JAKARTA di Minggu pagi, jalan utama, Sudirman-Thamrin, di jalur cepat dipenuhi oleh banyak orang yang berolah raga. Ada yang naik sepeda, jalan santai, jogging atau sekadar berjalan pelan. Minggu, 2 Maret 2008 itu, tiga orang remaja puteri tampak asyik. Badannya membungkuk, kaki mengayun sepato roda, berkecepatan 40 km per jam. Tak sampai sepuluh menit, ketiganya sudah berada di seberang menara TVRI, Senayan. Mereka mampir di deretan penjual tanaman yang tampak hijau di sepanjang jalan itu.

 

Di dalam kompleks olahraga Senayan, tepatnya di Parkir Timur, juga sedang berlangsung pameran besar tanaman, yang diprakarsai majalah Trubus. Pagi itu tampak agak  ramai, dibanding hari-hari sebelumnya, karena banyak anak SD, kelas satu hingga kelas tiga dari berbagai
sekolah diundang mengikuti lomba mewarnai gambar. Langkah mengundang anak sekolah itu, bisa jadi sebuah kiat jitu. Karena, ayah, ibu, kakak dari peserta yang ikut pastilah ada yang turut menemani. Sehingga pengunjung  pagi-pagi sudah ramai. Saya tanya kepada salah satu
pengusaha yang membuka stan di sana, ia mengatakan  penunjung tidak seramai bila acara diadakan di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Setiap tahun Trubus selalu mengadakan acara pameran flora dan fauna di  Lapangan Banteng – – dari lima belas tahun lalu – –
kali ini merambah kawasan Senayan.

Di kanan dan kiri pintu masuk, deretan tenda pameran memanjang masing-masing ke belakang. Pada deretan pertama, mata saya tertuju ke pedagang buah. Ada jambu air yang yang besarnya seukuran kepalan tangan. Merahnya tajam, beberapa bagian merah pekat. Harga yang ditawarkan Rp 55 ribu/kg. Saya tanya bisa membeli setengah? Penjual menjawab oke. Setelah menimbang, sekilo jambu ternyata hanya 5 buah. Itu artinya sebiji Rp 5 ribu lebih. Jika dalam sepohon jambu air itu berbuah 5.000 butir saja, maka bisa dipastikan sepohon menghasilkan Rp 25 juta. Saya sangat takjub dengan angka itu. Rasa jambunya  memang manis. Daging buahnya garing. Harum jambu menyengat.
Saya teringat akan sebuah tanaman jambu mawar yang bibitnya kami bawa dari perjalanan di Solo sepuluh tahun lalu, yang kami tanam belum berbuah. Jambu mawar itu, manis  rasanya, juga beraroma mawar. Suatu hari saya membayangkan, jika ada perkebunan jambu mawar yang luas, lalu ada  perkebunan bunga mawar yang juga oke, maka tinggal  membuat kemasan, di dalam boks itu ada mawar segar,  ada jambu mawar manis, tinggal membuat tag line: “Nikmati Manis dan Indahnya Cinta!” Bisa dipastikan akan meledak laku di saat hari Valentine. Dan lebih asyik pula, ia menjadi gift, yang jika dijual di bandara internasional kita, laksana satu boks anggrek yang selalu menjadi gift menarik sebagaimana dijual  di air port Bangkok, misalnya. Hidup memang kudu beride dan berkreatifitas. Karena dua kata inilah kehidupan dan peradaban kian bergerak, bertumbuh. Menyimak anak-anak sekolah yang ikut lomba menggambar di Minggu yang cerah itu, ingatan saya melayang ketika masih  seusia meraka. Di kelas satu SD, di sebuah desa Kecamatan di Sungai Geringing, Pariaman, Sumatera Barat. Saya
masih sempat mengenyam pendidikan hingga kelas 3 di  sana. Menggambar adalah sebuah mata pelajaran yang  begitu membekas di benak saya. Bekasnya tidak akan  lekang dimakan waktu. Syahdan, kami diminta menggambar pemandangan. Saya mewarnai langit dengan
warna-wani, bahkan ada merah, coklat, abu-abu. Guru memarahi saya. Langit mesti biru. Gunung segitiga. Jalan persepektif, dan seterusnya. Karena acuan menggambar demikian, gambar kami di sekolah  hasilnya, sudah dapat ditebak, senada selanggam seirama. Sebentuk pula.

Logika yang sama, masih dapat ditemui di sekolah-sekolah dasar, bahkan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, saat ini. Saya heran, apa yang salah dari pengajaran menggambar kita? Ketika suatu hari menjadi salah satu juri lomba gambar dan mewarnai, yang diadakan oleh Junior Chambers International  dan HIPMI, tahun 1999, bersama Kak Seto, kami sempat sulit menentukan pemenang. Karena anak-anak tampak  cukup kreatif, warna gambar penuh. Beberapa pemenang – – ada yang dari Jogya – – tarikan garisnya sudah  seperti pelukis senior. Ada yang mewarnai dengan krayon berkombinasi cat air. Tetapi lomba menggambar di Minggu pagi di Senayan kali ini, hanya mewarnai gambar yang sudah berbentuk. Anak-anak tinggal menggoreskan warnanya saja. Di dalam hati saya bertanya, dari ratusan peserta itu bagaimana cara menilainya?

 

 

Ingatan saya melayang kepada almarhum Pak Tino Sidin, yang pernah mengasuh acara mengggambar di TVRI dulu. Masih kental ingatan akan kata, “Bagus!”nya. Memang demikianlah seharusnya kita memberi ponten kepada anak-anak, bagus, bagus, dan bagus untuk sejelek apapun gambar, sehingga mereka punya kebanggaan untuk terus berkarya. Bukan sebaliknya.

Pengalaman urusan gambar ini juga membekas di benak saya berikutnya, ketika pada 2002 lalu atas prakarsa Dikmenjur. Diknas, saya bersama Denny Djoenaid, animator keliling ke Jawa dan Bali, untuk menilai kemampuan membuat anatomi guru-guru kesenian di SMK. Dari lebih seribu guru yang kami amati, tak sampai tiga orang yang mendekati benar dalam membuat anatomi. Padahal dengan pengajaran anatomi yang baik, akan menolong kemampuan dasar untuk seseorang melangkah masuk ke industri animasi.

Di Jogya, kami melihat ada guru yang mengajarkan anatomi dengan gamblang. Fotokopi anatomi manusia dari buku biologi, lalu di trace pakai meja gambar berlampu. Anak-anak tinggal menjiplak. Begitulah pengajaran anatomi selama 30 puluh tahun lebih di negeri ini diajarkan secara salah kaprah.

Dan lebih keblinger lagi, ketika sebelum berangkat ke daerah, di ruang rapat Dikmenjur, Diknas, seorang guru bergelar S2, mengusulkan agar pelajaran matematika di sekolah kesenian dihapuskan saja. Sontak kala itu perut saya sakit mendengarnya. Untung saja tidak muntah. Negeri ini memang berlogika terbalik-balik. Lakonnya memang tak terbantahkan. Seorang artis di televisi begitu bangga akan anaknya yang pre-school di usia 2 tahun berbahasa Inggris. Tidak salah tentu. Tetapi bila si anak di rumah, juga lingkungannya berbahasa Indonesia, apa jadinya? Lain hal bila dalam keluarga selama 24 jam semua berbahasa Inggris. Sehingga bila tumbuh ia paham logika bahasa mana yang harus diikutinya.

Tidak menjadi anak yang berlogika bahasa bingung alias bodor. Sehingga jika kata bodor itu menjadi pegangan, tidaklah salah untuk menuding kehidupan bangsa ini tengah kebingungan. Bingung melihat potensi agrikulturnya yang harus dikembangkan, misalnya. Lihat saja ide soal jambu mawar tadi. Siapa yang harus meprakarsainya? Hingga di sini Anda tinggal menjawab sendiri. Toh Menteri pertaniannya juga bingung karena tak ada bank yang membiayai petani, seperti diucapkanya dalam seminar yang diadakan awal pekan lalu di Jakarta.

Mungkin yang harus kita lakukan, kembali kepada jati diri, kemampuan diri sendiri, termasuk kembali ke pendidikan yang ada di sekitar, kepada alam sekitar, tanpa lagi harus berharap kepada pemimpin. Termasuk mawar-mawar pendidik, justeru lebih banyak ada di daerah-daerah terpencil kini. Mereka berlogika genah. Semoga saja hari esok lebih cerah.

Iwan Piliang