Kamis, 13 Desember 2007 Apa sih percaya diri itu?

Ada yang menggambarkan bahwa percaya semua keaadaan itu hanya sementara, riang akan berhenti, senang akan berhenti dan susah juga akan berhenti. Tetapi benarkah semua yang disebutkan tadi akan berhenti dan berakhir? TIDAK. Kalau memang berakhir, maka seperti halnya berhenti tadi, pasti akan mulai lagi. Itu yang terjadi di dunia. Suklus yang satu disusul dengan dengan siklus yang lain. Berapa orang dari manusia yang hidup ini mengalami yang seperti ini?? Menurut pengamatan saya pribadi, seratus persen jumlahnya. Tiap orang telah dan akan mengalami siklusnya masing-masing. Jangan menilai manusia hanya dari suksesnya memiliki materi berupa kekayaan, yang sekian dan yang dua kian atau malah berkian-kian banyaknya. Itu bukan ukuran. Materi boleh dipunyai sepanjang hidup tetapi kalau kita mau mengambil conto kehidupan yang nyata, tidak ada orang yang tetap kebahagiaannya dan tiada yang konstan kesusahan hatinya. Semua silih berganti.

PD diperlukan bagi orang yang sedang mengalami keterpurukan, PD juga diperlukan bagi orang yang sedang mempertahankan sesuatu, misalnya dari keadaan dan posisi tinggi di dalam masyarakat ke dalam keadaan dan posisi yang lebih kurang nyaman dan menyenangkan. Pada kondisi yang kurang seperti ini dia akan berusaha bangkit kembali dan ingin memperbaiki kesalahannya di masa lalu.

Di masa mana?

Dulu di masa dia sedang jaya, sedang baik posisinya dan sedang disanjung oleh kedudukannya. Pada waktu kehilangan kedudukannya, meskipun sebelumnya sudah diantisipasinya, pasti sebuah kondisi kejut atau shock akan dialaminya, mau ataupun tidak mau.

Kondisi seperti ini adalah alami dan berulang.

Saya sendiri dan saya kira juga tidak ada seorangpun yang berani menyangkalnya.

Kemarin, satu hari yang lalu, seorang teman baik saya, mengeluh untuk kedua kalinya dan memberitahukan keadaan keuangannya yang sedang memburuk dan dia sedang bingung sekali. Dia gunakan istilah: bener-bener SOS. Saya kenal dia sebagai orang kaya raya, tinggal di sebuah rumah lumayan besar terletak di daerah nomor satu di Jakarta ini. Isi rumahya aduhai lengkap dan mahal-mahal harganya. Dia masih tinggal di rumah itu dan masih segar bugar, tetapi melihat kondisi “luar”nya yang masih meyakinkan itu, saya pastikan bahwa dia tidak akan jatuh berantakan berkeliaran di jalan. Dia pasti akan survive-bertahan hidup, karena saya melihat masa lalunya yang melalui perjuangan lumayan dalam menjalani hidupnya. Yang diperlukan teman saya ini bukan uang, tetapi dorongan hidup, karena sedang jatuh mental. Saya berikan kata-kata kuno yang saya pikir akan amat manjur untuk digunakan oleh dia dan yang berbunyi: RODA SELALU BERPUTAR, TITIK NADI TERENDAH AKAN NAIK, BIARPUN GERAK RODA ITU MAJU ATAU MUNDUR SEKALIPUN. INSAYAALLAH.

Dengan tidak saya sangka-sangka segera dia bereaksi dan mengatakan kepada saya:

Benar sekali anda, betul. Anda telah membangunkan saya dari keterpurukan hidup, semoga cepat berakhir.

Saya pun segera berucap syukur dan ikut mendoakannya dalam hati.

Kalau saya berikan sejumlah uang maka saya akan merasa bersalah di kemudian hari, karena saya melihat di sekeliling saya masih banyak lagi yang lebih kurang beruntung kalau dibanding dengan keadaan teman saya tadi.

Hal di atas ini adalah conto mutakhir karena baru terjadi kemarin, satu hari yang lalu.

Saya juga teringat satu conto yang lain.

Saya mempunyai kenalan bernama S yang pada tahun 1989 bertemu kembali setelah tidak berjumpa sejak tahun 1967, dua puluh dua tahun lamanya tidak berjumpa. Saya berjumpa dengan dia di sebuah restoran bernama Pizza Hut di daerah jalan Thamrin dekat Sarinah. Dia tidak melihat saya, tetapi saya saksikan dia membeli sepuluh buah pizza untuk dibawa pulang. Ketika dia selesai membayar, saya gamit dia dan dengan gembiranya dia peluk saya dan hampir melupakan bungkusan yang dibelinya, sampai dia perlu diingatkan oleh salah seorang karyawan penjual Pizza Hut itu. Kemudian dia nyerocos tanpa bisa saya hentikan kata-katanya, bahwa dia selama ini menghilang dan tinggal di Houston, Texas, Amerika Serikat. Dia saat itu bekerja di sebuah perusahaan kimia farmasi. Dia menikmati kedudukan tinggi dengan gaji besar dan masih mondar mandir menjalani perjalanan Amerika-Indonesia.

Dia menambahkan dengan kata-kata mantap: “Aku berterimakasih banyak kepadamu, Anwari, karena kamulah yang telah menolong saya dari kondisiku yang amat sulit waktu itu! Saya pikir saya akan lebih jelek keadaanku kalau tidak mendapat pertolongan kamu” Saya yang tidak merasa pernah menolong dia, heran dan takjub, berpikir S ini pasti mengelirukan identitas saya dengan orang lain. “Saya tidak mengerti mengapa kamu bilang aku telah menolong kamu?!” Dia tersenyum lebar dan menjawab: “Ingat nggak kamu pernah pada beberapa tahun yang lalu, suatu siang hari mengajak saya makan di Mayestik, Kebayoran? Kita sama-sama makan bubur? Kamu yang bayar dan saya menjadi kenyang betul karenanya.”

Dengan enteng saya jawab: “Lupa”, karena benar-benar saya lupa, sama sekali.

Dia teruskan: “Begini, kamu mesti masih ingat bagaimana saya difitnah sebagai sarjana beraliran komunis dan dipecat dari perusahaan negara PERTANI. Saya dari kedudukan baik menjadi lontang-lantung. Pada waktu itulah kamu melihat saya dan berhenti, menyilakan saya masuk mobil dan akhirnya kita makan bubur. Begini singkat ceritanya. Ini bukan soal makan buburnya. Waktu saya kemukakan kepadamu bahwa saya sedang susah karena jobless-menganggur, saya juga bilang tidak bisa minta tolong kepada teman-teman lain karena mereka banyak yang mengalami posisinya direbut orang lain dengan alasan yang sama, komunisme. Waktu itulah kamu bilang kepada saya kira-kira begini: S, hanya satu orang yang bisa menolong dirimu, yaitu kamu sendiri!!

Bermodalkan kata-katamu itulah saya akhirnya diterima kerja di Drew Chemicals selama beberapa tahun. Sekitar empat tahun lalu saya pindah kerja ke perusahaan sejenis yang sekarang ini, dengan kedudukan yang lebih baik. Terimakasih sekali lagi!!”

Biarpun saya tidak besar kepala mendengar hal itu dan biarpun saya tidak menerima imbalan apa-apa dari S, alih-alih sebuah Pizza bawaannya, saya sungguh terpesona sendiri bagaimana bisa sebuah susunan kata-kata dapat mendorong hidup seseorang lain lebih baik. Saya berkata-kata dengan S dengan perasaan biasa tetapi serius dan tidak merasa menjalankan tugas suci berbentuk apapun. Biasa saja, bercakap antara teman dengan teman lain. Itulah yang saya kerjakan dan menurut istilah orang Jawa: Ketrimo=dapat diterima/diterapkan dengan baik. Kejadian tersebut telah terjadi empat puluh tahun yang lalu dan saya sendiri, tanpa diingatkan S, pasti saya sudah terlupa.

Apa yang terjadi satu hari yang lalu dan yang empat puluh tahun yang lalu, mempunyai pola sama dan ternyata sampai saat ini masih ampuh untuk dilakukan oleh siapapun dan kepada siapapun. Kedua teman saya itu kedua-duanya hanya memerlukan rasa PD untuk memacu dirinya sendiri secara batin, bahwa mereka adalah orang yang bukan sembarangan. Mereka merasakan diri sebagai orang-orang yang berani menghadapi hidup. Kebetulan saya adalah temannya yang tidak melecehkan mereka dengan kata-kata: “Bangunkan semangatmu, jangan merèngèk melulu” Kalau saja saya menggunakan kata-kata seperti ini, mereka mungkin akan selalu ingat kata-kata saya tetapi dengan “intonasi’ mengejek dan melecehkan, jangan-jangan malah tersinggung perasaannya.

Kapasitas kata-kata saya telah mampu membangkitkan semangat orang lain secara pribadi atau sejumlah kecil orang lain. Kalau saya ingat-ingat yang seperti ini semua dan saya tuliskan, maka tulisan ini akan penuh dengan kisah-kisah semacam ini, dengan tokoh berjasanya adalah diri saya sendiri. Itu sama sekali di luar konteks yang ingin saya sampaikan. Yang saya ingin sampaikan adalah menimbulkan aura positif kedalam pemikiran seseorang lain itu bukan mudah, kalau dilakukan di dalam bilangan jumlah orang yang banyak. Aura seperti itu hanya mungkin menjadi pemicu ke arah positif kalau ditujukan kepada seorang pribadi atau kepada sekelompok kecil orang. Ataukah kalau ingin dilakukan kepada massa yang besar, maka haruslah oleh seorang pemimpin yang seperti idaman pak Solahuddin Wahid dalam tulisannya di media hari ini, yang berjudul Pemimpin Masa Lalu. Dengan bantuan media dan alat-alat elektronik yang canggih maka kepada massa yang besar dapat diajak serta ke dalam aura pemikiran baik. Biarpun berhasil membawa pemikiran positif kepada massa yang besar, aura pemikiran baik itu juga mungkin tidak akan dapat bertahan untuk waktu yang terlalu lama. Demikian halnya perasaan PD yang terjangkit kepada dua orang teman saya itu, telah berlangsung untuk masa yang pendek dan sempat memicu tindakannya menuju pilihan yang baik. Seperti halnya siklus-siklus yang pendek-pendek dalam kehidupan semua manusia, berhasilnya upaya membantu seseorang untuk mencapai aura pemikiran yang baik adalah terbatas juga waktunya dan besaran massanya.

Saya telah membuat panduan untuk diri saya sendiri, agar menghentikan segala upaya untuk merubah negative mindset negative sebuah masyarakat, menjadi positive mindset a la mindset yang menurut saya adalah yang baik.

Setiap orang mempunyai keterbatasan. Pertimbangan mengapa saya membuat panduan seperti itu adalah kurang bijak bagi saya untuk memaksakan sebuah ide, gagasan dan pemikiran yang peruntukannya akan menjangkitkan kepada orang banyak dengan massa yang besar dalam waktu, masa dan tempo yang pendek. Apa lagi dengan mengatakan bahwa massa yang ditujunya itu melakukan hal yang remeh-temeh dan kurang berprisip, sehingga menjadi bersalah kalau tidak mau berubah aura pemikirannya menjadi seperti pencetus ide, pemikiran dan gagasan si penyampainya.

Ada perumpamaan atau ungkapan bahwa seseorang dianggap kurang PD hanya karena dia mengagumi sesuatu diluar dirinya. Mengagumi sesuatu seperti itu adalah wajar, tidak ada bedanya dengan mengagumi orang lain yang berprestasi lebih dari dirinya, mengagumi alam yang luar biasa bagusnya yang dia sendiri tidak akan mungkin menciptakan tiruan yang sepadan sekalipun. Pengagum seperti tidak patut dikatakan kurang PD.

Dia hanya manusia biasa.