Bandung, 28 Desember 2007   Betapa sering kita menyaksikan di panggung politik di tanah air tercinta, adegan- adegan di mana para elitnya sering sangat reaktif, mencak-mencak sewot bilamana dikritik oleh anggota masyarakat. Dengan amat segera dan penuh emosi, mereka menangkis dan melontarkan respons emosional yang menyerang balik. Rupanya mereka ini tidak tahan menerima  kritikan. Mereka merasa ‘benar’ sendiri – orang lain tidak mungkin ‘benar’. Keangkuhan semacam ini tentu saja tidak memungkinkan mereka bisa melihat permasalahan dari sudut pandang pengritik.

Pada hakekatnya, kan berbeda pendapat itu sesuatu yang lumrah, biasa-biasa saja? Apa sebenarnya yang membuat seseorang bisa bertingkahlaku seperti ini?

Saya mencoba menelaah dari sisi sistem pendidikan kita. Dunia pendidikan kita nyaris tidak pernah memberikan kesempatan kepada para siswanya untuk melatih diri guna memperoleh ketrampilan berdiskusi dan berdebat, menyatakan dan mempertahankan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain dan mencoba melihatnya dari sudut pandang orang tersebut, ataupun menyanggahnya. Padahal, kita semua mahfum betapa pentingnya memiliki ketrampilan ini bila kita sudah terjun di masyarakat.

Di negara maju, pelatihan semacam ini sudah diperkenalkan sejak dini. Sejak sekolah dasar anak-anak mulai diajarkan berpresentasi di depan kelas, kemudian teman-temannya diminta mengajukan pertanyaan yang lalu dijawabnya. Dengan metode elementer, sesuai nalar usianya, siswa sudah dilatih menyatakan pendapat, bertanya, menyanggah dan mempertahankan pendapat. Kita semua tentu mengagumi betapa anak-anak di negara maju bisa tampil penuh percaya diri (PD) bilamana diwawancara, baik itu di TV ataupun radio. Mereka dengan lantang, cerdas dan jelas menjawab pertanyaan yang diajukan. Tidak ragu-ragu.

Bukan saya bermaksud memperolok, tetapi sedih menyaksikan seorang remaja kita menjawab pewawancara, ‘apa hobimu’? Dia bilang: Hobi saya makan baso. Wah! Hobikah itu? Kalau saja ia sudah terlatih, tentu dia sudah tau apa arti hobi. Dilatih dan berlatih akan membukakan cakrawala pengetauan lebih luas. Ia akan terpaksa mencari ‘ilmu’ untuk melengkapi pengetahuannya agar tampil PD. Ia tidak mau tampak boodoo, seadanya di depan forum.

Pertama kita harus melatih diri agar mampu menyatakan pendapat dengan baik dan mudah dimengerti orang. Kita wajib memformulasikan pendapat dan pikiran kita secara terstruktur dan jelas. Kemudian itupun masih harus diberi ‘kosmetik’ sedikit agar orang lain bisa dan mau menerimanya. Kosmetik di sini tidak bermakna direkayasa secara negatif dengan aneka manipulasi. Tapi lebih kepada ketrampilan menekankan kehebatan isu yang kita bawa dengan cara yang memikat. Ketrampilan semacam ini memang perlu persiapan yang matang – yaitu mencari informasi dari berbagai sumber: buku, Internet, dsb.

Berikutnya, kita harus melatih diri untuk mendengarkan pendapat orang lain dengan sepenuh hati, earnestly, dan mencoba mencerna dan memahaminya. Bila perlu, mengajukan pertanyaan guna lebih memperoleh informasi yang jelas guna menghindarkan salah tangkap maksud pembicara. Tentu saja memahami tidak selalu berarti kita ‘menerima dan menyerah’. Setidaknya, kita tau bahwa orang lain pun punya pikiran dan pendapat yang berbeda dengan kita. Dan itu, sah sah saja.

Bilamana kita dengan baik mempersiapkan dan melengkapi diri dengan aneka pengetahuan yang terkait dengan isu yang dibahas, tentu kita lebih mampu mempertahankan pendapat kita dengan baik pula. Dan seandainya toh forum akhirnya lebih menyetujui pendapat yang lain, maka kita pun sudah lebih legowo menerimanya, tanpa perasaan malu karena tersisihkan.

Kebanyakan dari kita melatih diri dengan ikut aktif di organisasi, baik siswa atau mahasiswa. Namun banyak pula yang tidak sempat berorganisasi, mereka baru ‘ngeh’ akan kekurangan mereka dan langsung belajar di kawah candradimuka, yaitu dalam rapat-rapat organisasi atau perusahaan di mana mereka bekerja. Canggung karena belum terlatih akan membuat mereka sering menjadi ‘penonton diam’. Mereka butuh waktu lebih lama untuk memperoleh ketrampilan yang sederhana sekalipun. Di usia yang tidak muda lagi, karakter dan pribadi mereka sudah kadung terbentuk. Mereka tidak mudah menerima pendapat orang lain. Mereka sulit sekali diajak mencoba melihat suatu isu dari sudut pandang orang lain. Karakter dan pribadi yang telanjur terbentuk kokoh telah menafikan silang pendapat, pertukaran pendapat.

Menyadari semuanya ini, saya sangat menganjurkan agar ketrampilan berdiskusi dan berdebat dilatih sejak dini, mulai dari tingkat sekolah dasar. Pelatihan dapat dimasukkan dalam bentuk metode pengajaran berbagai mata pelajaran. Pelatihan dapat juga dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Sudah tiba saatnya kita membekali kawula muda kita, para calon pemimpin masa depan kita, dengan melatihnya menjadi orang yang tangkas berbicara dan kuat mempertahankan pendapatnya. Cerdik dan cerdas berargumentasi. Sigap namun lentur berdiplomasi. Dan di sisi lain, melatihnya menjadi orang yang santun, rendah hati dapat menerima pendapat orang lain. That is exactly what Budaya Silang Pendapat is all about.