Memahami sesuatu yang dasar, basic, dengan baik dan benar akan menolong diri sendiri terlebih masyarakat banyak. Beberapa jurnalis sering salah tulis soal global warming (pemanasan global) dengan global warning, misalnya. Salah tulis sekaligus salah maksud.

  

Di isu soal bahan bakar alternatif. Sejak minyak mentah di pasaran dunia
melambung, kini sudah mencapai US $ 100/barel, pemerintah menggalakkan bio
energi, khususnya bioetanol dan biodiesel. Maksud dari kalimat ini adalah:
mencampur premium dengan 20% etanol - - volume maksimum yang baru cocok dengan
jenis mesin kendaraan, seperti untuk Ford Focus. Ini sesungguhnya yang disebut
bioetanol.

TAK JARANG JURNALIS menulis bioetanol itu adalah memakai etanol 100% - - yang
bila demikian adanya, mobil tak akan jalan plus harga akan sangat mahal. Jadi
bio etanol tetaplah bahan yang menggunakan maksimal bahan bakar fosil, yang tak
terbarukan itu. Itu artinya menghimbau pakai bio etanol, bila sehari dimisalkan
komsumsi BBM 1 juta barel minyak mentah, maka dicampur dengan 20% etanol, akan
menghemat 200.000 barel minyak mentah yang tak terbarukan dari perut bumi itu.

Begitu juga untuk bio solar. Ia adalah pencampuran HSD (Hig Speed Diesel atau
minyak diesel, dan atau yang disebut solar itu) dengan bahan bakar nabati dari
turunan sawit, jarak, atau tanaman lain yang terus dikembangkan. Artinya tidak
100% persen minyak jarak lantas jadi biosolar.

Bila diurut hal-hal begini banyak sekali terjadi dalam penulisan. Akibatnya,
disebuah koran saya membaca artikel, ada sosok penemu tanaman penghasil etanol,
padahal maksudnya tanaman yang bisa menghasilkan etanol. Lalu ia mampu
menjualnya untuk langsung dipakai untuk mobil, motor. Logika ini tentulah
keliru. Keliru dari sisi nilai ekonomi, keliru dari sudut teknis. Tapi apa
lacur, sang sosok, yang sesungguhnya juga bukan penemu, tampil di koran dan
ditulis dengan penyampaian salah kaprah.

Begitulah langgam media kita.

Wassalam,
www.iwanpiliang.blogspot.com