Active ImageMenang tanpa ngasorake, landep tanpa anglarani…

(menang tanpa merendahkan, tajam tanpa menyakiti) 

 
Peribahasa Jawa di atas menyiratkan sebuah pesan moral penting bahwa

kemenangan tidak boleh diikuti dengan keangkuhan.

 
Sayangnya, sikap moral yang sangat penting itu justru dilanggar olehpartai-partai oposisi Malaysia yang mencatat prestasi dramatik dalam

Pilihan Raya Malaysia ke-12 yang lalu.
 

 
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Malaysia, partai-partai oposisiyang dimotori DAP, PKR, dan PAS berhasil menguasai lima negara bagianplus Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur. Untuk pertama kali dalamsejarah, ketiga partai itu bertukar posisi menjadi partai yangmemerintah, dari opposition party menjadi governing party. Dan untukpertama kalinya pula dalam sejarah, partai-partai pemerintahan lamayang berkoalisi dalam Barisan Nasional kehilangan mayoritas 2/3 kursi

di parlemen.

 
Sejarah baru untuk Malaysia telah ditulis. Dan hal ini menciptakanbanyak keterkejutan bagi semua pihak, termasuk kepada pihak oposisi

yang agaknya tidak siap menyambut prestasi besar ini.

 
Belum hilang lagi keterkejutan atas hasil pemilu yang sungguh di luardugaan, DAP (yang didominasi kaum Cina Malaysia) telah menyatakantekadnya untuk menghapus praktik Dasar Ekonomi Baru (DEB) yang dibuatdi tahun 1971 menyusul pecahnya kerusuhan antara kaum Cina dan Melayuyang diakibatkan lebarnya jurang ekonomi antara dua puak tersebut.Pada dasarnya, DEB memberi keutamaan kepada ras Melayu untukmendapatkan kemudahan di bidang ekonomi dibanding ras Cina dan Indiayang tujuan akhirnya untuk merapatkan jurang ekonomi antar puak di

Malaysia.

 
Sebagai partai oposisi, DAP tentu bisa bicara apa saja seenakperutnya. Agaknya DAP sudah lupa bahwa saat ini mereka sudah menjadipartai yang memerintah. Sebagai governing party, perkataan dantindak-tanduk DAP akan membawa efek langsung kepada negara. Danseperti yang diduga, tekad DAP menghapus DEB langsung memicu reaksinegatif dari sebagian puak Melayu. DAP rupanya lupa bahwa mereka bisamenang bukan hanya karena suara puak Cina, tapi juga suara puak Melayu

yang sudah bosan dengan pemerintahan lama.

 
Para petinggi DAP harus sadar bahwa perubahan tidak bisa dibuat dalamsemalam. Lihat bagaimana kaum Afro-Amerika berjuang menghapusperbudakan dan diskriminasi ras di Amerika Serikat. Apakah semuaterjadi dalam sekejap mata? Tidak. Proses menghapus diskriminasirasial terhadap kaum hitam Amerika bukan baru dimulai kemarin, tapisudah sejak tahun 1867. Sudah 141 tahun pun diskriminasi rasial belum

lenyap sepenuhnya dari bumi Amerika.

 
Ojo kesusu (jangan terburu-buru). Rakyat Malaysia hanya ingin buktiapakah partai-partai oposisi yang dulu gemar berteriak-teriak inibetul-betul bisa bekerja. DAP harus memusatkan energinya untuk bekerjamengabdi kepada rakyat ketimbang mengeluarkan pernyataan-pernyataankontroversial yang hanya akan menumbuhkan perasaan sakit hati pihaklain. DAP harus sadar bahwa kemenangan yang diraihnya bukan kemenanganmutlak, dan semua orang waras yang berada dalam posisi ini lebih

memilih untuk menguatkan landasan pijak ketimbang mengumbar sorak.

 
Ada satu pesan bijak bahwa orang lebih mudah menerima kekalahanketimbang kemenangan. DAP harus belajar untuk menerima kemenangan

tanpa merendahkan orang lain, dan tetap tajam tanpa harus menyakiti.

 
Bimo

http://bimotejo.blogspot.com/2008/03/kalau-oposisi-ketiban-kuasa.html