Sejak SBY memenangkan pilpres langsung dan dilantik sebagai Presiden RI untuk masa pengabdian 2004-2009, saya langsung mengajak kumpul kebo dengan dia tanpa setahu dia, apalagi istrinya. Bagaimana mungkin? Ya, karena hanya kumpul kebo imajiner. Juga saya berkelamin lelaki, bukan termasuk homoseks apalagi lesbian. Jadi ini tidak ada urusan dengan masalah biologis.

Saya kumpul kebo sama SBY karena jatuh cinta dengan pesona yang telah ditebarnya di mana-mana. Memberantas korupsi, menegakkan demokrasi. Implikasinya luas, karena juga berarti menata birokrasi, membangun keadilan dan menegakkan HAM. Alangkah mulia pesona yang ditebar, ibarat bibit ikan semua orang ingin menuai hasilnya.

Tapi izinkanlah saya sebagai istri imajiner mempertanyakan beberapa hal berkait dengan pesonamu itu. Prestasimu memberantas korupsi perlu saya acungi jempol. Belum ada presiden segesit kau, di mana-mana mulai lurah, camat, bupati, walikota, gubernur bahkan menteri, pejabat BUMN, militer, sipil, ya para birokrat di berbagai tingkat, kau sikat karena korupsi. Dalam seminar “Conflict of Interest” yang diselenggarakan KPK, kau bilang pemerintahanmu telah memperbaiki sistem hukum dan yudisial serta menjadikan korupsi sebagai dosa besar dan pelakunya menjadi musuh publik yang tidak bisa ditoleransi (Pembaruan 8/8/07).

Okelah, itu memang tugasmu. Tetapi kenapa kau tampaknya menoleransi tokoh yang duduk di KPK dengan rapot merah? Apakah ini tidak akan membuat rapotmu juga ikut merah? Bahkan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hukum Adnan Buyung Nasution mencurigai partai besar di parlemen mengatur terpilihnya bekas jaksa kasus Tommy Soeharto itu. (jawapos.com 7/12/07). Sebelumnya kau (lewat juru bicaramu Andi Mallarangeng) sudah menebar isu yang tidak mempesona, yaitu “Pak Harto tidak perlu diperkarakan, sudah sakit” (Pembaruan, 24/9/07).

Kalau orang sudah meninggal saja bisa diperkarakan, kenapa yang hanya sakit tidak bisa? Mungkin karena alasan itu sudah menjadi mode di negeri kita dan karena itu pulalah “budaya sakit” meriah bila ada pejabat mau diadili. Mengembalikan harta yang dicuri itu baik dan perlu. Namun tetap harus dilandasi dengan penegakan keadilan. Sebab ini menyangkut perasaan rakyat.

“Kebijakan” ini bisa menjadi celah pihak tertentu untuk menuduh kau “tebang pilih”. Apalagi kalau pelakunya merupakan “fokus” perhatian rakyat selama ini. Meskipun ratusan bupati dan menteri dan pimpinan BUMN kau seret ke pengadilan, namun bila yang satu ini tidak, kau tetap akan mendapat stigma “tebang pilih”. Lebih repot lagi kalau sampai dituding melindungi bekas tokoh Orba, di mana pada masa pemerintahannya kau dibesarkan.

Korupsi di Indonesia telah lama menjadi sorotan dunia. Ini peluang bagimu untuk terus tebar pesona. Karena di sini taruhanmu kalau kau ingin terpilih kembali. Untung ada korupsi. Panduan yang dikeluarkan PBB dan Bank Dunia berkait dengan Stolen Asset Recovery Initiative (Prakarsa Penemuan Kembali Kekayaan yang Dicuri), menyebutkan, bekas penguasa Orde Baru selama 32 tahun itu telah mencuri kekayaan negara sekitar 15 – 35 miliar dollar. Dan si tokoh menempati urutan pertama dari sepuluh daftar mantan kepala negara yang diperkirakan sebagai pencuri. (Kompas Cybermedia 18/9/07).

Indonesia menurut Transparency International, termasuk dalam 38 negara terkorup di dunia (Analisa, 27/9/07).Kejaksaan Agung telah menggugat Yayasan Supersemar dan mantan Presiden Soeharto sebesar Rp 14 triliun. Transparency International Indonesia itu pula yang membuat laporan hasil surveinya, bahwa lembaga terkorup di Indonesia adalah justru “pagar” yang seharusnya melindungi “tanaman”, yakni kepolisian, lembaga peradilan (kejaksaan dan kehakiman), parlemen dan parpol. (Sindo, 7/12/07). Dan respons yang masuk nominasi sebagai pagar yang menjadi tukang makanan tanaman hanya satu: Marah! Malah hasil survei itu dinilai “telah meracuni masyarakat”. Apa kau juga ikut marah?

Sekian dulu sedikit masukan dari teman kumpul kebomu. Mudah-mudahan kau tidak tidur lelap sesudah lelah mengarang lagu. Aku hanya bertanya, benarkah KPK singkatan dari Komisi Penyelamat Korupsi?
Salam Sadewa