Active ImageSaya berharapan bahwa apa yang saya lihat ini tidaklah  terlalu keliru. Saya melihat bahwa banyaknya data kecurangan dan penyelewengan yang terbuka tetapi tidak ada penyelesaian, telah menyebabkan orang merasa kehilangan kepercayaan. Tidak ada pemimpin tempat kita bisa berlindung dan bisa mengayomi karena yang ada hanyalah kelas pimpinan saja. Janganlah menganggap bahwa pimpinan itu hanya meliputi  bidang pemerintahan saja, akan tetapi juga menyangkut agama dan moral serta budi pekerti apalagi sopan santun.Saya pernah membaca mengapa seorang bernama Adolf Hitler bisa dipilih menjadi Fuehrer oleh orang Jerman yang sesungguhnya terdiri dari orang-orang yang intelect dan cerdik pandai lain. Itu semua menurut analisa yang dikemukakan, karena mereka sedang krisis pemimpin, sehingga si Adolf ini bisa menguasai Jerman.

 

Itulah yang dialami oleh bangsa kita saat ini.

 

Kalau film hantu dan pocong serta ilmu kebatinan dan ilmu gaib bisa laku jual, justru itu terjadi di dalam masyarakat yang disebut sebagai bangsa yang beragama, yang ini dan itu pokoknya bangsa yang alim, apa masuk di akal yang sehat??

 

Bukan saya saja yang sudah menulis berkali-kali masalah kebobrokan pemerintahan kita, banyak tulisan semacam itu yang bertebaran dan tidak effective sama sekali, karena perbuatan para elite!! Kaum elite ini jumlahnya berapa sih?? Konglomerat Hitam, pejabat-pejabat korup dan juga tidak bermoral, anggota Militer dan Polisi yang tidak baik.

 

Paling mungkin sekitar di bawah sepuluh juta orang dan orang-orang yang tingkat terendahnya: Bupati saja, setinggi-tingginya hanya mungkin dibawah sepuluh ribu orang.

 

Apakah begitu, kita biarkan sepuluh ribu menjajah 235 juta orang, terus-terusan sampai anak cucu kita??

 

Ingat teman-teman semua, saya tidak mengajak berontak atau bunuh-bunuhan. Marilah secara serious kita mulai perbaiki dan dapat dimulai dari diri kita sendiri, kemudian melebar  ke semua anggota keluarga kita dulu. Yang penting tidak mengganggu tetangga, tidak bermasalah soal keuangan dengan tetangga, tidak melanggar undang-undang tidak menyakiti siapapun dilingkungan kita sendiri dan sebagainya. Mampukah kita?? Saya? Anda? Tentu mampu!!

 

Saya ingin bangsa Indonesia itu seperti bangsa Indonesia yang hidup di luar negeri: mereka ini di mana-mana taat membayar pajak dan bekerja rajin serta tunduk kepada undang-undang. Jadi sesungguhnya 0rang Indonesia itu mempunyai sifat dasar yang baik dan patut ditiru, tetapi harus di dalam manajemen yang baik dan lingkungan yang pantas saja. Tidak usah mewah atau kaya atau hebat apapun. Mereka bisa tunduk di Amerika, di Canada, di Singapura bahkan di Jepang dan Korea, di manapun saya ketemu mereka. Di Toronto Canada, ketika para pendatang banyak terlibat kriminal pembiakan tanaman ganja, ternyata mereka orang asal China, bukan orang Indonesia. Padahal yang asal Indonesia saya duga jumlahnya bisa mencapai sepuluh ribu orang jumlahnya. Banyak orang Indonesia kalau sudah pulang ke negerinya sendiri malah kembali melakukan pelanggaran dan juga melakukan sesuatu yang tidak dilakukanya di luar negeri.

 

Saya melihat kalau kita sekarang mau memperbaiki tingkat Lurah ke atas, itu terasa hampir tidak mungkin dilakukan, kecuali ada sesuatu yang saya tidak jeli dan telah lengah karena tidak mampu  melihatnya. Bukankah selama ini kita mengurusi sendiri dalam masalah keamanan RT – Rukun Tetangga, juga pembuangan sampah rumah tangga dan RT dan kebutuhan air minum untuk hidup, yang akhirnya terpaksa membeli air minum (distilled water) atau malah air isi ulang. Inipun banyak yang tidak dapat bisa dijamin bersih hasilnya, bagus kualitasnya atau bahkan membahayakan.

 

Di mana pemerintahannya??

 

Masih ada atau tidak sih pemerintah kita selaku pamong?

 

Kemana uang pajak yang telah terkumpul dan di mana diaplikasikan untuk hidup sehari-hari?

 

Dengan demikian maka ajakan saya untuk yang seperti  di bawah ini bukan lagi sesuatu yang berlebihan. Marilah kita kembali ke rumah dan segera mengurusi lingkungan kita sendiri-sendiri di rumah kita masing-masing. Bukankah itu adalah rumah tinggal (home) dan bukan hanya sekedar bangunan fisik sebuah rumah (house). Sebuah istana kecil dan pusat kerajaan kecil dari seorang Bapak dan Ibu Rumah Tangga?? Disitu kita membesarkan dan mendidik anak dan keturunan kita, kelompok (clan) kita.

 

Mari kita cuèk (atau cuèg?) saja, tidak perduli saja terhadap tingkah laku perserta pilkada, pemilu dan komentar-komentar mereka yang bergelar politikus dan pelaku media yang morat-marit serta sama sekali tidak patut dicontoh. Bukankah masih segar ingatan kita slogan yang berbunyi: Memasyarakatkan olah raga dan mengolah-ragakan masyarakat. Pada kenyatannya kita boleh bilang sekarang ini, saat ini, mengenai pemilihan umum. Memasyarakatkan pemilu dan memilukan masyarakat. Bukankah karena hasil pemilu, maka ada banyak sekali rakyat Indonesia menjadi pilu hatinya??

 

Hentikanlah memberi mereka kemudahan-kemudahan apalagi menyogok mereka dengan cara apapun.

 

Kita bina rumah tangga kita sendiri, lingkungan keluarga kita sendiri. Satu rumah tangga baik dan beres jalannya untuk setiap orang, akan menular ke tetangga dan akan menular ke RT di sebelahnya serta melebar ke Rukun Warga, ke Kelurahan dan ke Kecamatan dan ke Kota, selanjutnya  melebar ke mana-mana.Melebar dan bertambah lebar.

 

Semoga segera bisa kita mulai.

 

 
Anwari Doel Arnowo – Singapura 15 Maret, 2008