Pada abad 19 ketika dunia Islam diserbu oleh ide-ide Barat sekuler, seperti Gerakan rasional dan gerakan anti mistik, tasauf pernah dituding sebagai biangkeladi kemunduran Islam dan dikutuk oleh beberapa kalangan modernis ketika itu. Imam Gazali dan Ihya `Ulumuddinnya cukup lama "dihujat" sebagai biangkeladi kemunduran Islam.
Jatuhnya kekuasaan politik dunia Islam ke penjajahan Barat sering
kesalahannya dialamatkan kepada tasauf oleh orang Islam yang
kebarat-baratan, dan bahkan mereka berteori bahwa kajian tasauf itu
sengaja direkayasa oleh pihak kolonialis Barat untuk melemahkaan
Islam dari dalam. Para Orientalist sangat berperan dalam menanamkan
kesan dangkalnya nilai kerohanian dan metafisik ajaran-ajaran Islam
kepada kaum terpelajar muslim yang menimba ilmu di Barat, yang karena
faktor bahasa, yakni mereka tidak mampu memahami literatur berbahasa
Arab, menjadi sangat tergantung kepada karya para orientalist
tersebut. Menurut Sayyid Husain Nashr, pada akhir Perang Dunia II
dapat dijumpai dua kelompok mahasiswa di Universitas di negeri kaum
muslimin yang mengalami modernisasi sekuler, pertama yang anti Islam
dan yang kedua muslim tapi tidak respek kepada syari'ah Islam, dan
keduanya menentang tasauf.

Akan tetapi hal-hal berikut ini ; (a) desintegrasi nilai-nilai
kebudayaan Barat serta kekecewaan yang dirasakan akibat modernisasi,
(b) ancaman malapetaka yang dibawa oleh peradaban Barat, dan firasat
makin dekatnya ancaman itu dan © bukti adanya ketidak jujuran
intelektuil Barat terhadap Islam menyatukan dua kelompok itu, dan kini
mereka justeru nampak haus terhadap tasauf, atau sekurang-kurangnya
sudah ada sikap baru yang lebih positip terhadap tasauf.

Memang peradaban Barat yang telah mencapai puncaknya, di sisi
lain juga mencapai semacam titik jenuh dengan sekularisasi yang
melampaui batas dan kebebasan yang negatip, suatu proses yang tak lain
merupakan penjauhan benda-benda dari makna spiritualnya. Dari
kejenuhan itu akhirnya masyarakat Barat menerima kehadiran dukun-dukun
kebatinan dan ahli yoga yang datang ke Barat secara berduyun-duyun
membentuk organisasi. Manusia kini secara naluriah merasakan
pentingnya meditasi dan kontemplasi, namun sayang hanya sedikit
agama yang secara disiplin menjalankan syari'atnya yang otentik
sebagai satu-satunya jalan yang mendatangkan kegembiraan dan
ketenangan, yaitu melalui perenungan yang dalam tentang keabadian
surgawi. Karena mereka tidak menemukan jalan yang meyakinkan akhirnya
mereka lari kepada obat-obat bius, atau pusat-pusat realisasi diri
atau guru-guru kerohanian palsu dari Timur, satu hal yang menurut S.H.
Nashr merupakan bentuk pembalasan dendam luarbiasa terhadap Barat
atas semua yang dilakukannya terhadap tradisi-tradisi Timur pada masa
penjajahan.

Disinilah kehadiran tasauf benar-benar merupakan solusi yang
tepat bagi manusia modern, karena tasauf Islam memiliki semua unsur
yang dibutuhkan oleh manusia, semua yang diperlukan bagi realisasi
kerohaniaan yang luhur, bersistem dan tetap berada dalam koridor
syari'ah. Betapapun paket zikir , wirid, sayr dan suluk dalam
tarekat lebih bisa "difahami" oleh orang terpelajar dibanding paket
meditasi Budhis atau Kong Hoe Chu. Penulis dua kali mengikuti
pertemuan international tarekat, pertama Sarasehan Guru Tarekat se
Dunia (Multaqa at Tasauf al Islami al `Alamy) pada tahun 1995 di
Tripoli Libia, yang kedua 2nd International Islamic Unity Conference
yang diselenggarakan oleh masyikhah Tarekat Naqsyabandiyah Amerika
pada tahun 1998 di Washington. Dari dua pertemuaan tersebut ,
tercermin kebutuhan manusia modern kepada tasauf. Di Washington
misalnya session Purification of the Self (Tazkiyyat an Nafs) paling
banyak diminati pengunjung, dan bahkan tidak terbatas hanya kalangan
kaum muslimin. Di dunia buku, penerbitan buku-buku sufisme juga
sangat pesat. Di Tasmania Australia misalnya bahkan ada toko buku
khusus menjual buku-buku tasauf (Sufi Books Store).

Relevansi tasauf dengan problem manusia modern adalah karena tasauf
secara seimbang memberikan kesejukan batin dan disiplin syari'ah
sekaligus. Ia bisa difahami sebagai pembentuk tingkah laku melalui
pendekatan tasauf suluky, dan bisa memuaskan dahaga intelektuil
melalui pendekatan tasauf falsafy. Ia bisa diamalkan oleh setiap
muslim, dari lapisan sosial manapun dan di tempat manapun. Secara
fisik mereka menghadap satu arah, yatiu Ka'bah, dan secara rohaniah
mereka berlomba lomba menempuh jalan (tarekat) melewati ahwal dan
maqam menuju kepada Tuhan yang Satu, Allah SWT.

Tasauf adalah kebudayaan Islam, oleh karena itu budaya setempat juga
mewarnai corak tasauf sehingga dikenal banyak aliran dan tarekat.
Telah disebut di muka bahwa bertasauf artinya mematikan nafsu dirinya
untuk menjadi Diri yang sebenarnya. Jadi dalam kajian tasauf, nafs
difahami sebagai nafsu, yakni tempat pada diri seseorang dimana
sifat-sifat tercela berkumpul, al ashlu al jami` li as sifat al
mazmumah min al insan. Nafs juga dibahas dalam kajian Psikologi dan
juga filsafat. Dalam upaya memelihara agar tidak keluar dari koridor
Al-Qur'an maka baik tasauf maupun Psikologi (Islam) perlu selalu
menggali konsep nafs (dan manusia) menurut Al-Qur'an dan hadis.

Wassalam,