Minggu, 27 Januari 2008  Seorang anak disuruh oleh ayahnya untuk membelanjakan sesuatu di sebuah warung. Selesai belanja sang anak menyerahkan sisa uang dan sebuah bon tanda penjualan, dalam bentuk kusut masai karena habis digenggam. Sang ayah menanyakan bagaimana rinciannya. Apa jawab sang anak?"Itu semuanya ada disitu, uang kembalian dan bonnya." jawabnya.

Sang ayah berusaha sabar, menerangkan kepada anaknya: "Bukan seperti itu maksudku, Nak. Agar kamu bisa belajar menghitung dengan lebih baik. Kamu terima uang berapa dan belanja barang apa berikut berapa harganya, kalau kamu sudah mengerti, sebaiknya kamu teruskan dengan memeriksa apa yang ditulis didalam bonnya sudah sesuai?"

Tidak sedikit yang memberi reaksi negatip terhadap sikap memberi pelajaran seperti ini, dan ada beberapa ibu kandung yang bisa tersinggung berat dengan mengomel langsung atau ditahan didalam hati: 'Huh, anak sendiri kok tidak dipercayai. Curiga saja seperti memperlakukan pegawai sendiri di dalam perusahaan saja.' Sikap negatif ini bisa saja berubah, setelah sang ayah meneruskan seperti berikut: "Mungkin kamu akan diberi pelajaran masalah seperti ini kelak di dalam kelas oleh gurumu, tetapi seperti yang aku katakan tadi, sungguh ini suatu kesempatan lebih baik agar kamu bisa belajar dari kehidupan sehari-hari."

Sang Ibu dan sang anak mulai sedikit memberi perhatian terhadap  apa yang dimaksudkan oleh sang ayah.

Maka diulangi lagilah tambahan kursus dari sang ayah terhadap masalah tadi, dengan sedikit pengulangan dan menambah lebih detil dan tambahan ketelatenan wawasan yang lebih luas.

Saya pernah membaca sesuatu yang mirip seperti ini bunyinya:

Sebuah sekolah Dasar di sebuah negara nun jauh disana, telah memulai upaya menerapkan sebuah pelajaran akunting-accounting  di sebuah sekolah Dasar sejak usia dini, sejak murid-murid mengenal ilmu berhitung yang dasar, bagaimana melaksanakan kegiatan banking-perbankan secara nyata dan disusul dengan praktek serta  melakukannya di sebuah bank yang sesungguhnya. Biarpun mereka masih muda usia akhirnya mereka mengetahui dan bisa melihat dengan nyata apa yang disebut dengan cheque-cek serta giro. Tahap akhir mereka mencapai tahap pengetahuan mengenai ATM Card-Kartu ATM. Seperti diketahui ATM dalam bahasa aslinya adalah Automated Teller Machine tetapi banyak digunakan terjemahan kedalam bahasa kita dengan terasa agak sedikit dipaksakan pemakaiannya: Anjungan Tunai Mandiri.

Begitu selesai tahap akhir ini, mereka diberi masing-masing sebuah ATM sebagai milik pribadi masing-masing. Yang digambarkan di atas adalah sesuatu yang bukan biasa dan saya duga akan banyak sekali pihak-pihak yang akan menentang dilakukannya untuk dilakukan terhadap anak-anak kita di Indonesia.

Saya melihatnya agak jauh kedepan.

Alangkah baiknya kalau diajarkan sekalian kepada mereka yang masih belia ini, prinsip-prinsip akunting dengan gaya anak-anak sesuai dengan kondisi kemampuannya sesuai umur masing-masing. Cara penghitungan untuk kegiatan membeli sesuatu dari warung, berapa terima uang, berapa nilai belanja, berapa uang sisa pembelian dan menerima barang serta membaca bon, semua bisa diajarkan, dan merangkumkannya ke dalam sebuah catatan kecil diatas sehelai kertas.  Hal ini pasti amat berguna bagi anak-anak untuk bekal hidup sehari-harinya nanti.

Sekian?

Belum, belum!!

Saya masih ingin menyambung dengan sesuatu yang baru.

Saya yakin sejak beberapa waktu akhir-akhir ini, anda pasti sudah melihat upaya-upaya yang intinya ingin membantu menghentikan perbuatan-perbuatan, bahkan indikasinya sekalipun, segala sesuatu  apapun yang bersifat korupsi. Hal ini dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah, oleh sekolah-sekolah kepada murid-murid. Banyak juga selebaran dan tampilan berupa gambar, kartun dan sindiran di media mengenai korupsi. Bahkan saya melihat sebuah kartun layanan kepada masyarakat yang ditayangkan berulang-ulang di layar televisi. Digambarkan bagaimana seorang anak hampir bertelanjang membawa tas berangkat sekolah dan ditanya oleh sang ayah yang berpakaian lengkap, malah berdasi. Ayahnya menegur, mengapa tidak berpakaian dan sang anak sambil terus tetap berlalu, mengatakan dengan ringan, bahwa dia tidak mau mengenakan pakaian yang telah dibeli dengan uang hasil korupsi. Akhir tayangan adalah sang ayah yang melotot matanya dan akhirnya memandang dengan sendu dan lesu!

Hasil akhir yang diharapkan tidak lain adalah membuat suasana meluas ke masyarakat, bahwa korupsi adalah sesuatu yang haram, yang tidak pantas dan tidak patut dilakukan oleh siapapun saja yang mau dan ingin dikenal sebagai manusia Indonesia yang waras dan sehat secara mental.

Sambungan yang saya inginkan adalah masalah penguasaan ilmu akunting sederhana dan masalah korupsi ini akan dapat digabung,  karena anak-anak akan sudah memiliki bekal dan kemampuan menghitung sendiri, berapa penghasilan orang tuanya, dan berapa belanjanya. Berapa asset yang dimiliki orang tuanya dan kapan diperoleh dan didapatnya dengan menggunakan dana yang mana.   

Kalau Negara mempunyai lembaga yang namanya  K.P.K. (Komisi Pemberantasan Korupsi) akan mendapat bantuan secara tidak langsung dari KPK-KPK Kecil didalam banyak Rumah Tangga yang paling sederhana sekalipun.

Impian dan lamunan saya berlanjut sehingga sampailah pada suatu saat nanti, seorang anak yang umurnya dua belas tahunan akan berani dengan meyakinkan dan mengatakannya kepada orang tuanya sendiri, secara pribadi, di dalam rumahnya sndiri sehingga tidak didengar oleh orang lain.

Adapun kata-katanya bisa saja seperti berikut: "Bapak dan Ibu, menurut perhitungan yang saya buat ini, maka saya memohon agar kita sekeluarga tidak melakukan kegiatan adat untuk pergi mudik ketempat kelahiran Bapak atau Ibu, karena kita tidak mampu. Bapak dan Ibu akan harus bekerja melebihi batas kemampuan hidup sehat, kalau ingin mendapatkan uang ekstra dengan cara jujur, hanya karena masih menginginkan pulang mudik! Saya juga akan menerima kalau bagi saya, akan terpaksa memakai semua sepatu saya yang ada dan memang sedikit usang untuk sepanjang tahun ini, agar pengeluaran Keluarga kita akan tetap sehat dan seimbang dengan penghasilan Bapak dan Ibu"

Seorang Bapak dan juga seorang Ibu mugkin akan seperti disambar petir, pada waktu mendengar hal seperti ini untuk pertama kalinya,  justru karena mendengar dari anak kandungnya sendiri. Kalau hal ini dibiasakan, dan dilakukan berulang-ulang serta berkali-kali untuk hal-hal yang lain tetapi temanya sama, maka tentu bukan petir yang menyambar, tetapi kebahagiaanlah yang turun datang menjelang bagi seluruh anggota keluarga.