Kembali ke dongeng ndilalah evolusi.

Jika kita tengok kesejarah masa lalu, yang terlihat bukanlah kebinasaan seperti halnya hukum entropi. Justru sebaliknya, semangkin lama jagat raya semangkin terstruktur, semangkin tertata, semangkin komplex, semangkin canggih, sampai bisa mendilalahken munculnya makluk hidup. Tetapi nanti dulu, bisa saja ndilalah ada planet yang lebih besa  dari bumi nabrak. Maka bumi akan binasa sebelum jagat raya binasa.



Untuk sementara anggeplah bumi ndak ketabrak sehingga beralangsunglah suatu
progres. Progres itu berawal dari gonjang ganjing, semrawut, dan mbur adul
semangkin lama melalui tak berhingga banyaknya ndilalah, menjadi seuatu yang
komplex dan tertata. Berkebalikan dengan hukum entropi : dari tertata
menjadi gonjang ganjing. Lah, ... kok bertentangan? Paradox? Mana yang
benar, dongeng evolusi atau hukum kebinasaan?

Bagaimana dengan plastik dan keramik yang ndak bisa binasa? Banyak bukti
keramik2 jaman baheula yang terkubur ribuan tahun ndak membusuk. Sekarangpun
kita pusing dengan sampah2 plastik yang ndak bisa membusuk. Apakah hukum
entropi hanya berlaku di thermodinamika ataukah ada penjelasan lain? Jangan2
dongeng evolusi yang mbèl gèdèz?

Tetapi, bukti2 didepan pelupuk mata. Matahari pasti suatu hari akan padam
kehabisan benzin. Evolusi, jelas tampak didepan mata. Dulu saya menyaksiken
jabang bayi komputer. Sangat sederhana. Sekarang hebat sekali. 100 tahun
lagi, 200 tahun lagi seperti apa? Dulu HP sebesar koper, sekarang kecil,
irit bbm, dan sangat cerdas, bisa macem2. Dulu orang ndak bisa melawan hukum
gravitasi. Sekarang orang bisa melawan hukum itu. Sekarang orang barangkali
belum bisa mengalahken hukum kebinasaan. Siapa tau sekian ratus tahun, atau
milyar tahun yad, ... siapa tahu mangungsia bisa membinasaken hukum entropi?
Lihat plastik dan keramik. Kok ndak binasa? Belum?

Yang mana yang akan menang? Evolusi dibinasaken hukum entropi ataukah hukum
kebinasaan bisa dijinakken evolusi? Apakah jagat raya akan kehabisan bensin?
Masalah menjadi semangkin rumit kalo kita gabung dengan spekulasi2
kosmologi. Ada yang berpendapat bahwa jagat yang saat ini berekspansi ketika
kehabisan bensin akan statis, mandeg. Maka jagat raya adalah bangkai yg
ter-apung2 dalam susung tak bertepi. Yang kedua adalah spekulasi bigcrunch.
Sesudah entropi maksimum terjadi gonjang ganjing. Kemudian ... duerrrrr, ...
terjadilah bigbang yang kesekian kalinya.

Jagat raya mulai lagi dari nol. Berawal dari kesemrawutan lantas ndilalah
ndilalah ndilalah terbentuklah unsur, senyawa, benda2 angkasa, makluk hidup
dan ketika ada makluk yang sangat cerdas, ... jagat in kehabisan bensin
lagi, .... gonjang ganjing lagi, ... duerrr lagi, ..... Jagat raya mulai
lagi dari nol. Berawal dari kesemrawutan lantas ndilalah ndilalah ndilalah
terbentuklah unsur, senyawa, benda2 angkasa, makluk hidup dan ketika ada
makluk yang sangat cerdas, ... jagat in kehabisan bensin lagi, .... gonjang
ganjing lagi, ... duerrr lagi, ..... Jagat raya mulai lagi dari nol.
Berawal dari kesemrawutan lantas ndilalah ndilalah ndilalah terbentuklah
unsur, senyawa, benda2 angkasa, makluk hidup dan ketika ada makluk yang
sangat cerdas, ... jagat in kehabisan bensin lagi, .... gonjang ganjing
lagi, ... duerrr lagi, ..... Jagat raya mulai lagi dari nol. Berawal dari
kesemrawutan lantas ndilalah ndilalah ndilalah terbentuklah unsur, senyawa,
benda2 angkasa, makluk hidup dan ketika ada makluk yang sangat cerdas, ...
jagat in kehabisan bensin lagi, .... gonjang ganjing lagi, ... duerrr lagi,
.....

Kapan selesainya?

Maka ada yang ber-tanya2 : mana yang menang, evolusi atau kebinasaan. Paul
Davies mencoba menjawab. Jawabannya adalah antiklimaks yang bikin kecewa :
embuh ;-(

Paul Davies

Well, the answer is: we don't know = embuh

It depends on the fine details. From the most careful projections of the
present state of the universe into the immensely distant future, one cannot
actually be sure, given our limited understanding, whether the universe will
in fact completely die.