Minggu lalu saya chatting sama dari Mas Joko, sahabat pena saya sejak beberapa tahun ini. Kami sering chatting dan juga saling berkirim e-mail. Saya sering >merasa senang sekaligus sedih mendengar cerita-cerita dia, suka duka hidup dia di luar negeri. Cerita-cerita dia inilah salah satu alasan saya menulis di blog ini.

Mas Joko ini teman saya yang tinggal di luar negeri, kerja di salah satu perwakilan Republik Indonesia. Beliau ini nasibnya sangat miris. Oh bukan, diabukan diplomat. Dia staf lokal, makanya nasibnya miris.

Bagi yang kurang mengerti perbedaan antara diplomat dan staf lokal, saya akanmenjelaskan perbedaan keduanya sejelas mungkin.

Diplomat adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang digaji pemerintah, dikirim ke luar negeri untuk mewakili pemerintah – biasanya 3-4 tahun per penempatan, memiliki karir dan mendapatkan pensiun. Biasa juga disebut Home Staff. Staf lokal adalah mereka yang tinggal dan menguasai medan negara setempat, bekerja pada perwakilan RI untuk membantu para diplomat, bisa WNI bisa juga WNA, bukan pegawai negeri sipil, tidak memiliki karir dan tidak mendapat pensiun. Biasa juga disebut Local Staff.

Topik chatting kami minggu lalu cukup menarik. Saya akan copy paste di bawah
ini.

ayamkodok: mas.. apa kabar? lama kita tidak kontak ya..

joks: hey ndi.. piye kabare? iya nih.. sudah lama. aku sibuk terus, banyak
sekali tamu.. maklumlah akhir tahun

ayamkodok: banyak tamu dari mana mas? emang kalau akhir tahun kenapa?

joks: yah ndi.. kamu ndak tau emangnya? akhir tahun itu kan tutup buku tahun
keuangan tahunan, jadi sisa anggaran tahun tersebut haruslah cepet cepet
dihabiskan karena tidak mungkin dikembalikan. jadi ya home staff yang disini
juga sibuk bikin proyek “ajaib” untuk ngabisin anggaran, dan pejabat dari
indonesia juga ramai ramai bikin kunjungan-kunjungan kerja fiktif ke luar negeri
supaya dapat uang perjalanan dinas sekaligus jalan-jalan.. itu praktek lazim kan
untuk orang kita, mosok kamu ndak tau.. hehehe

ayamkodok: yah tau sih mas, emang pejabat kita korup.. tapi mosok segitunya? kan
sayang uang dibuang buang gitu? mendingan juga disalurkan ke mereka yang tidak
mampu daripada buat jalan jalan ke luar negeri, buat proyek proyek ajaib gitu.
kok gak tobat juga sih pejabat kita? pantes rupiah makin lama makin lemah aja..
dibuang buang ke luar melulu sih ya?

joks: wah kalo tobat sih jangan tanya aku, aku sih sudah tobat dari dulu..
kerjanya kalo pulang ke rumah sumpah serapah “tobaaat.. tobaaat!!” hahahha.. ini
lah nasib kroco, paling dibawah, yang nasibnya miris liat bos bos yang biasanya
aja sudah korup, ini ekstra korup. seperti kejar setoran saja..

ayamkodok: tapi masa enggak dapet bagian sih mas? kan sampeyan pasti kecipratan
rejeki juga hehe..

joks: wah boro boro ndi, kecipratan marah sih iya. makin kesini mereka tambah
parah, sudah kualitas mereka menurun, tapi sok pinter dan sok tahunya itu..
aduuuuuuh gak tahan aku..!! ada sih temen yang kecipratan rejeki, tapi dengan
syarat mesti jago menjilat.. kalo aku sih bisanya cuma jilat istri.. hahahhahaha

(sekedar info, mas joko ini memegang gelar S2 dalam bidang politik, dia
memutuskan untuk tinggal di negara tempat dia sekolah dengan harapan anak
anaknya dapat mengalami kualitas edukasi yang lebih baik dari dia)

ayamkodok: yah mas, diajarin aja tho kalo kurang “berkualitas”? masak mereka
tidak mau dengar kalau diberi input?

joks: duh, kalo yang dulu dulu ndi, masih bisa diajak diskusi, ada demokrasi,
kekeluargaan.. tapi yang sekarang sekarang ini, parah! tidak ada substansi tapi
tidak mau tanya dan menerima pendapat orang lain. apalagi sekarang mereka merasa
kekurangan duit melulu, tambah stress jadi tambah ndak rasional!

ayamkodok: kekurangan duit gimana mas?

joks: gaji mereka itu kan masih dikirim dalam US dollar dari jakarta, sementara
sekarang euro menguat, jadi semua teriak teriak. padahal, gaji mereka itu kalau
di eurokan pun masih banyak mengingat tempat tinggal dan asuransi kesehatan
mereka dibayarkan oleh pemerintah, belum yang datang bersama istri dan anak
anak. mereka itu terima banyak sekali sebetulnya. tapi mungkin mereka itu banyak
yang kaget yah, di indonesia tidak punya mobil, dari keluarga biasa biasa aja,
begitu penempatan langsung jor joran, sementara sekarang semua mahal disini..
padahal banyak juga di antara mereka itu yang pinter memainkan harga sewa tempat
tinggal mereka, kongkalingkong dengan yang punya rumah, dibilang ke kantor
misalnya harga sewa 2000 euro, padahal cuma 1250, nanti yang punya rumah dibayar
1300 terus yang 700 masuk kantong sendiri. belum uang representasi.. banyak lah
sumber duit sana sini, tapi ngeluh melulu dan selalu kami kami local staff yang
jadi korban kefrustrasian mereka..

ayamkodok: uang representasi itu apa mas?

joks: uang representasi itu jatah mereka untuk meng-entertain tamu, pejabat
negara setempat, pengusaha dari negara setempat yang misalnya tertarik untuk
invest di indonesia dan seterusnya. seharusnya mereka memang mengentertain dan
melobi orang asing agar lebih tertarik dengan negara kita atau lebih mengenal
indonesia. tapi biasanya, berhubung juga banyaknya home staff itu sangat limited
untuk berkomunikasi dalam bahasa asing, jarang sekali yang melakukan itu.
sementara uang representasi itu mereka tetap ambil, tapi mereka membuat
acara-acara makan fiktif untuk pertanggung jawaban. malah pernah ada dubes (Duta
Besar-red) yang bilang bahwa dia membawa pejabat negara setempat untuk makan
malam, terus uang representasi dia klaim, dan dia bikin acara untuk dia sendiri
(dan keluarganya). eh belakangan aku dengar makanan yang disajikan malam itu
juga bukan dia yang beli, tapi hasil pemotongan bulanan yang dia lakukan
terhadap pembantu pembantu di rumahnya. lebaran lalu gitu juga tuh.. aku denger
denger sih dari orang orang dalam yg tau pasal keuangan di kantor. pembantunya
melulu yang korban, uang representasi masuk kantong, tapi pembantunya buntung.

ayamkodok: pemotongan bulanan gimana maksudnya mas? gaji mereka dipotong gitu?

joks: ya iya lah. apa lagi? dubes itu kan ada jatah mbawa staff dari indonesia,
biasanya sekitar 3 -4 orang, non-diplomat, biasanya mereka membawa pembantu,
adik, sodara, keponakan dll. nah, staf ini digaji sekitar 1500 euro per
bulannya, dan mereka tinggal di wisma dubes bareng dubes dan keluarga. staff ini
digaji negara, jadi bukan digaji oleh dubes yang bawa mereka, dan biasanya
terdiri dari kepala rumah tangga, satu orang ekstra dan satu sekretaris pribadi.
tapi satu dubes ini, dia paksa para staffnya itu untuk membeli bahan makanan
untuk mereka semua tiap bulannya (contoh: istri dubes kasih uang belanja sama
orang belakang misalnya 50 euro. pake embel-embel, “saya tidak perduli ini cukup
atau tidak, pokoknya harus cukup!” padahal 50 euro paling bisa beli apa sih?
jadi yah karena harus cukup, si para pembantu, krt dan sekpri ini terpaksa
mengeluarkan duit dari kocek sendiri yang bisa sampe 200 sampe 400 euro per
bulannya untuk makan di wisma dubes, sementara ku dengar juga, makanan harus
selalu mewah, harus ada kue dan dessert setiap harinya, makan pagi-siang dan
malam harus berbeda menu dll) jadi kasarnya yah dubes, keluarga dan tamu tamu
wisma (yang non-stop datangnya, banyaknya tamu pribadi – saudara dari sana sini)
yang kasih makan ya para pembantunya. sudah lah mereka yang kerja rodi ndak ada
istirahat dalam tiap minggunya, ndak boleh jalan jalan, ndak boleh tidur sebelum
para bos tidur (mereka itu tiap malam paling tidur 3-4 jam) malah ku denger
denger sering dipukuli, dijambaki, dicakari pula.
kesian mereka, berharap bekerja di luar negeri barang beberapa tahun supaya bisa
nabung, malah sudah jatuh ketimpa tangga pula. nyolong dari orang kaya sih ndak
apa apa, yah salah sih, tapi masih bisa dimaklumi. ini kok nyolong dari orang
yang sepatutnya kita tolong. dan ini bukan satu satunya dubes yang begitu,
banyak sekali yang model begini. makanya indonesia ini ndak bisa maju maju, wong
representatifnya di luar negeri saja maling semua.. huahahahaha

ayamkodok: duh mas.. miris amet aku dengernya.. TKW disiksa di luar negeri sama
orang asing aku sudah geram dengarnya.. tapi kalo sampai orang kita dikerjain
dan diperlakukan tidak manusiawi oleh orang indonesia sendiri itu lebih
keterlaluan! memangnya itu budak belian? bangsa sendiri lagi!

joks: duh ndi.. aku sih sudah karatan ngeliat yang begitu. kemarin ini ada satu
home staff yang kerjanya memang ngurusin WNI di negara setempat. ada satu TKW
kita yang bermasalah dengan ijin kerjanya. dia ini ndak mau repot dan membantu
si TKW, malah dipaksa untuk pulang aja ke Indonesia. lalu ternyata majikannya
sudah mengurus semuanya dan si TKW ini bisa kembali kerja ke rumahnya. akhirnya
dia bengong sendiri karena si TKW bisa tetep tinggal disini dan kerja. padahal
itu kan devisa negara, belum lagi si TKW itu kerja kan juga untuk perbaikan
nasib keluarganya di indonesia. aku heran, kok si diplomat ini gak mau capek
sama sekali. memang mereka disini itu digaji untuk apa? kan untuk kerja! aneh
sekali, padahal banyak dari home staff itu berasal dari keluarga yang biasa
biasa aja, kukira orang yang asalnya dari keluarga biasa biasa aja (cenderung
susah) itu akan punya sifat berempati dengan penderitaan orang lain. ini kok
sama sekali tidak, ya?

ayamkodok: iya yah mas, kukira juga gitu, kalo orang prihatin biasanya kan bisa
lebih memahami dan lebih sensitif sama orang yang bernasib kurang beruntung..

joks: nah itulah makanya.. manalagi itu para home staff suka iri sama kita yang
local staff. aku heran, kenapa mereka iri sama kita? kita ini ndak ada karir,
gaji pas pas an, rumah harus bayar sendiri, ndak ada facilitas istimewa seperti
mereka, pensiun pun ndak ada. tapi kok bawaannya sirik terus. lalu kami disini
juga kerap kali mendapat perlakuan yang tidak simpatik, yg kalau terjadi di
tempat kerja lain, sudah bisa dituntut secara hukum karena termasuk pelecehan
dan penyalah gunaan kekuasaan di tempat kerja. tapi yah aku mau gimana lagi,
wong mereka itu bebal semua, berkuasa dan merasa bener. ada kadang satu atau dua
orang home staff yang ok, berpikiran logis dan dapat bekerja dengan baik tapi
karena jauh lebih banyak yang sinting ya tidak bisa buat apa apa juga. ibarat
satu orang waras di tengah 100 orang gila, akhirnya yang waras yang dianggap
aneh dan gila hehehheehhe..

ayamkodok: waduh mas.. kok makin parah sih keadaannya? aku kira setelah
kepulangan dubesmu dulu yang angker itu keadaan makin membaik.. kok malah tambah
ancur?

joks: wah ndi, sekarang ini malah tambah parah. ibarat jaman suharto lah, orang
semua komplen. giliran suharto turun eeehhh ternyaa keadaan tambah parah … ya
itu yang terjadi disini juga sekarang. kami para local staff ini benar benar
diinjak injak oleh mereka, hak kami tidak diberi, tapi kewajiban ditambah.
apabila ada apa apa yang kami tidak setuju, lalu mereka mengancam pekerjaan kita
ini seperti kita ini tidak ada artinya. padahal kalo dipikir, memang mereka PNS
tapi kan kita sama sama digaji negara, sama sama mengabdi untuk negara. dan kita
ini kan warga negara indonesia juga, punya hak yang sama seperti mereka dan
orang orang lain. kok kita ini tidak ada sama sekali diberi apresiasi dan
pengakuan, malah nasib kita para local staff ini seperti digantung, kontrak
kerja tidak jelas, selalu bekerja dalam suasana diteror dan diancam akan dipecat
dan lain lain. sudah gitu, ndak ada pesangon lagi.. miris aku.

ayamkodok: kok gitu yah mas? sudah 350 tahun dijajah belanda, 3.5 tahun dijajah
jepang, 1 tahun diajah inggris eh sekarang dijajah lagi sama sesama bangsa.
ternyata sama saja di luar sama disini yah?

joks: ya sama lah ndi. aku banyak sekali cerita lain, tapi aku sekarang mesti
keluar belanja, besok senin tamu banyak lagi yang datang, alhasil aku pasti dari
pagi sampai tengah malam harus kerja. kita sambung lain waktu ya?

ayamkodok: ok mas, nanti kita sambung lagi.. yang sabar ya mas! orang sabar itu
disayang Tuhan loh. hehe

joks: iya, trims ya ndi. salam untuk semua anak anak disana!

Begitulah sekilas pembicaraan kami minggu lalu. Sering kali ketika selesai
chatting atau membaca e-mail dari dia, saya menjadi tambah prihatin dan trenyuh
melihat kelakuan para pejabat kita di dalam maupun di luar negeri. Indonesia ini
makin lama makin suram saja masa depannya.

Masih banyak chattingan dan e-mail mas Joko yang saya simpan, dan pelan pelan
akan saya publish disini. Saya harap akan ada satu miracle atau keajaiban yang
terjadi dan bisa merubah mentalitas pejabat kita agar lebih humble atau rendah
diri dan juga lebih peka terhadap sesama manusia, jangan hanya terlihat ramah di
permukaan sepintas dan ternyata borok di dalam.
hmmhhh… Indonesiaku, sedihnya melihat anak anak bangsamu yang bertambah
beringas bukannya bertambah asih-welas..

http://pejabat-indonesia-sucks.blogspot.com