Bandung, 7 Maret 2008 Dalam menulis ini, tiada niat saya sedikitpun untuk memperolok atau mencemooh. Bukankah ini bangsa dan negara saya juga? Namun, gejolak dalam hati serasa tak terbendung. Untung saya masih dapat menyalurkannya melalui tulisan. Lebih untung lagi kalau ada yang mau membacanya.

Kita rakyat Indonesia sudah sering menyaksikan tontonan di panggung politik, bagaimana para pimpinan dan wakil rakyat bereaksi terhadap suatu berita ataupun pernyataan seseorang yang membuat yang bersangkutan kesetrum. Pada kesempatan pertama ia langsung bekoar kenceng, berusaha meluruskan persoalan menurut versinya sendiri. Bahkan hari ini di Kompas saya melihat iklan satu halaman penuh dari penguasa, yang merasa perlu bereaksi atas tema kampanye para capres yang mengusung isu kemiskinan, yang menurut persepsinya melecehkan kinerjanya. Sikap reaktif seperti ini terlalu sering kita saksikan.

Lebih jauh lagi, bila terjadi gagal panen beras, aaaaah gampang itu. Impor saja. Thailand, Vietnam punya banyak. Kekurangan gula? Minyak goreng, terigu langka? Ah, gampang, blah blah blah. Harga kedelai impor naik? Ya, turunkan saja bea masuknya, beres toh? Flu burung? Musnahkan saja seluruh peternakan yang terjangkit. PLN kekurangan pasokan batubara? Yah itu mah sepele atuh, digilir saja pemadaman dan kemudian pelanggan disuruh kurangi pemakaian, dan kalau lebih, kena tarif mahal. Begitu juga: kebakaran hutan, banjir, longsor, perusakan lingkungan, dll.

Di negeri ini problem-problem semacam ini ditanggulangi secara reaktif belaka. Tindakan dadakan, sepotong-sepotong yang bersifat terapi simptomatis sesaat. Padahal, banjir, di Jakarta misalnya, dapat diprediksi kapan bakal datang (kembali). Begitu juga musibah yang lainnya. Tiada tindakan yang mendasar, mencari solusi untuk mengatasinya dan mencegah jangan terjadi lagi. Salah siapa ini semua? Menurut saya, salah para pimpinan. Agaknya mereka terlalu sibuk menjaga posisi dan kepentingan pribadi dan partainya. Rakyat terus yang harus menjadi korban karenanya.

Namun ternyata masih banyak hal lain di mana para pimpinan TIDAK bereaksi atau mengambil tindakan dadakan. Apa itu? Gedung-gedung sekolah dibiarkan ambrol dan hancur di mana-mana. Berita memilukan, seorang ibu dan anaknya mati kelaparan di sebuah kota besar. Anak sekolah menggantung diri karena malu tidak bisa membayar uang sekolah. Nelayan sengsara diterpa berbagai kemalangan. Insan jelata yang tergusur rumah dan tempat bekerjanya. Lumpur mengalir sampai jauuuuuh. Kata orang Betawi: “EGP? Emang gue pikirin?”

Negara kita saat ini betul-betul membutuhkan Pemimpin, bukan pimpinan. Pemimpin yang nasionalis sejati, mau membela negara dan rakyatnya dalam arti sesungguhnya, mau mengorbankan kepentingan dirinya. Hampir 63 tahun lamanya mayoritas rakyat kita menantikan giliran mereka boleh menikmati sesuatu dari kemerdekaan kita. Cukup sudah kesabaran. Pada masa ini, para pimpinan bekerja terlalu asyik secara individualistik. Saling menyikut, menjatuhkan, menjelekkan ‘lawan’nya, dsb. Semua demi kepentingan pribadi atau golongannya. Sampai ada yang menyindir, kenapa ya di Indonesia kok bisanya ribut melulu? Bagai di kehidupan rumah tangga, bila orangtua bertengkar terus, maka anak-anak yang risau berpotensi untuk kabur. Karena melihat, the neigbor’s grass is perhaps greener. Setidaknya nyaman karena damai. Damai dahulu, sejahtera akan segera menyusul.

Kita butuhkan Pemimpin yang mampu mempersatukan seluruh potensi anak bangsa. Dan menjadikannya sebuah Tim Tangguh yang padu bekerjasama menuju satu tujuan yang sama. Semua diarahkan kepada kepentingan rakyat banyak. Semua kebijakan dan implementasinya harus jelas berpihak kepada rakyat banyak.

Pemimpin berkarakter kuat dalam membina dan meningkatkan kemampuan anggota timnya agar dapat membuat konsep yang jelas, kemudian bersikap aktif, dan tidak sekedar reaktif. Pemimpin visioner yang dapat melihat ke mana bangsa dan negaranya ini akan dibawa ke dalam tatanan pergaulan global yang damai dan bersahabat. 

Saya melihat titik cahaya di ujung lorong gelap ini.

Iklan