Tuesday, January 01, 2008   Dalam perjalanan ke Australia dari Toronto dan sesuai dengan flight schedule yang ada, tanggal 31 Agustus 1997 saya singgah di Los Angeles menginap di sebuah hotel di Marina Del Rey. Saya yang kelelahan karena melakukan perjalanan nan jauh, menyeberang Lautan Pasifik dari Indonesia ke Kanada sebelum rute ini, terlelap tidur di luar normal dan terbangun agak tengah malam. Ternyata pesawat televisi tetap menyala karena terlupa mematikannya.

 Terbangun karena suara pembaca berita yang banyak menyebut nama Lady Di, Lady Di, Diana Spencer, saya kurang menyadari apa yang terjadi sampai dengan jelas saya dengar bahwa Lady Di mengalami nasib buruk dan meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Diana meninggal dan bagaimana dia meninggal saya memang kurang sekali memperhatikannya, saya pun kembali tidur setelah mematikan pesawat televisi. Begitulah saya, memang sejak sekitar enambelas tahun sebelumnya bersikap biasa saja melihat pasangan Diana Charles yang dipuja dan dipuji oleh masyarakat di Inggris, masyarakat internasional dan juga masyarakat perempuan di Indonesia. Saya melihat mereka ini seperti boneka Cinderella yang ditaruh di dalam display box-kotak pamer yang dipamerkan untuk umum. Dengan menekan perasaan, saya melihat sebagian masyarakat kita yang kagum sekali terhadap penampilan mereka yang cakap dan pantas sesuai dengan kekayaan yang mengelilingi kehidupan mereka. Di antara masyarakat sekeliling yang amat kagum itu, saya terpaksa mengeluarkan pandangan saya pribadi yang nyata-nyata tidak sejalan dengan pandangan orang banyak. Saya menganggap orang hanya kagum kepada penampilan mereka dari luar atau lahir saja.

Sama sekali saya sendiri tidak mendengar atau mengetahui, karena memang tidak diberitakan, tentang prestasi mereka, tentang kualitas dan hasil karya mereka berdua.

Pengetahuan saya mengenai hal ini amat terbatas sekali dan saya tidak dapat memperoleh materinya. Oleh karena saya memang kurang bisa menghormat kepada kedua orang ini seperti dilakukan banyak orang, maka saya tambah kurang suka mengikuti berita apapun mengenai mereka. Hanya kadang-kadang saja secara on and off saya sempat mendengarkan. Saya tidak membenci mereka tetapi saya juga tidak suka dengan segala macam tingkah yang terlihat disajikan oleh media dengan besar-besaran. Jadi saya sukar membedakan mereka berdua atau berita media tentang mereka, yang saya tidak menyukainya. Mungkin pemberitaannya yang out of proportiondi luar proporsi yang pantas. Apakah mereka sepantasnya apabila saya pasang sejajar dengan Barbie Doll dan Ken pasangannya. Saya tidak bermaksud bersikap rude-kurang hormat atau keterlaluan, berkata seperti ini. Bertolak belakang masalahnya ketika saya “melihat” Kaisar Showa (Hirohito), yang adalah ayah dari Kaisar Akihito, yang sekarang sedang menjabat di negara Jepang. Kaisar ini pada usia senjanya menemukan bibit padi unggul yang bisa digolongkan sebagai penemuan ilmiah. Dia membuktikan dirinya dalam usia setua itu sebagai seorang ahli biologi yang cukup handal. Memang kalau mendengar pemerintah dan pers Amerika Serikat, hampir pasti yang terdengar adalah kekejaman Jepang menyerbu Pearl Harbor di Hawaii dan negara-negara lain yang kemudian dijajahnya. Hirohito digambarkan sebagai orang yang memang rude dan tidak berperikemanusiaan dan tidak patut diampuni, sehingga patut dikutuk oleh dunia internasional. Yang tidak atau kurang diberitakan adalah kekejaman akibat dijatuhkannya bom-bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, yang brutal meluluh lantakkan kehidupan sekian banyak manusia dengan dua kali berupa ledakan dahsyat. Kurang diekspos oleh media kekejaman-kekejaman perang yang dilakukan oleh pemerintah musuhnya yakni Amerika Serikat, baik selama perang Dunia Kedua maupun setelah perang-perang lainnya.

Seorang celeb intellectual yang lain, yang sesungguh-sungguhnya adalah seorang yang serba bisa, meniup klarinet, saxophone dan alat musik lain, serta mendalami ilmu-ilmu khusus. Nama beliau adalah Bhumibol Adulyadej (saya mendengarkan baik-baik dan dengan sungguh-sungguh seorang Thailand mengucapkan nama beliau dengan bunyi: Phumiphon Adunyadei), Raja Negara

Thailand. Beliau malah satu-satunya Raja Thailand dan mungkin sekali adalah hanya satu-satunya Raja di dunia yang memiliki Hak Paten. Paten yang dimilikinya ini ada beberapa buah. Sebuah Hak Paten bernama “Chai Pattana” yang dikeluarkan (1993) untuk aerator = mencampurkan udara kedalam air dan khusus dalam hal ini adalah air buangan (waste water). Ada paten-paten lain mengenai Rainmaking (hujan buatan). Meskipun lahir pada 5 Desember 1927, paten-paten ini ada yang didapat pada tahun 1999 dan 2003. Seperti halnya dengan Kaisar Hirohito,yang berprestasi dengan bibit unggul padi pada usia 77 tahun maka Raja Bhumibol Adulyadej berprestasi pada usia 76 tahun, dan usia sekarang Raja Thailand ini adalah sama dengan Queen Elizabeth: 80 tahun.

Saya hanya bisa berkomentar : siapa takut??

Saya memang melihat pemberitaan besar ketika Pangeran Akihito berpacaran menikah dengan gadis bukan orang dari kalangan bangsawan, Michiko Shoda. Kalau pasangan yang ini, memang benar mirip dengan Cinderella yang beruntung nasibnya. Inilah untuk pertamakalinya di Jepang ada kejadian seperti ini.

Beritanya juga sebenarnya setara dengan Diana Charles, tetapi dalam hal pasangan Jepang ini mereka diberitakan dengan discreetsopan tidak terlalu lama digembar-gemborkan oleh media.

Saya amat perhatian terhadap peristiwa masalah courtshipmasa berpacaran ini, karena saya pada waktu terjadinya move-gerakan yang berupa indikasi pacaran mereka, saya sedang bertempat tinggal persis disebelah rumah keluarga Shoda di Gotanda, Meguro-Ku, Tokyo berbatas tembok saja.

Dari jendela dapur di mana saya sering memasak makanan saya, kalau kebetulan saya memasak cara Indonesia, sering muncul melalui jendela dapur, kepala pak Hidesaburo Shoda, ayah Princess (sekarang Empress) Michiko, yang orang kaya miliarder.

Hidesaburo Shoda adalah pemilik dari Nisshin Flour Milling Co sebuah perusahaan pembuat tepung yang terbesar di Jepang. Waktu beliau meninggal pada usia 95 tahun setelah dirawat selama satu tahun lamanya, beliau ditunggui oleh anak sulungnya Michiko yang sekarang adalah Permaisuri dari Kaisar Akihito yang merupakan kaisar Jepang yang ke 125. Meninggalkan warisan sebesar 3 koma 3 billion Yen ( senilai kali 80 dalam Rupiah). Permaisuri ini menolak untuk menerima pembagian warisan, mengingat Michiko sekarang bukan lagi orang kebanyakan dan atas segala gerak dan geriknya ada yang mengatur di lingkungan KeKaisaran Jepang.

Itulah mengenai ayah Michiko Shoda sang Permaisuri Jepang, Tuan Hidesaburo Shoda yang meninggal di St. Luke’s Hospital dimana saya sendiri pernah dirawat pada tahun 1961 untuk operasi usus buntu (appendectomy).

Beliau ini pernah menanyakan kepada saya sedang masak apa, mungkin karena tercium bau masakannya yang tidak biasa untuk hidung seorang bangsa Jepang.

Dua hari yang lalu saya melihat sebuah film yang mengisahkan perjalanan hidup ratu Elizabeth Dua yang memerintah lebih dari lima puluh tahun lamanya dan sekarang usianya telah mencapai usia 80 tahun. Judulnya The Queen, yang dibuat berdasarkan bukunya dengan judul yang sama, karangan Stephen Frears. Salah satu bagian terbesar film itu mengisahkan mengenai kejadian-kejadian setelah meninggalnya Lady Diana. Bagaimana gegap gempitanya mereka menanggapi kehidupan pribadi serta tingkah laku para celebrities yang berasal dari istana Buckingham itu, antara lain Lady Di.

Sejak peristiwa Princess Margareth dengan tukang potret Snowdon yang kemudian karena perkawinan diberi gelar Lordgelar kebangsawanan kerajaan Inggris menjadikan panggilan lengkap terhadap dirinya menjadi Lord Snowdon. Kemudian media Inggris berturut-turut memberitakan berita yang macam-macam bersifat gossip ataupun bermuatan gossip tentang keluarga kerajaan.

Isinya adalah skandal-skandal yang sifatnya murahan dan amat menurunkan derajat mereka di mata orang banyak.

Hal ini tentu saja termasuk di pandangan mata saya. Apalagi saya pernah membeli sebuah postcard yang memperlihatkan Pangeran Charles sedang memasukkan tangannya (merogoh) melalui bagian depan pinggang celana Polonya disamping seekor kuda dan memegang anunya. Photo dalam full colour!! Post-card seperti ini dijual di sebuah toko cindera mata di dekat Hyde Park di London.

Tetapi kelakuan yang diberitakan, biarpun itu keluarga kerajaan Inggris sekalipun, tidak kurang kejelekan mutunya adalah justru mutu berita koran gossip, yang terkenal disebut sebagai tabloid gossip dalam memberitakannya.

Kaum celebrities dan media tabloid gossip sungguh pasangan yang serasi dan kadang-kadang bersifat simbiose mutualistissaling menguntungkan. Media dapat menarik perhatian pembacanya yang mungkin sekali memang menyukai gossip-gossip, yang berarti bertambahnya nilai uang hasil penjualan.

Para celebritiestokoh-tokoh terkenal, memperoleh kemasyhuran yang berlebih sebagai akibat popularitasnya. Yang terakhir inipun tidak kurang juga menyebabkan bertambahnya nilai uang yang diterimanya sebagai akibat kepopulerannya. Tambah terkenal dan mendapatkan uang penghasilan yang bertambah pula. Para pemerhati berita seperti ini yang dilakukan oleh tabloid gossip dan mendapat bantuan penuh dari para paparazzitukang photo tersembunyi yang professional yang mencari keuntungan besar memanfaatkan gossip untuk mencari nafkah dan penghasilan yang bersifat hit and runkadang-kadang sekali gebug hasilnya besar.

Sebenarnya apa sih yang melatar-belakangi sikap saya kepada kedua pasangan pangeran dan putri pangeran ini?

Ya, saya kira saya mngkin sekali karena mengharapkan sesuatu yang ternyata bukan fatetakdir, nasib mereka. Mereka, harap saya, “semestinya bisa bertindak sesuai” dengan derajat dan fungsinya yang terhormat di dalam masyarakat bawahannya. Dalam hal pasangan Jepang ini saya tidak membaca urusan perbuatan penyimpangan dalam masalah perkawinan yang bisa mengundang perhatian media tabloid gossip tersebut di atas. Tetapi sayang sekali tidak demikian halnya terhadap pasangan celebrity kerajaan Inggris ini. Tabloid terus menerus menabuh genderang gossipnya secara extravagancepemborosan, luarbiasa. Saya tidak habis pikir, dengan kekayaan dan dengan kekuasaan seperti yang mereka miliki, urusan pribadi seperti penyelewengan perkawinan yang begitu, bukankah bisa dilakukan dengan sedikit discreetsopan santun dan halus, tanpa menjadi konsumsi publik? Tanpa hingar bingar dan bersifat urakan?

Bukankah masalah bahan gossip seperti ini terjadi di kerajaan-kerajaan Monaco, Negeri belanda, Spanyol dan Jerman serta Solo dan Yogya? Mereka para RoyalsYang maha mulia itu seharusnya bisa bersikap menahan diri dan tidak kekanak-kanakan (childish).

Presiden John Fitzgerald Kennedy saja, Franklin Delano Roosevelt saja, bahkan Dwight D. Eisenhower saja, juga terlibat masalah seperti ini. Bukan hanya Bung Karno saja. Para Pendeta yang terkenal di Amerika Serikat/ Para Kyai celebrity di Indonesia dan Malaysia. Juga para anggota dpr RI. Jadi harapan saya memang terlalu tinggi kalau mereka tidak mampu menutupi masalah-masalah pribadi seperti ini. Pada jaman sekarang sebenarnya kan sudah bisa disewa Public Relations Man untuk menangkis dan mencegah hal-hal yang kurang pantas dari mata publik? Jadi kelihatannya memang para celeb itu menjadi pasangan yang serasi dengan media pemberita gossip, serasi, akur dan berbetulan.

Dalam film THE QUEEN, Ratu Elizabeth itu juga terlihat dalam adegan-adegan yang memperlihatkan hatinya sedang galau, kalut, karut-marut, demikian juga muka PM – Perdana Menterinya, Tony Blair, seperti diteku berlipat-lipat yang menjadi terpaksa sering bertentangan pendapat.

Sang Ratu mempertahankan establishment- penegakan/pendirian adat yang ada dan sang PM juga berusaha menyampaikan aspirasi rakyat yang ingin Diana ditaruh sebagai seorang Royal seperti layaknya. Padahal menurut pendapat sang Ratu, Lady Di bukan lagi seorang Royal karena status perceraiannya sudah diresmikan dan dicabut gelarnya, dengan demikian dia tidak usah dimakamkan dengan gaya kebangsawanan.

Bagi saya, terlihat dan terasa alangkah beratnya beban gelar seperti telah saya tulis dalam tulisan yang lalu berjudul Gelar.