Rabu, 13 Februari 2008   Katanya manusia itu makhluk sosial.  Dia harus hidup bersama dengan manusia lain, bersosialisasi. Bisakah seorang manusia hidup sendiri? Itu bisa, tetapi hanya sedikit manusia yang bisa seperti itu.

Setelah pengamatan selama ini manusia itu tidak ada yang sama dengan manusia yang lain, baik roman mukanya, bentuk  fisiknya, bentuk gerakan badannya dan cara hidupnya bahkan buah pikiran dan idenya.

Semua belainan dan semua tidak ada yang sama.

Lalu apa gunanya berkumpul dan besosialisasi??

Bukankah kalau keadaan yang berlainan itu akan selalu bisa menimbulkan perbedaan dan konflik, serta permusuhan dan bahkan perkelahian serta peperangan? Lalu mengapa masih juga ingin berkumpul dan berkelompok?

Kelompok menurut bentuk fisik, menurut ras dan tempat asal, menurut aliran kepercayaan, agama dan ide serta politiknya.

Mari kita tinjau dari arah sebaliknya. Apakah manusia pada dasarnya memang menginginkan kondisi beda pendapat dan beda pikiran serta menyukai perkelahian dan peperangan? Tidak juga kan?

Biasanya kalau gerombolannya masih relatif kecil, maka manusia berkumpul untuk mencari persamaannya. Mula-mula yang ada hubungan keluarga, seperti halnya Trah orang Jawa, Marga orang Batak dan agama seperti orang Aceh dan adat seperti orang Badui di Jawa Barat. Dalam gerombolan-gerombolan yang serasa famili atau keluarga ini, kalau sudah menjadi besar, mulailah akan ada perbedaan diantara tokoh-tokohnya. Beda pandangan dan beda visinya.

Perbedaan di antara para tokoh ini sudah sanggup untuk bisa memecah belah menjadi gerombolan-gerombolan kecil, yang tadinya telah bersetuju untuk searah dan setujuan. Bahkan sudah berikrar sehidup dan semati.

Yang sudah dalam bentuk ikatan suami istri saja bisa bercerai, bahkan ada pula orang tua, karena sesuatu masalah, malah tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri. Di dalam  masyarakat yang majemuk gerombolannya, kelompok dan barisannya, akan bertambah terasa bahwa bersikap heterogen itu bukan sesuatu yang mudah seperti diucapkan.

Bhineka Tunggal Ika pun juga tidak mudah menyelia dan mengelolanya.

Negara kita Republik Indonesia saja yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, telah disadari oleh semua unsur untuk menampung semua golongan, semua suku bangsa, semua agama, semua pikiran dan semua idealisme, semua budaya dan semua adat pada tahun itu, hanya dalam tempo satu tahun saja sudah terjadi banyak benturan-benturan secara nasional. Padahal musuh besar bersamanya masih ada, yakni Sekutu yang disebut dengan Allied Forces (Amerika, Inggris dan negara-negara Eropa lain serta Australia) yang sedang menang, naik daun, karena mengalahkan negara Jepang, mengalahkan negara Jerman dan mengalahkan negara Itali, masing-masing berikut pemerintahannya.

Bung Karno dan Bung Hatta yang disebut Dwi Tunggal dan solid bersatu memimpin Republik ini, telah mulai direpotkan oleh mereka yang secara intern, adalah merupakan para pemimpin Republik kita sendiri. Yang berhaluan Komunis sudah mulai direcoki oleh yang amat mengagungkan Agama. Tentara pun yang mestinya ikut policy pemerintahan, malah ingin membentuk dan memaksakan ide-idenya sendiri, untuk ini. Tentara pun ikut terjun ke politik praktis dengan melawan aliran komunis dan aliran agama.

Hal itu terjadi di dalam pemerintahan sebuah negara baru.

Dengan melihat peta politik seperti itu, maka intern Tentara, intern kaum agama dan intern kaum komunis itu apakah semua sudah bisa bersatu?

Kita telah membaca sejarahnya  bahwa hal seperti itu masih belum bisa dicapai. Fraksi-fraksi kecil inipun karena masih belum merasa kuat, tetap berada di dalam kubunya masing-masing, sehingga mereka mau untuk  menanggung dan meredam perbedaan-perbedaan yang ada.

Yang penting gerombolannya, dan kelompoknya mencapai tujuannya masing-masing terlebih dahulu, sebelum merebut kekuasaannya di dalam kubunya masing-masing.

Memang mengamati pergeseran-pergeseran yang paling nyata seperti ini, akan mudah kalau kita mengamati situasi jalannya pemerintahan, kaum politisi dan juga kelompok-kelompok yang ada di dalam pemerintahan negara.

Sudahkah kita sekarang bisa mengatakan bahwa di kelompok kecil di dalam sebuah keluarga kecil saja, sukar bisa  bebas dari perpecahan, karena perbedaan pandangan atau perbedaan pola pikir dan pola tindakan? Sekarang kita sudah boleh mengatakan, setelah sekian banyak contoh dan conto, bahwa tidak ada satupun jaminan untuk bisa bebas dari perpecahan, hanya karena perbedaan seperti itu !! Itulah yang terjadi di mana-mana. Di dalam sebuah keluarga yang paling kecil sekalipun, didalam organisasi non pemerintah sampai di dalam sebuah badan pemerintahan pun pasti selalu ada titik perbedaan yang akan dapat dengan mudah dipakai untuk memecah, membuat kehancuran sesuatu yang sudah solid, sesuatu yang sudah kokoh.

Kita dapat simpulkan bahwa kalau kita berani hidup di dunia, maka kita setiap saat kita harus berani menghadapi kejadian gagal, hancur dan kondisi tidak menentu karena frustasi. Hal-hal terakhir ini adalah risiko hidup, di dalam lingkungan budaya yang saya lalui selama hidup ini, di dalam keluarga saya, di dalam kelompok saya dan di dalam gerombolan saya sendiri.

Sebagian besar dari kami memiliki sifat tidak berani hanya untuk membicarakan hal-hal di atas dengan berterus terang. Misalnya saja Orang Jawa dan mungkin suku-suku lain amat tabu, hanya untuk berbicara saja, untuk ikut urun rembug saja, dalam satu soal yang sudah pasti, misalnya soal: MATI.

Sekadar berbicara saja tidak mau, tidak bersedia dan bahkan mengatakan kurang elok atau  tidak patut. Ada juga yang enggan membicarakan bibit keretakan di dalam kumpulan manusia. Mereka banyak yang suka menyimpannya menjadi timbunan kecurigaan dan menjadikan masalah hanya sampai setingkat kelas gossip. Bertindak sedirian, tanpa ditemani oleh seorangpun, seperti halnya manusia yang hidup sendirian, tidak banyak dipunyai oleh manusia yang ada selama ini.

Saya ingat ada sebuah film yang dibintangi oleh Spencer Tracy, seorang yang sampai tua menjadi aktor yang top class.

Dikisahkan di dalam film tersebut, ada perundingan dalam sebuah desa dan ternyata keputusan yang diambil hasilnya  persetujuan penuh dari para yang hadir. Semua orang terdiam dan merasa senang terbayang di muka masing-masing. Tetapi sang aktor ini memerankan  sebagai seseorang yang tiba-tiba mengangkat tangan dan mengatakan: "Saya menarik persetujuan saya dan dengan ini saya menyatakan tidak setuju". Semua hadirin terkejut dan ternyata ada klarifikasi sebagai lanjutan kata-katanya dengan kalimat: "Ini semua demi sistem yang telah kita anut secara nasional, yaitu DEMOKRASI". Suara yang aklamasi bukanlah demokrasi yang baik. Itulah kisah seorang yang telah berani beretindak sendirian, tanpa takut dipandang sebagai sebagai orang setengah gila, berani mengemukakan pendapatnya, berani menyadarkan jumlah orang yang lebih banyak, dengan berpendapat apa yang baik di dalam pikirannya. Hal seperti ini dapat disejajarkan dengan arti kata-kata Bung Karno: "Seperti seekor elang terbang tinggi, sedirian, diangkasa dengan tatapan matanya yang tajam dan sikap yang jantan".

Banyak sekali perpecahan dan pertengkaran dapat dibatalkan hanya oleh karena orang mau berterus terang satu sama lain dan bersedia  mendiskusikannya secara terbuka dan kepala dingin. Bisik-bisik dan gossip adalah budaya yang amat disukai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia selama ini.

Padahal dengan kontak langsung dan keterus-terangan akan banyak hal menjadi jelas dan mengurangi konflik yang secara dini dapat digunakan untuk menghindarkan perpecahan. Dengan membaca kalimat tadi, dengan mudah orang akan mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju, akan tetapi pada praktek sesungguhnya di dalam masyarakat, itu tidak terlalu banyak terjadi.

Di dalam salah satu tulisan saya pada sekitar dua tahun lalu,  pernah menganjurkan agar mantan Presiden Megawati,  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta Amien Rais dan Try Soetrisno agar sering bertemu dan duduk bersama, membicarakan perbedaan mereka, tanpa mengikut sertakan media. Saya sebagai salah seorang dari sekian juta rakyat Indonesia, tidak ingin melihat perbedaan yang ada di tingkat elite, mencuat menimbulkan informasi adanya keretakan dalam persatuan. Kami rakyat tidak menginginkan berita yang kategorinya sampah macam itu. Bukankah persamaan pendapat itu memang tidak perlu selalu ada, tetapi kalau diletuskan oleh media yang memang mempunyai kepentingan komersial, sungguh bisa membuat suasana yang benar-benar sial. Tetapi tetap saja terjadi; masing-masing para pimpinan ini gampang sekali untuk dipancing oleh media dan akhirnya terjadilah banyak konflik yang tidak perlu, justru telah terjadi berkat hasutan media yang haus berita. Media telah banyak kontribusinya dalam keributan politik yang tidak perlu.

Siapa yang untung dari keributan Politik ini? MEDIAlah yang beruntung!!  Siapa rugi?? Jelas sekali yang merugi adalah: rakyat jelata dan situasi nasional secara menyeluruh.

Dalam tulisan itu saya anjurkan agar mereka berempat mau  menggunakan fasilitas yang ada, modern, tidak berisik, tetapi bisa berhasil dengan hasil maksimum. Peralatan itu telah ada dan gampang untuk bisa dioperasikan, yakni: komputer dan fasilitas chatting dan webcam. Semua alat itu adalah alat biasa dan bisa membantu banyak sekali. Tetapi budaya tidak mau atau tidak berani bertemu langsung masih dilestarikan sampai sekarang, conto-contonya:

1. Megawati tidak bersedia hadir di pelantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI.

2. Paling gres adalah berita hari ini tanggal 13 Februari 2008: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak hadir di DPR untuk memberi keterangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, karena hanya mengirimkan Tiga Menteri Koordinator dan beberapa Menteri saja. Padahal materi yang akan dibicarakan justru memerlukan  keterangan secara langsung dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri.

Bila kedua buah conto di atas ini disebabkan oleh karena adanya latar belakang gengsi, maka ini sungguh sungguh menggelikan hati dan menerbitkan rasa iba dan kasihan.

Biarpun banyak pihak sudah menduga bahwa akan terjadi yang seperti ini, tidak adakah di kedua pihak upaya mencegah hal ini agar tidak terjadi?? Bukankah hal ini jelas-jelas telah merugikan banyak pihak dan mencerminkan pemborosan waktu, energi dan biaya?? Saya berharap conto yang pertama agar tidak terjadi, tetapi justru pada  kenyataannya terulang sekali lagi pada hari ini. Kedua peristiwa itu menandakan bahwa mereka yang duduk di kursi pimpinan negara belum patut diteladani dalam bertindak-tanduk berkomunikasi. Apakah ini akan bisa mejadi budaya?? BERANI UNTUK  BERTINDAK DAN MENGHADAPI RISIKO SENDIRIAN??