Senin, 31 Maret 2008  BEGITU memasuki kamar hotel Guelis di jalan Ir. H. Juanda, Dago, Bandung itu, isteri saya badannya gemetar. Waktu sudah pukul 02.30. Ia tampak shock. Anak pertama kami, Raditya Naratama, yang kala itu baru berumur setahun setengah, dilepas berjalan sendiri ke kamar kecil. Ia punya kebiasaan unik. Setiap menginap di hotel, selalu mencek kamar mandi. Dan bila bersih, ia memainkan kenop air, membuat air WC terbuang berkali-kali. Saya membiarkan Dito – – panggilan akrab anak kami – – sembari terus memeluk isteri.



Badannya tetap bergetar.

Dini hari di Bandung tujuh tahun lalu itu, kami memang mengalami peristiwa
naas, yang sulit dibayangkan ujungnya.

Sekitar pukul 02.00 kami sampai di Bandung. Kala itu jalanan tentulah melewati
Puncak, Jawa Barat. Kami memang belum memesan hotel di malam minggu itu. Mampir
ke hotel langganan di bilangan Dago, ternyata penuh. Saya mencari di seputaran,
mencoba menelepon, hampir semua hotel penuh. Tinggal satu kamar suite di butik
hotel Geulis.

Sembari mencari hotel yang lebih murah, saya memberhentikan mobil kami, VW
Combi Jerman Biru - - keluaran 1979 yang sudah direkondisi - - di seputar jalan
Aceh. Di sana masih banyak pohon rimbun.

Suasana gelap.

Saya tetap menyalakan mesin dan lampu mobil. Dito tertidur pulas di kasur yang
dipasang di bagian tengah mobil - - jok tengah sejak awal kami copot. Isteri
saya duduk di jok belakang, dalam keadaan mengantuk. Kami memang cuma bertiga.

Di saat tangan kanan saya memegang telepon genggam, mendadak sebuah mobil
Suzuki Jimny merah datang dan langsung berhenti menghadang di depan. Empat orang
keluar berpakaian polisi. Seorang bahkan dengan senjata laras panjang. Mereka
langsung berpencar dua di belakang mobil, satu di kiri dan yang di kanan
memerintahkan saya meletakkan hand phone.

Benak saya cepat menangkap ada yang ganjil. Penempatan logo BRIMOB, di baju
sosok polisi yang di kanan saya, ada yang keliru. Pertama bentuk emblimnya yang
dibordir, terkesan asal jadi. Kedua penempatan di kiri di bagian tutup kantung.
Benak saya masih merekam jelas ihwal atribut BRIMOB, sebab ketika pernah menetap
di Pekanbaru 1973-1979, saya tinggal di bilangan asrama BRIMOB, Sukajadi.
Seketika saja kepala dan hati saya sepakat bahwa inilah keadaan tak beres.

Tidak serta merta meletakkan telepon genggam. Saya berpura-pura bicara,
sembari saya ucapkan kata sebentar, kepada “polisi” di kanan saya. Isteri saya
sudah mulai gugup, “Ada apa Ayah?” Saya menjawab tenang ada polisi.

Tangan kiri saya menggerakkan tuas persneling Combi yang panjang, sehingga tak
terlihat dari luar bahwa saya mulai melakukan aksi. Begitu gigi mundur masuk,
saya jalankan kendaraan sangat pelan.

“Polisi” yang di belakang, mengingatkan agar memasang rem tangan, karena mobil
mulai mundur. Kesempatan bagi saya untuk pura-pura mengangkat tuas rem tangan.
Sesungguhnya saya memindahkan gigi dari mundur ke maju. Saya gantung gas. Gigi
satu langsung pindah ke dua. Dengan telah mundurnya mobil, ada ruang bagi saya
bergerak maju ke kanan.

Saya tancap gas.

Keempat “polisi” itu, serempak berteriak

“Berhenti!”

Bersyukur Combi dengan engine double blower itu bisa diandalkan. Isteri saya
kemudian tengkurap sujud bagaikan orang shalat, melindungi Dito yang tetap
pulas. Suara tembakan beruntun. Saya tak memperhatikan ke belakang Mata menatap
ke depan, badan saya bungkukkan, sejajar dengan setir Combi yang lebar.
Ngebut-sengebutnya.

Saya mengintip kaca spion. Mereka tampak mengejar. Jimny mereka tak mampu
bergerak cepat. Kami lalu tembus mendekati kawasan Dago yang masih banyak
pedagang kaki lima. Hati saya mulai tenang. Ada keramaian. Dan Jimny polisi itu
tak terlihat lagi.
Seketika saya putuskan kami mengambil saja kamar hotel Geulis yang kala itu
bertarif Rp 479 ribu - - masih di harga promo, hotel itu baru saja soft launch.

Bisa Anda bayangkan, bila saja saya menyerah di malam naas itu, saya entah di
mana, isteri dan anak di mana….



MINGGU siang di 30 Maret 2008 di restoran Parahiyangan persis di sebelah hotel
Geulis, Dago. Parkir kendaran melimpah. Di bagian kanan ada sebuah spanduk besar
segi empat, promosi Mandiri. Jika Anda membayar memakai kartu kredit di restoran
itu, maka mendapat rabat 50% dari total harga.

Tampaknya laku provider kartu kredit berpromosi kini, memang menggila,
menggiurkan segenap orang untuk memakainya. Jika kemudian pemakai tidak
berhati-hati jebakan “penjara” hutang akan mengungkungi, dan debt colector
bergaya preman siap-siap menakut-nakuti.

Hati-hatilah dengan promosi kartu kredit. Hati-hatilah, pantas atau tidak Anda
memakainya. Tepat guna apa belum? Terutama bagi kalangan marjinal yang belum
berpenghasilan tetap, kudu berpikir sepuluh kali lipatlah untuk berkartu kredit.

Siang itu sekelebat ingatan saya melamun kepada peristiwa naas kami tujuh
tahun lalu. Saya masih terbayang wajah Almarhum Tarto Sudiro, salah satu tokoh
Litbang, PDIP, kala itu. Di malam saya hendak ke Bandung itu, sesungguhnya kami
sudah berangkat dari rumah di Jakarta petang hari.

Namun karena ada janji dengan Kemal Sudiro, putera tertua Tarto, mengobrol
dulu ngalor-ngidur di kediamannya di Cilandak, Jakarta Selatan. Tujuan tak
langsung ke Bandung. Entah mengapa pula kemudian Tarto nimbrung. Dan, seperti
biasa, sosok demokrat itu, bercerita manca ragam, mengajak makan segala,
sehingga baru di pukul 21.30 kami dapat meninggalkan rumahnya menuju Bandung.

Akhirnya berjumpalah dengan “polisi Jimny” itu. Ketika pagi harinya berkumpul
di Radio Os bersama kawan-kawan yang difasillitasi layarkata-network, milis
penulis naskah di internet, dikomandani oleh Yanto prawoto - - kini script
writer untuk Extra Vaganza, Trans Tv - - untuk bincang-bincang ihwal menulis,
saya mencoba melupakan sama sekali peritiwa malam itu. Saya pun tak menceritakan
kepada kawan-kawan Bandung hari itu.

Pukul 17.00 Minggu petang kemarin di bilangan Cigadung, Bandung. Melalui akses
yang dibuka oleh Zen Rosdy Nur, Presiden Diektur PT BIZCom Network, kami
berjanji bertemu dengan Iwan Abdurachman - - akrab disapa Abah Iwan, salah satu
pendiri Wanadri, penggubah lagu Melati dari Jayagiri, sosok sipil yang pernah
belajar militer anti teror ke AS dulu.

Lahan rumahnya 5.000 meter. Ketika kami tiba di kediaman yang rimbun itu, di
salah satu unit rumahnya, ada sekitar 20 orang sedang berkumpul. Rupanya Abah
Iwan dan Rumah Nusantara, sebuah LSM Bandung, sedang asyik dalam diskusi. Dari
dua puluh nama yang hadir, tampak sosok seniman Bandung yang bunyi di antaranya
Herry Dim.

Ketika bersalaman dengan Ipong Witono, yang memimpin Rumah Nusantara, saya
masih ingat akan jabatan lamanya sebagai Ketua HIPMI Jawa Barat. Sudah lama juga
saya tak jumpa dengan Ipong. Terakhir kabar, ketika SBY hendak mencalonkan
presiden RI, lima tahun lalu, peran Ipong cukup dominan di Jabar. Kini saya tak
paham apakah Ipong juga masih mendukung SBY, yang keberpihakannya kepada keadaan
ekonomi rakyat kebanyakan kini layak dipertanyakan itu.

Kami diminta Abah Iwan terlibat saja dalam diskusi. Sekilas saya mendengarkan
obrolan. Abah Iwan memandu. Rupanya mereka akan melakukan aksi bersama dengan
Rumah Nusantara menyiapkan penyelenggaraan ulang tahun ke-44 Wanadri, yang akan
jatuh 16 Mei 2008 mendatang. Rumah Nusantara, kini juga menyiapkan kegiatan yang
memperhatikan pulau-pulau terluar, melalui kegiatan budaya, menempatkan patung
khas Indonesia di pulau-pulau terluar.

“Dari tujuh belas ribu pulau kita, baru sekitar lima ribu saja yang bernama, “
ujar Iwan Aburachman.

Berkumpul dengan tokoh masyarakat dan budayawan di Bandung itu, semacam masuk
ke dunia lain, yang masih berpikir tentang kebangsaan, tentang semangat bela
negara.

Maka tidak berlebihanlah kiranya bila Ipong Witono, didalam blognya di
internet kini menuliskan bahwa Abah Iwan merupakan ikon kota Bandung. Dari rumah
Abah Iwan ini, berbagai kalangan berdiskusi tentang berbagai masalah kehidupan,
termasuk urusan bagaimana sikap terpuji, sikap tidak membeda-bedakan agama
seseorang, sejak lama, misalnya, sudah menjadi doktrin Wanadri - - kelompok
pencinta alam Bandung itu.

Dari sekitar baru 900 orang alumni Wanadri kini, diakui Abah Iwan, banyak
mewarnai kehidupan, “Termasuk adanya juga yang koruptor.”

Abah Iwan tertawa.

Saya membayangkan jika saja semua konglomerat, anggota DPR, DPD, seluruh
pejabat eksekutif, pejabat legislatif, mengikuti pelatihan Wanadri di alam bebas
yang tenggang waktunya mencapai 28 hari. Bisa berwujud-berfaedah kiranya bahwa
seluruh konglomerat itu, misalnya, akan tetap menaruk uangnya di negeri ini.
Tetap berusaha di sini. Tetap bertanggung jawab terhadap dosanya - - jika mereka
memang berdosa. Tetap cinta terhadap Indonesia, yang sejak lama seluruh
penduduknya mereka anggap pasar semata, lebih tidak.

Menurut Zen Rosdy Nur, jika petang merembang, kunang-kunang muncul di di
kediaman Abah Iwan.

Berharap semua elemen bangsa, mulai dari eksekutif, yudikatif, perlemen,
pengusaha kakap terutama konglomerat pengemplang BLBI dan pajak, mulai berpikir
mensejahterkan rakyat kebanyakan di negeri ini kini, ibarat bermimpi melihat
kunang-kunang terbang di Jakarta.

Apakah mereka semua berharap kehidupan ekonomi getir di rakyat kebanyakan
kini, tidak pernah mereka bayangkan meningkatkan kejahataan, lebih jauh
meningkatkan kebodohan - - anak tumbuh kurang gizi. Atau mereka semua memang
berharap jutaan “polisi Jimny” - - yang pernah menembak saya di Bandung, akan
hadir di tengah kita kini, dalam jumlah jutaan, baru semua pada melek?

Begitukah?

Iwan Piliang