Thursday, January 03, 2008 Saya sengaja mengambil dua kata dari judul karangan pak Salahuddin Wahid: Hak Hidup Ahmadiyah yang dimuat di salah satu media harian di Indonesia, pada tanggal 2 Januari kemarin. Apa sih Ahmadiyah?

Itupun menjadi bahan pertanyaan yang ada di dalam tulisan pak Salahuddin Wahid itu. Dan saya duga mungkin akan menjadi pertanyaan yang amat mendasar bagi banyak orang, termasuk yang ikut menyerbu desa di salah satu pulau di Nusa Tenggara dan Jawa Barat. Melempari batu, memburu jemaah Ahmadiyah dan merusak harta bendanya, ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi di Indonesia. Kedua pihak, yang mengejar dan yang dikejar, adalah sama-sama bangsa Indonesia. Yang mengejar merasa dirinya benar seratus persen dan untuk masa seterusnya tetap akan benar. Yang dikejar diberi julukan menjalankan ajaran sesat.

Untuk meredam kemarahan, siapa bisa?

Tapi ada baiknya kita untuk menyeberang ke seberang sana sebentar, ke dalam kalangan Ahmadiyah, tetapi saya tidak mau menganjurkan ke dalam kalangan Ahmadiyah di Indonesia, untuk membebaskan diri saya dari tuduhan ke-berpihakan dari orang-orang yang pemarah. Saya bukan anggota Ahmadiyah atau simpatisannya, tetapi saya juga tidak mau bersikap anti kepada Ahmadiyah. Adapun anjuran saya silakan melihat, mengintip dalam suasana ruang yang amat pribadi milik anda masing-masing, tanpa diketahui oleh siapapun.

Saya sendiri hanya ingin menunjukkan bahwa di Toronto, Kanada mereka itu, kaum Ahmadiyah, ada dan banyak pengikutnya. Saya tidak tahu berapa angkanya, tetapi anda bisa cari sendiri di web mereka: http://ahmadiyya.ca/ dan juga selanjutnya bisa melihat web mereka yang mencakup populasi mereka di dunia. Kami yang di Indonesia sudah tidak semuanya ikut berani ikut campur dalam masalah ini. Seperti yang dianjurkan oleh tulisan pak Salahuddin diatas, perlu adanya pertemuan nasional antara badan-badan dan dan instansi-instansi pemeritah dan tokoh tokoh masyarakat dan agama. Saya sedikit terkejut melihat daftar yang diusulkan seperti itu banyaknya hanya untuk membicarakan masalah Ahmadiyah. Perlu saya tambahkan pengalaman saya selama ini di Toronto, Kanada: tidak satu kalipun saya menemui orang yang bertentangan secara konfrontatif serta secara terbuka, mengenai agama dan kepercayaan. Hal ini bukan karena adanya larangan untuk berbeda pendapat tentang agama dan kepercayaan orang lain. Lebih dari seratus bahasa asal kaum imigran termasuk diri saya sendiri yang berasal dari Indonesia, diucapkan orang setiap hari di daerah propinsi Ontario, dimana Toronto adalah ibukota propinsi. Anjuran pemerintah secara sederhana hanya berbunyi: hormatilah selalu orang lain, dengan cara menghormati kepercayaan dan agama yang dianutnya dengan tidak ikut campur. Yang paling populer adalah: biarpun seseorang melakukan penyembahan kepada sebuah pohon, karena dia mempercayai bahwa Tuhannya berdiam disana, biarkanlah dia dengan asyik dan khusyuk melakukannya. Jangan mengganggu. Dan anjuran pemerintah seperti itu, ditaati oleh penduduk “asli” kulit merah (Indian) dan kulit putih (Kaukasian) dan ditaati pula oleh kami yang imigran, baik yang Kristen, Islam, Hindhu atau Budha atau Kong Hu Cu dan lain-lain yang tidak saya ketahui. Semua damai dan tidak ada yang marah atau mengajukan protes. Protes terhadap si penyembah pohon pun juga tidak ada. Apalagi yang menuntut ke pengadilan secara hukum, memprotes sajapun tidak dilakukan.

Pimpinan Nasional Indonesia tidak mampu memutuskan dan bertindak, karena memang pemimpin Nasional itu belum muncul juga. Yang ada hanya pimpinan Nasional. Kita masih merindukan seorang saja yang sanggup memimpin dalam arti yang sesungguh-sungguhnya karena pimpinan-pimpinan yang ada perlu sekali dipimpin dan didisiplinkan oleh seorang pemimpin. Demokrasi kita ini telah dijuluki sebagai paling demokratis di dunia, penuh dengan euphoriarasa senang rohani dan jasmani dan exuberancekegembiraan yang besar sekali dan ternyata: kita lengah. Kita lalai serta alpa terhadap apa yang kita punyai itu, harus selalu dipelihara secara terus menerus, yang menggunakan istilah yang umum dipakai: maintenancepemeliharaan.

Dalam pemikiran seorang arsitek, terdapat kemungkinan untuk membangun sesuatu. Pembangunan yang dibayangkan dengan sebuah atau lebih imajinasi, yang bagi orang lain tidak semuanya mampu mengikutinya. Kemudian hasil imajinasinya diwujudkan dalam bentuk pra rancang-bangun berupa seperangkat gambar-gambar teknik bangunan dan disertai dengan besteknya. Dalam tahapan ini dia sudah memerlukan bantuan seorang insinyur bangunan sipil atau sipil basah yang dapat menyelesaikan rancang bangunnya dengan lebih detil dan lebih nyata di dalam bidang pembangunannya yang merupakan tahap berikutnya. Selesai tahap pembangunannya, kita harus memasuki tahapan yang tidak kalah penting dari segalanya, yakni pemeliharaan atau maintenance. Kalau arsitek tadi adalah Soekarno dan kawan-kawannya yang seperjuangan, yang merancangkan kemerdekaan Negara Indonesia, dan kemudian para pendiri negara berikut disertai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya, telah memutuskan kita setuju membentuk sebuah republik berupa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka pemerintahan-pemerintahan selanjutnya adalah yang harus melakukan tahap-tahap pemeliharaan atau maintenance tadi.

Tetapi apa yang terjadi?

Dalam masa pemeliharaan ada bagian dari bangsa, ingin mengubah bentuk negara menjadi lain model dan lain ideologi. Ada yang punya ide kapitalisme, ide religi dan ide sosialisme yang semua ingin memaksakan kehendaknya untuk memasukkan idenya ke dalam pemerintahan yang tugas utamanya: memelihara.

Maka sibuklah semua orang di dalam Republik berceloteh dalam mengutarakan maksudnya dan ada yang memakai gaya diktator, gaya militer dan gaya keagamaan. Mereka lupa bahwa masa euphoria bernegara dengan pemerintahan yang demokratis seharusnya sudah selesai pada akhir tahun 1945. Akan tetapi Militer ingin mengganti system yang membiarkan komunisme, tetapi tidak berhasil. Maka mengamuklah militer dan berfikir lebih baik menggunakan senjata lain diluar senjata yang ada di tangan mereka, yaitu dengan cara persuasi. Maka timbullah gejala kelompok-kelompok di dalam masyarakat yang inimicalbermusuhan, saling tidak suka satu sama lain.

Maka Pemimpin Nasional menjadi tidak berdaya karena terlalu banyak ideologi dan kemauan yang bervariasi, hampir tanpa batas. Semua mengatakan bahwa ideologi yang dipercayainya lebih baik dari yang ada selama ini dikenal. Suasana chaoskacau-balau, kalang-kabut justru disuarakan dalam periode reformasi di mana semua yang duduk di pemerintahan sampai yang tertinggi sekalipun hanya menduduki kelas pimpinan saja. Ada suara ingin menggantikan negara menjadi negara federal, negara Allah-krasi, dan lain-lain bentuk negara. Rakyat terlalu lelah mengikuti dan dipaksa mengikuti apa yang dikemukakan para politisi dalam bermimpi ini dan bermimpi itu. Timbullah banyak pertanyaan apakah bangsa akan bahagia selamanya, kalau kita menggunakan demokrasi seperti selama ini kita saksikan?? Yang nyata-nyata terlihat oleh saya adalah sering sekali kita berkelahi dengan bangsa sendiri, karena membela kepentingan yang bukan kepentingan rakyat atau kepentingan pribadi rakyat. Yang menonjol adalah kepentingan pribadi para penguasa, para politikus, para pemain sirkus yang ada di seputar pemerintahan.

Mereka ini adalah para pemanfaat kerusuhan yang biasanya adalah ciptaan mereka sendiri. Kalau sudah rusuh dan chaos mereka bisa mengambil dana keamanan yang jumlahnya besar dan ikut serta menikmatinya. Berapa kita bisa hemat dari hanya biaya keamanan: selama periode Timor Timur, Aceh dan Poso serta Ambon dan lain-lain?? Adanya suasana yang inimical di daerah-daerah tersebut sekarang menjadi jelas sekali, bahwa suasana tidak aman disana adalah artifisial, bukan asli.

Pada dasarnya semua rakyat kita ingin damai, bukan karena diberi seruan seperti itu. Damai, damai dan damai. Itu keluar dari dada mereka, para manusia yang disebut rakyat Indonesia.

Hak Hidup bukan saja menyangkut raga dan tubuh manusia yang bernama rakyat, tetapi juga jiwanya, sukmanya, pikirannya dan kebebasan batinnya. Mengapa waktu itu, dibuat Republik dan Azasnya Pancasila, sila pertama bernama KeTuhanan, bukan Keagamaan?

Dan seterusnya bisa kita kaji kembali satu per satu.

Kita, semua manusia, selalu bersatu padu kalau menyebut istilah: Tuhan. Conto yang paling nyata adalah waktu bencana alam tiba: berwujud Tsunami, Banjir, Gempa Bumi dan Tanah Longsor serta Angin Topan. Semua manusia dari segala jenis, dari segala ras dan dari segala pemeluk ide yang bermacam-macam, tidak akan ada satupun yang tidak setuju akan menyebut Tuhan dan bukan menyebut agama. Mereka akan meraung karena penderitaan akan menangis dan mengeluh tetapi semua seruan kepada Tuhan, apakah itu God, Allah, Brahman dan Buddha. Tidak ada yang dalam kepanikan karena terjadinya bencana alam akan menyebut Oh, My Religion-Oh Agamaku, Oh Kristen, Oh Islam dan Oh Muslim dan sebagainya. Bahkan yang tidak percaya kepada Tuhanpun tidak akan menyebut Oh AtheismOh Atheisme, setidaknya mereka ini tidak menentang penyebutan Tuhan.

Itulah menurut pandangan saya mengapa Sila Pertama dari Pancasila adalah KeTuhanan Yang Maha Esa, bukan KeAgamaan Yang Maha Esa.

Hasil kajian apapun bentuknya pasti membuat kita tercerahkan pikirannya, semua ini karena kita sejak awal sudah mengetahui bahwa kita ini Bhineka Tunggal Ika-Unity in Diversity. Setelah sekian lamanya kita berbuat untuk menyeragamkan apapun, maka kita akan kembali ke arah keberagaman seperti sebelum adanya dan setelah lahirnya NKRI. Penyeragaman tidak akan pernah berhasil di Indonesia bahkan di manapun di seluruh dunia. Adolf Hitler, Joseph Stalin, Khomeini, bahkan George Walker Bush pun tidak berhasil memaksakan ide-ide mereka ke segala penjuru, meskipun kita kenali mereka sebagai orang yang berkuasa besar dan besar sekali. Dengan belajar sejarah seperti ini, kalau masih ada yang bermaksud membuat seragam manusia Indonesia, sebaiknya mundur teratur saja. Batalkan niat yang tidak akan berhasil itu. Niat seperti ini memakan waktu yang sia-sia dan memakan biaya yang besar yang mubazir dan memakan jumlah nyawa yang melayang dengan sia-sia juga. Militer sudah sering berbuat dan mengupayakan hal-hal serta macam-macam perbuatan lain yang sifatnya ingin menyeragamkan segala hal, tetapi terbukti tidak berhasil. Saya ulangi: Tidak Berhasil!! Itu baru masalah penyeragaman secara fisik. Mereka sudah pernah juga ingin menyeragamkan pikiran rakyat Indonesia agar orang beragama tidak setuju dengan komunisme.

Saya silakan melihat ke sekeliling sekarang, dengan lebih bijaksana dan kejelian mata hati dan kejernihan pikiran yang lebih baik, apakah upaya tersebut berhasil? Sama sekali tidak. Bahkan mereka, yang mencapai jumlah sebesar seperempat penduduk dunia, masih secara resmi adalah komunis. Marilah kita bebaskan pikiran kita dari kungkungan siapapun juga yang terlalu amat ingin menyeragamkan pikiran kita.

Saya, dan seluruh manusia di muka bumi ini, tidak pernah minta dilahirkan. Tidak minta karena tidak ada pilihan, telah dilahirkan menjadi orang Indonesia, menjadi laki-laki, atau perempuan atau Lesbian atau Trans Gender bahkan Bi Seksual sekalipun.

Tidak minta dilahirkan sebagai Rakyat biasa, tidak minta dilahirkan untuk menjadi menteri, anggota dpr dan menjadi pimpinan pemerintahan. Tidak pernah minta akan berTuhan dan masuk kedalam salah satu agama tertentu. Begitu lahir kita sudah di“taruh” ke dalam lingkungan yang sama sekali harus kita ikuti dengan hidup menyatu dengan lingkungan itu. Tidak ada pilihan!! Ternyata di dalam lingkungan kita itu juga beragam: saudara kita kandung saja berlainan dalam bentuk fisik dan pikirannya. Tidak sama keinginannya dan tidak sama yang dilaluinya dalam hidup dan dalam pencapaian hasil kehidupannya. Kalau ada yang sama, maka itu tidak dapat diukur dengan dimensi apapun yang kita bisa pahami saat ini. Bukan saja saudara kandung kita yang lahir dari satu rahim ibu, tetapi saudara kembar yang berasal dari satu indung telurpun, berlainan. Berlainan. Beragam. Berbeda.

Marilah kita selalu mengingat berbeda adalah alami, berbeda adalah normal, berbeda bukan aneh dan bahkan dengan berbeda kita bisa bersatu. Banggalah kalau anda berbeda, karena anda memiliki kepribadian yang khas. Kepribadian yang tidak membebek, tidak hanya menurut kepada seseorang lain atau kepada gerombolan manusia lain. Kalau anda berbeda, tidak usah merasa takut. Kalau anda pergi ke suatu perkumpulan agama baik itu kebaktian gereja ataukah pengajian Islam dan anda tidak mengenakan pakaian yang ditentukan, kalau anda memang tidak setuju seperti yang sudah ditentukan itu, berpakaianlah sesuai keinginan anda sendiri.

Itu adalah cara sehat dan normal.

Tidak seorangpun berhak menentukan bagaimana keinginan anda harus bersikap dan berperi-laku di dalam masyarakat. Keinginan anda berhak mendapat tempat, itu berarti berhak hidup. Juga pikiran, akal, budi atau daya pikir dan pemikiran yang artinya gagasan, ide, opini, paham, pandangan dan pendapat. Kalau pikiran kita dan pemikiran kita sudah diseragamkan oleh sesuatu hal yang diluar kepentingan kita sendiri, maka kita sudah hampir sama saja dengan robot. Kita bukan lagi manusia utuh.

Yang saya pandang benar adalah kita harus sepakat untuk taat kepada undang-undang, asal bunyi dan maknanya jelas dan dilakukan dengan ketegasan. Bukan dijalankan oleh pemikiran bias dari para pelaku hukum yang melaksanakannya sesuka-suka akal dan kepentingannya sendiri. 

Pertanyaan pak Salahuddin Wahid pada akhir tulisannya adalah: Apa betul Ahmadiyah mempunyai kitab suci yang berbeda dengan Alquran? Apa betul syahadat Ahmadiyah berbeda dengan syahadat umat Islam? Semua bukti yang diperlukan harus dibawa dalam bentuk asli. Pertemuan ini harus tuntas. Kalau kita tidak bisa menyelesaikan masalah yang peka ini dengan baik dan berbudaya, menjadi apa bangsa Indonesia ?

Saya memang tidak bisa menjawabnya.

Justru saya amat khawatir bahwa pertemuan tingkat paling tinggi seperti itu kalaupun menghasilkan sesuatu yang yes atau no, dua-duanya adalah buah simalakama. Kalau NO untuk Ahmadiyah, apa mereka harus di-Pulau-Buru-kan? Akan diberi KTP yang diberi tanda khusus (ET) seperti pernah terjadi kepada mereka yang “pernah diduga dan divonis” sebagai terlibat G-30-S?? Tidak boleh menjadi pegawai negeri dan tidak boleh menjadi ABRI (sekarang TNI)?

Dan ini dan itu?

Saya tidak memihak pemerintah, atau lawannya kaum Ahmadiyah dan secara otomatis dan sadar diri sepenuhnya, sama sekali saya tidak memihak Ahmadiyah. Saya hanya menggunakan akal budi yang saya miliki semampu saya, dengan tujuan utama kerukunan yang langgeng sesama bangsa Indonesia yang terbentuk dan telah bersedia bersatu pada tanggal 17 Agustus 1945.