Rabu, 2 April 2007   SENIN 18 Maret 2008 pukul 09.30 di Villa Nusa Indah, Jati Asih, Pondok Gede, Jakarta Timur. Mobil Daihatus Espass abu-abu B 2519 FC, sudah berisi sepuluh anak, yang hendak pulang sekolah. Di depan Taman Kanak-Kanak Harapan Bunda itu, mesin mobil mati. Nurdin, pemilik sekaligus pengemudi mobil mencoba menghidupkan. Sekali kunci kontak diputar, mobil tidak menyala. Ia mencoba berulang-ulang.


Mobil tetap belum menyala.

Ia mencoba lagi.

Kunci kontak diputarnya.

Lantas api keluar dari bagian bawah mesin.

Mobil cepat terbakar.

Sepuluh anak di dalam mobil panik. Mereka saling mendorong keluar mobil. Warga
sekitar berusaha menolong mengeluarkan. Nurdin, supir sekaligus pemilik,
memecahkan kaca depan, membuka pintu secepatnya.

Keadaan panik.

Api merambat cepat. Dua anak, Benekditus Radityaswara, 6 tahun dan Ezra
Rahadian, 6 tahun, mengalami luka serius. Mereka belakangan keluar, terkena hawa
panas api. "Saya menarik mereka berdua dan warga sekitar ikut membantu," ujar
Nurdin, kepada beberapa media Selasa 18 Maret 2008 lalu.

Kedua korban langsung dibawa ke RS Anak di Jati Asih untuk diberi pertolongan
pertama. Orangtua korban membawa anak-anaknya ke RS MH Thamrin Internasional dan
RS Mitra Kelapa Gading.

"Untuk makan dan minum dibantu ventilator," tambah Sofiah, ibu Ezra.

Sedangkan Vita, ibu Ben, sempat menuliskan ihwal musibah ini di blognya di
internet: www.dunianyavita.blogspot.com. Beberapa kawan Vita, meramaikan milis
dunia-ibu. Ucapan simpati dan dukungan doa serta materil, diberikan.

Isteri saya salah satu anggota milis dunia-ibu. Selama dua pekan ini obrolannya
di rumah selalu mengikuti perkembangan Ben.

Tuhan berkehendak lain. Ben, 28 maret 2008, tepat pukul 12.50 dipanggil oleh
Yang Maha Kuasa.

Hawa panas yang tinggi, telah membuat kerusakan ususnya, sehingga mengganggu
sistem pernapasan dan pencernaan. Luka bakar dalam.

Keesokan harinya, Sabtu 29 Maret 2008, Ben dimakamkan di Pondok Rangon.

Ben sosok ceria, cerdas, lucu. Sebelum hari kepergiannya, menurut cerita Vita,
seakan mengetahui ia hendak pergi. Sering sekali ia memotret dirinya sendiri,
tidak sebagaimana hari sebelumnya.

Ben kini, tentulah di Surganya Allah. Amin.



KETIKA putera pertama kami masih berusia sekitar dua tahun, tujuh tahun lalu,
saya pernah mengikuti acara ibu-ibu di milis dunia-ibu. Pertemuan di sebuah
rumah di bilangan Cinere, Jakarta Selatan. Rumah itu dijadikan semacam club
house, ada kolam renang, bertingkat dua.

Variatif kegiatan ibu-ibu itu. Ada yang belajar origami, ada yang berdiskusi
soal urusan jahitan, atau sekadar menemani anak-anak berenang, sambil kongkow
dengan sesama anggota milis lainnya.

Tidak banyak bapak-bapak yang ikut bergabung. Namanya juga dunia ibu. Namun
karena kami tidak memiliki pembantu, juga tak punya pengasuh, saya menemani anak
kami di saat acara itu. Saya menggantikan popok, menemani berenang, memandikan,
memakaikan baju. Tanpa sedikit pun mengganggu ibunya.

Rupanya laku itu, diamati oleh ibu-ibu yang lain. Sebelum acara usai, saya
mereka beri gelar, “ayah teladan”. Mereka meminta saya ke tengah ruangan, untuk
menerima sekadar kenangan. Isteri saya yang sedang di ruang lain, mendapatkan
ucapan selamat. ‘Wah selamat apa?” ujarnya. Rupanya ia belum tahu atas anugerah
itu..

Menurut isteri saya, Vita juga ikut pertemuan yang di Cinere dulu. Kendati tak
sempat melayat keluarga Ben, kami mendoakan keluarga Ben yang ditinggal
mendapatkan ketabahan, kesabaran.

Berikut penggalan tulisan Vita di blognya, 26 Maret 2008 lalu:

KEEP BENNET IN OUR PRAY ALWAYS.

Saat saat sulit seperti sekarang, benar benar kami merasakan pertolongan dan
campur tangan Tuhan dalam berbagai hal. Saat trombosit Ben drop (sekarang pun
belum naik banyak) begitu banyak tangan terulur untuk menyumbang darah nya,
karena stok darah AB di PMI kosong.

Bantuan moril, materiil, kunjungan dan kata kata yang membesarkan semangat,
membuat kami kuat, Bennet harus sembuh, kami akan berjuang sekuat tenaga, apapun
itu. Namun kembali kami tersadar, semua yang kita miliki adalah titipan Tuhan.

Kapan saja yang Maha berencana berkehendak, itu semua bisa kembali padaNya. 2
hari lalu Ben diendoscopy, luka2 di lambungnya di coutter. Sekaligus pemasangan
selang ke duodenum utk supply makanan tanpa melewati lambung, krn lambungnya
luka dan tidak bisa menyerap makanan. Namun ternyata selang itu tertarik,shg
posisinya di lambung lagi. Ya Allah.......

Mohon kami dikuatkan dalam doa, di gereja, saat sholat maupun pengajian, atau
dimanapun juga titipkan sedikit doa untuk Ben...

posted by Vita at 6:19 AM 54 comments



MOBIL. Sudah sejak lama setiap di jalan, terlebih di tol saya selalu
berkomentar, bagaimana mobil yang sesungguhnya tak layak jalan, tidakm laik
jalan, untuk standar keamanan di Eropa dan Amerika Serikat, di sini dipacu
sekencang-kencang. Beberapa mobil dalam skala minibus macam Espass yang membakar
Bennet, dijadikan angkutan barang.

Sering sekali bila Anda berjalan dinihari di tol Bandung-Jakarta, atau Bogor,
akan mengamati kendaraan itu mengangkut muatan sarat. Ada yang memuat sayur dan
barang dagangan lain. Kendaraan itu bisa dipacu amat kencang, padahal sangat
tidak aman, dan membahayakan kendaran lain.

Jika ada pihak yang mengatakan bahwa tol adalah jalan kematian, bukan suatu yang
berlebihan.

Simak saja kecelakaan dari Februari Hingga Maret 2008, di ruas tol
Bandung-Jakarta, terjadi 150 kecelakaan dengan dua orang meninggal dunia.
Beberapa dari kecelakaan itu, juga berlanjut ke urusan mobil terbakar.

Pada tajuk yang lalu-lalu saya sudah membahas, bagaimana harga mobil yang tidak
masuk akal di negeri ini. Mobil berbahan besi satu ton, yang sesungguhnya untuk
barang, dijadikan mobil penumpang bergengsi dan sangat mahal harganya. Satu ton
besi dimisalkan mahal, sekilogram Rp 8 ribu, maka besinya total baru berharga Rp
8 juta. Ia diberi nilai tambah macam-macam, dijual Rp 80 juta saja per unit,
tentulah sudah sangat mahalnya.

Prakteknya?

Maka, dari dulu saya sudah menggugat ihwal mahalnya harga mobil yang tak
terkira. Mobil pun menjadi simbol status. Kemampuan daya beli masyarakat bawah
yang mencoba masuk menjadi menengah, ya baru di level Espass tadi. Akibatnya,
Anda jangan tanya urusan keamanannya. Body tersenggol sedikit - - tentu bukan
hanya Espass ini, juga merek ini di tataran harga selevel - - penyok.

Bila keadaan kendaraan yang masih terbilang baru, seperti yang ditumpangi
almarhum Bennet terbakar, produsennya tentu tak akan menerima disalahkan. Mereka
bisa saja menyalahkan supir yang tidak mengontrol mesin rutin, tidak menservis
rutin.

Setiap ada peristiwa lain di negeri ini memang selalu ada langgam saling
menyalahkan. Saling menuding. Namun hingga hari ini sistem angkutan massal di
DKI Jakarta dan Indonesia umumnya, tetap belum bersolusi berarti. Apalagi untuk
memikirkan angkutan sekolah yang baik, angkutan sekolah lingkungan yang
manusiawi.

Repotnya, jika kita berharap sebagai warga kebanyakan, harapan itu entah kepada
siapa kita lontarkan. Mereka di trias politika sana, sudah sangat terbiasa,
bahkan agaknya menjadi imun kini, tidak lagi berpikir bagaimana meningkatkan
taraf kehidupan yang lebih baik, meningkatkan peradaban yang bermutu..

Sehingga, perginya Bennet, bisa jadi cuma urusan keluarga, paling sedikit
komunitas yang mengenalnya, bukan urusan hidup kita bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Begitulah kehidupan kita kebanyakan yang kita rasakan dan pikul kini.

Saya, sejak Bennet pergi, setiap hari kini mendengar kekuatiran isteri. Ia
bilang Bajaj yang mengantar anak-anak pulang-pergi sekolah, sudah berumur 23
tahun. Ketika suara Bajaj itu mampir didepan rumah, di saat menyalakan modem
sebuah provider internet, akses menjadi bergelombang, turun naik.

Apakah berpengaruh kepada kondisi syaraf anak yang duduk di Bajaj tua?

Tak mungkin tentu mengharapkan Pemda DKI menjawab pertanyaan itu.

Bajaj baru yang 4 tak itu, harganya kini sudah Rp 60 juta lebih. Siapa yang
sanggup memodernisasi Bajaj Bang Salim langganan kami?

Saya kemudian memang merelakan beberapa kawan yang profesional, kini, hijrah ke
negeri lain, brain drain. Mereka bekerja di negeri orang, lebih dimanusiakan,
di-wong-ke. Lebih pasti, anak-anak ke sekolah, kata kawan yang di Singapura,
menggunakan kendaraan yang manusiawi. Tidak seperti di Jakarta, ke sekolah di
pagi hari ibarat berjubelan, berselingkitan.

Bermobil macam Bennet, juga tak memberi jaminan keamanan.