28 – 02 – 2008  Teriakan berupa tuntutan kesetaraan mungkin belum beberapa abad terakhir ini di mulai oleh manusia. Tentunya seruan dengan suara kecil malah yang hampir tidak terdengar, pada ribuan tahun yang lalu sudah ada. Tingkatannya rakyat jelata, tetapi berkeinginan agar menjadi sepadan dengan para bangsawan, dengan para orang kaya serta berkuasa bahkan menjadi anggota kalangan Sang Baginda Raja. Kalau kita mau memikirkan masak-masak keinginan untuk setara itu, biasanya dan selalu datang dari pihak yang kurang beruntung untuk menyamai kaum yang sedang atau sudah beruntung. Yang seperti ini tentu saja amat normal.

Sudah adakah yang sebaliknya??

Mungkin saja pernah ada dan contonya bisa kita ambil misalnya saja seorang raja yang ingin hidup seperti rakyat biasa, seorang pemimpin atau khalifah yang amat merakyat. Mungkin yang dijalani oleh Siddharta Gautama Budha adalah seperti itu, seorang yang dilahirkan sebagai anak seorang raja Suddhodana yang memimpin bangsa Shakya. Daerah kekuasaan sang Raja Suddhodana, terletak di daerah yang pada jaman sekarang dikenal dengan nama Negara Nepal.  

Presiden Iran Achmad Dinejad adalah conto lain yang paling mengena. Seorang penguasa seperti dia, masih hidup dirumahnya yang kecil sejak dia masih dosen, tidur bukan diatas tempat tidur, tetapi diatas kasur yang digelar dilantai, kalau bersembahyang di dalam masjid, dia duduk dimana saja, ditengah jemaah lain, tidak menuju ke saf paling depan seperti Presiden Indonesia, yang selalu begitu. Juga misalnya sekarang Bill gates yang terkenal sebagai orang yang paling kaya di seluruh dunia itu.

Bukankah tidak mungkin bagi dia untuk berpikir menginginkan menjadikan dirinya menjadi orang kebanyakan. Hampir mustahil dia mau dan bisa berbuat seperti itu.

Paling tidak dia hanya akan bisa bila menyamakan dirinya seperti Warren Buffet (dermawan yang mungkin saat ini orang terkaya kedua setelah Bill gates) yang hidup sesederhana citra dan gaya serta kelas dia sesuai kemauannya.

Tentu saja tingkat hidup yang dicita-citakan oleh Bill Gates dan Warren Buffet tidak bisa sama.

Kalau sekarang ini ada yang meneriakkan kesetaraan mungkin sekali adalah karena jurang yang memisahkan kaum yang merasa dirinya tidak setara dengan kaum yang ingin disetarai, semakin curam dan semakin lebar saja.

Lihatlah banyaknya jumlah kaum miskin dan kaum kaya serta nilai kekayaannya. Itu baru dalam kategori kaya-miskin, bagaimana dengan kaum berkuasa dan kaum tidak berkuasa?? Bagaimana dengan masalah gender-jenis kelamin? Kesetaraan hak: sesama warga negara, sesama kaum imigran, sesama anggota Rukun Tetangga dan sesama pegawai di sebuah kantor, sesama murid pesantren atau sesama murid satu perguruan tetapi berasal dari ras tertentu?? Bukankah kalau kita daftar tentu akan kita dapatkan sebuah daftar yang mata dan teramat panjang? Apalah gunanya menuntut kesetaraan kalau akhirnya hal mengenai kesetaraan itu tidak akan pernah datang dan terwujud? Bukankah sudah bukan waktunya lagi untuk bersikeras menerapkan sebuah kemauan demi  kesetaraan juga termasuk yang tidak dikecualikan. Kekerasan yang mungkin timbul karena memaksakan kehendak, tidak akan dapat  menghasilkan sesuatu yang menyeluruh. Kalau tidak berhasil maka kemungkinan besar malah menambah jauhnya cita-cita untuk bisa mencapainya, karena keadaan biasanya akan menjadi lebih buruk. Lebih jelek dari keadaan awal sebelum keadaan bersikeras tadi. Saya berpendapat kesetaraan itu tidak usah dipaksakan untuk terjadi. Bukankah rasa adil juga belum pernah tercapai.

Republik kita yang sudah berumur tua untuk ukuran manusia, 62 tahun saja tidak ada keadilan dalam kehidupan berbangsa. Saya juga melihat bahwa keadaan adil dan makmur yang menjadi idaman seluruh rakyat Indonesia tidak pernah datang sampai sekarang dan kemungkina besar juga di masa yang akan depan nanti.

Perbaikan kondisi kehidupan masih mungkin bisa datang tetapi tidak bagi semua orang, tidak bagi setiap manusia Indonesia yang hidup di Indonesia. Pemerintahan demokratis yang dielu-elukan pun masih dalam keadaan yang tidak menentu karena masih mengalami trial and error – coba dan salah atau malahan error and error-salah dan salah lagi.  

Bagi rakyat jelata setelah merdeka enam puluh dua tahun, hak mendapatkan air bersih saja masih belum bisa didapat, dan belum mendapat gambaran titik terang. Kita boleh bangga dan saya juga bangga mempunyai Panca Sila sebagai Tonggak (Principle) Negara, tetapi ternyata tidak mudah menjadikan negara kita ini, baik mereka itu para penyelenggara negara dan ataupun bahkan seluruh manusia di negara Indonesia ini untuk mewujudkan segala cita-cita yang terkandung di dalam Panca Sila itu. Lain yang diserukan dan diteriakkan lain pula kenyataannya.

Bagi saya dalam mencapai kesetaraan itu sebaiknya dengan cara menaikkan derajat, peringkat, kondisi serta kemampuan setiap perorangan ketingkat yang diingininya, dengan upaya sendiri-sendiri untuk tahap awal. Ini adalah satu-satunya jalan. Jangan mengajak teman sejawat terlebih dahulu hanya untuk membentuk massa-mass forming. Mass forming seperti ini akan menjadi solid-utuh kalau para pembentuknya memang mempunyai peringkat yang setara dan sepadan. Kalau isi para pembentuknya tidak sama kemampuannya, visinya dan tugasnya, maka massa yang terbentuk akan tidak utuh serta mudah tercerai-berai. Yang memilukan adalah bahwa setiap orang yang mempunyai ambisi untuk menggerakan massa untuk mencapai kesetaraan, kurang mengamati sekelilingnya sendiri.

Disini berlaku ungkapan yang paling sering saya kutip: to make a betterment, begin with oneself – membuat perbaikan mulailah dari diri sendiri. Perbaikan yang dimaksud disini bisa membantu dalam mencapai kesetaraan.

Kalau mau memulai dari diri sendiri maka haus dimulai dengan menaikkan derajat diri sendiri dalam bidang kepandaian,  kepintaran, dan  kecerdikan, serta strata ilmu pengetahuan tertentu.

Setelah tercapai kemantapan yang mumpuni, maka boleh mengajak orang lain yang setara dengan dia.

Itulah cara-cara yang patut ditempuh bagi seseorang yang memang ambisius untuk mencapai sesuatu.

Saya ambil conto yang mungkin akan kurang disukai.

Seseorang yang jenis kelaminnya wanita amat medambakan kesetaraan gender. Dia mengharapkan bahwa semua wanita akan dengan senang hati dan pasti akan mendukung idenya yang cerdas dalam upayanya menyetarakan gender dengan kaum pria.

Ternyata salah satu jawaban yang diterimanya, sungguh-sunguh amat mengejutkan dirinya. Ada yang menjawab:"Wah hal ini bisa memicu pertengkaran di dalam rumah tangga saya!! Kalau suami saya menempèlèng saya, siapa yang akan menolong saya segera pada waktu itu? Andakah??"

Yang lain menjawab lebih ekstrim: "Saya ini mencintai suami saya apa adanya. Dia baik kepada saya dan saya memang mau dengan senang hati mengabdi kepadanya. Suasana seperti ini saya tidak ingin berubah. Saya senang hati mau menyiapkan segala yang dia perlukan dan saya juga bersedia melayani apapun permintaannya, karena itu adalah kewajiban saya!! Orang tua saya mengajarkan kepada agar saya jangan durhaka tehadap suami, itu kata-kata orang tua saya. Saya memang tipe ibu rumah tangga tulen dan mungkin akan disebut kuno, utamanya karena saya tidak akan mampu untuk mencari nafkah sendiri untuk menghidupi keluarga."

Saya bisa menduga sang pemuka, pembawa ide awal itu akan terkejut dan kecewa mendengar seperti yang tertulis di atas. Itu adalah   sikap pasrah yang tidak mudah untuk dialihkan bentuknya menjadi yang lain, apalagi yang bersifat progresif.

Saya ingat ketika saya training di Jepang pada sekitar awal tahun 1960an. Didalam tempat kerja saya, di Sekkei Bu (Bagian Desain) Bangunan Kapal, di galangan kapal Ishikawajima di Nagoya, di Jepang Selatan. Ruangan berisi sekitar sepuluh orang karyawan dan hanya ada seorang yang wanita saja.

Setiap hari selalu tersedia teh Jepang yang bisa diminum hangat oleh semua yang berada di dalam ruangan itu. Siapa yang membuatnya? Si Wanita tersebut!

Saya sebagai satu-satunya orang Indonesia di dalam perusahaan dengan karyawan lima ribu orang, dan juga sebagai satu-satunya orang asing di dalam ruangan saya, tidak bisa begitu saja untuk  menyatakan tidak mau dilayani oleh seorang rekan sekerja. Kalau saya ingin menyediakan teh saya sendiri maka si wanita ini akan tersinggung dan para pria lebih-lebih akan tersinggung berat, dan akan menimbulkan amarah yang tidak perlu. Itu pada tahun 1960an. Saya tidak tahu bagaimana suasananya sekarang, akan tetapi waktu saya kesana (Jepang) terakhir, melihat di dalam kantor di Jepang, suasana seperti itu masih kelihatan sama saja. Apa mau dikata?

Kesetaraan pekerja dalam satu kantor?

Ya, yang bisa saya kemukakan bahwa kesetaraan itu baru tercipta kalau memang dimulai dari diri sendiri.

Saya pernah jadi tamu di sebuah camp yang melakukan kegiatan eksplorasi minyak kerjasama dengan perusahaan Shell, agak cukup nyaman suasananya di pinggir sebuah hutan di daerah Bangko di Sumatera Selatan. Isinya banyak orang Indonesia maupun orang asing baik asal Asia maupun Barat. Suatu saat makan siang, saya masuk dan terlihat dengan jelas oleh saya bahwa para orang bule dan orang Philippino telah berada di dalam suatu ruangan makan yang jenis makanannya lebih mewah dari yang ada di ruang sebelah, di mana mereka adalah sisa dari seluruh karyawan berada, termasuk para manager orang Indonesia yang bekerja di situ. Saya berpikir saya mau makan di mana? Saya kan tidak termasuk hierargi karyawan disitu dan saya hanya seorang tamu.

 

Saya melihat bahwa makanan yang di tempat orang asing, biarpun tidak lebih sesuai dengan selera waktu itu, saya sengaja masuk ke ruangan di tempat mereka ini. Saya mengambil makanan secukup keperluan sambil menggamit seseorang rekan Indonesia dan memberi tanda agar mengikuti saya ke tempat saya mengambil makanan. Tidak saya sangka justru dia tidak mau menerima ajakan saya. 'Ah, mungkin dia tidak sesuai dengan selera makanan yang disitu', kata saya dalam hati. Maka saya memutuskan mengambil lagi makanan lebih dari cukup. Kemudian?

Saya bawa makanan saya ketempat di mana orang Indonesia makan. Saya bawa dua nampan berisi makanan dan saya hanya makan satu nampan saja. Saya dekati orang yang saya gamit dan ajak tai dan ternyata dia mncicipi makanan di atas nampan kedua itu dan akhirnya dia dengan bantuan rekannya yang lain, cepat menghabiskan makanan di nampan kedua dan sirnalah makanan itu dari pandangan mata saya. Makanan itu habis dan  telah masuk ke dalam perut mereka. Kesimpulan apa yang bisa diambil dari hal ini?? Mau bilang apa? Minder?

Saya pikir ini adalah sikap orang Indonesia yang tidak berani melanggar garis kebiasaan yang dia sendiri tidak mengetahui untuk apa ada garis seperti itu. Sebuah garis maya yang diciptakan sendiri oleh mindset yang kurang bisa saya terima.

Saya baca di media sedikit sibuk orang membahas kesetaraan jumlah anggota dpr yang mewakili kaum perempuan yang 30%. Tambah saja, kalau perlu ambil alih semuanya 100%. Toh selama ini terbukti banyak laki-lakinya ternayata hasil dpr amat jelek. Saya mau sih melihat all female parliament-dpr yang seluruhnya wanita. Sebenarnya langsung terbayang di dalam pikiran saya adalah bagaimana kaum wanita Indonesia segera berpacu menaikkan derajatnya dan tingkatan pengetahuannya dengan lebih giat dan ekstra upaya. Tetapi banyak saya saksikan yang diributkan hanya seputar jumlah wanita yang akan menjadi anggota dpr, sekian persen jumlahnya. Saya melihat bahwa perjuangan seperti ini seharusnya ditambah dengan upaya menaikkan ketrampilan dalam melobi senior, mengambil ilmunya, mempelajari mass commuciation-komunikasi massa, mempelajari ilmu politik. Tetapi banyak juga yang kelihatannya melakukan lobinya, hanya bwemodal sikapnya yang  charming–menarik hati yang dimilikinya, untuk amat ditonjolkan.

Maafkan kalau saya dikatakan telah salah menilai, tetapi itulah yang terlihat oleh pengamatan saya. Lihatlah berapa banyaknya kaum selebriti film dan sinetron yang telah menyatakan dengan terus terang pindah haluan menjadi bupati dan wakil bupati serta gubernur dan lain-lain jabatan. Pekerjaan yang digelutinya selama ini apakah sudah tidak lagi menarik hati atau tidak lagi menarik dari segi ekonomi?? Itu teka-teki.

Semua yang dilakukan mereka itu terlihat sah dan tidak melanggar sesuatu apapun, tetapi dari segi kepantasan saya meragukannya. Saya menengarai bahwa hanya pemeran seri televisi yang nama-perannya: Onèng, yakni Rieke Diah Pitaloka yang agak menonjol. Terbetik berita bahwa dia telah menempuh dan berhasil menempuh ujian sarjana strata dua, sehingga ada secercah harapan bahwa kaum wanita akan berhasil kalau yang dilakukannya sejenis dan sama seperti ini. Para wanita bisa maju kalau sebelum menolong wanita lainnya, telah secara dini menyiapkan dirinya sendiri dengan bernas dan keras hati. Modal sebagai seorang pelobi pasti sudah ada didalam dirinya, seperti pernah saya saksikan di dalam peran dan beberapa penampilannya di tayangan-tayangan Bajaj Bajoeri. Di Hollywood juga yang telah membuktikan dengan conto-conto personil yang berhasil, seperti Arnold Schwazenegger dan Ronald Reagan. Di Indonesia sudah ada bintang film yang akhinya menjadi Jaksa Agung: Abdurrachman Saleh! Sebelum menjadi Jaksa Agung, dia malah terkenal sebagai salah satu Mr. Clean-Tuan nan jujur dan bersih, di lingkungan Mahkamah Agung.

Harapan saya para bekas pemain film atau tayangan televisi seperti Marissa Haque, Rano Karno dan Rieke Diah Pitaloka (Onèng)  tersebut di atas akan mendapatkan kesempatan yang baik dan juga tentu saja berperan dengan berprestasi baik dan jujur. Dua hal terakhir ini sungguh-sungguh hanya tergantung kepada diri mereka masing-masing. Saya tidak menyoal apa partai yang diikutinya. Saya berharap agar mereka mau membalikkan mindset, jangan merasa "dipakai" oleh Golkar atau PDIP atau partai yang lainnya, akan tetapi pikiran anda harus seperti berikut ini.

Partai-partai ini bukan tidak dan bukan lain, hanyalah sebuah sarana saja bagi mereka untuk dapat dipakai sebagai kendaraan bagi tujuan akhir yaitu: dapat ikut memberi arti bagi perbaikan bangsa dan Negara Republik Indonesia.

Yang saya khawatirkan adalah sebuah gerakan yang mengatas-namakan hal yang diusung sebagai alat politik: Putra Daerah. Ini sesungguhnya adalah beban berat. Tidak semudah diucapkan. Kalau memang ada putra daerah yang mampu memenuhi persyaratan, mengapa tidak?? Saya mendukung seratus persen. Tetapi kalau latar belakangnya hanya orang pintar apalagi kaya raya saja, saya ingin mengingatkan bahwa itu saja belum cukup untuk menjadi pemimpin di daerah dimana dia itu berasal. Mereka harus cerdik dan tegas membedakan kawan dan lawan. Pihak kawan pun akan bisa saja menohoknya karena bisa berpindah haluan untuk berpindah dan memihak lawan. Kalau perlu kelicikan yang lebih, boleh dipakai. Sekeliling pemimpin dan pimpinan biasa ada dan mungkin banyak juga manusia-masnusia yang patut diwaspadai.

Menghadapi yang seperti ini maka hati harus tegas dan tega untuk bertindak demi kepentingan yang lebih besar: Republik Indonesia.