Jakarta, 16 Februari 2008 Beberapa hari yl, di suatu pagi, seorang sahabat karib cum mitra kerja saya menelepon. Kami berbincang mengenai presentasi susulan yang sedang kami siapkan untuk suatu kelompok bisnis. Usai membahas hal-hal yang terkait dengan kerja yang sedang kami hadapi bersama itu, kawan saya itu – sebutlah namanya Bambang – tiba-tiba saja beralih pada subyek "syukur".

 Dia bersyukur karena banyak hal. Dia mensyukuri keadaan hidupnya sekarang. Sangat berkecukupan. Rumah besar. Malah terlalu besar menurut ukurannya sendiri. Mungkin karena banyak anak-anaknya sudah berumahtangga masing-masing. Sehingga dia sekarang malah sedang memikirkan kemungkinan pindah ke (salah satu) rumahnya yang lain yang lebih kecil. Dan dia pun sadar bahwa keadaan yang telah dicapainya itu tidaklah terlepas dari kegemilangan karier yang dia jalani semasa masih aktif bekerja. Dan dia pun bercerita mengenai beberapa kejadian selama dia meniti kariernya itu, yang meninggalkan kesan yang cukup dalam  rupanya bagi pribadinya. Dia juga bercerita mengenai tugasnya sebagai kepala perwakilan di luar negeri dari perusahaan tempat dia mengabdi dsb. dsb. dsb. Dan pada akhirnya dia pun bersyukur bahwa untuk itu semua dia telah dimodali  "kendaraan" yang sangat memadai oleh Tuhan untuk berkiprah selama ini, sehingga dia sampai pada keadaannya sekarang ini. Yang dimaksudkan oleh Bambang dengan "kendaraan dari Tuhan" itu tidak lain adalah tubuh kasarnya sendiri. Wadah tanpa mana dia tidak mungkin dapat berfungsi sebagai manusia. His own hardware. Dari mulai muka yang tampan, tubuh yang semampai, an easy smile always on his lips, santun dalam bertutur, kokoh dalam keputusan dan arif dalam bersosialisai. Yang terakhir ini bukan berasal dari Bambang, tapi observasi saya sendiri. Dia juga sadar bahwa suatu ketika kelak, pada waktunya, tubuh kasarnya itu, kendaraannya itu, harus ditinggalkannya. Kejadian itu kita kenal sebagai mati, meninggal dunia, wafat. Dan ketika itu rohnya pun lepas dari tubuhnya. Rohnya naik dan tubuhnya dikebumikan orang. Dan ketika itu tuntaslah sudah tugasnya di bumi Tuhan ini.

 

Agak terdiam saya mendengarkan kawan saya itu berbicara mengenai aspek "kendaraan" dalam kehidupan manusia. Terpikir oleh saya betapa pentingnya kedudukan dan makna "kendaraan" dalam kehidupan kita. Tanpa "kendaraan" tidaklah mungkin kita berkiprah sebagai manusia. Sebagai wakil Tuhan di bumi. Tapi juga terpikir – mau tidak mau – bahwa kadang-kadang kita manusia ini begitu terpakunya dengan "kendaraan" kita masing-masing, sehingga perhatian yang kita curahkan untuk menyejahterakannya tidak lagi proporsional dibandingkan dengan perhatian kita terhadap diri kita sendiri sebagai "pengendara". Kelihatannya waktu kita cenderung lebih banyak tersita oleh kewajiban memelihara "kendaraan" ketimbang memelihara diri kita sendiri sebagai "pengendara". Apalagi di hari tua ini. Bukankah kita sekarang ini harus sering membawa "kendaraan" kita ke bengkel (ke dokter, rumah sakit dsb) untuk "diservis" (berobat), "diperbaiki" (menjalani operasi) dsb. Ketika masih muda kita pun bekerja sekuat tenaga sesuai wawasan yang ditopang oleh ilmu dan pengalaman. Untuk apa ? Untuk bisa mendapatkan income yang memadai.  Untuk apa ? Untuk menopang hidup bagi diri sendiri dan keluarga. Kita pun sibuk mengumpulkan dana supaya bisa pindah ke rumah yang lebih besar, supaya bisa membeli kendaraan (=mobil) yang lebih mewah atau sekedar untuk menambah jumlah kendaraan (=mobil) di garasi, supaya bisa menikmati wisata ke berbagai negeri yang belum pernah dikunjungi, dsb. dsb. dsb. Pada akhirnya yang menikmati siapa ? Pada akhirnya yang menikmati adalah "kendaraan" kita sendiri, tubuh kita sendiri, tubuh kasar yang pada waktunya akan dicampakkan orang kedalam liang yang kita kenal sebagai kuburan.

Sejak dari kecil kita sudah dididik memelihara tubuh dengan baik. Setiap bangun tidur dan setiap usai makan kita pun sudah dibiasakan menggosok gigi supaya gigi tetap bersih dan tidak kelihatan ”berlepotan” dengan sisa makanan. Setiap pagi dan sore kita dibiasakan mandi untuk menghilangkan bau keringat dan debu yang menyatu menjadi daki. Sesudah mandi dan mengeringkan badan dengan handuk pun kita sudah terbiasa bersolek. Bagi laki-laki cukup dengan menyisir rambut. Bagi perempuan prosedurnya sedikit lebih rumit dan menuntut waktu lebih lama duduk didepan cermin. Oh cermin, cerminku yang bijak, siapakah gerangan perempuan cantik yang sedang bercermin pada permukaanmu ?

Kita pun sudah terbiasa berbusana dengan pantas supaya indah dipandang orang. Ada pakaian kerja. Ada pakaian untuk bersantai. Ada pula pakaian untuk ke pesta, dsb dsb dsb. Sepatu pun haruslah senada dengan busana yang dikenakan. Supaya selalu kelihatan ”matching” begitu. Orang sekarang bilang supaya ”ja’im” yaitu kependekan dari ”jaga image”. Termasuk dalam upaya ”JAIM” adalah penggunaan assesories seperti jam tangan dan terkadang juga hp. Itu semua perlu dijaga supaya membentuk image yang yahuuud. Jam tangan pada dasarnya adalah alat penunjuk waktu. Harganya berkisar antara ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta rupiah bahkan lebih. Semakin mahal harganya, maka semakin tergeserlah pula fungsi penunjuk waktu dan beralih menjadi semacam jewelry. Semacam perhiasan. Fungsinya bergeser dari sekedar alat utility (penunjuk waktu) menjadi sesuatu yang membawa aura martabat wah bagi si pemakainya. Decak kagum pun mudah terpancing. ”….Wah tajir orang itu. Jamnya saja merek….”Maka bergumamlah bibir menyebut merek jam orang itu, separuh berbisik. Padahal secara fungsional dia tidak lebih daripada penunjuk waktu. Ya itulah JAIM.

Mobil juga demikian ihwalnya. Untuk bergerak dari titik A menuju titik B orang bisa saja menggunakan gerobak. Tapi demi untuk memanjakan ”kendaraan” kita, maka kendaraan kita pun haruslah pula duisesuaikan. Paling tidak kijanglah begitu. Tapi jangan lupa bila memasuki pelataran sesuatu gedung kijang tak akan pernah ditoleh orang. Mau lalu lalulah. Orang tak perlu hirau benar. Tapi begitu engkau masuki pelataran itu dengan Mercedes, BMW, Volvo atau Camry besar misalnya, maka serta merta engkau pun dipersilahkan dengan sangat hormat oleh petugas parkir menuju tempat parkir khusus yang sudah tersedia untuk kendaraan-kendaraan semartabat. Bukankah begitu yang kita alami sehari-hari ? Nah itu juga JAIM.

Tapi, pernahkah kita secara sadar men-JAIM-kan rohani kita ? Pernahkah kita memanjakan rohani kita ? Apa saja assosories yang telah kita belikan untuk rohani kita ? Pernahkah kita menyejahterakan rohani kita sebagaimana kita menyejahterakan ”kendaraan” kita ? Padahal, bukankah tanpa rohani bersanding dua dengan tubuh kasar kita, kita pun tak lebih daripada jenazah ? Daripada bangkai ? Pernahkah ? Adakah kita gosok rohani kita secara rutin sebagaimana kita gosok tubuh kita ketika mandi ? Bagaimana kita ”memandikan” rohani kita ? Bagaimana caranya kita ”menggosok” rohani kita supaya tampil ”mengkilap” ? Apa yang dimaksud dengan ”rohani yang mengkilap” ? Bagaimana kita merancang penampilan rohani kita ? Adakah busana khusus bagi rohani kita yang bisa kita jadikan topeng untuk menyembunyikan identitas rohani kita yang sebenarnya ? Sebagaimana busana pun sering kita jadikan topeng ?

Perlukah kita bersikap begini ?

Arifin Abubakar

Jakarta, 16 Februari 2008