Bandung, 17 Desember 2007  Pada tahun 1954 penyanyi Kitty Kallen melantunkan lagu dengan judul Little Things Mean a Lot  yang kemudian menjadi sangat terkenal.

Hal-hal kecil namun sangat berarti. Itu kira-kira terjemahan bebasnya. Tulisan ini tidak membahas tentang lagu tersebut. Tetapi membahas yang berkaitan dengan langkah-langkah kecil yang diambil seorang warga, yang kemudian bermakna besar bagi keseluruhan komunitas, negeri dan dunia.

Saya mulai dengan suatu cerita tentang sebuah episode acara Oprah Winfrey belum lama ini yang mengangkat masalah sadar lingkungan guna mengurangi emisi CO2. Dia bertanya kepada hadirin, di kala kita berbelanja di pasar swalayan, apakah tempat mewadahi belanjaan kita dengan brown paper bag lebih baik daripada kantong plastik  – dan mengapa? Seseorang menjawab, tentu saja brown paper bag lebih baik krn plastik membutuhkan seratusan tahun untuk mengurainya. Oprah menyatakan bahwa jawaban itu salah. Untuk membuat sebuah paper bag dibutuhkan penebangan sekian batang pohon. Belum lagi biaya pembuatannya dan biaya distribusinya.

Kemudian sebagai ‘solusi’, Oprah membagi-bagikan sebuah tas belanja yang terbuat dari katun kepada setiap pengunjung acaranya. Tas dari katun ini dapat dipakai berkali-kali. Dan karena bahannya katun, bila sudah dibuang akan mudah terurai. Selanjutnya, diperagakan betapa masyarakat Amerika sudah sedemikian sadar dengan tersedianya produk-produk ramah lingkungan, mulai dari cairan pembersih kaca, deterjen, dan lain-lain. Sungguh menakjubkan. Dalam acara tsb juga dianjurkan agar warga Amerika mulai mengganti bohlam pijar di rumahnya dengan lampu ‘neon’ yg hemat energi.

Di sini tergambar betapa kesadaran akan pemeliharaan lingkungan dengan sangat efektif dan menarik dicerahkan kepada para warganya.

 

Ada cerita lain, juga dari Amerika Serikat. Saya mempunyai teman, sepasang suami istri yang tinggal di pinggiran (suburb) sebuah kota besar di Amerika. Pasangan ini secara istimewa mencermati lingkungan sekitarnya dan kemudian mengambil langkah-langkah kecil sebagai kontribusinya guna mengatasi isu-isu lingkungan. Mereka sayang pada binatang, apalagi binatang piaraan. Sisa-sisa makanan setiap malam disajikan di suatu tempat khusus bagi para raccoons yang hidup di ‘hutan’ belakang rumahnya. Sebagaimana kita ketahui, kebanyakan rumah di Amerika mempunyai backyard yang biasanya cukup luas dan yang rimbun ditanami pepohonan, nyaris seperti ‘hutan’ layaknya. Para tupai yang menghuni di situ juga mendapat bagian konsumsi. Keluarga ini begitu sayangnya kepada hewan-hewan ini, sampai mereka menikmati betul, mengamati bagaimana hidangan yang disediakan itu disantap para ‘sahabat’nya itu. Di sekeliling rumahnya ditumbuhi aneka tanaman berbunga sebagai tempat bermain kupu-kupu. Di musim ini muncul kupu-kupu kecil kuning, kemudian berganti jenis lainnya yang lebih besar dan warna-warni pula. Semua peristiwa di sekitar rumahnya tidak lepas dari perhatiannya. Mereka mempergunakan serbet dari kain yang dapat dicuci dan meminimalisir penggunaan tissue paper yang sekali pakai dan untuk membuatnya dibutuhkan penebangan pohon-pohon. Mereka secara sadar dan tertib memisah-misahkan sampah dapur sesuai anjuran pengelola sampah setempat. Sampah organik dikumpulkannya dan diproses menjadi kompos. Kantong-kantong plastik dikumpulkan di tempat khusus yang disediakan supermarket guna nantinya didaur ulang. Buku dan majalah yang sudah dibaca diserahkan kepada perpustakaan. Demikian pula baju bekas disumbangkan kepada mereka yang masih dapat memanfaatkannya.

 

Suatu ketika di lokasi tempat tinggalnya, sebatang pohon oak, sedang merana karena ‘sakit’, kemungkinan karena akarnya terkena suatu parasit atau sebab lain. Wah, keluarga ini panik seperti takut kehilangan anggota keluarganya. Mereka repot mencari instansi yang dapat memberikan informasi tentang ‘penyakit’ ini dan bagaimana mengatasinya. Di kala lain, developer lokasi mereka bermaksud menebangi pepohonan di situ. Mereka berdua menggerakkan para tetangganya untuk menentang penebangan dan memprotesnya.

 

Saya bukan orang politik dan tidak suka politik – karena itu saya tidak tertarik untuk mencoba mengerti isu-isu yang baru saja selesai dibicarakan berbagai negara di Bali . Baik itu perdagangan karbon ataupun maksud-maksud politis di balik negosiasi macam-macam isu.  Kebetulan saya membawa cerita dari Amerika – namun sama sekali saya bukan orang yang mengagul-agulkan negara tsb. Saya pun tidak mempermasalahkan kenapa negara tsb sebagai penghasil CO2 terbesar di dunia memojokkan negara-negara berkembang untuk giat mengurangi emisi. Biarlah para ahli dan petinggi membicarakan di tataran yang luhur seperti itu. Kita pun berharap pertemuan itu akan melahirkan suatu kesepakatan yang mudah-mudahan akan membawa dampak yang positif seperti yang kita dambakan bersama.

Kalau begitu, apa maksud tulisan ini? Menyimak dari apa yang sudah diceritakan di atas, saya menyarankan warga kita di lapisan ‘akar rumput’ mulai aware, sadar sesadar-sadarnya akan lingkungan di mana kita masing-masing hidup. Mari kita lakukan langkah-langkah kecil secara konsisten. Setiap kita hendaknya sadar dan ikut mengambil bagian dalam proses ini, sekecil apapun kontribusinya. Kita mulai dari rumah kita masing-masing. Pembuangan sampah yang tertib, hemat energi, baik listrik maupun gas, hemat air. Langkah-langkah kecil seperti ini bilamana dilakukan secara serempak dengan tertib dan disiplin tinggi, pada akhirnya akan membawa dampak bagi komunitas kita. Berikutnya akan terjadi ripple effect ke semua jurusan sampai ke skala nasional.

Little steps mean a lot.

Tulisan ini saya buat atas respons teman saya yang menerima foto pohon terang, Christmas tree, di rumah saya. Istri saya menghias ranting-ranting kering dari pohon bambu di kebun kami. Sebenarnya ini tahun kedua pohon terang kami seperti itu. Dekorasi di rumah kami juga banyak menggunakan daun-daun kering, pelepah bunga kelapa kering, rumput/ilalang kering, anyaman berbagai serat natural dan akar wangi, dsb. Itu memang kesukaan istri saya. Sudah lama sekali kami tidak menghias pohon cemara segar. Memang, kami kehilangan aroma wangi cemara.

 
Saya sadar saya hanya wong cilik saja. Usia dan kemampuan saya pun semakin terbatas. Karena itu saya hanya mampu memperhatikan apa-apa yang dilakukan wong cilik, here at home and abroad. Tetapi sebagai wong cilik saya tidak minder ataupun terkagum-kagum akan kehebatan negara lain. Saya cukup punya keyakinan bahwa ada titik terang di ujung lorong gelap ini. Mari kita semua mengayunkan langkah guna membantu secepat mungkin mengentaskan bangsa kita dari nestapa yang seakan tiada berkesudahan. Pendidikan adalah salah satunya yang akan sangat membantu dalam mempercepat proses tsb.