Kamis, 27 Maret 2008    PUKUL 13 siang di Jalan Tebet Barat Dalam IX, Jakarta Selatan. Mobil yang hendak berbelok menuju perempatan Pancoran itu mampat tersendat. Saban hari begitu. Mendekati ujung jalan, di sebuah gang, pada sebatang portal besi, seorang tukang patri duduk menepi. Saya perhatikan ketika lewat berjalan kaki. Wajahnya ditutup topi pandan, wujudnya bagai topi yang dipakai koboi di film Hollywood, tetapi ujungnya berserabutan pandan. Satu kakinya diselonjorkan, satu lagi ditekuk menopang kedua tangan, lekukan tulang terlihat jelas, kulit tua yang berterik-berpanas.


Cuaca Jakarta, gerah dengan kemacetan, membuat banyak orang yang lalu-lalang, sosok macam tukang patri itu seakan menjadi tak tampak. Ketika berjalan kaki melewatinya, saya perhatikan, ia tak bergerak.
Ia tertidur pulas.
Setelah menyelipkan lembar Rp 5.000, di kantung baju hitamnya yang lusuh, ia tetap tidur, tidur pulas. Bisa Anda bayangkan, di hari begini di Jakarta berapa banyak orang yang masih mau mematrikan panci atau alat kebutuhan memasaknya?
Secara logika, masyarakat Jakarta yang modern, jika memiliki perabotan masak bocor, akan membuang saja, lalu membeli peralatan baru. Belum kini beragam jenis peralatan, dari yang alumunium, gelas pirek, plastik hingga yang berlabel Teflon. Namun dengan masih adanya fenomena tukang patri yang berseliweran, menjadi dapat dipastikan bahwa ceruk pasar pematri ada.
Ingin rasanya membangunkan bapak tua itu. Tetapi saya urungkan, enggan mengganggu kenyamanan tidurnya.

Saya menjadi teringat akan kalimat Tong Djoe dulu. Sosok pengusaha besar yang duluan tumbuh sebelum para taipan lain besar. Ia adalah orang di belakang lahirnya Pertamina. Kini dari markasnya Tunas Group di Singapura, ia menjalin relasi usaha dengan pemimpin-pemimpin negara Asia. Ketika normalisasi hubungan Indonesia-Cina, adalah Tong Djoe sosok di belakang layar.
Apa kata Tong Djoe?
Dia tidak berkata duluan.
Dia bertanya, “Di mana makan yang paling enak?”
“Di saat perut lapar!” Tong Djoe menjawab sendiri.
“Dimana tidur yang paling enak?”
“Ya di saat mengantuk di atas meja pun tidur oke!”
Begitu Tong Djoe.
Dan begitulah tukang patri yang saya temui, tidur dengan lelapnya.


Jika saja Anda mau memperhatikan aneka pedagang, penjual jasa keliling di Jakarta ini, maka akan bertemu manca ragamnya. Mereka berusaha mulai dari produk balon, dari yang cuma berisi angin yang ditiup mulut sendiri, hingga balon bergas. Mulai dari jasa patri tadi hingga jasa memotong celana blue jeans.
Menjelang magrib dua pekan lalu. Saya sedang menggendong anak bontot yang baru berusia empat belas bulan. Seorang pedagang balon bersepeda lewat. Ia tak begitu memperhatikan kami, sepedanya langsung lewat. Anak saya berteriak, ‘Hei” melihat balon warna-warni.
Serta merta bapak penjual menoleh dan berbalik arah. Di luar dugaan ketika, berhenti di depan kami ia bukan bicara soal balonnya.
“Pak sudah mau gelap baru dapat dua belas ribu perak. Anak di rumah sakit. Tolong pak ambil empat balon ini, saya butuh dua puluh ribu lagi.”
Saya tak berpretensi apa-apa. Saya sangat percaya bahwa apa yang dipaparkan penjual balon itu adalah kenyataan hidup hari-hari di Jakarta kini. Bagi Anda yang membantahnya, saya pastikan hidup Anda sehari-hari memang tidak bersinggungan dengan kalangan marjinal ini.

SELAMA pemerintahan di bawah komando SBY kini, beberapa pengamat ekonomi mengatakan yang ditumbuhkan hanya balon ekonomi. Sosok yang sering mengatakan begini di antaranya Rizal Ramli, mantan Menko Perekonomian di era kabinet Gus Dur.
Secara sederhana ihwal balon ekonomi itu adalah hanya bertumpu kepada pertumbuhan ekonomi makro; inflasi terkendali, jika bisa di bawah satu digit, bursa saham hidup bergerak tumbuh, nilai tukar mendekati stabil, devisa meningkat. Jika gambaran ini ada yang mengatakan salah tentulah keliru.


Tetapi sebaliknya sektor mikro tidak tumbuh.
Juga apa yang disebut pertumbuhan positif di bursa saham, yang ada hanya dana spekulasi asing yang datang untuk bermain saham untuk jangka pendek. “Lebih celaka dana asing itu juga mampir di Sertifikat Bank Indonesia yang berbunga, “ ujar Rizal Ramli ketika pernah tampil di PRESS TALK di QTV, “Yang harus dibayar bunganya dari uang rakyat.”
Sebaliknya dana yang menumpuk di SBI, yang tidak dialirkan ke sektor riil, bahkan APBN, yang setiap tahun harus ditutupi dari pinjaman hutang luar negeri. “Untuk mengembangkan ekonomi kita mengemis ke luar negeri ibarat mengemis dan celakanya mengemisnya ibarat menggunakan cawan emas pula,’ tutur Rizal.
Yang dimaksud mengemis dengan cawan emas itu tentulah bila berkaca diri melihat sumber daya alam kita yang kaya, tetapi rakyat kebanyakan miskin, susah sengsara.
Lihat saja head line Kompas hari ini, kian banyak saja ibu-ibu yang stress, mereka tega membunuh anak-anaknya, karena kesulitan membeli beras.


Tukang gorengan yang frustasi, yang bermodal Rp 50 ribu perhari, setelah berjualan sehari Cuma laku Rp 37 ribu,dan ia memilih bunuh diri.
Entah mengapa trias politika yang ada di negeri kini hanya seakan terpatri. Lengket hatinya berpihak ke balon ekonomi, lengket hatinya peduli ke negara yang membuat mereka duduk di kekuasaan.

Iwan Piliang