Sabtu, 19 Januari 2008   Saya gembira pagi ini. Mata saya terang dan langsung mencari surat khabar. Ada dua koran yang saya berlangganan pagi hari.  Selain itu saya baca koran juga via internet, karena banyak juga yang di internet tidak ada di koran-cetak di atas kertas.

KESATU.

Tidak ada khabar apa-apa terhadap pasien istimewa dari RSPP berikut empat puluh bidadari, wah salah ketik, mestinya empat puluh dokter mejeng pakai baju tukang cukur rambut, bicara soal detil penyakit, tetapi yang kedengaran di telinga saya adalah suara tokek yang berbunyi: Rupiah-Dollar-Rupiah-Dollar yang asalnya dari mana, walahualam. Tidak tahu asalnya dari mana karena sang pasien kan kena perkara yang tidak pernah jelas dari mana asal uangnya. Diperiksa pengadilan, tidak mau dan mengupayakan diri menghindar menggunakan alasan sakit dan akhirnya menjadi sakit sungguh-sungguh. Ya, karena ke-tidak-jelasan itulah saya boleh saja menduga sesuka saya, karena dugaan ini tidak bisa dituntut sebagai bentuk libel-fitnah, karena memang belum pernah ada keputusan apapun. Keluarga pasien tidak pernah minta ganti biaya perawatan dan obat kepada pemerintah sesuai aturan, sedangkan kasat mata sekali bisa dilihat bahwa biaya itu amat besar dan luar biasa besar. Dari mana duitnya?

Semalam tanggal 18 Januari 2008 malam Pukul 22:00 ada siaran TV MNC yang menyiarkan Pengakuan Sang Pasien yang kira-kira berkata begini bunyinya: “Saya tidak pernah mempunyai rekening daripada dollar di bank baèk di luar negeri maupun di dalam daripada negeri yang Rupiah, yang katanya dua ratus Triliun itu. Saya tidak mempunyai uang satu sèn pun …… dan seterusnya …… .”

Saya pun tiba-tiba berdiri dan tidak mau menonton lebih lanjut. Masuk ke peraduan lebih baik.

Berita seperti ini, pada pagi hari ini tanggal 19 Januari, tiba-tiba saja di koran tidak ada di halaman satu dari kedua koran itu. Alhamdulillah.

Semoga seterusnya.

Demikian harapan saya, selain tidak akan diulang-ulang lagi penayangan televisi selama satu minggu penuh adalah hanya gambar sang istri pasien itu yang meninggal terlebih dahulu pada beberapa tahun yang lalu, serta bunga-bunga yang indah tanda berduka cita, lagu-lagu yang memilukan termasuk “Gugur satu tumbuh seribu”. Ciloko dan “Hawrakadah” kata si Koming yang tiada pernah absen untuk nangkring di Kompas setiap hari Minggu.

KEDUA.

Kemarin ada ditayangkan berita liputan gerombolan FPI (Front Pembela Islam) yang berdemo di depan kantor Kejaksaan Agung. Dengan muka garang dan kelihatan jelas siap bertengkar atau berkelahi, mata melotot, mereka protes terhadap keputusan Bakor Pakem (Badan Koordinasi Pengawas Agama dan Kepercayaan). Karena Jaksa Agung Muda Wisnu Subroto adalah wakil ketua Bakor Pakem, maka mereka berteriak-teriak menyampaikan maksudnya.

Yang diprotes mereka adalah pendapat Bakor Pakem yang mengatakan bahwa Islam Achmadiyah bukan ajaran/aliran sesat. Haaahh, lega juga rasanya hati saya. Bukan kok saya simpatisan Achmadiyah, bukan pula saya ini musuhnya Front Pembela Islam. Saya pencinta damai.

Dan berita-berita mengenai itu pun, pada pagi hari ini tidak dimuat di halaman satu di koran-koran yang saya langgani. Ini sebenarnya kan sudah memakan tenaga dan pikiran banyak orang, yang saya nilai sia-sia saja. Jangan terlalu bersikap belligerent-suka berkelahi kepada manusia yang lain yang tidak bisa sama seperti anda.

Di Indonesia ini banyak orang selalu berharap memperoleh perlakuan bagi golongannya: hal-hal dan cara-cara dan sikap yang sok benar sendiri dan memberi perlakuan kepada yang lain dengan vonis sebagai salah semua. Juga menyukai untuk berpikir bahwa kelompoknya adalah paling banyak di daerah di mana mereka tinggal, bahkan superior-unggul dibandingkan dengan manusia lain yang ada di sekelilingnya. Saya sungguh mengharap para pimpinan kelompok ini beranilah untuk sesekali pergi menyeberang dan hidup di mana dia akan menjadi minoritas. Di Indonesia ada tempat-tempat seperti itu, demikian pula halnya di luar negeri kita, di mana di sekeliling tidak ada orang yang sama dengan sikap dan jalan pikiran yang berkecamuk seperti yang ada di dalam dirinya. Jangan terlalu cepat menghindar. Diamlah di tempat seperti itu sedikitnya enam bulan lamanya. Atau satu tahun. Tafakur atau tepekurlah, bermeditasilah dan tempatkan “diri” anda di dalam diri orang lain. Yang begini patut dicoba. Ini akan melebarkan cakrawala siapapun.

Kemarin saya menanggapi sebuah tulisan yang menggambarkan seseorang membaca Al Fatihah di sebuah Gereja katolik di Utrecht, belanda, untuk mendoakan jenasah sesama teman. Isi tulisannya menuju ke kedamaian antara manusia meskipun berlainan agama. Yang mengirim tulisan adalah sdr. Ibrahim Isa.

 Saya baca ada empat tanggapan dan saya memberi tanggapan sebagai penanggap ke lima.
1/7. Sepihak .
Written by Guest – Thursday, January 17 2008
 
Itu seh sejak doeloe diketahui,pemerintah/orang2 Bld toleran thd agama2 lain yg bukan kristen. Sebaliknya? Apakah ada toleransi dari pendatang2 islam? (ingat van Gogh !).Buat mereka itu toleransi mungkin = geTOL Enak makan RANsum negara ? hahahaha.     
2/7. kurang lengkap
Written by Guest – Thursday, January 17 2008
 
Kurang lengkap donk Om/Tante, ditambahin boleh ya? geTOL E nak makan RANsum negara SI kafir…gitu lhoo.     
3/7. Kalau gereja = mesjid maka mesjid = gereja
Written by Guest – Friday, January 18 2008
 
ehhm, biasa. Di US dan Kanada, sering juga merayakan Lebaran di kompleks gereja. Belum ada yang protes tuh! Di Indonesia – banyak dilarang gereja baru. Kenapa tak pakai mesjid saja? Natalan di mesjid khan lebih khusuk. Memanh tidak perlu bikin gereja banyak banyak padahal mesjid banyak yang kosong Kalau tuhan ada, di mesjid atau gereja dia mestinya ada….     
4/7. Betul juga…
Written by Guest – Friday, January 18 2008
Betul juga ya? Dianjurkan kpd orang2 muslim /muslimah Indonesia di Bld.(termasuk penulis topik diatas yg lulusan madrasah )pada tgl 25 desember 2008 untuk membawa teman2nya kristen merayakan Natal di-mesjid2 Bld !!! Apa reaksi uztadz2 ????????     
5/7. Baca Al Fatihah di gereja Katolik Utrecht
Written by Guest – Friday, January 18 2008
Kalau tidak bisa damai dengan sesama manusia lain, cobalah damai dengan dirimu sendiri, pakai akal dan logika yang memang sudah ada dan melekat di dalam tubuh manusia sejak lahir. Ribuan tahun yang lalu, sebelum ada agama, akal dan logika sudah ada, pakailah dengan bijak. Anwari Doel Arnowo.     
6/7. semuanya KAFIR kecuali saya
Written by Guest – Friday, January 18 2008
semua yang menulis komentar diatas adalah KAFIR!     
7/7. kafir
Written by Guest – Friday, January 18 2008
Lebih baik kafir tapi berperikemanusiaan d.p. sok beragama tapi pembunuh dan perampok dan pembenci orang yg beragama lain ! Tuhan akan mnghukum orang2 begitu !

Tiba-tiba saja kedamaian saya pada pagi ini terusik, disebabkan saya telah dilantik menjadi seorang kafir, karena saya menanggapi sebagai orang yang nomor lima, dan satu-satunya yang mencantumkan nama saya seperti apa adanya.

Suatu saat Gus Dur yang sedang menjabat Presiden NKRI diwawancara dan mengatakan: Ini SCTV kok sering sekali melantunkan lagu Salamullah yang sebenarnya sebuah lagu perang, padahal katanya cinta damai. Selain itu sering kita mengatakan orang Kristen adalah Kafir, sedangkan Kristen itu mempunyai Tuhan. Kafir yang sesungguhnya itu adalah mereka yang tidak mempunyai Tuhan”. Itu kata Gus Dur yang telah khatam Qur’an sewaktu masih muda, fasih dan mengerti bahasa Arab lumayan sempurna, dengan sendirinya pasti telah mendalami isi Al Qur’an.
    

Jadi dengan menyebut semua yang menulis komentar di atas (1,2,3,4 dan 5 adalah kafir), maka itu adalah sikap yang tergesa-gesa dan saya beri kepada penulis no.6 tersebut waktu sepanjang sisa hidupnya.

Waktu sepanjang sisa hidupnya, kalau memang diperlukan sepanjang itu, untuk bisa membuktikan bahwa kata-katanya memang benar adanya.

Saudara nomor 6 ini juga saya duga akan menggolongkan saudara no. 7 sebagai sebangsa saya, sorang kafir.

Kebenaran sejati di dunia ini tidak ada, karena kebenaran sejati, hanya ada pada Tuhan yang bagi mereka yang beragama Islam disebut Allah. Karena Allah adalah sebuah kata dalam bahasa Arab itu, mempunyai arti: Tuhan.

Kalau saja anda mendengar orang Arab, meskipun dia beragama Kristen, menyebut Allah, maka itu adalah sah seratus persen. Dia menyebutkan Tuhannya sendiri, Tuhan orang kristen, bukan Allahu Akbar yang kita kenal. Dia bukan seorang yang kafir. Orang Islam menyebut Allah dengan sembilan puluh sembilan nama, antara lain Allahu Ahad (Yang Maha Esa), Allahu A’lam (Yang Maha Tahu), Allahu Aza Wajalla (Yang Maha Baik dan Maha Mulia), Allahussamad (Allah Tempat Bergantung, Tempat Bersandar), Allahu Ta’alla (Yang Maha Tinggi). Setelah membaca hal-hal di atas, kalau anda masih menyebut saya sebagai orang kafir, saya hanya akan bilang: masyaallah!!

Saya doakan agar anda membaca tulisan saya ini dan tidak memberi reaksi terlalu tergesa-gesa lagi, disebabkan karena sibuk tafakur, mengukur diri sendiri dan diri saya.

Saya juga mengharapkan mata anda mendapatkan pandangan suasana terang seperti saya alami pagi tadi, terang benderang sebelum membaca tanggapan anda,

Saudara nomor 6 .

Semoga.