Senin, 09 Januari 2006   Apa ukuran makmur untuk sebuah negara? Bagi saya sih simple sekali. Makanan penduduk negara tersebut tercukupi untuk setiap orang tetapi mereka harus bekerja untuk mendapatkan sesuap nasinya masing-masing. Pakaian saya beri nomor urut tiga, karena nomor dua adalah kesehatan tiap individu, baik yang dalam usia produktip untuk bekerja maupun untuk yang telah menyelesaiakan masa kerjanya dan masuk usia pensiun. Negara menjadi makmur kalau negara dapat memberdayakan rakyatnya untuk bekerja, berkarya dan berinnovasi, berprestasi dan berpartisipasi untuk hidup bersama dalam masyarakat sekelilingnya. Fungsi pemerintah harus melayani kepentingan dan hanya untuk kepentingan penduduknya, yang disebut dengan istilah rakyat. Pemerintah tidak boleh sekali-kali menghalangi atau membuat susah rakyatnya dengan macam-macam peraturan dan membingungkan rakyatnya dengan issue-issue yang bukan jatah bagi rakyat untuk ikut pusing kepala. Issue-issue yang tidak menyenangkan dan berkembang dengan laju yang tinggi didalam masyarakat sebagian besar adalah ciptaan para penyelenggara negara dan para politikus. Mereka ini sudah biasa bersembunyi dibelakang simbol-simbol kenegaraan dan logo-logo partai dan organisasi massanya. Issue yang timbul adalah karena kelicikan mereka dan sifat pengecut mereka menghadapi oposan dan kritik. Kalau ada masalah seharusnya mereka berani bertemu secara langsung atau berkomunikasi dengan banyak alat yang sekarang sudah canggih. Mereka menyalurkan perbedaan pendapatnya melalui penggunaan massa yang setia pada kelompoknya sendiri-sendiri.

Semua kelompok ini selalu mempunyai rasa pembenaran diri yang tinggi. Pandangan kelompok ini selalu mikro dan menggunakan kacamata kuda dalam memandang issue nasional.

Jadilah emosi  negative yang digunakan, antara lain dengan membentuk demonstrasi dengan massa yang amat banyak. Sudah jamak orang jaman sekarang, berkumpul dan merasa mendapat issue yang perlu digelar di depan masyarakat. Apa issuenya? Apa saja asal ada bagian yang dapat menghasilkan sesuatu bagi kelompoknya. Hasil apa? Hasilnya bisa berupa uang tunai atau kemudahan mendapatkan sesuatu yang lain, jabatan di dalam dan di luar pemerintahan yang memperoleh pendapatan yang besar secara berkala. Di sinilah sekarang dapat dirasakan bagaimana banyaknya orang yang tidak mampu akan tetapi duduk di atas kursi penting. Tidak mampu dalam mengelola yang dipimpinnya tetapi amat mampu mengambil hak rakyat dengan melakukan antara lain korupsi. Di sekeliling saya, banyak teman saya yang kaya raya dan mereka ini telah melakukan tindakan tidak terpuji di masa lalu, telah menjadi dugaan kuat saya. Ada yang dapat menutupinya dengan mendirikan usaha yang resmi dan kebetulan berkembang dengan baik. Yang seperti ini disebut dalam buku karangan Prof. Dr. Sutan Remy Syahdeini, SH tentang Money Laundering. Contoh yang ditampilkan di sampul belakang buku tersebut adalah kemewahan seorang anak pejabat yang membuka usaha di sebuah mall dalam bidang cosmetics. Permodalan usaha tersebut, kalau berasal dari pendapatan tidak wajar, maka dapat digolongkan kedalam Tindak Pidana Money Laundering. Pengetahuan kita, para anggota masyarkat, tentu saja dapat digolongkan mampu melihat akan tetapi tidak mampu menindak apapun. Kalau melakukan laporan maka apa boleh buat,   sudah mempunyai praduga akan merupakan tindakan muspro, ini kata bahasa Jawa yang artinya: mubazir atau percuma dan sia-sia saja. Siapapun beberapa saat lalu mendengar tentang istilah Whistle Blower (bisa diterjemahkan Tukang Semprit, Peniup Peluit). Ada sdr. Khairansyah dan Probosutedjo.

Ternyata sempritan kedua orang itu dipandang tidak bersih. Probosutedjo sudah dihukum dan Khairansyah tidak diketahui lanjutan prosesnya.

Kalau para pelaku kejahatan yang mengakibatkan kerugian negara, bukan hanya kerugian pemerintah, semuanya dapat dikurangi ke batas minimum, maka ada harapan Republik Indonesia akan tertolong. Para pelaku menyimpang itu perlu diperbaiki mentalnya didalam penjara, bukan hanya dikurung saja. Para pelaku yang kakap dan sekarang di dalam penjara, bukan menjalani masa hukumannya dengan biasa. Mereka ini menularkan akal busuknya dan melakukan perbuatan lain, malah mungkin lebih busuk, dari perbuatannya sebelum menjalani hukuman. Para penjaga penjara ternyata bukanlah malaikat, tetapi hanya manusia biasa, yang juga menginginkan kemuliaan dan kekayaan seperti yang dimiliki oleh para narapidana yang dijaganya. Apa yang bisa terjadi? Ada contoh nyata: Eddy Tanzil yang lolos hanya dengan beberapa juta Rupiah saja. Mereka yang terlibat sudah menerima hukumannya akan tetapi Eddy Tanzil sendiri sedang bebas dan merdeka entah di luar atau di dalam Indonesia. Mereka yang ditindak karena kasus Eddy Tanzil hanya golongan teri saja, mana kakapnya? Selama yang seperti ini dibiarkan terjadi, maka kemakmuran masih di horizon sana, masih jauh!!

Saya yakin dengan kemakmuran alam di Indonesia, rakyat akan bisa menikmatinya dengan baik, kalau para penyelenggara yang culas dan curang  ditindak dengan keras dan tegas. Biarlah Pedang Keadilan digunakan dengan Hukum yang benar. Jangan Pedang tersebut dipegang oleh pelaku lain yang malah akan lebih kejam tanpa payung Hukum, malahan dengan dalih dan alasan keadilan. Kemakmuran pernah diterima rakyat Arab Saudi dengan berlimpah ruah, petro dollar dapat memakmurkan rakyatnya. Bukan karena  masalah minyak Saudi lebih banyak dari minyak di Indonesia. Minyak di Indonesia setelah ditambang banyak yang diminum para pejabatnya sendiri, tidak pernah diadili dan tanpa malu-malu sekarang memamerkan "hasil" kakayaannya melalui janda-jandanya dan anak-anaknya.

Mereka orang-orang takwa dalam beragama akan tetapi tidak mau tahu bahwa kekayaan yang dinikmatinya adalah hasil curian dari rakyat Indonesia.

Sekarang kemakmuran yang terjadi di Arab Saudi membuahkan keadaan seperti berikut:

·       Banyak Pegawai Negeri dan para penjual jasa pekerjaan rumah tangganya adalah orang asing. Pegawai negerinya banyak orang Mesir atau orang Arab non Saudi

·       Bank mereka sebagian besar berada di Amerika Serikat dan pemiliknya banyak orang Yahudi yang dimusuhinya termasuk dimusuhi oleh sebagian besar orang Indonesia

·       Wisman (wisatawan manca negara)nya mungkin tidak besar atau tidak sebesar para haj pilgrim. Meskipun ada terrorism disana, langsung ditindak dan ditembak ditempat, tanpa ribut-ribut kesana kemari

Bagaimana dengan Indonesia? Dengan tidak bermaksud menjelekkan negara sendiri, tetapi aib Indonesia adalah aib saya juga dan aib Presidennya, Susilo Bambang Yudhoyono:

·       Sawah penghasil beras kita ada di luar negeri, karena beras yang ada, sebagian besar adalah hasil dari import. Mungkin sebaiknya dilakukan semuanya saja, bisa terjamin mutunya dan Bulog dibubarkan saja. Bukankah selama ini Bulog telah menjadi money machinenya Partai Politik?

·       Pabrik gula juga di luar negeri karena gula didatangkan dari sana, termasuk mendatangkan telur ayam, ayam potong, daging sapi dan keperluan lain-lain. Misalnya sayur dari Brastagi sudah lama kita import lagi dari Singapura

·       Kalau Saudi bisa, mengapa pegawai negeri kita tidak kita gunakan saja orang asing?

Menurut pengalaman tidak pernah gaji penyelenggara negara itu menjamin kejujuran, biarpun dinaikkan setinggi langit.

Jaman dulu para pegawai Kemeterian Keuangan (pegawai negeri lainnya tidak dinaikkan) saja, pernah dinaikkan sembilan kali, dan sekarang Korupsi yang berukuran Mega ada di Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Para mantan Menterinya tidak ada yang melarat atau tidak kaya, kecuali barangkali Mar'ie Muhammad. Direktur Jenderal dan direktur-direktur dibawahnya juga menikmati uang yang berlebih dari pegawai negeri lainnya. Darimana mereka dapat? Hanya mereka yang tahu dan saya memang tidak tahu! Yang perlu tahu adalah Komisi Pemberantasan Korupsi dan yang maha tau tentu saja adalah Allahu ahad, Allahu akbar.

Saya ulangi bahwa karena sawah dan ladang tebu kita termasuk perternakan ayam dan sapi berada di luar negeri, maka anjuran saya menggunakan pegawai negeri dari luar negeri kelihatannya bukan yang terlalu salah. Ada petani asing, peternak asing, mengapa keberatan pegawai negeri asing? Kalau oleh karena ini saya dikatakan salah sebaiknya difikirkan kembali anjuran seseorang mengenai Thaubat Nasional. Nasional siapa? Ya tentu saja para penyelenggara negara dan aparat pemerintah lain. Kalau jumlah mereka ini yang hanya sekitar tujuh juta orang, maka saya serukan kepada seluruh dunia, bahwa saya nyatakan tidak bisa rela kalau sisa penduduk Indonesia sekarang ini dijajah oleh sekelompok kecil ini !!!

 

Anwari Doel Arnowo

 15:15:19

—ooo000ooo—

 

Society produces rogues and education makes one rogue cleverer than another

Masyarakat menghasilkan bandit-bandit dan pendidikan menghasilkan seorang bandit lebih pandai dari bandit yang lain