Tag

 Jum'at siang , 18 Januari kemarin, ketika sedang asyik baca koran di kereta-api yang meluncur laju menuju Den Haag CS, — HP-ku mulai menyanyi, sinyaal ada yang nilpun. 'Ya, ini saya Bung' , terdengar suara AS Munandar. 'Saya sudah di stasiun Den Haag Centraal'. Memang malam sebelumnya aku sudah ditilpun AS Munandar. Kami berjanji akan bertemu di stasiun keretapi Den Haag Centraal, di muka loket penjualan karcis, pada jam 13.00. Lalu sama-sama akan jalan kaki menuju 'Theater aan het Spui', untuk hadir pada salah satu acara kegiatan 'Malam-malam Musim Dingin' Den Haag ('Winternachten').

Tau kan? 'Wingternachten' adalah acara 'Festival Literatur
Internasional' yang diadakan setiap musim dingin di Den Haag.
Menunjukkan bahwa kegiatan kebudayaan di Belanda jalan terus, meskipun
di luar, aduh . . . dinginnya. Tambah pula hujan rintik-rintik dan angin
yang terus-menerus.

AS Munandar, mantan pimpinan Akademi Aliarcham, Jakarta, dan ketua SAS,
Stichting Azië Studies, Onderzoek en Informatie, dan aku setiap tahun
selalu diundang oleh pengurus 'Winternachten' (Yang direkturnya ramah
dan simpatik, Ton van de Langkruis). Bisa timbul pertanyaan. Mengapa kok
kami stiap kali dapat undangan? Sebabnya? Karena, beberapa tahun yang
lalu, kami pernah ambil bagian dalam kegiatan 'Winternachten' sebagai
salah satu 'pelakunya' , dalam sebuah diskusi atau seminar kecil,
mengenai masalah Indonesia. Dengan fokus sekitar 'Peristiwa 1965' yang
menimbulkan begitu banyak korban orang-orang Indonesia yang tak
bersalah. Dalam diskusi tsb, hadir juga mantan anggota DPR, wartawan
kawakan Ciska Fanggdaej, dan budyawan Gunawan Mohammad. Hadir pula a.l.
Ad van der Heuvel, wartawan Belanda, yang pas pada saat-saat terjadinya
peristiwa G30S dan sesudah itu, sedang berada di Jakarta.

Aku fikir, sebagai tanda persahabatan dan terimakasih fihak
'Wingternachten' Den Haag, setiap kali mengundang kami. Tapi, untuk umum
dipungut bayaran.

* * *

Sore itu, acara 'Winternachten' yang kami hadiri (acara lainnya banyak
lagi, karena pesta literatur dan seni itu berlangsung 4 hari dan 4
malam, dari 17 Jan s/d 20 Januari) adalah sebuah diskusi bertema 'IN A
STATE OF FEAR'. Dalam bahasa kita, kira-kira 'DALAM KEADAAN KETAKUTAN'.
Cukup banyak perhatian publik. Aku taksir kurang lebih ada 100 orang.
Aku bilang pada AS Munandar, coba lihat sebagian besar hadirin adalah
perempuan. Ya, kata Munandar, laki-lakinya pada kerja. Aku bilang,
perempuan-perempuan yang hadir itu juga orang-orang yang bekerja. Jadi,
bukan soal pekerjaan, yang menyebabkan lebih banyak perempuan yang hadir
di situ, terbanding laki-laki. Anyway, ruangan Grote Zaal gedung
'Theater a.h. Spui' Den Haag, penuh sesak.

Ada empat orang cendekiawan yang duduk dipanel diskusi. Masing-masing,
sosiolog dan penulis Inggris, Prof Frank Furedi (60); penulis dan filsuf
Dr Marjolijn Februari (Belanda); penulis Adriaan van Dis (Belanda), dan
politikus kawakan mantan walikota Rotterdam, Bram Peper. Mereka tampil
dengan 'stelling' mereka masing-masing. Diskusi dipandu oleh penulis
novel, dan dosen ekonomi pada Vrije Univesiteit Amsteradm, Fouad Laroui
(49), warganegara Belanda asal Maroko.

Tema yang diangkat memang cukup berat 'IN A STATE OF FEAR'. Para
penalisnya juga bukan sebarang orang. Ada cendekiawan, ada sastrawan dan
ada politikus kawakan. Namun, kalau Anda mengharapkan suatu diskusi yang
mendalam dan memuaskan pada sore itu, pasti akan kecewa. Menurut istilah
mutakhir Jakarta, diskusi semacam itu, memang baik dan menarik, tapi,
yah, akhirnya cuma . . . . 'Sampai di situ saja'. Sesungguhnya setiap
seminar kecil, yang mengambil waktu beberapa jam saja, apapun tema yang
diangkat, betapa beratnyapun susunan penalisnya, apalagi kalau tema yang
diambil cukup berat dan aktuil, . . . hasilnya akan sama saja: cuma
SAMPAI DI SITU SAJA. Yang dibawa pulang sekadar kesan-kesan semata.
Bukan tak ada gunanya. Ada gunanya. Yang jelas, diskisi dan debat
tersebut telah menggugah peserta diskusi untuk mendalami sendiri di
tempat masing-masing.

Bagiku, seperti kukatakan kepada AS Munandar: Aku memang uka hadir di
seminar-seminar kecil seperti ini. Karena, aku selalu dapat kenalan
baru. Kali ini aku bisa berkenalan dengan seorang wanita Indonesia asal
etnis Tionghoa, bernama dr. Maya Sutedja-Liem, seorang penterjemah
sastra Indonesia – Belanda dan suaminya Sutedja Liem.

* * *
Stelling atau dalil yang diajukan ke forum diskusi oleh Prof. Frank
Furedi adalah sbb:
"As Kant said, Dare to know instead of fearing the unknown". Society
should embrace it and encourage the attitude of experimentation. —

Kemudian stelling Marjolijn Februari,
'Don't be afraid to be afraid, says John Lennon; fear is the essence of
citizenship and the beginning of courage — what we should fight is not
so much fear, but corwardice.

Membaca stelling Marjolijn tsb entah mengapa aku teringat kepada Jusuf
Isak, wartawan kawakan, pemimpin Hasta Mitra. Jusuf Isak memperoleh
bermacam Award, penghargaan dari pelbagai negeri, karena keberaniannya
dalam perjuangan untuk kebebasan menyatakan fikiran dan demokrasi. Jusuf
mengatakan: 'Banyak orang bilang, bahwa saya tidak kapok-kapoknya, tidak
takut berjuang demi kebebasan meskipun sudah keluar masuk penjara Orba
bertahun-tahun lamany'. Ketika itu Jusuf Isak dengan lugu mengatakan,
'Bukannya saya ini tidak punya rasa takut. Saya, sebagai manusia biasa,
juga takut kalau-kalau masuk penjara lagi. Soalnya, ialah, kita jangan
tunjukkan ketakutan itu dihadapan musuh, di hadapan musuh kita HARUS
BERANI. Dan meneruskan perjuanga itu sampai selesai.

Lalau stelling Bram Peper, sang mantan walikota Rotterdam:

A society can't function with fear, that's when authorities have to
avoid even action which stimulates a feeling of fear among the general
public.

Demikian Bram Peper. Sementara hadirin tak sependapat dengan dalil Bram
Peper bahwa 'masyrakat tak bisa befungsi dengan adanya ketakutan'. AS
Munandar berucap kepadaku: Lihat saja Orba, nyatanya, selama 32 tahun
masyrakat Indonesia di bawah Orba tetap (atau malah justru) berfungsi
disebabkan oleh RASA TAKUT anggota masyarakat dan keseluruhannya
terhadap rezim Orba yang justru lahir dan tegak atas dasar KETAKUTAN
RAKYAT terhadapnya. Aku iakan pendapat AS Munandar itu. Lihat saja,
begitu timbul keberanian masyarakat, akhirnya Suharto teguling.
Sayangnya pendapat AS Munandar tsb belum sempat dikemukakan, karena
waktu diskusi yang sedikit itu, sudah diborong oleh perserta diskusi
lainnya. Itu suatu contoh bahwa disebabkan singkatnya waktu, AS
Munandar, yang tau benar kehadirannya 'state of fear' di negeri kita di
bawah rezim Orba, tak sempat mengemukakan pendapatnya.

* * *
Seperti kukatakan di depan, diskusi-diskusi sepert ini, seminar-seminar
yang hanya berapa jam saja, sedangkan pesertanya berjumlah puluhan,
dengan sendirinya tidak akan memuaskan. Namun, aku ambil bagian
juga.Ingin tau pendapat para penalis dan hadirin terhadap pertanyaanku
berikut ini:

Ketika minta waktu untuk bicara, moderator Fouad Larouis menanyakan
identitasku. Aku bilang: Aku ini orang Indonesia, tetapi pegang paspor
Belanda. Gerrr . . . . ., publik tertawa! Apa artinya? Entahlah!
Menganggap jawaban itu lucu? Atau karena dengan demikian tau bahwa
pembicara adalah seorang EKSIL. Dan mereka memang simpati kepada
orang-orang eksil.

Aku ajukan dua pertanyaan yang aku anggap sangat relevan dan aktuil.
Begini pertanyaanku:

1.Geert Wilder, anggota Parlemen Belanda, ketua parpol PVV, membuat film
yang anti-Al Qur'an. Wilders mengumumkan tidak lama lagi akan
mempertunjukkan film anti-Al Qur'an itu kepada umum.

Pertanyaanku: Apakah tindakan Geert Wilders itu didorong oleh RASA
KETAKUTAN terhadap ISLAM? Atau, Wilders membikin film tsb dengan tujuan
SENGAJA untuk menimbulkan STATE OF FEAR, di kalangan masyraka Belanda?

2. Pemerintah Belanda sibuk bikin persiapan, menghubungi para walikota,
karena mengantisipasi film Geert Wilders bila dipertunjukkan nanti, akan
menimbulkan pelbagai reaksi keras yang membahayakan ketenteraman dan
keamanan di kalangan masyarakat. Pertanyaanku: Apakah kebijakan
pemerintah Belanda itu disebabkan pemerintah semdoro berada IN A STATE
OF FEAR (Keadaan Ketakutan)? Atau, apakah kebijakan pemerintah Belanda
itu, justru akan menimbulkan STATE OF FEAR di kalangan masyarakat?

Ketika aku mengajukan kedua pertanyaan tsb terasa benar, hadirin
tertegun. Hening, diam! Tak satupun memberikan komentar. Aku
bertanya-tanya, mengapa? Bukankah pertanyaanku itu relevan dengan tema
diskusi? Bukankah pertanyaanku itu nyambung dengan situasi kongkrit
negeri Belanda.

Yang bikin aku kesal dan menyayangkan, ialah kebijakan moderator Fouad
Larouis yang mengelak dan tidak memberikan kesempatan kepada para
penalis untuk menjawab pertanyaanku itu. Moderator sekadar menyatakan
bahwa pertanyaaku itu VERY INTERESTING. Tapi ditambahkannya bahw,
barangkali sebaiknya pertanyaan itu dibicarakan tersendiri saja di ruang
cafetaria gedung Theater Spui di dekat situ pada waktu istirahat nanti.
Bram Peper, barangkali akan menanggapinya, katanya pula. Tetapi Bram
Peper tak berrealsi sedikitpun terhadap sarang moderator Laroui. Masya
Allah! Kok begitu jawabannya, fikirku.

Tapi sudahla!

Aku tak hendak bikin 'ramai'. Sesungguhnya aku bisa bikin soal dan
mendesak moderator mengizinkan para penalis dan hadirin yang bersedia
untuk menanggapi pertanyaanku itu.

Aku menahan diri, tidak mau 'menganggu' jalannya diskusi dengan suatu
protes keras kepada moderator Fouad Laroui.

Betapapun, malam diskusi dengan tema 'IN A STATE OF FEAR' yang
diselenggarakan oleh 'Winternachten', tokh ada gunanya juga. Ada
manfaatnya. Untuk itu aku berterima kasih.

Jangan heran pembaca, — Tahun depan bila ada kesempatan dan diundang
lagi, aku akan hadir lagi. Meskipun jalannya diskusi nanti, hasilnya,
kira-kira akan sama saja seperti kemarin sore: CUMA SAMPAI DI SITU SAJA!