Saya baru saja melihat sampul majalah Tempo dengan gambar Pak Harto dikelilingi oleh putra-putrinya, seperti lukisan Perjamuan Terakhir karya Leonardo Da Vinci.
Sebagai seorang Kristen, kesan pertama melihat gambar sampul Tempo tersebut
adalah betapa kreatifnya Tempo, gambar tersebut sangat atraktif dan sangat
menjual. Jujur saya katakan, tidak ada sama sekali rasa tersinggung, rasa
terusik atau rasa apapun yang menyebabkan saya harus marah kepada Tempo. Bagi
saya gambar tersebut sama sekali TIDAK ADA hubungannya sama sekali dengan
kekristenan. Jadi saya sangat bingung memikirkan kenapa ada pihak-pihak yang
nerasa gambar tersebut menyinggung agama Kristen.

Banyak peristiwa telah saya lihat dan baca, tentang bagaimana kekristenan
dipermainkan atau dipojokkan, seperti peristiwa pembakaran gereja yang pernah
terjadi dibanyak tempat, termasuk gereja saya pernah dirusak dan dibakar sebulan
setelah peresmian dan setelah menghabiskan banyak sekali dana dan tenaga. Lalu
saya membaca peristiwa ditutupnya akses jalan ke Sekolah Sang Timur oleh
pihak-pihak yang tidak suka adanya sekolah Katolik tersebut berada didaerah
mereka. Belum lagi penghinaan terhadap sosok Yesus Kristus yang bagi pengikut
Kristen Katolik dianggap sebagai panutan hidup dan juru selamat serta Tuhan atau
Allah yang menjadi manusia.

Dalam segala peristiwa tersebut saya hanya bisa mengurut dada tetapi tidak
marah, karena memang itulah inti ajaran Kristus, yang pada puncak penderitaan
Nya diatas kayu salib berkata: "Yah Bapa…ampunilah mereka…karena mereka
tidak mengerti akan apa yang diperbuatnya". Jadi kalau sang panutan seperti itu,
kenapa kita harus marah, apa yang dialami Kristus jauh lebih menyakitkan dan
lebih parah lagi dibanding semua kejadian diatas.

Kembali akan peristiwa kritik terhadap cover majalah Tempo, saya kira para
pengkritik telah lupa akan hakikat kekristenan, dan ikut arus besar kebiasaan
mengkritik tanpa berpikir dalam akan arti kritik. Mudah-mudahan mereka kini
sadar akan kesalahan dan kekhilafan yang telah mereka lakukan. Seperti ajaran
Kristus, mengingatkan kita untuk mengampuni kesalahan orang, karena mereka tidak
mengerti akan apa yang telah dilakukan mereka.
Seharusnya sekarang mereka mengerti dan tidak mengulangi lagi kesalahan yang
sama dikemudian hari.

Konten sampul majalah Tempo bagi saya sangat berkesan, dan saya merasa memang
itulah yang terjadi dalam keluarga Pak Harto, selama sekian lama mereka hidup
dibawah bayang-bayang kekuasaan Pak Harto, orang yang sangat berkuasa selama
tiga puluh dua tahun di Indonesia.

Kepergian Pak Harto tentunya akan membawa banyak perubahan dalam hidup
anak-anak dan cucu-cucunya, serta para sahabat yang selama ini telah banyak
memperoleh kekayaan materi dari hubungan istimewa mereka dengan Cendana.

Kenyataan bahwa suara masyarakat terbagi dua antara yang pro dan kontra
tentang Pak Harto, menunjukkan bahwa memang Pak Harto mempunyai dua dimensi
dalam hidupnya. Saya tidak mengingkari bahwa dalam satu hal beliau memang
berjasa bagi negeri ini, namun dalam sisi yang lain juga banyak terjadi
kegagalan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Saya tidak bisa memprediksi kemana bola akan terus bergulir, namun kita
mengharapkan agar semua kebenaran harus diungkap dan semua kesalahan harus
dibukakan.
Yang pasti kenyataan bahwa Pemilu Presiden yang akan diadakan tahun 2009 akan
sangat ditentukan oleh peristiwa perginya Pak Harto. Isu seputar Pak harto akan
dimanfaatkan untuk menarik suara masyarakat, mungkin sekali akan muncul calon
dari keluarga Cendana, mengingat masih banyak rakyat yang menganggap masa Orde
Baru jauh lebih baik dari masa ini, sehingga bagi mereka calon dari Cendana
diharapkan mengembalikan kehidupan yang lumayan baik seperti dulu. Ingat
Thailand ?? Ternyata rakyat masih pro Thaksin, dan kenyataannya saat ini perdana
menteri terpilih adalah sahabat Thaksin.

Bagi rakyat, yang penting perut kenyang, hidup terjamin, anak-anak bisa
sekolah, go to hell with your political issues !!!

Jadi kita lihat saja apa yang akan terjadi tahun depan.

Best Regards,

Yuki Wiyono
"Nothing great was ever achieved without enthusiasm !!" (Ralph Waldo Emerson)