Selasa, 08 Januari 2008   Sultan Hamengku Buwono ke IX berbulan-bulan lamanya dalam awal tahun 1960an, kalau tinggal di Tokyo di sebuah hotel bernama Hotel New Japan di Akasaka. Dia juga sebagai pengunjung Copa Cabana, sebuah Night Club yang terkenal terletak di dekat hotel itu. Kalau saya dan kawan-kawan para pelajar Indonesia di Jepang, paling tinggi bisa mengunjungi sebuah coffee-shop bernama Champs Ėlysée di dekat situ, sudah sesuatu hal yang istimewa. Pak Sultan karena seringnya berada di daerah itu, amat dikenal oleh mereka yang sehari-harinya bekerja di tempat-tempat disekitar Akasaka. Mereka mengenal Sang Sultan bukan dengan sebutan Sultan, akan tetapi dengan istilah: The King of Java.

 

 Saya tidak kenal beliau dan tidak pernah, pada waktu itu, bertemu dengan beliau langsung, akan tetapi melihat dari jarak dekat dan menganggukkan kepala masing-masing, tanpa bercakap. Dengan sepintas saja saya lihat Bapak Pemimpin yang punya banyak gelar ini, adalah seorang manusia sederhana. Beliau itu sehari-harinya di sekitar lokasi mewah seperti itu terlihat bersahaja dari caranya dalam berpakaian. Kemeja putih tanpa dasi, celana dari bahan kain drill serta sepatu sandal model silang dari kulit dan ikat pinggangnya juga kulit. Semua warna coklat, sepatu ikat pinggang dan celana kain drillnya. Rambut beliaupun hanya disisir lurus ke belakang. Jalannya tegap, tetapi terkesan sopan kepada semua orang. Satu kata saja yang bisa menggambarkan pribadinya: bersahaja. Itu artinya benar-benar bergaya hidup sederhana saja. Beliau tinggal di Hotel New Japan itu hanya karena beliau itu banyak berkecimpung di dalam masalah pariwisata yang selama ini diembannya dan dihayatinya secara nasional.

Waktu umur saya sekitar sepuluh tahun, dua kali saya pernah ikut ayah saya ke Yogyakarta (Ibukota Republik kita berada di Djogdjakarta, demikian mengejanya waktu itu) dan tinggal beberapa minggu lamanya di Jalan Merbaboe. Di sana banyak saya dengar kisah bagaimana Sri Sultan Hamengku Buwono IX sering pergi sendirian dan berpakaian amat sederhana, sehingga banyak orang kebanyakan yang terkecoh, karea tidak menyangka dan menduga bahwa yang dilihatnya adalah Baginda Sang Raja di Djogdjakarta. Beliau dalam kisah yang lain pernah mengendarai sebuah kendaraan model pick-up yang mempunyai bak terbuka di bagian belakang. Seorang bakul, wanita pedagang memanggul barang-barang dagangannya, minta tolong untuk boleh ikut, dan Sri Sultan yang baik hati itu mengijinkannya tanpa banyak berkata apapun. Waktu sampai di tempat tujuan sang Embok Bakul itu turun dari kendaraan yang ditumpanginya dan dengan terkejut banyak orang di sekitar langsung membungkuk dan ada yang duduk bersila sambil menyembah Sang Sri Sultan. Si Embok Bakul ketika menyadari hal itu, menurut kisah tersebut,  langsung jatuh pingsan seketika karena terperanjat yang sangat.

Gaya sederhana dan merakyat itu bukan hanya Sri Sultan tetapi banyak pemimpin yang lain, karena mereka memang tidak memiliki sesuatu jumlah materi yang ingin dipamerkannya. Setelah saya bersekolah di SMP (Sekolah Menengah Pertama) saya ikut ayah, berdua saja ke Jakarta sebelum mendapat rumah di jalan Surabaya, dan semua anggota keluarga ayah termasuk ibu masih bertempat tinggal di kota Surabaya.  Selama periode ini saya banyak ikut ayah saya bertemu dengan banyak orang terkemuka pada jaman itu (1952). Saya ikut ke rumah pak Moekarto yang menjabat Duta Besar di PBB. Karena saya mengharapkan melihat pak Moekarto fully dressedberpakaian lengkap, seperti layaknya seorang Duta Besar yang sering saya lihat foto-fotonya di media, maka terkejutlah  saya melihat beliau mengenakan hanya kaus singlet dan celana dalam dari bahan katun warna putih.

Rumah beliau terletak di seberang rumah Pak Roeslan Abdulgani (Jl. Diponegoro 11), di sudut Jl. Lembang dan Jl. Diponegoro, Jakarta.

Rumahnya besar dan bertingkat dua. Apakah itu rumah beliau?

Wah yang jelas beliau hanya menghuni paviljoennya (bangunan samping) saja. Bukan rumah bangunan utama.

Saya juga mengamati bapak Mohammad Hatta yang selalu correctpatut dan rapi termasuk bersepatu model yang tertutup. Meskipun waktu itu beliau juga bertempat tinggal di Jl. Diponegoro yang berada di daerah elite (golongan atas), beliau kan Wakil Presiden selama lebih dari 10 tahun. Menurut ukuran waktu itu saya duga orang menganggap pakaian Bung kita ini adalah luxemewah, akan tetapi saya tetap menggolongkan beliau seorang yang sederhana. Saya tinggal di Jl. Surabaya 13 kira-kira hanya lima ratus meter dari rumah Bung Hatta. Kalau saya pergi ke bioskop di Metropole yang kemudian menjadi Megaria, saya pasti harus melalui rumah kediaman  beliau. Meskipun saya melihat film yang diputar pada jam pertunjukan pukul 16:00 sore hari atau pukul 19:00 sore hari, bukan hanya sekali saya melihat Ibu Rahmi Hatta berjalan kaki menonton film juga dan hanya dikawal oleh seorang adjudan (ejaan waktu itu untuk ajudan). Gaya dan tutur kata Bung Hatta  tidak bombastis dan menyeru, beliau seorang yang patut saya kategorikan sebagai orang yang bersahaja juga, seperti Pak Ali Sastroamidjojo dan Muhamad Natsir. Biarpun saya masih murid SMP, saya mengagumi orang-orang tersebut sebagai orang yang patut diposisikan sebagai seorang pemimpin. Tentu saja kita tidak dapat bersandar terus kepada Bapak-Bapak ini, akan tetapi gaya hidup dan perilaku mereka amat sering teringat dan terbayang di memori saya sebagai orang panutan. Tanggal 5 Januari yang lalu saya membaca tulisan Bapak Duta Besar di Kuba, Hariadi Sudjono (1999-2003) mengenai Kuba selama ini, dengan judul Hidup Sederhana Gaya Kuba di harian Kompas halaman 6.

Link beritanya dapat anda akses melalui: www.kompas.com/kompas-cetak/0801/05/opini/4143241.htm .

Tulisan itu menyebutkan bahwa di Kuba, yang lebih dari empat puluh tahun lamanya di-embargo (dibatasi, dilarang) oleh Amerika Serikat, menerapkan hidup negara sosialis berhaluan sosialis-komunis (Marxis-Komunis) di bawah kepemimpinan partai tunggal Partai Komunis Kuba. Apa yang terjadi sampai saat ini?

Bagi yang tidak mempunyai sarana mengakses, inilah sebagian kata-kata yang saya kutip dari tulisan tersebut.

Semua Rakyat Kuba adalah pegawai negeri, dari Presiden sampai tukang cukur dan pelayan toko. Dengan sistem ini meskipun produktivitas kerjanya rendah, tetapi seluruh rakyat dididik dan diarahkan untuk hidup sesuai dengan kemampuan, digunakan istilah serba apa adanya.   Mereka makan apa yang ada di negerinya, bukan makanan impor. Kalau punya uang hanya sekian ya itulah yang dipakai. Tidak perlu ngutang ke luar negeri dari  negara-negara donor internasional yang ujung-ujungnya menjerat leher sendiri. Kuba hanya menerima bantuan yang sebagian dalam bentuk hibah dari negara sekutunya (misalnya Rusia). Karena rakyat dan para pemimpinnya dibiasakan unuk menempuh pola hidup sederhana, ptaktek KKN tidak menonjol meskipun mungkin ada juga. Kalau Kuba merasa tidak mempunyai minyak untuk menopang kegiatan industrinya, negeri itu menjual “dokternya” ke Venezuela dan negara Amerika Latin linnya untuk ditukar dengan minyak dan kebutuhan hidup lainnya. Kuba dikenal sebagai penghasil gula, kapas, beras, besi, nikel, bauksit, emas dan perak.

Terbukti sampai dengan hari ini, Presiden Fidel Castro adalah seorang Presiden yang paling lama menyandang jabatan Presiden sebuah Negara, melebihi Bung Karno, Suharto, Joseph Tito sekalipun.  Sedikit cuplikan di atas sungguh terasa akan amat berguna dan akan dapat ditiru oleh orang Indonesia.

Kita sudah terlanjur konsumtif, terlanjur boros untuk ukuran negara melarat. Pimpinan Negara juga tidak sederhana, mereka suka memboroskan biaya dan dana. Semua yang diboroskannya itupun juga bukan uang sendiri tetapi hak Rakyat yang diwakilinya dan mungkin uang yang utang dari pihak atau negeri lain.

Kemarin sore saya dengar sirene yang meraung-raung keras, diikuti oleh sekitar empat puluh kendaraan roda empat, berisi para pejabat atau calon pejabat yang “dikawal” oleh anggota-anggota pemuda dan pemudi suatu organisasi entah apa, saya tidak berminat untuk menelitinya. Yang jelas saya lihat sebuah spanduk berwarna ungu hari ini, mungkin memang sudah dipasang kemarin melintang di atas jalan yang dilalui arak-arakan tersebut. Ini yang tertulis di dalam spanduk: Hari Susah Genee ……., KAMPANYE PAKE DUIT RAKYAT Capé’ Deeh …!! Tertanda: Komunitas Ungu Baru {itu adalah bahasa denngan menggunakan gaya anak muda jaman sekarang} yang artinya:

Hari susah begini KAMPANYE MENGGUNAKAN DUIT RAKYAT Capai (lelah) Dèh ….!!

Karena bahasanya bahasa gaul anak muda jaman sekarang, saya duga mereka adalah yang tersentuh terhadap isu orang muda agar bergerak merebut pimpinan yang sekarang sedang dipegang dalam tangan para orang-orang yang sudah tua, apalagi yang itu-itu saja.

Sebenarnya hal seperti isu tersebut sudah saya kemukakan di dalam tulisan saya bertahun-tahun yang lalu, yang isinya: Agar para pemuda tidak usah menhiraukan para politikus yang berceloteh macam-macam setiap hari, dan siapkan diri mereka sendiri untuk menggantikan mereka. Anjuran saya juga menyebut bahwa Amien Rais, Megawati dan Akbar Tanjung, Wiranto dan lain-lain itu, pada saat yang kita tidak tahu kapan, akan pasti mati meninggalkan dunia. Demikianpun saya sendiri pasti akan juga meninggalkan dunia fana.

Tetapi mereka, para orang muda, harus tetap dengan giat belajar serta menaikkan tingkat pengetauan dan pendidikan diri sendiri, sehingga kalau datang saatnya nanti, mereka sudah mempunyai kualifikasi yang mantap. Kalaupun bisa,  amat mantap menggantikan kedudukan pimpinan, yang pasti mau atau tidak mau, akan terpaksa secara alami akan ditinggalkan oleh para politikus-politikus tersebut.

Saya tetap ingin mengulang anjuran dalam tulisan yang lalu berjudul ADA YANG UNTUNG, agar penambangan minyak dihentikan dan menyisakan untuk anak dan cucu kita.

Sudah terbukti kita telah tidak sanggup mengelola dan menyelia kekayaan bumi di Negara kita selama ini. Tidak pernah terjadi seperti apa yang kita perkirakan, yakni akan menyejahterakan rakyat. Hal seperti itu, tidak hanya terjadi di negeri kita saja. Tengoklah negara -negara lain yang memiliki kekayaan minyak dan gas seperti kita. Apakah mereka sudah sejahtera seperti pimpinan negaranya? Meskipun kita lihat Saudi Arabia atau Brunei Darussalam kaya minyak bumi dan gas alam, hanya raja dan sultan saja yang amat dan sangat sejahtera sekali. Tetapi mengapa Kuba yang tidak mempunyai minyak dan gas, dapat sejahtera, rakyatnya mendapat pelayanan pendidikan dan kesehatan sudah selama bertahun-tahun dan sekarang dapat “menjual” tenaga-tenaga dokternya keluar negeri dan dapat juga mengirimkannya ke Aceh yang tertimpa bencana Tsunami sebagai bantuan? Mereka adalah tim penolong bencana yang paling akhir meninggalkan Aceh. Atlit Kuba juga menjuarai pertandingan-pertandingan olahraga di mana-mana. Mereka tidak dapat dianggap sepele.

Saya sendiri minggu lalu, berada di tengah sebuah pesta yang menghidangkan iga panggang yang diimport dari Australia dan meminum minuman anggur merah maupun putih dan kebanyakan dari Australia juga asalnya.

Kalau kita sepakat secara nasional mau  meniru perilaku penduduk Kuba, saya dengan rela akan mau menghentikan memangsa makanan dan minuman dari negeri lain.

Saya akan senang kalau beras kita harganya sekitar lima belas ribu Rupiah satu kilogramnya, yang uang penjualannya sedikitnya 70 % diterima oleh tangan petani serta dinikmati para petani kita. Sekarang yang menikmati hasil jual beli beras adalah tengkulak dan di masa lalu adalah hampir semua (atau memang semuanya) para Kepala Dolog dan Bulog (sampai sekarang?). Moga-moga saja tidak, karena Bulog sekarang sudah berubah statusnya menjadi Perum. Yang membedakanya dengan Bulog yang dulu adalah sebuah LPND – Lembaga Pemerintah Non Departemen dibiayai dengan APBN – Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara, sedang sebagai Perum Bulog pembiayaan akan harus melalui pinjaman dari pihak lain seperti Bank dsb. Orang China yang pedagang, meskipun punya uang sendiri, biasanya menggunakan uang orang lain untuk mengembangkan perdagangannya. Pernah saya sebut sebagai OPM (Other People’s Money) seperti Private Placement dan uang Pasar Bursa, dan Loan dari Bank atau Financial Institution lainnya. Ini menambah wawasan kehati-hatian dalam menjalankan usaha karena menggadaikannya (fiduciary).

Saya melihat acara televisi IMPACT di mana Peter Gontha mewawancarai Ir. Siswono Yudhohusodo yang pernah menjadi Calon Wakil Presiden di dalam pemilu yang lalu. Meskipun dia ini tokoh Golkar dengan minat sekali saya mendengarkan, meskipun hanya sekitar seperempat jam sebelum wawancara diakhiri. Dalam wawancara itu terungkap banyak hal yang saya belum pernah mendengarnya: *  Bahwa lahan petani kita per petani hanya sekitar setengah hektar saja di pulau Jawa dan di Kalimantan pun juga mengecil sejak dua puluh tahun terakhir ini (survey 1983, 1993 dan 2003). Demikian juga halya petani gurem secara nasional selama ini jumlahnya telah meningkat naik dari +/- 10 jutaan menjadi +/- 13 jutaan.

*  Bahwa hal itu karena tidak adanya undang-undang landreformreformasi tataguna tanah seperti diterapkan di belanda, Jepang dan Thailand. Itu disebabkan oleh karena pemecahan tanah pertanian, karena masalah waris-mewaris, karena petani meninggal dunia dan diwariskan ke anak-anaknya yang sekian orang dan dibagi-bagi. Tidak semua anak petani bisa profesional seperti ayahnya. Di belanda tanah-tanah  pertanian tidak boleh dibagi-bagi sejak dahulu dan sampai kapanpun. Di Jepang kalau selesai pembagian mencapai jumlah satu hektar, maka yang sisa ini tidak boleh dibagi lagi. Jadi petani di  Jepang tidak ada yang mengerjakan lahan di bawah luas satu hektar. Luas satu hektarpun dikerjakan dengan cara yang amat modern karena juga menggunakan rumah kaca dan lain-lain yang kita kenal dengan istilah pertanian maju.

Para petani di negara-negara ini kaya, dan kaya sekali sehingga amat sejahtera hidupnya.

* Bahwa Thailand  baru membuat rencana dan telah mengumumkannya  bahwa semua petani di negara itu pada sepuluh tahun sejak saat sekarang akan memiliki lahan sebesar dua hektar per petani.

Pernah saya alami naik pesawat Japan Airlines dari Hong Kong ke Osaka. Selama perjalanan saya mendengar celoteh bahasa Jepang, ramai dan hiruk pikuk tiada henti. Semua penumpang yang ada adalah wanita Jepang, kecuali saya sendiri yang orang Indonesia. Dari logat bicaranya, pasti wong ndèso (orang udik) dan kelihatannya bau matahari. Mereka adalah orang-orang yang biasa berada di alam terbuka, para petani atau keluarga petani yang pulang berwisata dari Eropa. Saya tanya salah seorang yang duduk dekat saya dan mereka memang dari sebuah desa kecil terletak di Kansai, Jepang Selatan. Harap maklum. Saya sudah tidak betah mendengar celotehan mereka yang asyik masyuk berbicara membandingkan pengalaman mereka masing-masing di Eropa. Juga membicarakan perihal selama perjalanan, makan ini dan itu yang bergaya Barat, semuanya mezurashiii (interesting)menarik hati. Saya kenakan head (ear) phone yang tersedia dan mencoba mendengarkan musik klasik. Sudah saya besarkan volume sampai maksimum, saya masih terganggu dengan keasyikan para onna no minnasanpara ibu-ibu itu. Apa boleh bikin, saya menerima dari para pramugari JAL minuman anggur, bahkan sake, biar saya bisa tertidur sedikit. Karena lebih seru ocehannya dan lebih banyak saya minum, maka saya menjadi setengah teler. Untung saya bisa menghadapi petugas imigrasi serta bea dan cukai dengan tuntas dan beres, meskipun saya setengah sadar waktu sampai di hotel. Dan besok paginya waktu asa gohan-breakfastsarapan  saya lakukan sambil merenung. Saya berkesimpulan: petani saja bisa naik pesawat dan berhura-hura ke Eropa, bersenang-senang sepuas-puasnya. Kapan petani Indonesia bisa?? Kalau saja para petani diarahkan ke sistem ini, maka akan terjadi deurbanisasi, yang menyebabkan Jakarta tidak tumbuh berkembang seperti sekarang. Kalau terjadi, maka yang akan pulang mudik tiap lebaran akan jauh berkurang. Jakarta tidak macet dan layak huni. Kelakuan serakah penduduk kota besar juga akan menurun dan menjadi petani adalah menuju hidup bahagia dan menjadi profesi yang terhormat. Semua pemimpin dan pimpinan yang ada harus memulai sikap yang teladan: hidup bersahaja, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Mr. Ali Sastroamidjojo, Pak Moekarto, Bapak Muhammad Natsir dan Drs. Mohammad Hatta, semuanya sudah almarhum. Bagaimana kalau kita teladani mereka tanpa menunggu para orang-orang di pucuk (istilah orang Palembang untuk para pimpinan).