Tadi malam adalah malam pengrupukan, malam menjelang nyepi yang di seluruh Bali selalu dirayakan dengan Pawai Ogoh-Ogoh.

foto dari: http://fishi2.blogspot.com/2005_02_01_archive.html

(terima kasih pada Poppy A.P.))

Seperti biasa sudah menjadi ritual rutin keluarga saya untuk pergi ke
Perempatan jalan antara Jalan Pantai dan Jalan Legian di Kuta untuk
menyaksikan Pawai Ogoh-Ogoh, di sini selalu setiap Tahunnya adalah
tempat pawai Ogoh-Ogoh paling meriah di banding tempat manapun di
seluruh pelosok Bali, Ogoh-Ogoh di sini selalu dibuat dengan bentuk yang
spektakuler bahkan kadang untuk membuat patung Ogoh-Ogoh terbuat dari
material utama styrofoam yang akan dibakar lusanya, satu hari setelah
Nyepi biaya satu unitnya bisa mencapai 60 juta rupiah.

Tapi tahun ini pawai Ogoh-ogohnya tidak semeriah tahun lalu. Ketika saya
tanyakan kepada salah seorang anak-anak pembawa Obor yang menjadi
barisan pembuka bagi pengusung Ogoh-ogoh, ternyata penyebab turunnya
kualitas pawai Ogoh-ogoh tahun ini adalah karena pawai tahun ini tidak
dilombakan, sehingga para pemuda banjarpun ogah-ogahan ketika membuat
ogoh-ogohnya, bahkan banyak Ogoh-ogoh yang dibeli jadi.

Saya dan keluarga selalu menyukai acara ini karena dalam acara ini ciri
Bali yang mikro kosmos alias ‘miniatur peradaban dunia’ dapat terasakan
dengan jelas, para penonton pawai ini adalah manusia-manusia yang
mewakili berbagai etnik, ras dan peradaban di dunia.

Kami yang datang agak terlambat terpaksa memarkir kendaraan di depan BRI Cabang Kuta. Saat itu ribuan orang sudah memadati pentas utama di depan Pura persimpangan bemo corner. Untuk mencapai lokasi favorit kami, perempatan Legian, kami terpaksa harus menerobos lautan manusia yang terdiri dari berbagai ras itu. Sambil menggendong anak saya Qien Mattane Lao yang baru berumur tiga tahun. Saya menorobos masuk sambil tanpa henti mengucap kata ‘permisi’ yang juga diikuti oleh anak saya  dengan cara yang sangat menarik perhatian sehingga membuat orang-orang yang dimintai permisi menoleh sambil tersenyum ke arah kami. Di depan kami ada pasangan Spanyol yang juga datang terlambat dan seperti kami
merekapun bermaksud menuju ke perempatan Legian. Ketika anak saya terus menerus meneriakkan ‘permisi…permisi’ dengan lidah bocahnya yang belum fasih mengucapkan huruf  ‘r’ si istri orang Spanyol ini sambil tersenyum geli beberapa kali mengucapkan ‘masih belum dapat jalan adik, sabar ya’ dalam bahasa Indonesia beraksen bule yang ‘otentik’, yang sama sekali tidak mirip dengan bahasa Indonesia beraksen bule yang ‘norak’ dan
‘maksa’ ala Cinta Laura.

Setelah beberapa menit bersempit dan berimpit ria, akhirnya kami sampai
juga di pertigaan Legian.

Istri saya yang mantan ketua UKS fotografi di sekolahnya semasa SMA
dulu, seperti biasa selalu menjadi kalap melihat banyaknya momen bagus
untuk di abadikan. Anak saya yang sejak bayi sudah akrab dengan kamera
dan kilatan blitz, dijadikannya model sekaligus latar depan fotonya.
Walhasil jadilah anak saya berfoto dengan berbagai gaya bersama
anak-anak kecil pembawa obor yang menjadi peserta pawai, bersama anak
kecil lain yang menggotong ogoh-ogoh kecil buatan mereka sendiri,
bersama pemuda banjar yang menggotong-ogoh-ogoh utama. Anak saya juga difoto berdampingan wajah dengan patung ogoh-ogoh sebagai skala
pembanding baik ‘ukuran’ maupun ‘kecakepan’, juga tidak ketinggalan anak
saya difoto dengan para penari dan pemain musik yang mengiringi pawai
bahkan dengan bapak-bapak pecalang berpakaian hitam dan sarung
kotak-kotak yang mengawal keamanan acara.

Aktifitas yang sama juga dilakukan oleh para penonton pawai yang lain,
seperti dua cewek turis Jepang tipikal yang gila foto, yang juga seperti
semua cewek turis jepang lainnya mereka nggak punya kreatifitas ketika
bergaya di depan kamera yang cuma punya satu jurus andalan untuk segala
suasana, entah itu lagi makan di restoran, di pantai, di depan pura, di
depan patung dan bahkan di depan ogoh-ogoh ini seklipun, tersenyum
sambil mengangkat tangan dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk
huruf ‘V’, kadang-kadang ditambah variasi dengan mengangkat sebelah kaki
ke belakang.

Ada juga pasangan Rusia yang juga tipikal turis Rusia yang jarang senyum
dan muka terus ditekuk, yang meskipun dalam suasana liburan dan berfoto
dalam sebuah kegiatan budaya, mimik wajahnya tetap seperti wajah anggota
Brimob yang berjaga di depan pintu ATM untuk mengawal  anggota Securicor yang melakukan pengisian uang kedalam mesin ATM yang kosong.

Di samping saya di atas trotoar berdiri pasangan Perancis yang tipikal
juga, hanya memotret aktifitas pawainya tanpa merasa perlu untuk tampil
sebagai obyek foto, mereka memotret aktifitas pawai sambil tanpa henti
bliang ‘oh c’est magnifique…c’est magnifique’ . Merekapun hanya
mengobrol berdua saja, tidak melibatkan orang di kanan kiri, karena
memang seperti umumnya turis Perancis mereka memang tidak bisa berbahasa Inggris. Sama seperti turis Rusia dan Jepang yang sedang berfoto-foto di depan kami yang juga hanya bisa berbicara dalam bahasa nasionalnya.

Setelah puas berfoto Mattane Lao anak saya menghambur ke arah saya dan
minta digendong di atas bahu supaya dia dapat menyaksikan seluruh
prosesi pawai dengan leluasa, rupanya apa yang saya lakukan menarik
perhatian turis Rusia di depan kami. Si turis Rusia minta izin untuk
memotret kami dengan menggunakan bahasa Rusia yang tidak saya mengerti sepatah katapun. Saya tahu dia meminta izin untuk memotret dari isyarat bahasa tubuhnya lalu saya mempersilahkannya menggunakan bahasa Indonesia yang sama sekali tidak dia mengerti pula. Dengan suka cita si Rusia memotret kami dengan kamera digitalnya kemudian dengan wajah cerah menunjukkan hasil potretan yang nanti akan dia pamerkan kepada teman-teman di negaranya. Bisa jadi nanti foto bapak dan anak berkulit coklat yang menonton pawai ogoh-ogoh itu akan menjadi bahan tertawaan atau kekaguman teman-teman Rusianya di Siberia yang dingin dekat kutub utara sana.

Kami kemudian berjalan menuju pura kecil yang dibangun tepat di tengah
jalan di perempatan jalan Legian dan jalan Pantai. Saya berdiri di
samping kolompok turis Australia yang langsung saya kenali dari aksen
bahasa inggrisnya yang khas, salah seorang di kelompok itu menonton
sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Pemandangan ini langsung
menarik perhatian Mattane Lao yang memang ‘pecinta bayi’ , yang lalu
memaksa saya untuk mendekati mereka dan langsung menjadi lebih tertarik
kepada si bayi ini daripada pawainya. Apalagi bayi bule yang bernama
Jeremy ini mirip sekali dengan sepupunya di Jakarta yang umurnya cuma
lebih tua satu bulan dibanding Jeremy.

Suasana di malam Pengrupukan di Legian ini, adalah cerminan dari
kehidupan sehari-hari di Bali, di sini berkumpul orang-orang dengan
latar belakang beragam kebudayaan dari seluruh nusantara dan dunia,
hidup saling berdampingan tapi jarang sekali bersentuhan. Di Bali setiap
orang hidup dengan identitasnya masing-masing, bergaul dengan kelompokya masing-masing, berbicara dalam bahasanya masing-masing sambil tetap menghormati identitas dan kebiasaan kelompok lain, bergaul dalam masyarakat yang super plural tanpa harus kehilangan identitas karena terpaksa meleburkan diri ke dalam berbagai kelompok yang aneka ragam itu.

Inilah uniknya Bali, ketika daerah manapun di dunia selalu kehilangan
identitas asli daerahnya ketika diserbu oleh pengaruh luar, Bali justru
sebaliknya ketika serbuan nilai dan budaya luar semakin deras justru
semakin jelas pula Bali menampakkan identitas aslinya. Adalah
pemandangan biasa kalau sehari-hari kita menyaksikan laki-laki dan
perempuan Bali berjalan atau naik motor dengan pakaian adat menjunjung
banten di atas kepala melewati serombongan surfer bertelanjang dada,
atau bahkan seorang pemangku berbaju putih dan perlengkapan upacara
lengkap memegang dupa yang terbakar dengan khusuk berdo’a di pantai Kuta di samping seorang perempuan bule berbikini yang sedang berjemur di
bawah sinar matahari.

Atmosfer yang seperti ini juga menular kepada kelompok-kelompok etnik
maupun ras lain yang tinggal di Bali, bukannya melebur dalam sebuah
melting pot dan kehilangan identitas aslinya (seperti di Amerika), bukan
seperti kota-kota berbudaya majmuk dan Plural lainnya seperti Jakarta,
Medan atau Surabaya yang menyerap setiap pendatang (terutama setelah
generasi kedua) dari berbagai budaya yang merantau ke sana menjadi satu
budaya, Jakarta, Medan atau Surabaya, sebab pola prestise yang berlaku
di kota-kota tersebut justru menuntut pendatang untuk bisa melebur
dengan budaya setempat, anda merantau ke Jakarta akan diakui oleh
lingkungan sekitar hanya jika anda bisa berbicara berpikir dan bersikap
seperti orang Jakarta, anda merantau ke Medan akan diakui oleh
lingkungan sekitar hanya jika anda bisa berbicara berpikir dan bersikap
seperti orang Medan, anda merantau ke Surabaya akan diakui oleh
lingkungan sekitar hanya jika anda bisa berbicara berpikir dan bersikap
seperti orang Surabaya.

Tapi Bali sangat berbeda keberagaman di Bali justru semakin memperkuat
identitas asli suku-suku maupun bangsa-bangsa lain yang tinggal di Bali.

Karena sikap orang Bali yang demikian kuat memegang identitas
kebaliannya dan begitu protektif menjaga kemurnian identitas Bali mereka
dari pengaruh luar membuat para pendatang yang tinggal di Balipun mau
tidak mau sadar atau tidak sadar terpaksa memperkuat identitas asli
mereka sendiri, sebab mereka tahu untuk bisa eksis di Bali mereka mau
tidak mau harus berpegang pada Identitas asli mereka, Di Bali anda yang
pendatang tidak akan pernah bisa menjadi orang Bali, meskipun anda
bicara sangat fasih dalam bahasa Bali dan bersikpa persis seperti orang
Bali, anda tidak akan pernah jadi orang Bali, karena anda tidak punya
Banjar, anda tetap hanya akan disebut pendatang di Bali.

Akibat dari atmosfer sperti ini orang Makassar yang tinggal di Bali
semakin kental kebugisannya, orang Flores yang tinggal di Bali semakin
kental ke Floresannya, Orang jawa di Bali makin kental kejawaannya.

Warga asing yang tinggal di Balipun demikian juga, dengan tinggal di
Bali mereka justru semakin kental identitas aslinya, sehingga di Bali
ada kampung Perancis, ada kampung Italia ada Kampung Spanyol, Australia
dan lain-lain atmosfer di semua tempat itupun jadi sangat mirip dengan
atmosfer di negara asal mereka, jika di negara asal mereka ada perayaan
seperti misalnya fete de la Musique, sebuah tradisi pesta musik perancis
yang dilaksanakan setiap awal musim semi di setiap kota dan kampung di
Perancis, di Balipun kita bisa menemukan pesta sejenis itu yang biasanya
mereka selenggarakan di L’alliance Francaise di Renon.

Ajaibnya, mengentalnya identitas kesukuan dan kebangsaan seperti yang
terjadi di Bali ini alih-alih menciptakan konflik antar etnis atau
benturan antar kelompok justru yang ada malah antar kelompok etnis dan
bangsa ini jadi saling menghormati dan saling menghargai, setiap
kelompok memandang budaya kelompok lain dengan penuh kekaguman.

Pola seperti ini membuat pola prestise di Bali juga berbeda dengan pola
prestise di kota seperti Jakarta misalnya, di sini justru orang semakin
dihargai jika semakin banyak dia mengenal budayanya, orang Gayo seperti
saya misalnya akan mendapat respek dari katakanlah orang Perancis hanya
jika saya sangat mengerti tentang budaya Gayo, bagaimana cara
berpakaian, jenis-jenis keseniannya cara hidupnya dan lain-lain, orang
Balipun demikian orang Bali yang dikagumi oleh para bule yang datang ke
sini adalah orang Bali yang sangat kental kebaliannya, dan sebaliknya
yang dipandang rendah di Bali justru orang lokal yang bergaya
kebarat-baratan.

Kultur seperti ini membuat Bali yang justru menerima serangan budaya
asing paling kuat malah menjadi tempat yang subur untuk memperkuat
identitas lokal, sangat berbeda dengan kultur Jakarta yang western phile
itu, yang memuja segala sesuatu yang berbau bule, kultur yang membuat
anak muda Jakarta justru malu dengan identitas lokalnya sebaliknya anak
muda Jakarta malah bangga dan belomba-lomba menjadi `Bule
Palsu’, salah satu hasil nyata dari kultur norak seperti ini dapat
kita saksikan dengan lahirnya fenomena aksen Cinta Laura yang SUPER
NORAK bin AJAIB itu, sebuah fenomena yang sangat mustahil terjadi di
Bali.

Pola prestise yang menekankan pada kebanggaan akan identitas asli ini
bisa kita lihat pula dalam pola prestise mendapatkan pasangan, jika di
Jakarta (dan kota-kota lain) orang seolah berlomba-lomba menggaet
pasangan bule, nggak cewek dan nggak cowok seolah berada di langit ke
tujuh dan menjadi sorotan kekaguman semua orang jika menggandeng bule di
salah satu Mall yang bertebaran di pelabagai sudut Jakarta, di Bali
justru sebaliknya memiliki pasangan bule hampir-hampir bisa dikatakan
aib, sangat sering saya mendengar celetukan para pedagang souvenir di
Poppies Lane II ketika menyaksikan seorang cewek lokal yang cantik
(kadang artis) asal Jakarta digandeng seorang pria bule…menyaksika
pemandangan seperti ini selalu celetukan para pedagang itu adalah,
`kasihan…kok cantik-cantik mau sama `tamu’ , di Bali tamu
adalah idiom untuk orang asing (bule).

Kultur seperti ini membuat Bali jadi sangat berbeda dengan daerah tujuan
wisata populer lain yang seringkali terpaksa menanggung efek negatif
dari marak dan suksesnya sektor pariwisata, sebutlah Thailand misalnya
yang harus menanggung masalah sosial akibat tingginya tingkat pelacuran
dan epidemi AIDS sebagai residu atau limbah pariwisatanya, masalah
tersebut menjadi harga mahal yang harus ditanggung oleh pemerintah
Thailand sebagai bayaran atas kesuksesan sektor pariwisata mereka.

Kultur seperti ini pula yang membuat Bali jadi daerah tujuan wisata yang
‘kelas’, tidak seperti Thailand yang citra `esek-esek’nya
membuat banyak orang-orang tua pensiunan dari eropa justru malu jika
berlibur ke sana, karena melekatnya citra Pariwisata Thailand dengan
‘esek-esek’ tersebut, para lelaki tua pensiunan yang berlibur sendirian
ke Thailand seringkali mendapat pandangan jail dan menerima
senyum-senyum menggoda dari para tetangga ketika kembali ke negara asal.
Akibatnya banyak wisatawan pensiunan dari Eropa yang merasa tidak nyaman
berkunjung ke Thailand dan sialnya wisatawan kelompok inilah yang
biasanya sangat royal mengeluarkan uang ketika sedang berwisata, sebab
umumnya mereka sudah tidak punya tanggungan lagi, uang yang mereka punya
memang dipersiapkan untuk menikmati sisa hidup.

Memang bukan berarti ekses negatif semacam pelacuran itu tidak ada, tapi
mereka yang menjadi pelacur dan gigolo di Bali hampir seluruhnya adalah
pendatang yang bukan warga Bali asli. Berberkaitan dengan masalah susila
ini perempuan yang berasal beberapa Kota di Jawa Timur seperti
Banyuwangi dan Jember sering digebyah-uyah secara stereotip dikaitkan
dengan citra tidak baik.

Selain dari Jawa Timur banyak juga pekerja seks komersial yang berasal
dari Jawa Barat, yang di Bali dipukul rata disebut ‘Cewek Bandung’.

Yang menjadi ‘pasar’ dari kegiatan inipun umumnya bukan wisatawan asing,
meskipun bukan berarti tidak ada, tapi ‘pasar’ terbesar dari kegiatan
ini dari pengamatan secara kasar bisa dikatakan 80% adalah laki-laki
pendatang dari luar yang umumnya berasal dari Jawa juga, mereka itu
adalah para lelaki yang mencari nafkah di Bali dengan meninggalkan
keluarga di tempat asal.

Kalau Gigolo memang pasarnya hampir 100% wisatawan asing tapi keberadaan
para Gigolo ini di Bali tidak semencolok para pelacur perempuan. Gaya
melacur gigolo juga beda, gigolo di Bali tidak mengenal sistem sehabis
pakai bayar atau jasa yang dibayar secara ‘cash and carry’ eh ‘carry and
cash’ maksudnya.

Sasaran tembak atau mangsa para Gigolo berbadan kekar, berkulit hitam
legam dan berambut merah alami karena terbakar matahari ini hanya
perempuan-perempuan bule tua yang kesepian, mereka tidak pernah tertarik
melihat tubuh-tubuh muda nan sintal bule-bule yang setiap hari berjemur
dengan pakaian minim di depan mereka.

‘Gigoloisme’ di Bali lebih tepat dikatakan sebagai gaya hidup. Gaya
hidup gigoloisme di Bali sangat mirip dengan gaya hidup para artis papan
bawah di Jakarta yang sebenarnya berprofesi utama sebagai
`simpanan’ pengusaha atau pejabat kaya lalu mendapat imbalan
berupa berbagai fasilitas penunjang hidup dan penampilan mereka sebagai
artis yang sering muncul di infotainment yang merupakan medianya para
`jurnalis wannabe’.

Adrien W.Xenophanes
Orang Gayo tinggal di Bali