Jumat, 04 Januari 2008  Judul itu selalu aku gunakan selama ini, kalau ada terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Hari ini aku lihat di pinggir jalan, antrian teratur dan sabar tidak bergerak sama sekali. Antriannya memang tidak bergerak karena yang antri bukan manusia, bahkan juga bukanlah kendaraan beroda dan bermesin. Yang antri hanyalah container-bandala atau kontainer kebanyakan dari bahan plastik dan dari segala macam ukuran. Aku tanyakan pada pengemudi mobil di sampingku, yang mereka tuju dengan mengantri itu apa? Jawabannya: minyak tanah. Aku lihat yang antri kebanyakan kaum perempuan dari kalangan masyarakat kelas bawah. Ada yang berhias rapi, tetapi tidak kurang-kurang yang berpakaian secara asal-asalan saja. Ada juga kanak-kanak yang masih muda sekali entah untuk menyertai emaknya atau akan membantu emaknya untuk membawakan kontainer kalau sudah berisi minyak. Juga bisa diduga bahwa kanak-kanak ini adalah menjadi wakil dari kontainer yang diantrikan berjajar agar bisa memenuhi jumlah jatah, kalaulah memang ada jatah seperti itu. Mereka bergerombol di ujung antrian kontainer tadi, mengobrol santai dan bercanda, karena kulihat mereka tertawa-tawa juga. Mungkin minyak yang ditunggu mereka semuanya itu belum tiba di lokasi distribusi.

 

Satu jam kemudian aku balik dari urusanku, dan aku lihat mereka belum bergerak dan tetap di posisi seperti tadi. Tetapi ada yang menarik hatiku, karena pada jarak 50 meter dari antrian tadi, malah berada di seberang jalan, ada dua orang yang masih muda di samping sepeda mereka berdua.

Yang menarik adalah sepeda mereka juga penuh digantungi dengan kontainer kosong dan terbuat dari plastik juga. Sebelum menyadari bahwa kontainer mereka berdua ini juga kosong, aku sempat bertanya: “Apakah anda berdua yang menjual minyak tanahnya?” Mereka berdua setengah tergelak menjawab: “Bukan pak, kita antri juga!” Barulah aku sadar bahwa mereka ini membawa kontainer kosong seluruhnya mungkin 15 sampai 20 buah setiap sepedanya. Semuanya kosong melompong.

Lalu apa sebabnya mereka berada di seberang jalan dan tidak ikut antri?? Menurut kebiasaan selama ini kalau sesuatu diantri seperti ini, biasanya pembeliannya diberi jatah jumlah volume tertentu, dan jumlahnya sedikit. Jadi patut sekali dilayangkan pertanyaan, mengapa mereka berdua tidak antri dan apakah memang tidak ada batas jatah pembelian yang dibolehkan oleh pelaku distribusi. Meskipun aku tidak menunggui mereka demi untuk mendapat jawaban yang akan memenuhi hasratku untuk tahu dan mampu menjawab pertanyaanku di atas, aku berani mengambil kesimpulanku sendiri. Itu yang dua orang muda pasti bermodal sepeda dan banyak kontainer, adalah tengkulak lapis pertama dan selain bermodal sepeda dan banyak kontainer kosong, juga pasti bermodal uang tunai.

Aku menduga kuat sekali bahwa mereka bisa saja menaruh kontainer dalam antrian dan mengupah orang untuk antri dan memberi upah atas jasa antri pembelian minyak tanah.

Orang muda yang inovatif ini adalah orang-orang yang mengambil untung dari kejadian keadaan yang kurang menyenangkan masyarakat umum seperti ini. Mereka bisa saja dijuluki sebagai profiteer-tukang catut yang sedang melakukan profiteering-pencatutan. Seperti kataku tadi mereka adalah mungkin tengkulak lapis pertama atau tukang catut di tingkat awal. Apapun namanya, biarpun seperti itu julukannya mereka pasti mendapat untung. Keuntungannya pasti lumayan baik, karena seperti adanya kalimat ungkapan yang sesuai untuk hal ini: mengambil kesempatan dalam kesempitan dapat digunakan.

Apa kedua orang ini mendapat untung dengan halal?

Bisa jadi!

Coba kita pikir, mereka melihat peluang dengan jeli dan menggunakan modal uang tunai dan alat-alat (kontainer dan sepeda) selain tenaga fisik.

Apakah mereka bersalah?

Eh, disinilah kita mulai menginjak garis batas antara moral dan legal. Orang yang berusaha dan orang yang sama sekali tidak berusaha, apalagi orang yang hanya mengimpikan dan mewacanakan saja itu, amat jauuuh berbeda. Kembali ke pertanyaan: bersalah?? Ah aku amat condong mengatakan bahwa mereka tidak seluruhnya boleh disalah-salahkan, dan aku akan bela mereka sebagai orang yang mendapatkan keuntungan dengan halal.

Aku juga tahu bahwa di atas mereka berdua ini biasanya ada yang lebih canggih karena tidak aku lihat tadi di pasar, maksudku tidak kelihatan oleh umum.

Di atas mereka ada tengkulak-tengkulak yang lebih besar dan lebih tinggi, bukan badannya akan tetapi tingkatannya.

Tengkulak-tengkulak tingkat atas ini ada yang setingkat Direktur Jenderal, pegawai negeri, tetapi kaya raya. Dia menggunakan uangnya yang menganggur berlebih-lebihan, hanya demi untuk menambah keuntungannya. Kalaupun karena keisengannya ini uangnya akan bertambah dengan satu juta Dollar Amerika Serikat, maka kata hatinya akan Cuma: “Ah, just another million Dollars”Ah toh hanya sejuta Dollar yang lain (baru) lagi. Jadi si Tuan Untung Besar ini cuma memainkan uangnya seperti di arena perjudian. Tetapi apakah dia main-main di minyak tanah? Mungkin ya, saya tidak tahu. Tetapi yang saya ketahui yang menyangkut jutaan USDollars di atas menyangkut minyak solar. Minyak solar kan disubsidi oleh Negara melalui pemerintah untuk bidang-bidang industri tertentu. Permainan Tuan Untung Besar ini adalah dalam beda harga disubsidi dengan yang tidak disubsidi. Tetapi dasar sifat tamak dan merasa benar terus, menghinggapi uang yang tidak bersedia diam tetap di tempat, maka masih ada yang mengunggulinya lagi. Tuan Untung Besar ini tidak menjual kepada pihak industri yang membutuhkan membeli minyak solar dengan harga yang lebih rendah daripada harga tanpa subsidi. Dia menjualnya ke pasaran di luar negeri dengan jalan menyelundupkannya dibantu oleh sejawat-sejawatnya yang juga pegawai negeri dan aparat yang memiliki fasilitas pengangkutannya. Di luar negeri harga solar dapat dijual dengan harga yang lebih menguntugkan.

Bagaimana sekarang aku menilai kelakuan Tuan Untung Besar? Dia aku golongkan sebagai orang yang meraup untung tidak halal. Apa pasal?

Tadi sudah kita ketahui bahwa ada subsidi.

Subsidi adalah bentuk keikut sertaan dalam masalah kerugian Negara melalui pemerintahnya, untuk menunjang kaum pengusaha kecil dan rakyat jelata, agar tidak terlalu menderita dalam menghadapi serangan buruknya ekonomi. Wah, alangkah merdunya itu terdengar oleh telingaku. Kalimat itu sungguh mengharukan hati. Sudah agak lama aku merindukannya.

TETAPI. Ya, TETAPI!!

Jumlah subsidi yang digunakan untuk ikut membayar kerugian-kerugian itu, menggunakan uang apa dan uang siapa. Ini misteri besar bagi otakku, karena bukan saja uangnya tidak kelihatan, dan memang tidak kelihatan olehku, akan tetapi aku hanya melihat bahwa jumlah besarnya subsidi itu telah diselewengkan oleh Tuan Untung Besar bersama dengan konco-konconyakolega, sahabat, kroni, teman nya (dalam nada yang kurang nyaman/enak) sebenarnya adalah hak orang kelas bawah. Kalau yang sebenarnya bisa menerima subsidi itu sebuah pabrik mi instan yang dibeli oleh rakyat kebanyakan, maka rakyat kecillah yang membayar harga jual ecerannya. Kok bisa?? Harga jual mi instan itu terpaksa dijual lebih tinggi lagi karena subsidi yang diperlukan oleh pabrik mi instan tidak jadi diterima dengan jumlah yang benar. Mana ada industrialis mau rugi? Harga bahan baku naik, bukan karena biaya produksi, tetapi karena kelangkaan. Conto: Solar yang diselundupkan ke luar negeri itu. Begitulah Tuan Untung Besar tetap merasa berbisnis dengan pedoman bisnis normal, tanpa rasa bersalah mengekspor dengan cara selundupan pula, solar yang berasal dari solar bersubsidi.

Dunia tetap berputar, dan itulah salah satu sebab mengapa aku susah percaya bahwa masyarakat adil dan makmur bisa akan terwujud.

Setidaknya selama aku masih hidup, itu pasti tidak akan terwujud, tidak menjadi kenyataan.

Urusan minyak dari tingkat masyarakat yang paling rendah sampai yang tertinggi lebih banyak menampakkan mukanya yang membuat hati pilu. Minyak ternyata tidak membawa manfaat yang seperti diharapkan. Di negara-negara kaya minyak, rakyat tetap melarat, susah tertolong. Aku pernah menginginkan dengan kuat sekali agar minyak kita berhenti ditambang, seperti aku tulis beberapa hari yang lalu, karena yang mendapat rejeki besar dari minyak hanya segelintir orang saja di Indonesia.

Sisakan untuk anak cucu.

Reaksinya sudah aku baca dan tangkap dari para pendengar dari maksudku itu, pada umumnya reaksinya adalah bahwa aku orang yang kurang waras.

Bagaimana kita bangsa Indonesia bisa hidup?

Ya kalau kita menjadi orang miskin, aku pun rela dan mau, tetapi semua lapisan masyarakat juga harus miskin. Naik kereta api tidak usah berpendingin ruangan. Pabrik mobil pribadi ditutup dan kita makan nasi campur jagung serta tidak terlalu minum yang manis-manis.

Mau menjadi kurang waras seperti aku?