Selasa, 22 Januari 2008    Satu minggu yang lalu saya sempat melihat sebuah acara di televisi, di channel berapa saya lupa tetapi nama acaranya adalah Dialog Press Talk, sebuah Talk Show yang dikelola oleh seorang wartawan yang menjabat sebagai Ketua PWI Reformasi, bernama Iwan Pilliang. Seorang yang lumayan cakap dalam mengelola kekuatannya serta memetakan hal-hal dan data-data serta mengetahui medan komunikasi yang kelihatannya di luar kepala semua. Besar   angka Rupiah APBN dan Utang Luar Negeri atau inflasi serta jumlah penduduk miskin sekarang maupun nanti tahun 2009 dan lain-lain, begitu cepatnya diucapkan, sehingga   saya tidak dapat menangkapnya dan tidak sempat untuk segera   menuliskannya. Malam itu tanggal 14 Januari 2008 saya mulai dengan iseng mengikutinya. Tiga orang tamu yang diajak bergabung sebagai tamu untuk hadir  berbicara dan  berdialog serta berdebat, kalau perlu. Mereka adalah:

1.     Ichasanuddin Noorsy, mantan Anggota dpr, seorang ekonom yang cukup handal

2.   Fuad Bawazir, mantan anggota dpr dan mantan Direktur Jenderal Pajak  pada jaman Suharto

3.   Ali H Ghaffar ketua GNM3 entah singkatan dari apa.

Ketiga orang tamunya malam ini adalah ekonom semua dan memandang segala sesuatunya dimulai dari sudut ilmu ekonomi dan melebar ke bidang sosial dan politik.

Pembicaraan awal sudah memunculkan kerusakan ekonomi,    sebagai isu yang dimulai dengan munculnya Mafia Berkeley, yang amat menguasai ekonomi Indonesia sejak awal masa-masa  pemerintahan Presiden Suharto.

Gerakan ini diawali sejak mulai 'terpakainya"  beberapa   dedengkot lulusan Universitas Berkeley di California.

Tetapi diungkapkan juga bahwa yang disebut Mafia Berkeley itu bukan saja kelompok yang diawali pembentukannya oleh Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, J. Sumarlin dan Emil Salim serta kawan-kawannya, semuanya sekarang memakai gelar Professor Doktor apa gitu. Termasuk di dalam Berkeley Mafia ini  adalah siapapun saja mereka, bisa saja lulusan Harvard, lulusan MIT atau didikan manapun yang amat mendukung sytem ekonomi yang amat dijagokan oleh Amerika Serikat, ekonomi liberal. Mungkin saya kurang piawai memberi deskripsi dan kurang lengkap dalam menggambarkan apakah itu makhluk yang disebut dengan istilah Berkeley Mafia atau sebaliknya Mafia Berkeley, akan tetapi seperti itulah  gambaran yang mampu saya tangkap. Mereka ini telah menancapkan "kuku-kuku kekuasaan ekonomi"nya dan mencengkeram Negara Republik Indonesia selama empat puluh tahun lamanya. Mengapa mereka bisa kuat sekali menancapkan kuku-kuku yang mengendalikan system yang mencekam negara kita? Siapapun yang ada di dalam roda reformasi yang gaung suaranya telah mengaum di dalam masyarakat dengan kencang, akan tetapi sebenar-benarnya tidak akan mampu bersaing, apalagi bertentangan dengan system dimaksud.  System itu dengan piawai mencengkeram 230 juta lebih rakyat Indonesia sehingga mereka ini dapat disebut sebagai miskin secara material karena dikuasai, bukan oleh Presiden dan pemerintahannya saja. Yang lebih berkuasa dalam kebijakan ekonomi adalah Berkeley Mafia ini, sejak Orde Baru sampai Orde Reformasi dan berujung di pemerintahan SBY saat ini, sekarang ini. Kesimpulan yang didapat adalah siapapun yang memegang jabatan pucuk tertinggi di dalam pemerintahan, akan tetap dikendalikan oleh system yang telah mengakar ini.

Selama empat puluh tahun lamanya dengan perkasa secara berkuasa, sehingga berani disimpulkan dalam dialog ini bahwa sesungguhnya   seorang presiden seperti SBY sekarang hanya dipandang seolah tidak lebih dari boneka saja.

Penguasa sesungguhnya adalah REZIM EKONOMI yang dulu dibentuk  atau terbentuk oleh yang dikenal sebagai  Mafia Berkeley itu. Kelompok ini begitu kuatnya sehingga dengan mudah membuat masuknya investasi yang bohong-bohongan besar-besaran. Yang dimaksudkan disini antara lain adalah investasi yang tidak menciptakan lapangan kerja.

Apakah yang  dimaksudkan  dengan ungkapan seperti itu?

Itu adalah investasi sejenis pemasukan uang, bisa dalam bentuk volume yang besar tetapi mempunyai tujuan utamanya hanya mencari money gain -keuntungan uang dalam waktu singkat, seperti permodalan dalam bursa itu. Tidak ada industri yang dibangun karenanya, tetapi mendapat keuntungan cepat seperti momen dimana harga minyak dan mineral yang sedang naik seperti sedang terjadi saat ini . Kebanggaan kosong yang sering didengung-dengungkan adalah Nilai Index yang menunjukkan nilai naik tetapi sebenarnya investasi-investasi di atas tidak menyentuh tingkat rakyat kecil. Kalau dagang kedelai, merek dagangnya di pasar bursa. Tidak ada ladang baru yang memproduksi kedelai, sehingga memakmurkan petani. Petani tidak dapat bersaing dengan kedelai import. Memperhatikan demonstrasi yang dilakukan oleh produsen tempe dan tahu, maka pemerintah mengambil tindakan-tindakan yang arahnya  bak umpama seperti sandiwara di atas panggung saja. Menghapuskan bea masuk impor kedelai  biarpun mungkin akan menurunkan harga kedelai per Kilo yang telah mencapai hargaRp.7000 lebih dari harga sebelumnya yang hanya sekitar separuhnya, itu dinilai akan hanya mempunyai efek untuk sementara saja . Dalam masa pajak nol seperti ini seharusnyalah patut digalakkan pertanian yang menyangkut kekurangan kedelai.

Tetapi apa yang disesalkan oleh Fuad Bawazir, pemerintah meminjam uang sebesar tiga ratus juta Dollar Amerika Serikat untuk menyuntik perdagangan dalam bursa.

Siapakan yang mendapat gain-keuntungan ini?

Fuad Bawazir menyatakan bahwa pergerakan uang ini telah memberi peluang besar untuk korupsi. Dia yakin sekali, seratus persen!! Saya amat terkejut mendengar yang seperti ini diucapkan didepan umum melalui layar televisi, akan tetapi kita semua tidak mempunyai kemampuan untuk menghentikan terjadinya korupsi itu.

Secara logika orang awam seperti saya, meminjam uang yang dimaksudkan untuk menggalakkan bursa, memang terasa kurang fair-adil .

Siapakah yang akan ikut menikmati uang pinjaman itu? Siapakah pelaku-pelaku di dalam bursa?  Apakah ada produsen tahu dan tempe yang menjadi pelaku bursa? Kalau kita tanyakan kepada rakyat dan mereka yang berdagang di pasar nyata, yang jelas bukan pasar virtual-maya seperti bursa, apakah mereka bisa ikut merasakannya?

Apakah mereka memiliki kemampuan mengerti bagaimana cara memprediksi harga kacang kedelai bahkan gandum? Pengamatan dan mengakibatkan fluktuasi perdagangan di dalam bursa sudah lama menggunakan teknologi tinggi dalam bidang ilmu, satelit, pengideraan jarak jauh- remote sensing, cuaca negara produsen pertanian, adat istiadat serta transportasi barang produksi. Belum lagi masalah sikap perubahan politik yang kecil saja bisa amat berpengaruh terhadap fluktuasi harga saham di bursa terhadap minyak mentah- crude oil, gandum, kapas dana apa saja komoditi yang didagangkan di bursa-bursa itu. Jelaslah,  pengetahuan para pialang di dalam kegiatan bursa akan lebih tinggi dari pada pengetahuan seorang petani baik tebu/beras/kedelai. Sebaiknya para pejabat pemerintahan juga meng upgrade diri mereka dengan menggunakan tambahanpengetahuan seperti ini.

Bukankah uang yang sekian besarnya itu yang dipinjam dengan jaminan Republik kita, akan lebih bermanfaat kalau di alokasikan kepada proyek-proyek yang sanggup untuk menyentuh kepentingan rakyat kecil, petani, nelayan dan pekebun?? Bursa hanya menyentuh kepentingan dari sekelompok kecil manusia tertentu di tingkat elite saja. Bukankah semua uang yang telah datang dan telah malang dan melintang di dunia keuangan maya seperti bursa saham dan bursa perdagangan masa depan- future trading seperti itu, akan bisa sewaktu-waktu ditarik kembali ke asalnya atau dipindahkan dan dialokasikan ketempat-tepat yang lebih menguntungkan? Ingatlah bahwa mereka adalah money gainers-pencari keuntungan uang ? Mereka ini tidak bisa disalahkan atau malah dibenarkan. Pemerintahlah, yang telah dipercayai oleh rakyat untuk menyelia-supervise sehari-harinya kegiatan perdaganag uang dan saham. Pemerintah amat diharapkan akan bisa mengendalikan gejolak apapun yang berakibat timbulnya kerugian Negara karena hal tersebu. Dalam bertutur kata dan dalam berkelakuan yang mengecewakan masyarakat umumpun, pemerintah dapat menimbulkan situasi tidak stabil.

Mereka akan  memindahkan secepatnya uang yang ditempatkan sebagai pertaruhan, tentu amat paham di mana dapat di peroleh keuntungan yang substansial.

Kebiasaan pemerintah kita pun selama ini menunjukkan hal-hal yang tidak piawai karena amat sering terjadi pemborosan di banyak bidang.

Dalam pembicaraan inipun diungkapkan bahwa selama sepuluh tahun terakhir ini sebagian besar APBN adalah untuk belanja bagi para penyelenggara negara saja.

Ini sama saja kalau dikatakan bahwa alokasi pembelanjaan seperti itu telah menghambat proses yang bisa membuat percepatan dalam upaya yang menuju ke arah kesejahteraan menuju Masyarakat Madani.

Pada hari ini tanggal 22 Januari 2008, saya melihat dengan terkejut siaran televisi Al Jazeera yang menampilkan sebuah talk show, dengan anchor seorang berpenampilan muka type orang Arab, bertindak selaku pembawa acara.

Ada dua orang Indonesia duduk dihadapan dia adalah: Wimar Witoelar yang untuk selanjutnya kita sebut dengan WW disertai  seorang muda lain yang saya tidak tahu namanya. Saya   hanya sempat melihat sekitar kurang dari sepuluh menit sebelum acara dihentikan dengan cepat karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul 18:00 WIB sebagai batas waktu.

Semua pembicaraan dilakukan dalam bahasa Inggris dan Wimar Witoelar yang memang amat mampu berkomunikasi dengan lancar dan piawai menjelaskan bahwa masalah/ issue pengampunan terhadap Suharto yang berkedudukan sebagai Presiden Republik Indonesia telah membawa NKRI ke arah kondisi terpuruk seperti sekarang dan utang yang dibuatnya menjadi bengkak menggunung, apalagi tidak bisa mampu  memberi gambaran penyelesaiannya. Kebijakan-kebijakan ekonomi dan pembiaran tindakan-tindakan politik yang menjadi sebab hilangnya sekitar sepuluh ribu orang yang sampai sekarang tidak jelas arah penyelidikannya. Dengan piawai W W menjelaskan secara kronologis,  dan tanpa saya sangka sebelumnya, berikutnya ada tayangan yang membuat keterkejutan saya jadi bertambah.

Di layar lebar pesawat televisi yang ada di  dalam ruang/bilik wawancara muncul gambar Bapak Emil Salim yang untuk selanjutnya kita sebut dengan ES, untuk telewicara.   

Waktu si pembawa acara minta ES untuk menjawab apa yang dikemukakan WW terhadap issue-issue yang tersebut di atas itu, ES segera balik bertanya.

"Mengapa orang-orang (ini saya duga yang dimaksudkan adalah para ekonom) yang sekarang berteriak-teriak mengenai issue-issue Suharto ini tidak berbuat sesuatu dan diam saja waktu peristiwa-peristiwa tersebut dulu  sedang berlangsung?".  Saya juga menduda ES melupakan bagaimana kejamnya para pelaku keamanan Orde baru yang ganas bertindak dan semena-mena, bahkan anggota Abri saja bnyak yang ketakutan luar biasa.

WW memotong pembicaraan dan mengatakan bahwa ES kurang lengkap menanyakan yang seperti itu.

Bukankah lebih bijak kalau diubah pendekatannya dengan cara menanyakan bukan saja pada pihak WW, tetapi bisa juga  ditanyakan mengapa ES sediri, Widjojo Nitisastro dan kawan-kawannya, justru yang paling mengetahui keadaan jelek seperti itu,  juga tidak berani berucap dan diam saja? Bukankah mereka itu bisa memberitau pemerintah "dari dalam" bahwa jalan yang dilalui telah tidak tepat sasaran?

Demikianlah sepintas kurang dari sepuluh menit saya saksikan generation gap- jarak antar generasi menganga dan sudah sepantasnya harus dibangun jembatan untuk menghubungkannya. Untuk mengetahui lebih detil wawancara dimaksud, silakan klik saja link berikut: http://www.perspektif.net/english/article.php?articleid=764 Generasi penerus telah menyatakan gugatannya, tetapi generasi pendahulunya agak sukar berubah serta masih terpaku di suasana "kejayaan" mereka. Saya juga mengharapkan dengan tulus agar Bapak ES sudi berhenti membela apapun mengenai Orde baru di masa yang akan datang, meskipun ES telah menyatakan bahwa beliau tidak membela pribadi.  Terlepas dari kekaguman pribadi saya kepada Pak ES, yang saya hormati dengan tulus hati, saya memang terkejut dengan retorik yang diucapkannya kepada WW. Yang saya ketahui Pak ES adalah seorang yang sederhana dan juga bersahaja. Beliau demikian lamanya, lebih dari tiga puluh tahun lamanya, menjabat sebagai seorang Menteri dalam Kabinet yang berganti-ganti, sehingga beliau dikabarkan lupa mnyiapkan diri untuk memiliki  rumah pribadi. Pernah diberitakan di media, beliau sibuk mencari tempat tinggal ketika beliau harus keluar dari perumahan dinas Menteri.