Sample ImageSakbenere masalah film Fitna itu sudah terang benderang sepertisiang bolong dan semua orang sudah tahu. Wilders itu memang cari gara-gara dan ia memanpaatken ‘freedom of speech’ sebagai tameng dia punya niat jahat.

Dia emang berasal dari partai yang benci samapendatang dan selalu berusaha untuk mencari-cari kesalahan pendatangdari Timur  Tengah yang memang mayoritas beragama Islam. Itu filmsudah dibuat cukup lama dan sudah ditawar-tawarken ke berbagaibroadcast di Belanda tapi tak ada yang mau. Orang Belanda memang memuja ‘freedom of speech’ tapi mereka bukan orang gila.

Ada satu TV Islam yang bersedia dengan syarat Wilders mau berdiskusi denganulama Islam setelah siaran itu. Wilders menolak karena ia tahu bahwaia bakalan kelihatan konyol kalau sampai diajak diskusi sama ulamaBelanda. Lagipula tujuannya memang bukan untuk mencari jalan keluaratau solusi yang melanda Belanda karena masalah imigran Ia memangcuma mau cari sensasi dengan berlindung di balik UU ‘freedom of speech’ negaranya.

Saya mengikuti banyak milis (mulai milis masak memasak sampai milis ramal meramal) dimana Fitna dibicarakan juga tapi tak ada satu punmember waras yang mendukung Wilders. Cuma di Apakabar yang ternyata banyak membernya yang membela Wilders. Nah, silaken nilai sendiri bagaimana hebatnya milis Apakabar ini.

Kalau mau berpikir sedikit waras sakbenere kita akan paham bahwa kalau sampai pemerintah Belanda dan PBB sendiri sampai mengambil sikap menentang Wilders itu artinya perbuatan Wilders itu jelassalah dan bukan satu perkara kecil dan remeh. Dampaknya luas dansemua orang tahu itu (kecuali di sebuah dunia maya yang bernama ‘Apakabar’ dimana penghina agama dianggap sebagai hero dan orang macam Jusfiq dijadikan sebagai guru besar).

Bebek bilang bahwa apa yang disampaikan itu sebetulnya adalah fakta dan kalau awal dan akhirnya dibuang maka sebenarnya tak beda dengan propagandanya para fundamentalis dan merupakan kejadian nyata. Mas Wiro menantang untuk mendiskusikan apanya yang salah dari film Fitna tersebut, mana… mana…. mana? dst…dst…! Ia bahkan keluar dari Apakabar dan masuk ke milis Kompas sekedar untuk unjuk kebolehan berargumentasi. Ketika diblok ia balik kucing dan minta support bolo-bolonya di Apakabar. Laksmi yang memang perasa jatuh simpati dan memberi support dengan menyataken bahwa wartawan Kompas memang banyak yang ndak mutu karena ia banyak kenal dlsb….. Kumplit!

Jika member milis Apakabar yakin betul bahwa Wilders itu sebenarnya tidak  edhan (ed-yan) mari kita gunakan cara Wilders tersebut membuat film seperti ini :

Mari kita kutip beberapa ayat dari PL tentang incest dan perkosaan(di milis ini banyak yang hafal itu ayat-ayat). Shoot jarak dekat dan ucapkan pelan-pelan. Tunjukkan secara nyata bahwa itu kutipan dari Bibel. Masukkan ilustrasi orang-orang pergi ke gereja membawa Bibel di dekapan mereka. Setelah itu cari contoh kasus orang-orangAmbon dan Timor yang tinggal di Jakarta yang kebetulan melakukan pemerkosaan atau incest terhadap anaknya sendiri. Masukkan ilustrasi anak kecil dan wanita yang menangis dan menjerit-jerit ketakutan.Sebelumnya masukkan interviu yang menjelaskan di gereja mana orangAmbon ini beribadah sehari-harinya. Kalau bisa ambil cuplikan ketikaia ikut paduan suara gereja ditambah dengan hubungan dekatnya dengan pendetanya. Cari contoh kasus incest dan pemerkosaaan sebanyak-banyaknya yang terjadi dan dilakukan oleh orang Kristen dan setelah itu beri judul “Bukan Fitna”. Setelah itu sampaikan ke dunia bahwa orang-orang Kristen adalah pemuja incest dan tukang perkosa sepertiyang ada dalam KS mereka. Oleh sebab itu KS mereka patut dibakar(dengan ilustrasi pembakaran buku yang bisa sembarang bukutentunya). Mari kita lihat apakah Mas Wiro, PB, Bebek, Jusfiq, danLaksmi masih membela ‘freedom of speech’ ala “Bukan Fitna” atau tidak.

Bukankah semua yang ada dalam film tersebut adalah otentik semua dantak ada yang dibuat-buat? Kalau salah, mana salahnya? Mana… mana…mana…? Kan film “Bukan Fitna” ini hanya mau menunjukkan fakta danrealita yang terjadi? Alasan seperti yang kita berikan di

Apakabarlah!

Jika Bebek, PB dan Jusfiq masih bisa bersikap ‘obyektif’, ‘fair’,dan ‘coklat dibilang coklat, tahi sapi dibilang ‘bullshit”, makasaya akan minta orang-orang FPI, HTI, PKS dll. minta maaf satu persatu sama mereka. Your turn.

ABB

03.04.2008