air?

Yang telah ditimbun itu sekarang telah menjadi daerah kelas satu, karena yang namanya Beach Road saja sekarang sudah jauh  letaknya dari pantai. Padahal pada tahun 1822 Sir Stamford Raffles telah menetapkan bahwa pantai di Beach Road itu digunakan untuk beberapa rumah khusus orang asal bangsa Eropa (Inggris), berupa sekitar 20 buah bungalow dengan halamannya yang luas-luas. Sekarang ternyata jalan yang membatasi pantai dan kota itu telah mejadi hanya kenangan saja karena telah direklamasi dengan menggunakan tanah dan pasir asal dari antara lain: Riauw.

 Conto-conto di atas adalah kalau didasari pikiran "negatip" yang berkecamuk di dalam pikiran saya kalau sedang "MINUS". Kalau sedang "PLUS" atau bagus saya bisa saja mengatakan: Kapan ya, kita yang asal Indonesia bisa meniru manajemen kota negara seperti Singapura? Pemimpinnya hidup sejahtera tanpa perlu korupsi, karena undang-undangnya ada dan selalu ditaati oleh semua lapisan masyarakat di negara ini?

Oleh masyarakat yang orang-orangnya asal China, asal India dan asal Malay. Indonesia kan menghadapi juga problema-problema yang sama, bukankah  seharusnya mampu dan bisa juga untuk meniru yang baik seperti ini?

Singapura tidak ada koruptor? Kalau dicari pasti ada saja, sedang warung makanan India pinggir jalan saja, ada yang mencantumkan  sebuah tulisannya dengan jelas terpampang: NO TIPPING PLEASE. Wah, pakai please lagi. Memang dengan melihatnya kita seakan-akan bisa merasa berada di dunia lain. Koruptor yang sekarang ada di Singapura itu banyak, tetapi bukan mustahil bahwa para anggota komunitas para koruptor di Singapura itu didominasi oleh orang-orang asal Indonesia. Masya'allah …..

Sekarang ini Singapura mengahadapi kesukaran yang tidak terlihat oleh banyak orang. Kejadiannya juga aneh, apalagi seperti saya sebut di atas, Singapura adalah negara kaya. GDP per Capita adalah US$30.900 ( Data CIA World Factbook 1 Juli 2007), tetapi menurut Department of Statistics Singapore yang di update pada tanggal 14 Februari tahun 2008 untuk GDP at Current Markets adalah Sin$ 52,994 dan US$ 35,163 , negara kita Indonesia adalah US$ 3,800. Ada kesukaran yang sedang dihadapi oleh Singapura pada saat ini, yakni: mengalirnya keluar tenaga-tenaga berpotensi keluar negeri Singapura yang terkenal dengan sebutan Brain Drain. Ternyata kemakmuran dan kehebatan mengelola negara dan pemerintahan, tidak mampu dapat menghambat yang satu ini: kaburnya tenaga-tenaga muda.

Yang pergi belajar ke luar negeri banyak yang tidak kembali karena bekerja di negeri lain, bahkan juga karena menanggalkan kewarganegaraan negeri asalnya.

Memang mengagetkan orang termasuk sang Pedana Menteri.  

Dalam pidatonya mengenai pembaruan politik di dalam negeri hal ini disinggung oleh Tuan Lee Hsien Loong , sang Perdana Menteri Singapura. Berita koran The Staits Times tertanggal 8 April 2008 di halaman 21, membicarakan cukup panjang mengenai hal yang bersangkutan dengan masalah ini, menggunakan judul Ins And  Outs Of Talents – Datang dan Perginya Talenta. Disebutkan sebagai conto adanya seorang tenaga yang berbakat ketika lulus sajana strata satu di negeri lain, langsung tidak pernah pulang kembali ke Singapura. Kalau saja yang seperti ini masih mau mempertahankan kewarganegaraan Singapuranya, hal itu masih melegakan hati pemerintah. Tetapi sudah ada yang menanggalkan kewarganegaraannya dan hal ini diberi kategori sebagai sebuah nilai kerugian (loss) bagi Singapura. Sang Perdana Menteri juga mengimbau agar semua pihak dan masyarakat negara Singapura ikut memikirkan bagaimana Singapura menjadi tempat yang menarik (tempting and  alluring a place) sehingga orang akan senang bekerja, bertempat tinggal dan berkarir untuk masa depan  bersama keluarganya. Untuk mengatasi hal ini maka People's  Action  Party telah menebar jaring-jaringnya lebih lebar ke luar negeri mencari bakat terpendam di antara mereka, agar dapat dibujuk untuk kembali ke negaranya dan bekerja di dalam bidang pemerintahan agar ada keseimbangan tenaga kader partainya.

Sudah lama kita, baik pemerintahan negara maupun dunia usaha Indonesia telah dipinteri dan dibodohi oleh orang lain, oleh  pemerintahan lain dan oleh negara lain. Pada suatu waktu, sekitar tiga puluh tahunan yang telah lalu, ketika saya sedang menggeluti dunia dagang, saya pernah diberi cerita oleh seorang keturunan China kenalan saya yang bertemu di Singapura sini, bahwa kalau ada seseorang bisa menipu seseorang lainnya, maka si penipu akan tidak dimusuhi oleh kalangan pedagang waktu itu.

Si penipu pasti akan diberi predikat seorang yang liehay-pandai, seorang yang hebat dan patut diacungi  jempol serta ditepuktangani  beramai-ramai. Itu materinya, tetapi masalah mentalnya, masalah kelakuan dan perangainya sebagai penipu itu lain sekali urusannya dengan dunia legal.

Tindak tanduk dalam dagang, tidak dapat disama-pandangkan dengan tindak tanduk dalam masalah legal, karena itu menyangkut peraturan dan undang-undang yang berlaku di mana penipuan itu telah dilakukan.

Urusan hati nurani itu adalah bagian hidup pelaku dan mengenai urusan dagangnya adalah murni soal dagang. Urusan yang menyangkut bidang hukum tidak boleh dicampur adukkan.

Hukum itu harus berdiri secara tersendiri.

Tidak semua manusia dapat menerima pendapat yang disampaikan oleh bapak tua keturunan China tadi, seorang yang telah makan asam garam kehidupan dan penuh pengalaman hidupnya.

Saya kadang-kadang melamunkan hal ini dan saya tambahi dengan khayalan sendiri yang berlanjut-lanjut seperti berikut.

Mungkinkah ada seseorang yang kaya saat ini yang berkata dalam hatinya: "Aku telah tipu kau semuanya, kamu dan kamu serta kamu juga. Semua telah kutipu!! Aku memang seorang yang liehay!!!" Mungkin banyak juga ya yang seperti itu di antara para pelaku kejahatan ekonomi, apalagi para pelaku kecurangan yang terjadi karena BLBI?? Haha.

Menggelikan juga, tetapi sekaligus menyedihkan.

Saya juga tidak habis pikir, dengan konsep dasar seperti apa, sehingga raksasa seperti Republik Indonesia ini bisa sampai tiba pada titik ketidak-berdayaan terhadap Singapura yang liliput? Mengapa banyak hal kita tidak bisa berdikari, akan tetapi amat tergantung dengan Singapura.

Saya pernah diberitahu, memang sudah lama sekali kejadiannya, bahwa sayuran import asal Brastagi, Sumatera ke Singapura, telah dinaikkan "mutu"nya dengan jalan menggunakan proses tertentu untuk nilai tambahnya, yang kemudian diberi label processed so and so in Singapore, malah diimport kembali ke Indonesia.

Oleh siapa dan untuk siapa? Oleh perusahaan catering yang supply makanan ke camp-camp perusahaan minyak asing untuk para karyawannya terutama yang berada di daerah terpencil, misalnya yang di offshore drilling rig-anjungan  pengeboran lepas pantai. Apa sebab bisa diijinkan praktek seperti ini? Apa mungkinkah pemerintah tidak tau? Rasanya kita tidak boleh berpikiran seperti itu, karena yang seperti itu bisa disebut sebagai tindakan menghina pemerintah kita sendiri. Siapa sih yang memberi tau saya? Ya, salah satu pemilik usaha yang  seperti itu sendiri.

Salahkah dia?

Saya tidak mau menyalahkan dia seratus persen, dia kan pedagang, jadi tidak bisa diberi label cap tidak bermoral, oleh karena dia melakukannya dengan legal.

Yang mengherankan adalah, sekali lagi: mengapa pemerintah kita tidak melakukan antisipasi dan pelarangannya!! Tahu dan tempe pun telah pernah dilakukan dengan cara seperti itu, diekspor dan diimpor kembali. Itu adalah sejarah bukan fiksi!!

Sama-sama makan nasi sehari-hari, sama-sama menempuh pendidikan universitas, sama-sama bisa dua bahasa, tetapi manusianya tidak bisa sama. Yang satu berdisiplin dan yang lainnya kurang berdisiplin. Yang satu menyembah Tuhannya dan yang lainnya juga menyembah Tuhannya sendiri. Yang satu berpenghasilan sepuluh kali lipat dari yang lain, yang satu sopan yang lainnya cekak aos–serba singkat padat, kata kerennya yang digunakan adalah efisien. Negeri satunya boleh dibilang hanya batu karang sedang yang lain bertanah subur dan makmur. Lalu kita ini maunya bagaimana? Seharusnya bisa kita mencari sebab-sebabnya dan malah mungkin akan menghasilkan keuntungan bagi negara dan bangsa kita. Saya melihat setiap hari di Singapura amat banyak pekerja-pekerja bangsa asing, dari pekerja swasta pedagang maupun pekerja kasar terutama di bidang konstruksi. Golongan terakhir ini didominasi oleh mereka yang asal ras India. Orang asal Malaysia sedikit, meskipun kadang-kadang dengan yang asal dari  Indonesia saya juga bertemu muka, tetapi kalah dalam jumlah bila  dibanding dengan orang-orang India tadi. Jadi apa pasalnya? Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dalam bahasa Melayu? Atau ketrampilan dalam bekerja di bidang konstruksi? Ini semua adalah tanggung jawab Departemen Tenaga Kerja untuk mengidentifikasinya.

Demikianlah dari segala gagah perkasanya sebuah negara, dari sedemikian kayanya negara tersebut, masih ada kelemahan-kelemahan yang akan bisa dimanfaatkan bagi keuntungan negara Republik Indonesia.

Apa yang harus dilakukan?

Kalau kecerdasan dan cara berpikir sudah sepadan, maka yang harus ditingkatkan adalah kedisiplinan diri, kesetiaan kepada rasa nasionalisme Indonesia dan kejujuran yang harus keluar dari hati sendiri. Kita, dalam menyikapi hidup seperti itu, tidak harus ikut  mencurangi (menyurangi?) orang lain atau pihak lain.

Bekerja selalu di dalam lingkup yang legal sehingga memenuhi syarat untuk bisa disebut sebagai orang atau pihak yang liehay.

Bukan sebagai orang dan pihak yang suka menipu.

Biarkan orang lain menipu, jangan membalas dengan cara menipu pula, nanti penipunya akan menjadi dua orang atau dua pihak.

Kalau seperti itu jadinya, maka dunia nanti penuh penipu.