Jumat, 24 Maret 2006 Seruan seperti itu sungguh menyenangkan. Ini biasanya diucapkan oleh mereka yang baru terbebas dari beban berat. Bebannya bisa berupa utang kepada pihak lain, bisa terhadap penahanan physic atas dirinya dan bisa juga atas kemauannya yang tidak terpenuhi. Hari ini dan kemarin diberitakan bahwa sebanyak lebih dari empat puluh orang asal Papua diberi visa sementara tinggal di Australia selama tiga tahun. Ada juga diberitakan seorang warga Negara Canada, yang seorang birokrat yang ingin bebas dari pekerjaannya. Dia mengatakan bahwa kalau dia bukan birokrat maka dia akan dapat memberikan dharma baktinya secara lebih baik bagi masyarakat umum. Saya sudah print apa yang ditulis di situsnya yang bernama: saveabureaucrat.com dan mencantumkan copynya dihalaman terakhir dari tulisan ini.

Membaca apa yang dikatakan orang mysterious ini saya pikir banyak orang yang sebenarnya merasa seperti dia. Di Indonesia saja ada sekitar lima juta lebih pegawai negeri dan swasta yang nasibnya seperti dia. Mereka ini ada tiga type:

1.    Mereka telah begitu lamanya menjadi birokrat sehingga sudah karatan pikirannya. Semua yang ada diluar lingkungannya dipandang tidak lebih enak dari keadaan hidupnya yang "tenteram" dan biarpun sehari-harinya menganggur, gaji tidak memadai dan sering menunggu jam pulang dengan antusias, dia menikmatinya. Dia merasa kalau ada yang lèngah dan dia tiba-tiba mendapatkan kesempatan dan memanfaatkannya, maka hasilnya adalah rezeki yang menjadi haknya. Ada yang berpendapat bahwa kalau dia mengucapkan Alhamdulillah maka yang haram didalam rezekinya menjadi halal.

Bathin saya berkata "Enak saja kau ini !!" Bagi saya    mencuri satu sen dan mencuri satu juta Yen itu sama saja,  mencuri juga !! Kalau yang haram bisa berubah seperti itu maka hancurlah kaidah-kaidah yang telah dianut manusia selama sejak beribu-ribu tahun yang lalu.

2.    Mereka yang birokrat akan tetapi seperti seorang intrapreneur bukan entrepreneur dengan menggunakan fasilitas dan uang negara untuk manfaat diri sendiri dan orang-orang dekat di sekelilingnya. Mereka ini tidak menggubris bahwa gaji dan fasilitasnya diperoleh dari uang pajak rakyat di dalamnya   termasuk diri saya. Mereka tidak sadar atau pura-pura tidak sadar menggunakan kendaraan, kantor dan waktu dibayar oleh rakyat. Kalangan ini justru jumlahnya amat besar, termasuk sampai tingkat menteri sekalipun. Ada menteri yang bisa menggunakan pesawat pribadi pergi kesuatu negara meskipun kepergiannya untuk keperluan berutang kepada  negara tujuannya. Saya tidak mempersoalkan pesawat itu dibayar oleh siapa, meskipun dia orang kaya dan membayar sendiri, pergi naik private jet untuk berutang kepada negara lain untuk negaranya yang sedang terpuruk dalam banyak bidang, itu sama sekali kurang pantas. Not proper kalau tidak mau dikatai dengan istilah kurang ajar. Baru saja beberapa bulan yang lalu Presiden kita mengatakan agar hemat BBM (Bahan Bakar Minyak), yang tentu saja kata saya baik dan tepat. Tetapi belum berselang lama seruan ini telah menjadi uap dan menguap entah kemana. Jalan toll lampunya dimatikan dan sekarang sudah menyala lagi. Kantor-kantor Pemerintah dimatikan lampu listriknya siang hari, sekarang sudah menyala lagi. Presiden minta maaf karena penghematan, tidak jadi mengunjungi China dan India, mohon pemerintahan China dan India bisa menerima situasi Indonesia yang sedang prihatin mengalami shock BBM naik.

Wah rupanya terhadap yang seperti ini cepat dilupakan oleh Presiden, oleh birokrat dan uniknya oleh masyarakat sendiri yang bersikap masa bodoh, dan  sekali lagi menjadi uap, uap, uap dan uap. Tak berbentuk dan tak tampak.

3.    Wakil Presiden pergi bekunjung resmi kenegara lain, memboyong ikut serta istri, anak-anak, mantu dan pengawal sehingga jumlahnya " hanya" sekitar enampuluhan orang, naik pesawat charter. Kepala Negara lain sebagian besar rombongannya hanya sekitar normalnya duapuluhan orang saja. Sekali lagi biarpun semua ongkos dibayar sendiri oleh pribadi pak Wakil ini, mengapa rombongan keluarganya tidak ngelèncèr sendiri pada waktu yang lain?? Kalau tidak dicampur dengan Pak Wakil pembiayaannya jelas apa dan siapa dibayar oleh siapa. Mana transparansi ?? Time will tell, even how clever you are now hiding things. Sesuailah ungkapan yang mengatakan Time is a great storyteller. Patut saya ingatkan pak Wakil, apa anda tidak akan malu kalau salah satu cucumu pada suatu saat mengatakan dimasa yang akan datang: "Yaaa, kok kakèkku begitu, sih!!" Sang cucu akan gundah hatinya jujur dan tidak jujur hanya dibatasi oleh kertas setipis kertas tissue. Sekali lagi saya menggunakan ungkapan yang sesuai untuk hal seperti ini : You are guilty until proven otherwise. Nah jadi sibuklah anda, pak Wakil,  membuktikan diri jujur atau tidak jujur? Bukankah yang begini adalah wasting time only? Saya curiga, anda membantah, masyarakat curiga, anda masih  membantah, menunjukkan hasil audit akuntan terkenal dan mungkin juga BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) tetapi saya dan rakyat sudah sinis dan tidak mempercayai anda lagi. Hidup macam apa pula itu, sudah tua nanti akan sibuk dengan klarifikasi. Atau mau seperti Suharto yang sakit atau pura-pura sakit tidak mau mengklarifikasi apa-apa, dan orang boleh berpendapat sesuka-sukanya. Mau menuduh, boleh saja, mau demonstrasi, boleh saja. mau ini dan mau itu, boleh saja pokoknya, mungkin sekali saya akan cuèg.

Yang penting menikmati uang haram atau halal, whatever you(Suharto) say, melihat anak dipenjara, melihat cucu mantu dipenjara atau bernarcotic ria dan ber drug ria.

Saya saja mendengar cerita bahwa anak dan cucunya ternyata belum membayar tanah yang dibeli mereka (Suharto Clan) seperti baru-baru ini terjadi pada peristiwa pemblokkiran jalan toll Bintaro? Apalagi baru-baru ini diberitakan adanya kerancuan soal Super Semar, bagaimana mungkin sebuah surat yang suatu saat pada masa lalu pernah disakralkan sekarang amat diragukan kebenarannya. Berapa juta jiwa melayang hanya oleh karena surat itu (palsu atau salah ditafsirkan sesukanya?), berapa orang dihambat menjadi pegawai negeri dan menjadi anggota ABRI?   Suharto harus menyaksikan ini semuanya. Dia tidak tahu? Ah, masak sih ? Bukankah baru-baru ini dia bisa menerima Tuan Lee Kuan Yew, tertawa-tawa dan berbincang-bincang?   Melihat ini semua saya mempunyai pertanyaan: Kehidupan usia lanjut macam apa pula ini?? Itu sama sekali tidak saya kehendaki terjadi kepada saya.

Orang Papua yang empat puluh dua orang dan sang bureaucrat dari Canada tadi adalah orang-orang yang telah ditimpa beban berat. Di Indonesia ada beberapa jenis pegawai negeri, bukan hanya tiga, yang sebagian besar saya rasa seperasaan dengan bureaucrat Canada tadi. Kalau birokrat Indonesia yang kebetulan orang Jawa mungkin dia hanya akan mengucapkan Wolo Wolo Kuwato yang sebenarnya ini sebagian dari doa Islam yang berbunyi wala wala quwatta. Innovative juga ya, orang Jawa itu, ditengah-tengah penderitaannya dia masih menikmati suasana kemiskinannya dan keterpurukannya dengan bersikap pasrah seperti itu. Malah menghibur dirinya dengan kata-kata yang terkenal: Gusti Allah ora saré – Tuhan tidak tidur. Artinya pada suatu saat nanti, akan tiba gilirannya diperhatikan oleh Tuhannya yang biasa disebut orang Jawa dengan Gusti Ngallah, seperti kalau dia mengucaplan ngaudubillahhiminas saiton ni roojjjjiiiiiiimmm.

Maklumlah suka makan tahu dan tempe bacem jadi mengucap seperti itu, karena seharusnya adalah audubillahhiminnas syaiton nir rozim.

Bangsa kita adalah bangsa yang paternalistik, karena contoh yang diberikan oleh orang tua diharapkan sebaiknya dapat diteruskan oleh anak keturunannya. Kalau contohnya jelek, tiruannyapun juga jelek dan sebaliknya. Menjadi pemimpin seharusnya tidak cukup hanya menjadi pimpinan saja. Pemimpin adalah pimpinan dan panutan orang banyak. Kalau tidak bisa ya minta berhenti sajalah, kembali menjadi orang biasa. Sebagai orang yang bekerja sendiri toh tetap bisa menjadi orang yang berbakti kepada negaranya juga.

Apa syarat seorang biasa tetapi  warga negara yang baik?

·       Dia harus berkelakuan yang tidak melakukan pelanggaran  terhadap Undang- undang Dasar Negara

·       Dia bisa menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain

·       Dia membayar pajak selama dia berpenghasilan. Kalau tidak berpenghasilan diatas PTPK (Penghasilan Tidak Kena Pajak) dia bebas tidak membayar pajak

Dengan demikian dia akan bisa berbicara antara lain: Selaku Pembayar Pajak, saya berhak untuk … ini …. itu ….. Dia tidak boleh ketakutan atau ditakuti untuk berkata seperti itu.

Karena dialah majikan yang sesungguhnya dari para pejabat dan seluruh pegawai negeri dan tentara serta polisi, dan dia bisa mengatakan bahwa dirinya adalah oprang yang bebaaassss..

  Anwari Doel Arnowo

12:02:39

—ooo000ooo—

Seorang birokrat selalu dikaitkan dengan dengan seorang pegawai negeri. Itu kurang sesuai karena pada hakikatnya seorang birokrat adalah seorang pegawai (negeri atau swasta) yang sudah menjadi bagian yang kental dari birokrasi itu sendiri. Kerena tatanan dan pengertian birokrasi sering membuat pening kepala, maka saya menulisnya bukan bureaucracy akan tetapi bureaucrazy

 
Bureaucrat's getaway stash only at $59

 Chris Lackner, CanWest News Service

Published: Wednesday, March 22, 2006

OTTAWA — Desperate to escape his "unfulfilling" office job, a man claiming to be an Ottawa bureaucrat has launched a Web site hoping to raise $1 million to finance his early retirement. The "Save a Bureaucrat" campaign was launched Tuesday by an anonymous man. The site ( saveabureaucrat.com) asks frustrated office workers to donate money and "live vicariously" through the bureaucrat's dreams of freedom. If he raises the full amount, he promises to reveal his identity. "I'm doing this to rid myself of the burden of being trapped (in the office)," the bureaucrat told the Ottawa Citizen Tuesday, his voice modified through a karaoke machine to avoid identification. "It saps all our energy and keeps us from doing things that are more rewarding and enjoyable. Working takes so many hours out of your week and leaves you exhausted." While the campaign uses the term bureaucrat, the man won't confirm his status as a government employee — only saying he's worked for a "large organization" for 10 years. "The word bureaucrat is associated with the government, so that's what people are going to think," he said. "I'm not discouraging that." Once the site raises $10,000, the man promises to begin revealing clues about his identity, such as details about his hobbies and family life. The "bureaucrat" said he has four major beefs with office life: the lack of advancement, condescending co-workers, disorganization and the fact that "underlings" aren't appreciated. "People are always changing their minds on major issues," he said. "They never give you enough time to implement changes or reverse directions. It doesn't matter how it affects your morale or if you have to work overtime." The site promises to treat every donation with respect. "If I do happen to receive a lot of money from kind visitors, I will not waste it on lavish purchases such as Rolls-Royce cars, 10-bedroom houses (and) airplanes," the man writes. The "bureaucrat" said his campaign was inspired by milliondollarhomepage.com — a Web site created by a British man who sold one million pixels to advertisers for $1 each. The bureaucrat's site has raised $59.26 so far. The donations have been made by friends and family aware of the man's plan. Fake names were used to protect the man's identity.

Ottawa Citizen