Bandung, 4 Desember 2007  Hari ini Kompas memuat berita penyair Taufik Ismail yang baru saja mendapat anugerah Habibie Award di Bidang Budaya atas jasa dan usahanya menumbuhkan minat baca dan menulis di kalangan pelajar sejak beberapa tahun terakhir. Berdasarkan pengamatannya, budaya membaca dan menulis masyarakat Indonesia sekarang jauh menurun jika dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda. Lanjutnya, keadaan ini, antara lain, disebabkan oleh orientasi pembangunan pemerintah yang terlalu bersifat materialistis.
Taufik Ismail mengatakan, siswa setingkat SMA di masa penjajahan Belanda, selama tiga tahun sekolahnya, wajib membuat 106 tulisan dan membaca 25 buku sastra yang terdiri dari empat bahasa, yaitu bahasa Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Sekarang rata-rata anak SMA hanya membuat satu tulisan dalam satu tahun. Memprihatinkan sekali, katanya.

Benar, sangat memprihatinkan. Apa akibat fatalnya?

Para siswa tidak lagi mampu mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan. Ia tidak bisa memformulasikan konsep. Ia tidak mampu menjabarkan secara runut dalam menyampaikan jalan pikirannya. Tidak heran, sering kita dengar adanya kasus penjiplakan skripsi mahasiswa atau ‘membeli’ jasa pembuat skripsi.

Berikutnya, ia tidak mampu membuat surat lamaran pekerjaan yang baik. Ia tidak bisa ‘menjual’ kemampuan terbaik yang ada pada diri pribadinya. Khusus bagi mereka yang membutuhkan petunjuk bagaimana membuat lamaran kerja yang baik, kini tersedia banyak buku bimbingan di toko buku – dan tentu saja, di Internet segala sesuatu informasi seperti ini dapat dengan mudah diperoleh.

Dan, kalau toh ia sudah bekerja, ia pun lemah dalam membuat laporan kerja, merangkum hasil rapat, berkorespondensi, dsb. Apalagi membuat proposal dan kertas kerja.

Barangkali ia pun tidak mampu membuat suatu tulisan sederhana seperti pengumuman kelahiran anak, berita duka, pemberitauan tentang pindah rumah, baru lulus ujian, atau semacamnya.

Semua ketidakmampuan ini karena ia tidak terbiasa menulis. Berbagai kendala yang menghalanginya. Kemampuannya dalam berbahasa, baik itu Bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Kemampuannya mengekspresikan diri secara tertulis tidak terlatih dan tidak berkembang. Kemudian ia tidak percaya diri dan merasa tidak mampu menulis. Ujung-ujungnya, ia betul-betul tidak mampu.

Padahal, seperti halnya budaya membaca, maka budaya menulis juga dapat dipelajari, dapat dilatih. Memang betul, seperti halnya ketrampilan yang lain, ada yang lebih berbakat dan lebih pandai menulis daripada yang lain. Namun, kalau kita melatih diri dengan rajin, ketrampilan kita menulis juga akan tumbuh dan berkembang seiring dengan ketekunan kita. Membaca dan menulis, keduanya adalah acquired skills – tidak semata bakat saja.

Saya tentu tidak mengalami pendidikan di masa penjajahan Belanda seperti yang diceritakan Taufik Ismail di atas. Hanya di kelas 1 SD selama satu tahun saya mengalami sekolah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Selanjutnya bahasa pengantarnya Bahasa Indonesia. Namun demikian, sepanjang ingatan saya, kurikulum dan gaya pengajaran masih seperti doeloe. Artinya, sejak kelas 2 atau 3, waktu itu sudah ada tugas mengarang. Ini berlangsung terus sampai kami lulus SD.

Selama tiga tahun di SMP, pengajar Bahasa Indonesia kami Frater Cunibertus, seorang rohaniwan Belanda. Beliau mengajarkan kami untuk story telling. Secara bergilir, para siswa satu per satu berdiri di depan kelas dan bercerita tentang apa saja yang dibaca atau dialaminya. Buat saya, ini suatu pelajaran yang amat penting. Kami ‘dipaksa’ untuk berani tampil dan berbicara (awal dari public speaking) – ini mendorong kami berusaha berbicara secara terstruktur. Beliau secara periodik memberikan tugas mengarang pula. Hasil karangan kemudian dibahas bersama di dalam kelas.

Begitu juga di SMA, kami masih mendapat tugas mengarang dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Saya meragukan apakah tugas mengarang itu secara umum masih ada dalam sistem pendidikan kita hari ini. Tidak heran kalau produk yang dicetaknya kemudian kurang atau tidak mampu menuliskan buah pikirannya.

Karena itu, saya ingin mengajak para generasi muda, marilah kita ajarkan kepada anak-anak kita ketrampilan membaca dan menulis. Bilamana di sekolah tidak ada tugas mengarang, mungkin kita bisa ajarkan anak-anak menulis di rumah, menceritakan pengalaman mereka  berkunjung ke kebun binatang, berkemah dan pengalaman perjalanan lain. Kita harus menyediakan waktu untuk membimbing dan membinanya. Tidak ada jalan lain. Saya yakin, upaya ini tidak akan sia-sia. Bahkan barangkali ini merupakan salah satu ‘warisan’ paling berharga bagi anak tersayang kita.

Salah seorang teman saya, mantan Duta Besar di tiga negara: Selandia Baru, Belanda dan Jepang, belum lama ini telah meluncurkan tiga judul buku sekaligus. Di dalam tulisannya beliau menuangkan semua catatan, pengamatan dan pemikiran pribadinya selama menjadi diplomat. Bilamana tidak dijabarkan dalam bentuk buku-buku semacam ini maka siapapun tidak akan tau apa yang sebenarnya telah terjadi dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Para pembacanya kemudian akan mendapat gambaran pula siapa sosok penulisnya berkat ekspresi diri dalam bentuk tulisan. Dan tentu saja semua anak, mantu dan cucu akan lebih mengenalnya lebih mendalam.

Seperti kata Taufik Ismail: “Padahal, membaca dan menulis tidak hanya menambah pengetahuan. Namun juga menumbuhkan rasa kemanusiaan dan logika.”

Alangkah benarnya sinyalemen ini.

Iklan