Senin, 28 Januari 2008.  Pukul 10.20. Di pagar rumah nomor 20 di Jalan Teluk Betung, Menteng, Jakarta Pusat itu tampak coretan graffiti bertuliskan iwank. Pagar putihnya sudah lusuh mendekati abu-abu. Di depan rumah, yang menutup bahu jalan Teluk Betung itu, seratus kursi, dijejerkan empat-empat, lima ke belakang, di bawah sebuah tenda putih.
Ada lima deret kursi ke belakang, belum terisi penuh. Jasad almarhum Jusuf
Ronodipuro, pahlawan yang menyiarkan ulang teks proklamasi di RRI di saat
Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945,yang juga menggugah Ibu Sud menciptakan lagu
Berkibarlah Benderaku itu. Ia meninggal pada 27 Januari 2007, pukul 23.00 WIB,
dan siang ini pada pukul 11.30 diberangkatkan ke Makam Pahlawan, Kalibata,
Jakarta Selatan.

Di kanan pintu pagar mencolok sebuah karangan bunga, dari Walikota Jakarta
Pusat. Sosok Muhayat, sang walikota, memang tampak duduk di salah satu kursi. Di
sebelah kirinya, sebuah karangan bunga kecil dari Perpustakaan Nasional.
Karangan bunga lain bisa dihitung dengan jari, antara lain, dari LP3ES, Sekjen
Dephan, Ikatan Sarjana Kedokteran UI.

Media pun tak banyak merubung. Saya melihat hanya ada wartawan SCTV, MetroTV
dan RRI. Sehingga ketika Fauzi Bowo, Gubernur DKI, yang tampak melayat,
berjalan keluar pagar tanpa halangan. Ada mantan Gubernur Soeprapto, yang
datang dengan jalan sudah agak pincang. Ada Sri Edi Swasono, disusul Awaludin
Jamin, mantan Kapolri. Tak berselang lama sebuah mobil Camry menteri B 18, yang
ditumpangi Juwono Sudarsono, Menhamkam, pun muncul. Ia pemimpin satu-satunya
yang memperhatikan Jusuf Ronodipuro, sejak saat dirawat di rumah sakit MMC,
Jakarta Selatan, hingga dipindahkan ke RSPAD.

Di ruang dalam rumah, jasad Jusuf dibaringkan di atas karpet yang juga sudah
lusuh. Saya, Alif Hesrudin Gaffar dari GNM3 (Gerakan nasional menuju
Masyarakat Madani), Soeprapto, mantan Gubernur DKI, dan sekitar enam orang tamu
lain berdoa dipandu seorang ustad.

Di dinding ruang tamu itu, saya tak melihat lagi koleksi lukisan Jusuf, yang
menurut saya langka, dan luar biasa. Termasuk lukisan diri Jusuf yang dibuat
oleh Basuki Abdullah di tahun 1960-an sudah tak ada lagi di dinding. Saya
pernah membaca di sebuah majalah pada medio 2007 lalu, bahwa koleksi lukisan
bersejarah tentang Chairil Anwar, yang sedang menggubah sajak Aku yang fenomenal
itu, sudah dijual dan dikoleksi seorang pengusaha di Jogja.

Saya tak tahu, apakah lenyapnya lukisan bagus-bagus dan bersejarah di ruang
tamu Jusuf, menjadi pertanda bertukarnya dengan sejumlah besar uang yang
dihabiskan untuk merawat penyakit Jusuf yang memang sudah parah sejak September
2007 lalu. Entahlah!

Kepada saya Irawan Ronodipuro, puteranya, pernah mengeluh akan beban yang
harus dipikul oleh keluarga mereka.

Keadaan memang menjadi berbanding terbalik antara bumi dan langit jika
melihat liputan almarhum Soeharto, juga jika melihat licin-licinnya mobil yang
datang dan harumnya tamu yang muncul mengantar jenazahnya, mulai dari Cendana,
ke halim hingga ke Solo dan pemakaman.

Rumah almarhun Jusuf di Jalan Teluk Betung, itu tetap saja bersahaja. Dan
jasad Jusuf ada di sana.

Saya menduga, jika pun almarhum Jusuf dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata,
siang ini pukul 12.00, terlebih karena keadaan dan keinginan keluarga yang
ditinggal, bukan karena keinginan hati kecil Jusuf, sosok yang saya kenal, sosok
yang mengedepankan pentingnya integritas dan hatinurani. Toh ketika kita
menghadap sangkhalik tidak membawa apa-apa***