Selasa, 18 Maret 2008  KAWASAN Karang Anyar, Solo. Beberapa parasut paralayang (paragliding atau parapente dalam bahasa Italia) – – jenis terbang menggunakan parasut yang take off dari ketinggian bukit – – tampak mengudara. Sudah ada enam di udara. Parasut biru, pink, kuning, dengan warna mencolok terbang bak pesawat merentang.

Waktu pukul 12.05. Matahari terik. Di darat saya menarik tali parasut, kantung-kantung udaranya terisi. Parasut tegak. Saya berlari, dan besss, suara parasut ditingkah angin. Saya mengudara.

Saya terbang tanpa memiliki cadangan. Juga tidak ada radio komunikasi seperti HT. Padahal kedua alat ini merupakan standar yang harus dibawa. Dengan jam terbang yang baru kelas pemula, saya sudah menjadi penggembira kejuaran nasional paralayang pada 1995 itu.

Udara terik. Termal kuat. Parasut kian meninggi. Tak terasa, sosok manusia kemudian tampak bagaikan titik dari atas. Hups, angin yang semula terasa datar, bermain kencang. Suara parasut berkipas angin berbunyi klepak-klepuk.

Saya tak memperhatikan kondisi awan gelap di atas kepala. Di mata sosok orang-orang di darat kian tak tampak. Dalam hati, inilah terbang tertinggi yang saya capai sejak berlatih terbang di kawasan Puncak, Jawa Barat setahun sebelumnya.

Aneh.

Hati mulai bergetar.

Parasut di-break, tidak mau. Di ulur, kian tinggi. Awan kelabu di depan hidung terasa dingin. Saya menarik tali parasut dengan kedua tangan agak kencang . Waw, parasut kemudian koleps. Kantung-kantung udaranya rebah, tali-temali seakan terkulai berserak.
Badan saya yang lebih berat dari parasut, meluncur jatuh. Perasaan laksana turun dari ketinggian jet coster yang curam. Di setengah sadar, seakan tanpa dikomando mulut berujar, “Mati nih!”

Ajal memang di tangan Tuhan.

Di saat setengah sadar, secara refleks, saya mengulur tangan kiri. Ternyata kantung udara parasut di bagian kiri terisi. Lengan saya seakan tertarik kencang. Suara berisik menajam. Seketika pula dalam hitungan detik saya mengulurkan lengan kanan. Lalu parasut pulih.

Lalu badan di udara bagaikan bandul. Bandul bergerak cepat. Darah seakan hilang. Baru sekitar lima menit kemudian bandul melambat. Parasut mulai stabil, seluruh badan saya bergetar. Getaran tangan membuat suara tali-temali bak ratusan senar bergetar dar, dar, dar.

Kondisi masih tinggi. Ada sekitar sepuluh menit waktu bagi saya menenangkan diri.
Setelah mulai stabil, parasut mulai dapat saya arahkan. Saya dapat terbang tenang. Sehingga ketika mendarat di tiga meter dari titik pendaratan, saya sudah dapat tertawa-tawa kepada kawan-kawan.

Seorang kawan, masih tampak khidmat memanjatkan doa. Saya sudah bercanda.
Mengingat peristiwa hari itu, melalui tulisan ini, izinkan saya berterima kasih akan seluruh doa yang kalian panjatkan, sehingga saya kini masih dapat menulis hari ini.

Terima kasih!

ANDA tentu punya berbagai pengalaman terbang dengan naik pesawat terbang. Bukan terbang konyol macam saya, tentu. Apalagi di saat regulasi membuka usaha penerbangan di negeri ini dipermudah. Dan bermunculanlah penerbangan bertarif murah.

Sayangnya unsur keselamatan terbang, pun diakali di negeri ini. Contoh yang nyata, spare part ban yang menurut jam terbang harus diganti, belum dilaksanakan. Agaknya, menurut feeling operator, masih aman. Padahal ban dan semua komponen terbang, memiliki rentang waktu, atau jam terbangnya.

Pernah dalam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, saya naik penerbangan bertiket murah. Saya duduk dekat jendela. Di bagian lengan, saya melihat korek kuping bekas pakai ada disana. Debu di seputarnya tidak dilap.

Bila dibuatkan list, tentu akan banyak complain akan ranah penerbangan murah kita saat ini. Mulai dari jam terbang tidak tepat waktu, pelayanan pramugari jutek, AC yang kurang dingin hingga WC bau.

Akan tetapi dari semua kekurangan itu, amat menyedihkan memang bila melihat ADAM AIR, hari-hari ini dirundung mendung. Bahkan mulai Kamis, 20 Maret 2008, mereka menghentikan seluruh penerbangannya.

Di televisi kita dapat menyimak bagaimana pemegang saham saling tolak-bertunda. Yang satu mengaku benar dan yang lain memojokkan.

Jika saja kita cermati langgam berbisnis di negeri ini, memang laksana serigala sudah mainan biasa. Lihat saja di bidang ritel, Matahari Departement Store yang dibangun Hari Darmawan, dari nol, kini dia tidak lagi memiliki saham 1% pun. Ia salah satu korban langgam usaha serigala bagi sesama. Sekadar contoh.

Adalah mustahil kelompok usaha Bhakti Investama mau masuk ke ADAM AIR jika tidak melihat peluang di sana. Namun apa yang terjadi? Perhitungan bisnis bisa salah. Karena di dalam bisnis semua orang mau untung, maka yang menanggung rugi biarkan sajalah: rakyat kebanyakan.

Langgam membuat rakyat kebanyakan hanya keranjang sampah, yang mencontohkan memang dari atas. Rakyat cuma sekrup. Para trias politika itulah yang punya kuasa. Karena mereka yang memang mengelola anggaran negara melalui APBN setiap tahunnya.

Mereka yang di tentara dan kepolisian, misalnya, hari-hari masih kita simak bisa melabrak kantor redaksi media di Maluku. Konglomerat yang punya uang, yang merasa tercoreng karena investigasi TEMPO atas kasus penggelapan Pajak PT Asian Agri yang terbukti hingga Rp 1,3 triliun. Mereka memainkan kekuatan uang membiayai riset perguruan tinggi, membiayai jurnalis menulis untuk memojokkan TEMPO.

Begitulah.

Banyak tentu yang bisa antri ditulis sebagai contoh.

Bisnis tidak lagi mengenal moral, tanggung jawab sosial dan seterusnya.

PETANG menjelang di kawasan Timbis, tebing diseputar Jimbaran, Bali, Juni 2002.
Dengan meminjam parasut kawan, saya mencoba take off.

Hamparan laut biru, ombak yang menghempas berkejaran dan kapal nelayan di kejauhan. Bagi yang pernah ke Bali, pastilah dapat mengamati eksotika kawasan Jimbaran, hingga seputar Bali Cliff. Apalagi di bagian ujung ada pura yang unik di tepi tebing.

Jika dari darat saja merupakan pengalaman tersendiri, bisa Anda bayangkan bila Anda menikmati terbang laksana burung di udara menggunakan parasut paragliding.

Di Timbis itulah saya mengamati rombongan turis asal Italia yang ber-parapente keliling dunia.

“Timbis merupakan titik terbang terbaik dan terindah di dunia,”

Begitu kata turis Itali.

Memang di sanalah kita bisa terbang, landing dan take off di tempat yang sama. Begitu take off sudah tebing curam, Anda harus mengangkasa. Sehingga mendarat juga di tempat sama, bila tidak laut lepaslah muaranya.

Laksana menatap tebing, laut, udara, hidup, mati, ternyata tipis-tipis saja jaraknya. Mungkin saatnya bertanya kepada penguasa dan pengusaha negeri ini, apakah ketika mereka mati akan membawa segudang hartanya?

Banyak memang pengusaha takut rugi. Lebih sakti mereka sangat takut miskin harta, kendati tetap harus kerdil moral.

Sebentar lagi kita akan menyimak, bagaimana 3.000 pengangguran baru mantan karyawan ADAM AIR ada di tengah kita, di tengah lapangan kerja saat ini yang bukan bertambah, tetapi sebaliknya kian sempit saja.

Entah apa yang dikerjakan para pihak di atas sana. Hari-hari ini mereka kian asyik menyiapkan PEMILU. Para swasta siap-siap menimbun uang, yang sewaktu-waktu untuk digelontarkan bagi jagonya.

Mereka barangkali dihinggapi sindrom lupa, bukankah ketika masuk liang lahat, kita semua hanya menghuni tanah 2 x 1 meter tanah saja?

Alhamdulillah, Puji Tuhan, saya sudah pernah merasakan setengah hidup di udara.

Iwan Piliang