Soeharto merupakan sosok kontroversi yang menjadi bagian dari sejarah nasional, meski kelak belum tentu kontroversi tersebut tertera lengkap di buku bacaan sekolah anak-cucu orang Indonesia. Yang jelas, tulisan ini bukan bagian dari buku sekolah masa depan.

Versi ke-1 : Soeharto adalah seorang Pahlawan Nasional
Versi ini bisa dikoar-koarkan oleh keluarga, kolega, dan pemuja
Soeharto, bahwasannya perjuangan Soeharto dalam sejarah nasional
tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun. Perjuangan almarhum ketika
masih muda dalam rangka kemerdekaan dan kedaulatan RI di mata dunia
internasional jelas tertulis. Anak petani, yatim, asal pelosok Jawa,
mengangkat sejata di masa belia, berkonfrontasi langsung dengan
penjajah, menjadi pemimpin dalam kelompok kecil gerilyawan, bertahap
dari tingkat kopral hingga panglima bintang lima.

Soeharto, yang kemudian penjadi presiden RI ke-2 selama 32 tahun,
tertulis sebagai sosok yang luar biasa. Prestasi cemerlang yang
tercatat adalah Peristiwa 1 Maret 1949 atau juga terkenal dengan
peristiwa perebutan Yogyakarta dalam tempo 6 jam lalu diabadikan
dalam lagu "Sepasang Matya Bola", film "Serangan Fajar", dan "Janur
Kuning". Monumen Jogja Kembali yang dibangun megah di Sleman
Jogjakarta tahun 1980-an mengukuhkan Soeharto dalam sejarah
perjuangan bangsa.

Yang tidak kalah pentingnya, Peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret
atau dikenal dengan Supersemar. Di situlah awal perjalanan karier
politik Soeharto diperhitungkan. Tindak lanjut atas Supersemar
adalah pelarangan PKI beserta atributnya.

Tonggak kesuksesan Soeharto sebagai presiden adalah swasembada beras
pada tahun 1980-an. Soeharto pun menjadi tokoh berpengaruh di dunia.
Beliau tidak memiliki pendidikan khusus di bidang pertanian seperti
halnya Doktor Susilo Bambang Yudoyono, tetapi beliau sanggup
menjadikan Indonesia berswasembada beras dan sebagian rakyat
Indoensia tidak menjadikan nasi aking (nasi bekas/nasi basi) sebagai
makanan pokok sehari-hari.

Soeharto tidak menjadi "mentang-mentang" lantas lupa pada petani.
Sebagai Negara Agraris, Soeharto paham betul bahwa pertanian
merupakan pilar utama pembangunan bangsa. Dengan perut kenyang,
rakyat bisa tentram. Dibarengi pula aksi menebar senyum ke pelosok-
pelosok tanah air dengan program pertanian yang muncul di televisi
dalam acara kelompecapir.

Pada masa pemerintahan Soeharto, strategi pembangunan dan
penentraman menjadi fokus penting. Subsidi untuk BBM jelas besar
karena BBM sesungguhnya adalah perut orang Indonesia. Maksudnya, BBM
mengendalikan roda perekonomian sehingga kendaraan harga tidak naik
ke puncak bukit kesengsaraan. Harga-harga bisa dikendalikan.

Kejatuhan Soeharto dari kursi kepresidenan melalui Aksi Reformasi
karbitan, berarti pula kejatuhan perekonomian bangsa. Hingga 10
tahun pasca Reformasi, harga-harga tidak bisa dikendalikan, beras
terus diimpor, dan kelaparan menjadi menu sehari-hari di media
massa. Pemerintahan pasca Reformasi ternyata lebih rakus dan arogan!

Ya, Reformasi 1998 tidak lebih dari bukti kebringasan sipil dalam
menguras isi perut rakyat. Tidak sedikit orang Indonesia merindukan
masa keemasan Soeharto yang benar-benar piawai dalam menentramkan
rakyat. Rakyat tidak membutuhkan barisan politikus yang hanya piawai
bercas-cis-cus tetapi tidak becus mengantisipasi persoalan perut
rakyat.

(Catatan saya: Presiden SBY seharusnya malu, dan mengembalikan gelar
akademis itu ke Institut Pertanian Bogor! SBY tidak mampu menerapkan
ilmu pertaniannya, melainkan hanya memikirkan perutnya sendiri)

Versi ke-2 : Soeharto adalah Dalang Segala Bencana
Sejarah bangsa-bangsa ditulis bukan tanpa intervensi kepentingan
penguasa di wilayah bersangkutan. Begitu pula di Indonesia. Menurut
obrolan pinggir jalan, Soeharto bukan anak petani biasa. Sebab,
dalam mitologi Jawa, seorang pemimpin tidak bisa diciptakan,
melainkan diturunkan. Soeharto sebenarnya berasal dari keluarga
bangsawan Keraton Jogja, yang diasingkan lantaran aib. Ia bisa
menjadi presiden tidak lain karena alam supranaturalnya yang memang
dari keluarga bangsawan.

Obrolan lainnya, partisipasi istrinya, yang memang berasal dari
keluarga bangsawan, tepatnya Surakarta (Solo), jelas mendukung
mitologi Jawa tersebut. Bahkan ada obrolan selanjutnya yang
mengatakan, presiden ke-2 Indonesia secara de jure adalah Soeharto
tetapi secara de facto adalah Tien Soeharto. Hal ini memang berbau
klenik tetapi memang begitulah obrolan sebagian orang pinggir jalan
di Jogjakarta. Paling tidak dapat dibuktikan dengan Peristiwa 24
April 1996, wafatnya Tien Soeharto, dan Reformasi 1998 dengan
lengsernya Soeharto dari singgasana kepresidenannya.

Obrolan di tempat lain, pada Peristiwa 1 Maret 1949 bukanlah
lantaran kehebatan atau jasa besar Soeharto, melainkan peran besar
Hamengkubuwono IX dan Jenderal Soedirman. Tetapi oleh antek-antek
Soeharto (penjilat pantat Penguasa ORBA demi kelanggengan posisi
penjilat dalam pemerintahan Soeharto), Soeharto dikatakan sebagai
pemain kunci atas kesuksesan perebutan itu.

Berikutnya, Supersemar. Supersemar bukan Surat Perintah untuk
mengangkat Soeharto sebagai Presiden, melainkan untuk menjaga
stabilitas nasional dalam bidang pertahanan-keamanan. Namun surat
tersebut disalahgunakan sebagai Surat Perintah Semacam Makar yang
berbuntut kudeta atas kepemimpinan Presiden Soekarno.

Dari Supersemar itulah kuku tajam Soeharto menancap di bumi pertiwi
selama 32 tahun. Pada masa kejayaan ORBA, kebijakan dan doktrin
penjilat menjalar ke seluruh pelosok tanah air. Tidak beda dengan
Ken Arok dalam sejarah Indonesia yang berusaha menumpas keturunan
Tunggul Ametung, Soeharto berusaha memberangus kemunculan keturunan
Soekarno maupun keluarga orang-orang yang dicap PKI dalam kancah
perpolitikan nasional. Kebiadaban demi kebiadaban pun menjadi pesta
pengganyangan nasional. Peristiwa Malari, Tanjung Priok, 27 Juli
1996, Pembangunan Taman Mini Indoensia Indah, Waduk Kedungombo,
Tapos, Jalan Tol, Program Pembangunan Pusat Pembangkit Tenaga Nuklir
1996, dan lain-lain merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakan-
kebijakan Soeharto yang cenderung korup, termasuk dalam ranah hukum
maupun pendidikan yang mencuat dalam kasus beasiswa Supersemar dan
Yayasan Supersemar.

Senyum Sang Jenderal adalah seringai Sang Serigala bagi sebagian
orang. Budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme benar-benar lestari
bahkan terbudidaya dengan sendirinya. Semua itu akibat Soeharto,
Sang Dalang Segala Bencana.

Versi ke-3 :
Soekarno, Soeharto, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan
Susilo Bambang Yudoyono adalah presiden Indonesia dalam periode
masing-masing. Mereka sekadar simbol kedaulatan Indonesia di mata
dunia internasional.

Di Indoensia, persoalan nasional bukan melulu tanggung jawab
presiden, melainkan pula menjadi tanggung jawab seluruh elemen
masyarakat. Soeharto bukanlah satu-satunya penentu kesuksesan
pembangunan di masa ORBA. Sebab, jika tanpa peran serta aktif
masyarakat, niscaya REPELITA hanya menjadi rencana kosong.

Sekarang bukan lagi saatnya untuk bernostalgia karena persoalan
bangsa tidak bisa diselesaikan dengan acara-acara nostalgia. SBY
ataupun kelak siapa pun presidennya, haruslah mempunyai kepentingan
yang benar-benar pro-rakyat. Kebijakan BBM dan konversi BBM harus
kembali melihat pada realitas rakyat. Juga kebijakan pangan. Perut
kendaraan dan perut orang memiliki rasa senasib-sepenanggungan.

Dan kepada para politikus dan penegak hukum, berhentilah untuk
mementingkan diri sendiri maupun kroni. Rakyat Indonesia tidak
membutuhkan orang-orang yang pintar bicara (berbeda dengan penyiar
radio dan presenter televisi), melainkan ketentraman dan kemakmuran
bersama. Kontroversi Soeharto bukanlah konsumsi atau makanan pokok
bagi seluruh rakyat Indoensia.

***
  Rawabuaya, 28 Januari 2008