Kamis, 27 Desember 200   Kata dalam judul di atas mempunyai banyak arti, ungkapan dan kata padanan dalam banyak bahasa mulai bahasa Indonesia: centang perenang, bahasa Jawa: awut-awutan, kisruh, bahasa Betawi: berantakan, berarakan dan lain-lain seperti bahasa yang sudah arkais (antik, kuno, lama, lawas, obsolet, purba, tua, usang, primitif): berpesai-pesai, berserakan, cerai berai, kacau-balau, kelut-melut, kibang-kibut, serabutan, keruntang-pungkang, morat-marit, porak-parik, semrawut, rondah-randih, tersara bara dan tidak keruan serta masih banyak lagi. Itu adalah sebagian yang saya kutip dari sebuah buku tesaurus. Entah apa pula yang akan tercantum di dalam kamus bahasa Indonesia. Ini saya tulis sebagai tambahan gambaran bagaimana amburadulnya (ini adalah kata dalam bahasa apa? Saya meyakini anda semua paham artinya) yang digambarkan dalam tulisan Gus Solah (Pak Salahuddin Wahid) di http://www.superkoran.info dengan judul DAK TENTU. Wah saya tersenyum dikulum membayangkan bagaimana telinga saya “mendengar” logat Madura ini seperti disebutkan. Cengkoknya jelas “terdengar” lucu di pendengaran saya. Tepat benar, lucu didengar, tetapi sedih dirasakan, bagaimana morat-maritnya kondisi usaha dunia penerbangan kita. Ya saya ingat dahulu kala pada awal tahun enam puluhan, saya sempat mendengar singkatan yang di pelèsètkan dan disukai sebagai lelucon/joke.

 

Memang joke ini hanya terbatas bagi yang mengerti bahasa Inggris.

Suka ataupun tidak suka saya hanyalah bisa menelan ludah saja, menahan marah dalam hati.

Bayangkan saja begini sih bunyinya: Good And Reliable Under dutch Administration (Baik dan bisa diandalkan dibawah administrasi belanda). Waktu itu masih banyak terdapat orang berkulit bule di dalam cockpit-cockpit dan di kantor-kantor Garuda Indonesian Airways. Setelah tahun enam puluhan singkatan Garuda berubah menjadi sedikit nasionalistik: Good and Reliable Until Delay Announced (Baik dan bisa diandalkan sampai dengan diumumkan terlambat keberangkatan).

Apakah sekarang saya masih marah? Tidak marah lagi!

Memang seperti disebut oleh tulisan sdr. Budiman AM berjudul Budaya Tepat Waktu yang juga dimuat di superkoran.info, terkesan jam karet (rubber time) adalah sebuah budaya yang sudah bersifat nasionalistik. Memang banyak sekali lelucon mengenai singkatan-singkatan nama perusahaan penerbangan di seluruh dunia, tetapi yang mengena di negara kita adalah Garuda, Merpati (Merana Sampai Mati), Sempati (Sempoyongan Sampai Mati) dan lain-lain tetapi saya kurang berani menyebutkan lebih banyak lagi, saya sudah agak khawatir juga akan diberi stempel tidak nasionalis. Apalagi apabila dianggap terlalu sinis kepada kondisi bangsa kita yang sedang susah, sedih, nestapa dan dirundung malang di dalam segala segi kehidupan. Seorang yang bersemangat tinggi yang tidak sempat mampu mencapai apa yang dicita-citakannya, setelah selesai masa kerjanya malah ingin sekali mulai melaksanakan penyelesaian cita-cita luhurnya itu.

Begitu bersemangatnya dia sehingga dengan kondisinya saat ini di mana dia sudah tidak lagi memiliki kemampuan, kewenangan dan formalitas, dia menjadi lupa bahwa dia tidak lagi seperti dulu. Ketidak-mampuannya tampak meluber, dan ini ditimpakan dan ditembakkan kepada orang lain dengan sedikit sumpah serapah bagi mereka yang sudah sadar diri merasa tidak mampu, tidak bisa mengikuti keinginannya itu yang akan dilaksanakan di dalam pasca bekerja memasuki masa istirahatnya itu. Dengan agak leluasa dia menggunakan kata-kata dan istilah-istilah yang mengindikasikan: tidak tanggap masalah kebangsaan. Adalah hak dia untuk berkata apapun, karena untuk mengatakan apapun, tak seorangpun perlu minta ijin kepada Polisi, apalagi memerlukan Fatwa MUI.

Ini negara bebas, bebas menjadi apapun termasuk menjadi kaya dan menjadi miskin. Bebas untuk berkata apapun, mengeritik siapapun, itu adalah Hak Azasi Manusia, begitulah kata sahibul hikayat.

Untuk maksud ini maka terciptalah kata baru yakni kritisi, yang menurut seorang pengamat yang ahli bahasa Indonesia di salah satu media: bukan kata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengkritisi sebaiknya tidak lagi digunakan dan menggantinya dengan kata: mengkritik, yang memang sudah ada sejak semula. Menurut dugaan dia: kritisi itu asal katanya dari bentukan kata bahasa Inggris: criticize, dan kritisi memang hanya benar apabila digunakan sebagai pengganti dari kata kritikus (kata benda pengganti orang). Dalam hal saya melakukan dan menulis kritik-kritik seperti sedang saya tuliskan ini, saya sedang melakukan pekerjaan seorang kritisi atau kritikus.

Dari segi usaha penerbangan dan bahasa saja, banyak sekali pengertian kata-kata yang telah dipakai sehari-hari sudah berubah menjadi bias, karena Dewan Bahasa Indonesia tidak mampu secara berwibawa mengatur kebahasaan kita yang amat esensial dalam berbangsa dan bernegara.

Bukan sedikit banyaknya bidang yang mencakup arti kata-kata yang tercantum di atas yang disebutkan di bagian awal kalimat tulisan ini. Bidang pengajaran? Korupsi? Moral? Agama? Politik? Hukum apalagi, lalu bidang mana yang masih bisa digolongkan aman dan baik serta nyaman dalam pemakaiannya, sebagai penunjang hidup manusia yang hidup di Indonesia?

Apakah kita sebaiknya tidak peduli? Atau bahkan masa bodoh? Apa ini sebuah sikap yang patut atau sebuah pendirian seseorang yang benar?

Ah, saya ingat apa kata-kata si orang pendek dan terkesan kontet/kerdil yang termasyhur, Napoleon Bonaparte.

Dia mengatakan menggunakan kata-kata lugas dan jelas mengenai uang, sebagai berikut:

When government is dependent upon bankers for money, they and not the leaders of the government, control the situation, since the hand that gives is above the hand that takes. MONEY HAS NO MOTHERLAND; FINANCIERS ARE WITHOUT PATRIOTISM AND WITHOUT DECENCY; THEIR SOLE OBJECT IS GAIN (Ketika pemerintah amat tergantung dalam masalah keuangan kepada para bankir, mereka dan bukan para pemimpin di dalam pemerintahan, yang memegang kendali situasi, karena tangan yang memberi berada di atas tangan yang menerima. Uang tidak mempunyai Ibu Pertiwi, para pembiaya dan pemberi modal tidak memiliki patriotisme dan tanpa memiliki sopan santun; sasaran utamanya dan segala-galanya adalah hanya berupa penambahan dan peningkatan keuntungan modal).

Apakah mereka, para pemodal itu memang bersalah? Saya sendiri condong tidak bisa menyalahkan mereka.

Kalaupun ada yang harus disalahkan maka sebaiknya kita menunjuk kepada ajaran yang dianut oleh mereka, bahwa uang itu memang sama sekali tidak mempunyai kawan, bahkan tidak mempunyai sanak saudara sekalipun.

Dapatkah kita sekarang menerima dan menyatakan bahwa kita telah dapat memahami tingkah laku pelaku politik sebuah negara yang tidak peduli kepada rakyat lagi, dan membiarkan para politikus itu sibuk dengan hal-hal sepele yang tidak produktip? Tampak makin nyata bahwa para politisi itu memberi perlakuan rakyat jelata seperti para bankir memberi perlakuan terhadap uang?

Suasana amburadul dan centang perenang meliputi seluruh usaha yang ada sangkut pautnya dengan usaha yang dikerjakan oleh Negara melalui pemerintahnya. Usaha-usaha seperti ini dilakukan dengan pretensi demi melindungi rakyat, maka sebaiknya dikelola oleh Negara. Dalam undang-undang dasar kita kan disebutkan bahwa kekayaan di dalam bumi Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kehidupan dan kesejahteraan rakyat jelata. Apa benar memang demikian? Bunyi undang-undang memang amat bagus, beautifulindah, akan tetapi semua orang tahu bahwa implementasinya selama ini telah membuktikan yang sejahtera karena pertambangan adalah sama sekali bukan rakyat jelata. Di Indonesia Tuan Suharto, Tuan Ibnu Soetowo, Tuan Aburizal Bakrie, Tuan Arifin Panigoro dan beberapa gelintir orang saja.

Yang mulia dan sejahtera memang sedikit. Di dalam kalangan penambangan minyak di dunia ada Sultan Bolkiah di Brunei dan orang-orang kulit putih di negara Barat, yang memegang erat dan kuat semua teknologi “katanya”. Percaya atau tidak, terserah kepada anda.

Hanya orang-orang kaukasian inilah yang menguasai teknologi dan kegiatan penambangan minyak di Iran, Irak, Venezuela, dan negara manapun yang kaya minyak. Semua rakyat jelata di seluruh negara yang kaya minyak itu, tidak dapat ikut menikmati hasilnya dengan pantas dan wajar. Lalu bagaimana mungkin saya dapat mengerti apalagi ikut memahami Pertamina yang sudah puluhan tahun beroperasi, tetapi masih tidak dapat menguasai teknologi yang dimaksud secara mandiri? Kalau menunggu Transfer of Technology itu hampir tidak mungkin. Curi saja!! Kenapa tidak?? Mencuri uang rakyat mau!

Mencuri hak rakyat mau juga!!

Hal ini termasuk dan utamanya terjadi di Arab Saudi.

Hanya keluarga Raja dan Pangeran saja yang menjadi kaya, rakyatnya belum pantas disebut kaya, despitemeskipun, walaupun telah berjuta-juta barrel yang telah diproduksi selama ini. catatan: –(1 barrel= 42 gallon; 1gallon=3.785 liter atau beratnya = 3.104 kilogram)–.

Idealnya memang seperti disebutkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia itu dan untuk itu telah dibuat aturan dan undang-undang yang menujukan ke arah maksud mulia tersebut. Hanya saja dalam pelaksanaannya, pemerintah melakukannya dengan menggunakan tenaga-tenaga yang melakukan kesalahan dalam banyak bidang: bidang perdagangan, bidang tata usaha administrasi, serta bidang manajemen keuangannya. Manajemen umum lainnya yang menguasai jalannya perusahaan-perusahaan tersebut juga awut-awutan!!

Perusahaan-perusahaan tersebut lazim disebut sebagai BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Di dalam bidang Perhubungan termasuk di dalamnya adalah Perusahaan Penerbangan Garuda Indonesian Airways, Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI), dan tidak boleh kita lupakan adalah PJKA atau PTKA yang membidangi kereta api. Saya tidak pernah bisa mengingat sejak kita terlepas dari penjajahan, adakah pernah kita membangun jalur baru jalan kereta api? Di pulau Kalimantan dan di pulau Sulawesi serta di bagian Papua Barat? Apakah kondisi kereta apinya sendiri pernah bisa bersaing dengan perusahaan sejenis di negara-negara lain? Apakah Republik Indonesia pernah meraih keuntungan dari Perusahaan BUMN bidang angkutan umum di darat, di laut dan di udara??

Dengan sedih hati saya melihat sendiri amat banyak pimpinan dan para aparat ditingkat Departemennya justru lebih kaya daripada kebanyakan pegawai negeri biasa.

Seperti pada umumnya kalau kita menilai: berapa gaji resminya yang diterima sebagai pimpinan dan sebagai aparat pemerintah dan bagaimana menerangkan kekayaan yang melimpah ruah yang dimilikinya. Ya, kita semua maklum bahwa yang saya sebutkan yang ada di dalam bidang perhubungan itu masih dalam tingkat skala yang kecil sekali apabila dibandingkan dengan yang berskala besar-besar lainnya di bidang-bidang lainnya.

Semua anggota Kabinet yang membawahi BUMNnya, sudah selayaknya untuk memiliki kemampuan melakukan reform-perubahan, dengan menggunakan kebisaannya dan kewenangannya, sudah seharusnya pula untuk sanggup dan bisa melakukan perbaikan dan pembersihan.

Langkah berikutnya adalah merubah status BUMNnya menjadi usaha swasta penuh, dengan pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah. Sudah terbukti selama ini aparat pemerintah tidak menunjukkan kebolehannya dalam mengambil peranan sebagai usahawan yang tangguh.

Mereka selalu merugi dan merugi.

Kalaupun ada laporan keuangan maka saya tidak dapat tidak, tetap saja mencurigai bahwa laporan-laporannya bersifat kosmetik yang bersifat ingin menjaga image-kesan/tampilan para pejabat pemerintah saja. Permainan sulap angka-angka akuntansi bukanlah lagi hal baru. Kalau anda ada waktu, membaca dengan sepintas saja laporan-laporan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), saya duga kuat anda pasti akan mafhum segera.

Kita juga amat prihatin karena sudah tersebar berita bahwa instansi paling koruptif di dalam pemerintahan saat ini adalah Polisi. Saya tidak melupakan bersamaan hari pada pelantikan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Kapolri Jenderal Sutanto, telah mengawali tugasnya dengan kesibukan membuat kontrak-kontrak.

Kontrak-kontrak ini adalah kontrak kerja dengan para Kapolda dan pejabat-pejabat kepolisian lainnya, bahwa dalam kurun waktu yang pendek (kurang dari sebulan), kegiatan judi akan dilenyapkan. Sebuah gerakan yang amat saya harapkan dan memang merupakan sebuah langkah yang patut dipuji, meskipun saya sudah menduga itu bukan sebuah hal yang mudah. Judi adalah kegiatan yang memang sudah ada sejak awal jaman sejarah manusia.

Sejarah juga sudah membuktikan bahwa belum ada satupun keberhasilan memberantas judi secara tuntas, baik menggunakan agama, kekuatan militer dan ajaran budi pekerti sekalipun. Sekarang saya tidak tahu apakah benar judi sudah lenyap di Indonesia, karena saya melihat judi dengan mudah telah dapat dilakukan di setiap rumah yang mempunyai fasilitas internet. Uang judi ditransaksikan melalui bank account – rekening bank secara elektronik.

Apa Polisi mampu mencegahnya?

Saya amat meragukan kemampuan Polisi dalam hal ini dan tentu saja amat yakin juga bahwa tidak mungkin bagi Polisi untuk memberantas, apalagi melenyapkannya. Judi adalah sebagian dari kehidupan manusia.

Kesimpulan mengenai keadaan yang awut-awutan dan amburadul masih bersimaharajalela di seluruh Indonesia. Rakyat minta perlindungan dari Polisi dan ternyata Polisi adalah institusi yang paling tinggi tingkat koruptifnya. Ada conto berupa joke-lelucon: Seseorang kehilangan seekor sapi. Dia diam saja dan tidak lapor. Menjawab pertanyaan mengapa, dia bilang: “Kalau tidak lapor yang hilang hanya satu ekor, kalau lapor mungkin yang hilang akan bertambah, bisa dua ekor bisa juga tiga ekor!!”

“Masyaallaaaaahhh, piyé toch iki .. ??” kata si embok yang jualan jamu gèndong.