Jakarta, 2 Desember 2007  Fossil fuel adalah komoditi yang jumlahnya finite, walaupun dia itu sendiri adalah cyclical. Artinya : untuk “kita sekarang ini” fossil fuel pada suatu saat akan “habis”. Kalau tidak begitu tidak mungkin ada buku berjudul “THE END OF OIL” yang adalah buah tangan Paul Roberts (Houghton Miflin Co., Boston, New York, 2004).

Sesungguhnya proses fossilization merupakan proses yang terus menerus, tapi dilihat dari perspektif manusia proses itu seolah-olah cyclical. What is true adalah kita – manusia – ini begitu rakusnya sehingga fossil fuel yang mustinya bisa bertahan lama, telah sanggup (hampir) kita habiskan dalam waktu relatif sekejap. Relatif dibandingkan dengan usia universe (sekitar 15 milyar tahun bumi sejak Big Bang) atau bumi (sekitar 4 milyar tahun bumi sejak proses aglomerisasi gas —> padat —> aglomerisasi).

 

Planet kita ini juga populer disebut the blue planet. Karena permukaan bumi kita lebih banyak tertutup oleh air (laut) ketimbang daratan. Dan dari kejauhan warnanya kelihatan biru. Bumi dalam orbitnya mengelilingi matahari. Matahari adalah sumber energi. Bumi menyerap energi dari matahari yang menghasilkan energi lewat proses fusion H2 —> He. Sekarang diperkirakan sudah 50% Hydrogen terkonversi menjadi Helium. Does it mean that the sun will cease to exist in another 4 billion years assuming linear extrapolation ?  Which would also signal the end of life on earth ? Sebab bagaimana mungkin manusia, fauna dan flora hidup di bumi tanpa sumber energi ? I don't know. But that the sun will stop functioning has been forecast. Still plenty of time to live in this world though. Don't worry.

 

Yang mengusik pikiran ini adalah mengapa Tuhan menjadikan permukan laut lebih luas ketimbang permukaan bumi ? Setelah Tuhan mengajarkan kepada manusia bahwa di matahari berlangsung proses nucleur fusion, yaitu hydrogen menjadi helium,  bukankah lalu manusia diajak berpikir bahwa laut = H2O. Dari H2O mustinya kita harus menemukan proses mengurai menjadi H2 dan O (sudah proven). Tinggal mencari how to do it commercially in the most efficient way. Sekarang sudah ada yang namanya Fuel Cell Technology. Tapi samasekali belum komersial. If that is done though, then we may have come to the REAL fuel of he future. Why ? Because burning Hydrogen will produce H2O = water, which then become available to be resplit into hydrogen and oxygen, the same oxygen that you and I need to continue life with, and in the process reproduce water again, etc. And so it is cyclical, and continuously renewable.

Lalu untuk apa fossil fuel kalau begitu ? Minyak bumi masih tetap bisa diolah menjadi petrochemicals, yang a.l. bisa dikonversi menjadi plastics, ceramics. Bukan ceramics dalam arti kata lantai atau dinding rumah anda, tapi dalam arti kata exotic materials untuk teknologi penerbangan ruang angkasa misalnya, untuk ultrasuperconductors misalnya yang bermanfaat sebagai energy storage untuk kendaraan bermotor. Jepang sudah mulai membuat penggerak mesin mobil dengan ultrasuperconductors (Nissan). Just to name a few potential applications.

Maka global politics pun (yang sampai sekarang sesungguhnya pada dasarnya merupakan perang untuk menguasai sumber fossil energy) mudah-mudahan akan menjadi usang. A thing of the past. Utopian ? Maybe. But it is potential. It is up to man to manage it. 
 
There must be a very basic reason why God created it this way. Mustinya para ustadz, para kiayi, para pendeta, para pandita, mampu memberikan enlightenment begini kepada umat masing-masing, ketimbang berkhotbah mengenai hal-hal yang tidak bermanfaat – malah berbahaya – bahwa Tuhan perlu dibela, misalnya. Dan karena itu perlu dikobarkan perang suci. HOW ABSURD ! Tuhan TIDAK PERLU DIBELA. Yang perlu adalah perang suci dimana seluruh umat manusia bersama-sama memerangi kebodohan, keterpurukuan, dan kemiskian struktural yang meng-global.

Semoga pada akhirnya kita bisa mensyukuri nikmat Tuhan atas diwujudkannya mata kita dibagian depan wajah kita supaya bisa melihat KEDEPAN, mendesign telinga kita supaya terbuka KEDEPAN, supaya memerhatikan what is to come, and not what has past, dan mendesign kaki kita melangkah KEDEPAN untuk maju, bukan untuk mundur.

Arifin Abubakar,

Jakarta, 2 Desember 2007