Minggu, 16 Maret 2008  JIKA ada komentar pemerintah saat ini soal pertumbuhan ekonomi mikro, antara lain mereka merujuk bandara. “Lihat bandara kita penuh sesak dengan lalu lintas orang. Itu kan tanda-tanda ekonomi tumbuh, berputar, “ ujar Jusuf Kalla, Wakil Presiden, sebagaimana ditulis beberapa media Februari 2008 lalu.

Sebetulnya jika Jusuf lebih “jenaka” dan sekaligus tega – – belakangan para pejabat dalam bertutur ke media, memang menampakkan sikap tega, jika tidak ingin menyebutnya raja tega. – – bisa saja ia melanjutkan kata, bahwa selain bandara juga ada bandar (untuk menunjukkan tempat-tempat) diskotek, panti pijat “spa” yang penuh sesak.

Untuk urusan ketegaan itu, Anda tentu belum lupa ucapan Aburizal Bakrie, Menkokesra ketika banjir besar datang di Jakarta awal Januari lalu. Ia menjawab pertanyaan wartawan televisi, “Mana ada mereka susah, mereka masih bisa tertawa-tawa.” Ada memang ibu-ibu yang tertawa ketika kamera menyorot, di saat duduk pilu di atap rumah. Rumahnya terbenam banjir.

Jumat malam pekan lalu. Saya dengan seorang kawan menyusuri kawasan Hayam Wuruk dan Gajahmada serta Gunung Sahari. Di sebuah klub berinisial Mlb di Jl. Gajah Mada, Jakarta Barat. Untuk masuk pengunjung diberikan gelang karet abu-abu bernomor. Bangunan yang terbilang mewah itu terdiri enam lantai.

Di lantai dua ada pilihan ruangan; teater, pub, karaoke. Kami memilih pub. Untuk segelas minuman beralkohol di sana dibandrol Rp 75 ribu. Potongan kecil goreng ayam di mangkuk rotan seukuran telapak tangan Rp 60.000.

Waktu pukul 00.30. Di pub yang suasana lampunya agak terang, berderet para wanita yang terbilang berparas cantik. Di pojok kiri kanan sekitar 15 orang asal Cina. Kulit mereka putih, dada berisi. Di pojok kiri depan ada kelompok bule. Kami menghampirinya. Ada yang mengaku asal Spanyol, tinggi, rambut tergerai, bibir sensual berblue-jeans ketat, pantat seksi.

Untuk cewek-cewek impor ini, jika Anda ingin melampiaskan syahwat, di charge Rp 1,5 juta, sudah berikut kamar. Di pojok kanan belakang, ada kelompok lokal. Wanita asal daerah ini – – ada yang mengaku dari Cirebon – – bertarif Rp 300 sampai Rp 500 ribu. Begitulah kiranya, segala yang impor seakan harus lebih mahal.

Pukul 01.00, empat wanita naik ke panggung persegi empat semacam bar. Di bagian atasnya ada pegangan empat pilar stainless steel. Mereka tidak mengenakan bra. Keempatnya gadis lokal, meliuk-liukkan badan, menari mengikuti irama musik.

Seorang pelayan membawa deretan gelas kecil berisi Tequila. Pengunjung dapat membelikan minuman itu untuk empat wanita yang menari. Pantat gelas dimulut kita, bibir gelas di mulut wanita. Tangan Anda, maaf, boleh ke mana-mana. Untuk adegan macam begini segelas minuman seukuran lingkaran telunjuk dan jempol itu Rp 50.000.

Bisa dipastikan, jika Anda melakukan adegan ini, tidak akan bisa berhenti di cuma seloki. Sebelum mengakhiri tarian 45 menit kemudian, empat perempuan itu berjejer. Masih menari. Mereka menurunkan, maaf, celana dalamnya, tidak total. Tetapi pastilah tampak kemaluannya sekilas. Adegan itu dilakukan berulang-ulang sebelum menunduk, mengakhiri pertunjukan.

Begitulah. Suasana padat.

Kolega saya mengatakan itu tempat salah satu yang high. Ia menyebut masih banyak lokasi lain sama macam di antaranya di hotel yang bertameng boutique di Jakarta ini.
Untuk sekadar minum-minum tiga jam, dan makan-makanan kecil, plus cover charge Rp 98.000, total habis sekitar Rp 900 ribu.

Jam menunjukkan pukul 03.30. Kawan saya mengajak ke tempat lain yang sejalur. Ke sebuah diskotek bertajuk Mln. Lokasinya di lantai enam sebuah plaza. Bila di tempat sebelumnya tidak ada pembayaran uang di muka, maka di tempat ini, uang masuk Rp 35.000.

Susana di dalam remang. Lampu kerlap-kerlip. Bau rokok menyengat. Dentuman musik disko menggelegar. Tiga orang Disc Jockey perempuan memandu. Mereka bergoyang kecil di tempatnya berbaju seksi. Dang-dung dang-dung, berdentuman. Memang cocok untuk godek-godek kepala, bagi mereka yang terbiasa triping – – istilah mereka yang menikmati musik sambil makan ekstasi atau inex.

Ruang dua lantai yang muat untuk 5.000 pengunjung itu, sesak. Bergerak dari satu tempat ke tenpat lain, saling senggol menyenggol badan. Namun itu pulalah enaknya barangkali. Untuk saling tegur menegur menjadi mudah.

Sekelompok cewek yang tersenggol tersenyum. Dengan satu kata halo, mereka dengan mudah diajak bicara. Satu di antaranya yang berwajah manis, dengan enteng lalu meraih tangan saya.

“Eh beliin dong, ntar gampang, kita pulang ke hotel aja.”

Perkiraan saya dua pertiga pengunjung adalah perempuan.

Beliin yang dimaksud rupanya untuk meminta dibelikan ekstasi. Saya melihat dengan mata kepala sendiri yang namanya narkoba memang beredar. Padahal di pintu depan ada penjaga, kendati berpakaian preman, bisa jadi mereka oknum polisi dan angkatan.

Ketika memperhatikan sebuah poster kecil di kamar kecil, saya membaca ada himbauan Badan Narkotika Nasional (BNN), untuk menjauhkan Narkoba. Saya mengamati ada tanda tangan Kapolri Sutanto di poster itu.

Minggu 16 Maret 2008 ini di halaman empat KOMPAS saya membaca judul Lima Diskotek Diawasi, 1.046 butir ekstasi disita dan dua orang dibekuk aparat. Dan salah satu diskotek yang disebut adalah tempat yang saya kunjungi itu pekan lalu.

Peredaran narkoba di negeri ini memang menggila. Sudah banyak berita penangkapan pabrik ekstasi, bahkan heroin. Tetapi peredarannya bukannya turun. Justeru kian meningkat. Dan sebagai tempat mangkalnnya narkoba, memang kawasan diskotek yang di malam minggu buka hingga pukul 08.00 pagi itu.

WAKTU menunjukkan pukul 04.30, saya menuju pulang ke rumah di bilangan Malabar, Guntur, Jakarta Selatan. Di tengah perjalanan dari bilangan Kota, saya mampir di Alfamart, mini market di jalan Blora, Jakarta Pusat untuk sekadar membeli minuman ringan. Di kasir masih ada tiga perempuan yang mengantri. Rambutnya ada yang berkelir warna-warni.

Seorang di depan saya, wanita muda juga hendak membayar di kasir. Di keranjangnya 3 botol aqua, satu dus pink SGM, susu bayi ukuran kecil, dan pembalut wanita. Ia menyerahkan uang Rp 50 ribu. Saya menduga wanita ini pastilah bekerja di beberapa diskotek dan karaoke dangdut yang ada di jalan Blora. Ia bersiap hendak pulang. Fajar sudah menyingsing. Saya membayangkan bahwa ia sambil berkaraoke dengan tamunya, telah pula dipocak-pocak – – dipegang-pegang dalam bahasa Makassar.

Seketika saya melamun. Ingatan saya mundur ke empat tahun lalu. Ketika saya juga membeli susu berdus warna pink ukuran kecil seperti yang dibeli wanita di depan saya itu di Pasar Manggis, di bilangan dekat rumah. Encik pedagang pasar bilang ke saya, “Oh susunya untuk anak pembantu ya Pak?”

Jelas susunya untuk anak kandung saya.

Mungkin karena susu itu murah, dan karena keadaan ekonomi memang parah, saya juga pernah mengkonsumsikan untuk anak kedua kami. Dan jika susu itu kemudian kini diduga mengandung bakteri, sesuai dengan riset IPB yang diumumkan belakangan ini, memang menjadi menyedihkan nasib kalangan marjinal kita.

Mereka di trias politika kita seakan bebal muka jika dalam berkomunikasi politik pun ke rakyatnya bukannya menunjukkan empati. Tapi sebaliknya. Lihat saja Sabtu petang kemarin, untuk hal yang paling hangat di DKI. Gubernur Fauzi Bowo, dengan nada kesal menjawab pertanyaan wartawan televisi.

“Sudah ada tujuh yang meninggal karena jalan di Jakarta karena jalan berlubang-lubang Pak?” kata wartawati

“Ya akan kita perbaiki,” jawab Fauzi, akrab disapa Foke itu dengan nada agak kesal.

“Tujuh yang mati, dan udah ada yang mau demo besar pak?”

“Yah biar, silakan!” Foke membentak, lanjutnya, “Dalam demokrasi sah-sah aja demo!”

Di dalam ilmu komunikasi, yang disebut pesan termasuk gerak-gerik. Istilah kerennya body language. Tampak jelas sekali Foke tak senang ditanya soal urusan jalan yang berlubang.

Saya geleng-geleng kepala.

Bukankah Foke digaji oleh uang rakyat, bukankah semua pejabat juga digaji uang rakyat, uang negara! Dan uang lebih Rp 700 triliun APBN, juga dana masyarakat?

Bukankah APBD dan DAU DKI Jakarta paling besar dibanding daerah lain?

Jangankan untuk memperbaiki infrastruktur cepat tanggap, dalam berkomunikasi ke publik pun mereka tidak mengenal adab komunikasi ramah. Bila demikian tak salah kan kalimat raja tega untuk mereka?

Iwan Piliang