Sabtu, 29 Maret 2008 PEDAGANG majalah dan koran di bawah jembatan penyeberangan Blok M Plaza-Blok M Mall, Jakarta Selatan di Jumat petang itu, mengaku tidak menyediakan lagi TEMPO edisi pekan ini. Ada beberapa orang yang memborong, sejak majalah terbit awal pekan.
Keterangan itu cocok dengan email dari Nugroho Dewanto yang dikirim kepada
milis media di internet. Ia mengatakan sulit mendapatkan TEMPO bercover
ilustrasi Jaksa Agung Hendarman Supanji, yang sedang menurunkan foto Jampidsus
dari dinding.

“Tetapi jika mau bayar Rp 30 ribu, saya carikan Bang,” ujar pedagang.

Saya menganggukkan kepala.

Pedagang itu berlari lenyap dari keramaian pedagang kiri-kanan. Ada penjual
aneka macam CD, DVD bajakan, ada pedagang gorengan, penjual eksesori hingga
t-shirt. Sekilas saya melihat dia hilang di balik tenda penjual soto ayam.

Sambil menunggu dan terus celingukan kiri-kanan, hati saya menduga bahwa
majalah yang dicarikan sesungguhnya stock yang sudah diborong seseorang dari
agen. Beberapa yang tersisa, atau sengaja disembunyikan, lantas dijual gelap,
Atau memang sengaja disembunyikan, agar kian menjadi misteri, menjadi isu,
menaikkan permintaan, meninggikan harga.

Kalangan pengecer, agen, terutama, tampaknya sudah biasa dengan laku
pemborongan media itu. Kajadian ini bisa berkah buat mereka. Sehingga ketika
mengkonfirmasikan dugaan kepada pedagang yang sudah datang dengan TEMPO di
tangan, tertawa-tawa saja.
Apa karena ada investigasi soal pengadaan minyak mentah oleh Pertamina yang
terindikasi kolusi dan korupsi itu?

“Iya bang. Orang yang borong saya dengar memang bicara soal artikel itu.”

Menjadi lucu kedengarannya, di alam reformasi, di alam kebebasan pers saat
ini, juga di alam perkembangan teknologi mesin cetak yang sudah sejak lama bisa
memproses art work pra cetak langsung turun ke mesin cetak tanpa membuat film,
ada saja tangan yang berlaku konvensional menjalankan strategi menutup
distribusi dengan cara memborong majalah.

Bukankah laku demikian ibarat menebar garam ke lautan?

Saya berjalan ke arah Blok M Mall, menyeberangi jembatan.

Seperti biasa, jembatan penyeberangan itu setengahnya dipenuhi jejeran lapak
pedagang. Macam-macam jualannya. Mulai dari sandal jepit, jepit rambut hingga
tas. Hari itu ada tas ransel warna-warni yang berlapis jaring macam net dari
benang putih atau hitam. Serombongan anak berseragam biru putih, tampak
bergerombol di tempat penjual. Beberapa tas tampak digatung di tiang penyangga
atap penyeberangan.

Kendati ramai, lalu lintas orang yang melewati area ke arah terminal bis tidak
sepadat jika ekonomi meriah. Pedagang di kios-kios kecil, hanya tampak menikmati
dentuman musik dari CD player, yang antara kios satu dan lainnya membunyikan
berpengeras saling berlomba. Jarak satu kios dan lainnya yang tiga meteran itu
seakan tak berdinding. Kuping sulit fokus menyimak yang mana.

Di tingkah aneka suara gaduh demikian, terlihat seorang ibu dengan tenong – –
baskom besar – – di kepala.

“Sala lauak, sala lauak,” ujarnya.

Sala lauk, sejenis makanan asal Padang, seperti bakso, terbuat dari tepung
beras, diadon dengan bawang merah, kunyit dan daun kunyit, sedikit cabe, lalu di
tengahnya diberi ikan asin, dibulat-bulatkan macam bakso. Lantas digoreng atau
disala – – istilah digoreng bagi orang Minang.

Untuk memudahkan Anda membayangkan penganan ini, ia ibarat bakso goreng,
tetapi di tengahnya berisi potongan kecil ikan asin. Di daerah asalnya sana,
ikan asin sala dari ikan kembung.

Mendekati ujung, setelah melewati berbagai deretan pedagang dan mall yang
umumnya dipenuhi oleh Ramayana, saya mengorder rujak dan es timun di restoran
Mie Aceh di bawah tangga.

Warung ini unik.

Keberadaannya yang pas di mulut Ramayana, mendapatkan buangan udara dingin
dari AC dapartemen store itu. Inilah kiranya yang membuat atmosfir terbilang
sumpek, membuat pengunjung betah. Apalagi kipas angin besar di atas kepala terus
berputar pelan.

Saya membalik-balik TEMPO di kedai itu. Jelas sekali terlihat tim investigasi
majalah ini yang dikomandoi Metta Dharmasaputra, kini, mendapatkan lagi sebuah
dokumen. Kali ini dokumen tender pengadaan minyak mentah untuk Pertamina pada
penghujung 2007.

Indikasi terhadap kolusi dan korupsi pengadaan oleh Gold Manor International
Ltd, perusahaan yang bermarkas PO BOX di Virgin Island yang berpartner dengan
Global Energy Resource Pte Tld, bermarkas di Singapura. Melalui kelompok
usahanya di Jakarta, mereka memenangkan tender pengadaan 600 ribu barel minyak
metah, untuk suplai Januari 2008 lalu.

Gold Manor memberi judul ZATAPI – – minyak mentah – – pasokannya ke Pertamina.
Pengadaan ini yang terindikasi kolusi dan korupsi dalam proses tender
pengadaannya. Apalagi di pasaran global, nama ZATAPI tidak pernah bunyi.

Indikasi korupsi dan kolusi di berbagai BUMN, hingga hari ini memang terus
terjadi, bukan malah berkurang. Tensinya bisa pula meningkat, apalagi jika
menjelang Pemilu ini.

Jika saja untung bersih perusahaan vendor minyak US $ 1, maka pengadaan ini
telah memberikan keuntungan US $ 600 ribu.

Namun angka itu bisa jadi masih kecil bagi pemasok. Karenanya, biasanya,
vendor menggunakan berbagai macam cara, mencari sumber-sumber yang murah
harganya, memblending (dalam kasus yang ditulis TEMPO hasil blending diberi
ZATAPI), agar cocok dengan spesifikasi pembeli.

Sehingga untung yang ada bisa saja ditingkatkan menjadi US $ 5 per barel.
Gambaran angka-angka ini tentu bukan tulisan TEMPO, namun sebagai gambaran
kalkulasi saya, untuk Anda.

Saya masih teringat bagaimana ketika pernah menjalin kontak dengan seseorang
bernama Hery Rizal Karim, sosok anak muda yang belum genap 35 tahun, dua tahun
lalu.
Ia mengaku pernah bekerja di ARAMCO, di Dahran, Arab Saudi. Bahasa Arabnya
memang fasih. Dari bekerja di negeri petro dolar itu, ia memiliki perusahaan
bersama DR. Yasin Indarkiri. Sosok Yasin bertali-temali akrab dengan salah satu
sultan di sana. Karim pula kemudian menjelaskan kepada saya bahwa perusahaannya
memiliki alokasi crude oil, yang non kota untuk bisa dijual ke mana saja
termasuk ke Pertamina.

“Tetapi kalau Pertamina, ARAMCO tak akan percaya, karena kondisi keuangannya,”
kata Karim, ketika bertemu saya di Jakarta.

Syarat pembelian harus melalui sebuah letter of intent yang original.
Keoriginalan itu, menurut Karim, dapat dilihat dari statement bank calon pembeli
– – berikut semacam proof of fund.

Saya masih ingat bagaimana di Jakarta Karim saya perkenalkan kepada kawan,
seorang senior di Kadin Indonesia. Kawan itu kemudian membawa lagi Karim ke
sosok pengusaha besar yang sangat bunyi di negeri ini.

Kontak-kontak sudah mereka jalin. Bahkan kawan saya yang di Kadin, sudah pula
berangkat ke Singapura. Mereka sudah membayangkan menjalankan perdagangan crude
oil untuk Cina, untuk volume 60 juta barel pertahun. Bisa Anda bayangkan jika
kebagian komisi 0,10% saja dari US $ 0,50 per barel, langusng jadi orang kaya
bukan?

Karim selalu memberi kabar ke saya, bahwa langkah saya memfasilitasinya mulai
menunjukkan hasil.

Ujungnya, Karim akan berangkat kembali ke Arab Saudi, mengajak saya makan
siang,
“Pak Iwan sudah lama kenal dengan kawan itu. Yang Anda perkenalkan itu?”
Saya jawab sudah. Bahkan saya katakan, sebelum orang lain naik Jaguar – –
mobil – – di Jakarta, dia salah satu yang sudah punya duluan. Rumahnya pun ada
lapangan tenisnya, kata saya.

“Sayang. Dia bilang ke saya, kalau Pak Iwan itu ke depan tak usah lagi
dilibatkan.”

“Dia bilang, Bapak pengusaha bukan!

“Wartawan pun bukan!”

“ Masak cuma calo, bakal dapat nol koma sepuluh puluh sen dolar?”

Karim berceloteh lagi.

“Kalau saya orangnya menghargai sekecil apapun effort orang.”

“Tapi biar saja ini berjalan, jika lanjut, saya tak bakal lupa Pak Iwan.”

Memang kemudian, kawan yang di kadin Indonesia itu tidak pernah lagi mengontak
saya. Karim sudah pula lama balik ke Dahran.

Namun seorang kawan kemudian hari mengabarkan, bahwa kawan di Kadin Indonesia
itu merasa ditipu oleh Karim. Seluruh info yang dia berikan, kenyataannya
haw-haw. Tak mudah mendapatkan jatah minyak mentah dari ARAMCO.

Padahal semula saya beranggapan bahwa kawan yang meninggalkan saya itu
setidaknya sudah mengantungi US $ 30 juta.

Sambil menutup majalah TEMPO di kedai, itu, saya seruput es timun serut.
Derusan timun di gigi ditambah manisnya gula membuat segar. Keringat keluar dari
badan.

Menikmati kesibukan pasar Blok M di Jumat petang itu, Anda akan merasakan
pergerakan ekonomi kelas bawah, tanpa pula harus bermimpi menjadi raja minyak.
Toh semua pedagang di sana, identitas kepengusahaannya jelas; mereka memiliki
produk dan atau jasa yang dijual.

Mereka tidak harus men-sala (menggoreng) saham misalnya. Juga tidak men-sala
pejabat, men-sala harga, agar lebih tinggi dari harga pasar, tetapi bangsa dan
rakyat banyak dirugikan.

Iwan Piliang