Bandung, 25 Januari 2008   Beberapa tanggapan telah dilontarkan atas tulisan saya terdahulu berjudul: Enough is Enough. Ada yang mengemukakan argumentasi secara teknis-agro, bahwa tanaman kedelai memang tidak dapat menghasilkan cukup banyak karena ditanam di daerah tropis. Ada pula yang menyampaikan penyebab melonjaknya harga kedelai karena pengaruh dari gejolak luar negeri, seperti harga minyak dunia, dan lain lain. Sejak awal sampai saat ini selalu menjadi pertanyaan besar apakah benar kita sudah saatnya pada waktu dulu itu telah ikut memutuskan ikut pasar global?

Those were absolutely NOT my point. Inti tulisan saya, kini sudah tiba waktunya rakyat di tataran akar rumput tidak lagi dibodohi, diakali, disengsarakan, dijadikan bulan-bulanan oleh para pencari untung. Bila si pencari untung kebetulan adalah seorang Indonesia , saya mengharapkan wawasan nasionalnya agak ditebalkan, dengan cara mau sedikit memikirkan apakah akan ada hal buruk yang akibatnya akan ditanggung oleh rakyat. Jangan terlalu menonjolkan diri sebagai sorang globalist kalau berhadapan dengan bangsa sendiri. Kalau pencari untung ini orang Indonesia yang bermain di Bursa Saham di New York atau di London , silakan bersikap global.

Saya bukan ahli di bidang agro. Namun, saya paham bahwa tanaman kedelai tidak bisa menghasilkan sebanyak di negeri subtropis. Seorang teman pengamat masalah agro, menceritakan ada peneliti di Jawa Tengah yang berhasil membudidayakan benih unggul kedelai. Daunnya yang lebar-lebar memungkinkan tanaman ber-fotosintesa lebih efektif, sehingga hasil akhirnya cukup baik. Namun, lagi-lagi seperti sentra-sentra lainnya, mereka ini tidak mendapat perhatian semestinya. Akhirnya mati suri. Sambil menunggu peraturan dan rekayasa yang akan diadakan oleh pemerintah, mestinya akan ditemukan sesuatu yang dapat segera menolong keadaan darurat seperti sekarang ini. Mari, semua unsur nasional kita bekerja sama: ilmuwan juga usahawan.

Selama dua minggu terakhir harian-harian terkemuka di tanah air memberitakan hiruk-pikuk masalah krisis kedelai dan jenis pangan lainnya. Halaman depan dan tajuk rencana dipenuhi wacana yang meninjau dari berbagai aspek. Dan hari ini Presiden RI , SBY menyatakan: Krisis Pangan adalah Gejala Dunia. Apa sih maksudnya? Apakah dengan demikian rakyat tidak usah risau, karena itu memang fenomena dunia sono, yang imbasnya kebetulan mampir di negeri kita? Mau cuci tangan? Kalau betul demikian maksudnya, sungguh menyedihkan hal seperti itu keluar dari pimpinan bangsa. Asal tau saja, rakyat tidak ngerti soal ‘dunia sono’ itu bagaimana. Yang dia tau, dia perlu memberikan makan bagi keluarganya. Kalau dia tidak bisa membelinya karena harga naik, dia lapar, dia sedih, dia frustrasi. Kalau memang ini gejala dunia, kenapa negara-negara tetangga tidak terimbas seperti halnya Indonesia? Vietnam, Malaysia, Thailand, bahkan Singapura yang boleh dikata nyaris tidak memiliki sumber daya alam, hampir tidak terimbas gejala dunia ini. Kenapa? Karena pimpinan negara kita nyaris tidak pernah menyiapkan secara dini menghadapi kemungkinan krisis seperti ini. Membuat grand design pembinaan dunia agro, ternak dan kelautan. Mempunyai rincian implementasinya. Mempunyai political will untuk menyelenggarakan sesuai master design itu.

Saya kutip dari Kompas hari ini, presentase impor komoditas kebutuhan nasional sbb: daging sapi (25%), garam (50%), kedelai (70%), jagung (10%), kacang tanah ( 15%), susu (90%) dan gula (30%). Saya terkejut menyimak angka-angka tersebut. Bagaimana mungkin, Indonesia yang konon negara agraris masih mengimpor komoditas sebanyak itu. Kompas dalam tajuk rencananya pada tanggal 19 Januari 2008, yang berjudul Bangsa Penikmat: Itulah stereotip yang diberikan. Kita bukan dianggap bangsa yang mau bekerja keras, bukan bangsa yang cerdas. Kita hanya dianggap bangsa yang hanya mau menikmati…….. Untuk memenuhi kebutuhan pokok kita sehari-hari, kita cenderung memilih mudahnya. Kedelai dipilih diimpor saja. Buah-buahan dipilih diimpor saja, bahkan garam pun dipilih diimpor saja. Padahal, negara ini merupakan salah satu negara dengan pantai terpanjang di dunia.

Yang memilih untuk mengimpor saja itu BUKANLAH rakyat. Yang memilih, dan akhirnya menentukan dan mengambil keputusan adalah para pimpinan, pengambil kebijakan dan penyelenggara negara. Kenapa begitu? Jawabnya, anda tau sendiri. Mendapat untung besar dengan mudah, cepat, lewat jalan pintas. Buat apa susah-susah? Menanam, menggiling tebu dan mengeringkan air laut kan lama? Peduli terhadap rakyat? EGP? (Emang Gua Pikirin?). Sikap seperti ini tidak boleh tumbuh dan dibiarkan. Cara melawannya adalah dengan mendidik para pimpinan untuk bersikap menomor-satukan sikap nasionalisme Indonesia.Kalau para pucuk pimpinan sudah nasionalis, maka rakyat akan mudah dan mau mengikuti.

Sebetulnya, wong cilik di tataran akar rumput sudah membuktikan kerja keras dengan kiat yang cerdik telah menopang perekonomian negeri kita sejak krisis moneter 1997 – dan BUKAN para konglomerat gajah, tapi hitam. Di kala kepepet, mau tidak mau rakyat harus bekerja lebih keras dan inovatif. Lain dengan para konglomerat. Mereka justru hengkang cari selamat, ongkang-ongkang di negeri orang dan kemudian kembali lagi mencari kesempatan dalam kesempitan. Mereka ini justru banyak yang menjadi rekan dan kerabat para pimpinan penyelenggara negara.

Rakyat itu tidak neko-neko. Asal cukup sandang-pangan, dapat menyekolahkan anaknya dan memelihara kesehatan keluarganya. Karena itu, harus kita hentikan penyengsaraan, pembodohan rakyat. Saat ini juga. Stop.

Rakyat kita membutuhkan Pemimpin yang visioner, berkarakter dan integritas kuat. Pemimpin yang bisa menunjukkan arah ke mana rakyat harus melangkah, kapan dan bagaimana harus berlari, kapan berhenti atau membelokkan arah. Pemimpin yang bekerja keras demi kesejahteraan dan membela nasib rakyatnya. Pemimpin yang dicintai rakyatnya. Adakah Pemimpin semacam ini di negeri kita?

Ada. Itulah titik terang yang saya lihat dalam lorong gelap ini.

Iklan