Seminggu lalu isteri saya, sepulang dari belanja di pasar tradisonal, mengeluhkan harga bahan makanan pokok naik hampir 100% karena kelangkaan pangan seperti tempe, beras, sayuran dan ikan laut sebagai akibat banjir dan jalur transportasi terputus. Sedangkan nelayan tidak dapat melaut karena cuaca musim pancaroba menimbulkan gelombang air pasang di sepanjang pesisir pantai utara P. Jawa. Bencana alam sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo di musim hujan tahun ini telah menyebabkan tanah longsor dan banjir yang menenggelamkan desa-desa dan sentra pertanian sepanjang DAS Bengawan Solo. Lahan  pertanian yang merupakan sumber penghidupan utama para petani rusak hancur, menyebabkan mereka kehilangan aktivitas kehidupan serta menghancurkan "kehidupan" se-hari-hari rakyat.

Bencana alam yang silih berganti datang menimpa negara kita dalam kurun waktu belakangan ini telah memberi pelajaran dan pemahaman amat jelas bagi kita tentang kerusakan lingkungan alam di banyak tempat di wilayah tanah air. Fenomena kerusakan lingkungan alam yang juga melanda di banyak wilayah di dunia, tak lepas dari ulah manusia sendiri dalam mengeksploitasi alam. Ujung-ujungnya memorakporandakan ekosistem alam sehingga menyebabkan kelestarian alam di dunia terganggu. Nampaknya bumi beserta alam sekarang ini menunjukkan "perlawanan" dan menghancurkan apa saja sebagai akibat perlakuan manusia yang tidak bersahabat. Akibat perbuatannya, manusia kini menuai berbagai bencana badai siklon tropis, banjir, tanah longsor, kekeringan termasuk perubahan pola iklim . Untuk kitapun, bencana tsunami dan gempabumi di tanah air, misalnya, adalah saksi bisu atas “demonstrasi” alam terhadap berbagai bentuk kejahatan sosial yang dijalankan manusia, sang makhluk "penguasa" alam semesta. Dengan kondisi lingkungan hidup yang berada pada titik nadir mengenaskan, seyogyanya kita bersama melakukan refleksi. Dan memahami fenomena "perlawanan" alam berkaitan dengan peristiwa bencana alam yang terjadi. Kita patut bertanya, "Adakah alam dapat ‘berdamai’ dengan manusia atau masihkah manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri ??"

Kisah petualangan Ekspedisi Bengawan Solo yang disponsori Kompas tanggal 5-19 Juni 2007 lalu yang mengarungi DAS Bengawan Solo, telah melaporkan kepada kita berbagai temuannya tentang kerusakan ekologi / lingkungan. Selain ditemukan penggalian dan penambangan pasir, terjadi alih fungsi lahan di sepanjang DAS  dengan pembukaan ladang pertanaman palawija serta pemukiman penduduk di bantaran sungai. Ekspedisi Kompas  tersebut telah mengungkapkan kepada kita secara gamblang latar belakang dan penyebab bencana yang meledak di musim hujan ini.

Maka patut kita pertanyakan fungsi dan peranan lembaga pengelola DAS pemerintah daerah yang dialirinya maupun tiadanya perhatian pemerintahan pusat selama ini. Anggauta DPR komisi IV, Azwar Anas mengingatkan dan memprediksi bahwa pada tahun 2020 pulau Jawa akan terendam air bila tidak dilakukan evaluasi tata ruang. Bisa dibayangkan 60% penduduk Indonesia berada di Jawa yang memiliki daya dukung alam rendah mengingat hutannya tersisa kurang dari 15% luas daratannya.

Kerusakan ekologis setara terjadi pula di P. Sumatera dan Kalimantan di berbagai DAS seperti Batanghari, Musi, Kapuas dan Barito akibat penggundulan dan kebakaran hutan. Nampaknya kita memiliki masalah sama: peranan pemerintahan pusat dan daerah telah ‘kehilangan kendali’ dalam  mengelola kekayaan alam di bumi persada kita.

Kehidupan  bangsa kita di kepulauan Nusantara, yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia dan bertumpu di atas lempengan tektonik yang labil, sedang dalam ancaman bahaya. Sejauh ini, nampaknya tindakan pemerintahan masih terbatas pada pengadaan infrastrukutur "penanganan bencana" dan gerakan karitatif. Tindakan strategis berjangka panjang dalam perspektif membangun lingkungan hidup aman bagi  kehidupan rakyat di kemudian hari belum kita dengar.

Ingat saja dengan pengalaman Belanda yang mengalami air pasang dari lautan utara disertai badai yang menggenangi kawasan luas negeri Belanda di tahun 1953. Menyusul terjadinya bencana tersebut, pemerintah Belanda segera memberikan respons raksasa menata kawasan pantai dengan membangun polder dan 11 bendungan. Tidak saja untuk menghadapi laut pasang ekstrem tetapi juga memperhitungkan potensi bencana lain di kemudian hari seperti  pemanasan global.  

Dampak pemanasan global cenderung mewujud lebih cepat dengan naiknya suhu bumi disertai kenaikan permukaan laut. Negara kepulauan yang banyak mengandalkan perekonomiannya dari kehidupan maritim serta perikanan dan turisme akan menjadi pihak yang paling terancam karena pantai dan infrastrukturnya berpotensi berantakan seperti P. Maladewa, Granada bahkan Papua Nugini di Pasifik sudah kehilangan 25% garis pantainya. Mantan Menteri Lingungan Hidup Emil Salim mengatakan kita sendiri sudah kehilangan 24 dari 17,504 pulau dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang sebanyak 2000 pulau di Indonesia akan menyusul tenggelam jika laju pemanasan global tak dikendalikan.

Menyelamatkan kelangsungan Kehidupan di kepulauan Nusantara kita

Berbagai bencana yang terjadi mengindikasikan bahwa selama ini manusia kehilangan pegangan dalam memelihara kelestarian alam. Manusia, selaku penghuni utama bumi  memandang Alam sebagai warisan sumber penghidupan, karenanya kegiatan eksploitasi alam menjadi sakral. Yang berkembang adalah etika mengeksploitasi, bukan etika melindungi dan eko-sistempun dibiarkan rusak untuk memenuhi hasrat kepuasan ekonomi. Di tengah persaingan memperebutkan sumber-sumber ekonomi, terjadi benturan kepentingan dengan merosotnya landasan moral, etika dan spiritual manusia.

Al Gore dalam ‘Ecology and the Human Spirit’, menyatakan, "Semakin banyak saya menggali akar krisis lingkungan yang melanda dunia, semakin mantap keyakinan saya bahwa krisis ini tidak lain adalah manifestasi nyata dari krisis spiritual."

Bencana yang dihadapi bangsa adalah multidimensial, termasuk dampak sosialnya berupa kemiskinan, kehidupan sosial yang rendah, demoralisasi kemanusiaan. Menghadapi bencana multidimensial tersebut, kita sangat mendambakan pemerintah menjabarkan Visinya dan memaparkan dalam suatu “Grand Master Plan.” Bertujuan membangun keselamatan dan kelangsungan kehidupan bagi  220 jutaan rakyatnya dan hari depannya. Juga mengikutsertakan masyarakat dengan mendidik masyarakat melalui pendidikan refleksif dan keteladanan. Sasarannya, menciptakan “lingkungan budaya” guna mengubah habitus yang “tidak peduli lingkungan.” Dan membentuk secara dini sikap dasar generasi muda kita untuk mencintai lingkungan alam sebagai langkah investasi berjangka panjang. Gerakan nasional seperti Go Green; Save our Nature dengan kolaborasi Departemen Pendidikan-Pemuda-Lingkungan Hidup, adalah bentuk manifestasi Kepedulian. Peran agama sangat besar pula dalam membentuk keharmonisan hubungan manusia dan alam, seperti bumi dan langit sebagai Makrokosmos yang harus dijaga keseimbangannya.

Maka PEDULI terhadap kelestarian lingkungan alam dan KESADARAN memeliharanya adalah merupakan kewajiban dan tanggung jawab kita sebagai bangsa Indonesia dan insan makhluk Tuhan. Dengan ‘isyarat dan pesan’ Alam, manusia selalu di-eling-kan nan tahu diri bahwa alam raya adalah titipanNya yang diciptakan olehNya, yang patut dijaga dan dipelihara dengan tujuan akhirnya kembali kepadaNya.

Jakarta, 21 Jan 2008

Soebiantoh