Sample Image"Kumaha kabar kang?
Berak Lancar?"
Apa reaksi anda kalau lama tak bertemu seorang teman lalu tiba-tiba disodori
pertanyaan semacam itu?

Rasanya reaksi anda pasti tidak jauh berbeda dengan saya.
Meski tentu saja jawaban masing-masing bisa sangat bervariasi.

Mulai dari sekadar tersipu dan berucap, "Ah, situ ada-ada aje..", memaki "Sialan
loe", atau mungkin mengeluh, "Udah bechyek, Nggak ada ojhyek…" 😀

Tapi umumnya kita bisa menangkap aroma canda dalam sapaan itu sangat jelas
terasa, sehingga tentu kita akan mengartikannya sebagai pertanyaan canda yang
tak serius.

Hanya karena saya terlalu meyakini kemerdekaan adalah hak setiap bangsa saja,
maka saya menjawabnya dengan sedikit protes,

"Euleuh.. orang mah nanya, gimana kabarnya, sehat? rejeki lancar? Kok, ini mah
segala berak ditanyain…"

Yang diprotes, tersenyum simpul.

"Keun batur mah.. Mun saya mah nanya-na berak we"
(Biar orang lain sih, kalau saya sih bertanya-nya soal berak saja)

Menyusul ia menguraikan,

"Lha, pan kalau berak lancar, berarti -alhamdulillah- masuknya (makan) juga
lancar.. Kalau masuknya lancar, berarti biar sedikit, masih dikasih rejeki. Dan
kalau berak masih lancar mah, insya Alloh berarti masih sehat.. Bukan begitu
kang?"

Mendengar penjelasannya, mau nggak mau saya manggut-manggut sambil ikut
tersenyum.
Tapi meski demikian, tak urung pertanyaan berikutnya membuat saya hampir
terjengkang.

"Teras kumaha… Duguh Lancar?"

"Duguh" itu istilah dalam bahasa percakapan kami yang berarti hubungan suami
istri di atas ranjang.

Sebenarnya istilah "duguh" tidak mutlak bermakna "hubungan ranjang", karena
istilah yang sama juga digunakan untuk ungkapan yang berurusan dengan
gebuk-menggebuk. Misalnya kalau ada copet atau anak petakilan, frasa
"Nge-duguhin copet" atau "duguhin aja" bukan berarti "meniduri copet" atau
"tiduri aja". Kecuali tentu saja kalau copetnya lagi kehujanan dan nggak ada
ojek.. :p

Istilah "duguh" ini agaknya similar dengan istilah "tiban" yang biasa digunakan
anak Jakarta. "Bini gue ditiban tetangga" artinya akan berbeda dengan ajakan
"tiban aja tuh anak belagu"

Tapi karena sudah dikasih intro sebelumnya, maka saya coba menebak-nebak, arah
pertanyaannya.

"Maksudnya, istri saya sehat gitu?"

Ia menjawab sambil nyengir lebar.

"Lain saukur sehat kang..
Mun duguh lancar, insya Alloh berarti hubungan si akang jeung si teteh masih
keneh harmonis. Pasea mah, namina rumah tangga, eta biasa.. Urusan anak, urusan
pagawean, duit komo, naon we..
Tapi nu penting, si akang teu nyandung, si teteh teu make selingkuh… "

"Bukan hanya artinya sehat kang, kalau hubungan ranjang lancar, Insya Allah
berarti rumah tangga masih harmonis. Bertengkar sih dalam rumah tangga biasa.
Urusan anak, pekerjaan, apalagi keuangan, apa saja (bisa jadi alasan
bertengkar). Tapi yang penting suami tidak sampai kawin lagi, dan istri juga
tidak selingkuh.."

* * *

Terus terang, saya suka dengan filosofi yang diungkapkannya. Meski diungkapkan
dengan kata-kata yang terkesan kasar dan sembarangan, tapi kesederhanaannya
membuat hidup seperti begitu ringan.

Sebetulnya saat itu, kondisi saya pribadi sedang tidak terlalu baik. Di akhir
2007 bisnis saya berantakan dengan sukses. Musibah demi musibah yang melanda
saya dan dua rekan yang mengelola usaha itu membuat kemampuan permodalan untuk
mempertahankan usaha menjadi tidak sekokoh yang kami angankan. Dan karena
investasi memang bersumber dari pinjaman, tentu saja tutupnya usaha kemudian
menimbulkan beban hutang.

Kemudian persoalan masih belum behenti dengan berakhirnya tahun. Tepat awal
tahun, adik istri saya yang terkecil (adik kami ini down syndrom), divonis harus
menjalani operasi akibat ada semacam kelainan pertumbuhan jaringan di telinga
yang dikhawatirkan akan menjalar ke otak. Operasi pengangkatan, menurut
dokternya hanya operasi kecil, tetapi ternyata juga menelan biaya yang bagi kami
terasa begitu besar.

Dan puncaknya, tentu saja musibah kecelakan motor yang menyebabkan saya harus
istirahat panjang. Bukan lagi bisa nyari duit, malah harus ngabisin duit.

Dalam kondisi demikian pesan kesederhanaan yang disampaikan melalui ungkapan
"berak lancar" terasa menyengat ujung hidung saya.

* * *

Memang bagi sebagian orang, kesederhanaan itu mungkin terasa terlalu naif.
Bahkan yang ekstrim bisa berpendapat, kesederhanaan itu memang lahir dari
orang-orang kalah. Yang hidupnya turun temurun memang nggak maju-maju, sehingga
hanya memandang hidup dari segi makan, tidur, nongkrong di wc, dan urusan
menggoyang ranjang.

Bagi banyak dari kita, hidup tentu bukan hanya melulu soal makan, tidur, berak
dan senggama. Ada aspek kerja dan karya yang menjadi elemen penting. Kerja dan
karya yang kemudian akan berasosiasi lekat dengan karir, peningkatan hidup, dan
pula akan berimbas pada aspek-aspek sosialisasi, seberapa kita bisa tampil dalam
kancah masyarakat, dan mengaktualisasikan diri.

Tidak ada yang salah dengan menempatkan elemen-elemen itu sebagai bagian penting
dalam hidup kita.

Tetapi seringkali mendudukan elemen itu sebagai patokan utama, kemudian
menyebabkan kekecewaan besar ketika kita tak mampu mencapai apa yang kita
inginkan.

Akibatnya hidup terasa begitu melelahkan karena karir nggak maju-maju, jabatan
nggak naik-naik, penghasilan nggak nambah-nambah, akibatnya pengen punya mobil
tak kunjung terbeli, pengen bangun rumah nggak jadi-jadi, pelesir ke disneyland
batal terus, jodoh nggak mampir-mampir, teman ngak nambah-nambah, nggak pernah
bikin karya yang spektakuler, yang membuat kita merasa seperti nggak pernah bisa
jadi "something" dan selalu jadi "nothing".

* * *

Saat seperti itu, kita mudah tergelincir untuk melupakan bahwa dalam hal-hal
yang mendasar : makan, berak, kesehatan dan hubungan dalam keluarga, kita masih
diberkahi banyak kenikmatan.

Dan bukan hanya itu, seringkali malah kekecewaan dan melupakan berkah malah
menyebabkan hal-hal mendasar itu juga menjadi raib keberkahannya. Akibatnya,
jadi susah makan, susah tidur, susah berak, dan hubungan keluarga juga jadi tak
harmonis.

Anda mungkin tidak setuju dengan pendapat itu.
Karena memang kerja, karya, sosialisasi dan aktualisasi diri menjadi kebutuhan
yang semakin penting dalam budaya kemasyarakatan modern sekarang ini, dan posisi
"berak lancar" menjadi semakin terpinggirkan sebagai bagian yang tak penting
untuk disyukuri.

Tapi saya harap anda setuju sajalah, sebelum anda kena sembelit menahun. :p

Jadi bagaimana kabar anda?
Berak Lancar?

[Laughing]

Sentaby,
DBaonk © Maret, 2008

sumber : jurnal di multiply
(http://http://dennybaonk.multiply.com/journal/item/150/Berak_Lancar)