Tulisan saya “Amien Rais Yang Lucu”, yang saya posting di beberapa milis, mendapat tanggapan dari seseorang. Untuk lebih memperjelas apa yang ingin saya kemukakan di dalam tulisan tersebut, rasanya baik juga kalau tanggapan  tersebut (dan tanggapan saya atas tanggapan tersebut) saya sajikan di milis ini. Harus saya akui, tanggapan tersebut tadinya disajikan
dalam bentuk tulisan yang utuh. Tapi demi alasan
memudahkan pembaca, tanggapan tersebut (dan tanggapan
saya atas tanggapan tersebut) saya sajikan dalam
bentuk tanya jawab.

Tanya:

Saya juga menyaksikan acara tersebut dan sepertinya
anda sengaja (atau mungkin lupa) bahwa dalam acara
tersebut Amien Rais juga meminta pendapat dari Yusril
Ihza Mahendra, ketika pembawa acara menanyakan cara
yang ditempuh. Dalam kesempatan itu, Amien Rais
mengatakan, “Wah kalau hal itu (tentang masalah hukum/
tata caranya) bisa kita tanyakan kepada yang ahlinya”
sambil menunjuk ke arah Yusril. Dari sini saya rasa
Amien Rais tahu betul koq kemana arah yang dituju.

Jawab:

Inilah kelucuan Amien Rais yang pertama. Di dalam
perbincangan itu dia mengesankan dirinya sebagai
seorang yang tidak mengerti apa-apa. Padahal dia
pernah menjabat sebagai Ketua MPR. Dan hak-hak
Presiden dalam memberikan hukum di seputar “maaf” itu
ada di dalam UUD 1945, dan semua anak SMP yang belajar
civic pun tahu tentang itu.

Tanya:

Saat diberi kesempatan, Yusril pun menjelasakan proses
secara hukum, dimulai dari memberikan penjelasan
pemberian maaf (pardon) kepada Nixon dan celah hukum
yang sesuai di negara ini. Yusril mengatakan yang
paling tepat untuk Pak Harto adalah dengan cara
rehabilitasi. Karena secara hukum menurut Yusril,
statusnya sudah jelas saat dikeluarkan SP3 yang hingga
sekarang dicabut, sehingga rehabilitasi adalah jalan
yang terbaik, begitu kata Yusril.

Jawab:

Itu kata Yusril. Kata Adnan Buyung Nasution lain lagi.
Kata Fajroel Falakh lain lagi. Ada seribu ahli hukum
dan ada seribu pendapat. Atau, kalau pun cara yang
diusulkan Yuzril itu memang benar dan bisa ditempuh,
tapi kita juga tentu harus memperhitungkan posisi
politik Presiden SBY. Saya rasa, kalau hal itu memang
tidak memberikan ongkos politik apa-apa bagi dirinya,
Presiden SBY sudah lama melakukannya.

Tanya:

Setelah mendengar penjelasan dari Yusril, Amien Rais
pun bisa menyetujuinya, karena baginya yang terpenting
adalah adanya sikap jelas dari pemerintah terhadap
status Soeharto sebelum Soeharto mangkat. Amien Rais
pun tidak setuju jika Tap MPR dicabut karena maaf atau
rehabilitasi hanya untuk sang jendral bukan untuk
kroni dan keluarganyau, begitu kata Amien Rais dalam
Today’s Dialog malam itu.

Jawab:

Ini kelucuan Amien Rais yang kedua. Dia tidak mencoba
menempatkan diri dalam posisi Presiden SBY. Dengan
gampang dia menyuruh Presiden SBY berbuat begini dan
begitu. Kalau akibat keputusannya itu Presiden SBY
harus membayar ongkos politik (dimakzulkan atas
tuduhan melanggar konstitusi) apakah dia mau ikut
menanggungnya?

Lalu tolong tanyakan kepada Amien Rais sebagai mantan
Ketua MPR: Bagaimana pula caranya sehingga seorang
presiden boleh sesuka hatinya menyunat bunyi Tap MPR
yang masih berlaku? Ingat, Tap MPR itu berbicara
tentang Suharto dan kroni-kroninya; bukan tentang
Suharto atau kroni-kroninya.

Tanya:

Memangnya menurut anda siapa yang bisa mengeluarkan
kebijakan yg menyangkut hukum?

Jawab:

Presiden mempunyai beberapa hak dan itu diatur di
dalam Konstitusi. Memang dalam perbincangan itu Amien
Rais mengusulkan agar Presiden SBY sedikit berani
untuk melakukan hal-hal yang tidak diatur di dalam
Konstitusi. Bagi saya ini juga adalah kelucuan yang
lain lagi. Kalau saya adalah Presiden SBY saya akan
berkata kepada Amien Rais, “Enak aja lu ngomong. Kalau
gue terjungkal gimana?!”

Dan lagipula dalam perbincangan itu saya tak berhasil
dikesankan oleh Amien Rais: Ribut-ribut dalam urusan
memberi “maaf” ini sebenarnya untuk kepentingan siapa
sih? Untuk kepentingan bangsa ini atau kepentingan
Suharto?

Tanya:

Menurut anda apa yang terbaik? Meminta pemerintah
untuk menuntaskan kasus Soeharto? Untuk ini pertanyaan
berikutnya: Apa SBY punya nyali? Mendiamkan hingga ia
mangkat atau rehabilitasi?

Jawab:

Silakan baca tulisan saya yang juga ada di milis ini:
“Memaafkan Suharto–Usulan Untuk Presiden SBY”. Sama
seperti Amien Rais saya juga mengusulkan perlu ada
solusi dari Presiden SBY terhadap kontroversi ini.
Solusi saya juga adalah solusi relijius, moral dan
budaya. Tapi bedanya saya dengan Amien Rais ialah,
bahwa saya tak mengusulkan agar solusi relijius harus
dipecahkan dengan cara politik atau hukum.

Tanya:

Amien Rais juga melemparkan kritik kepada para penegak
dan pengamat hukum yang baru bersuara ketika Soeharto
tak berdaya dan terbaring lemah di tempat tidur, tapi
ketika ia sangat power full mereka nyaris tidak
terlihat, saat Soeharto masuk rumah sakit lagi, para
pahlawan-pahlawan kesiangan itupun muncul lagi.

Jawab:

Bahwa ada orang yang bersuara, ada yang tidak
bersuara, dan ada yang bersuara berganti-ganti nada,
itu terserah. Tapi kalau saya sebagai rakyat boleh
mengusulkan: Apa pun suara itu hendaklah dia
semata-mata didasari demi kepentingan bangsa dan
negara ini. Jangan didasari demi kepentingan pribadi.
Jangan juga didasari demi kepentingan Suharto, karena
sebentar lagi dia tokh akan senang. Dia akan berada
dalam Negeri Kekekalan, dimana tak ada lagi ada flu
burung, antre minyak tanah, krisis kedelai, banjir,
tanah longsor, dsb [.]