Jakarta, 1 Desember 2007   Dalam salah satu kunjungan dinas saya ke New York (kalau tidak salah pada tahun 1979) rombongan kami check-in di Hotel Americana. Not exactly the hotel of my choice, tapi kawan-kawan serombongan kelihatannya sudah sering kesana dan sudah menjadi pelanggan tetap, jadi saya ikut sajalah. Rombongan kami terdiri atas tiga orang, dua dari Departemen Perindustrian (dua-duanya sekarang sudah almarhum) dan saya sendiri dari Pertamina. Kebetulan waktu itu sedang peak season. Dimana-mana hotel penuh. Heran saya. Udara New York ketika itu dengan ukuran kita yang datang dari daerah tropis pun terasa sangat panas. Tapi tetap saja kota penuh. Hotel penuh. Restoran idem ditto.

Dalam keadaan letih karena baru saja sampai dari Jakarta dengan baju nyaris basah oleh keringat, antrilah kami bersama-sama dengan para calon tamu lainnya. Tiba-tiba dari bagian belakang ada seorang pengantri meningalkan antriannya dan langsung menuju ke depan. “Nyalip” begitulah kira-kira yang dilakukannya. Ketika itu jarak antara saya dengan counter tinggal satu orang. Sudah dekat sekali jadinya. Jadi saya pun dapat mendengarkan pembicaraan antara si penyalip dengan wanita di belakang counter. Begitu sang penyalip tadi (seorang pria muda kulit putih) maju ke counter, dia kontan ditegur oleh penjaga counter (seorang wanita muda kulit hitam) “Sir, go back to your place in the line please !”. Walaupun susunan kata-katanya terangkai cukup santun, namun suara tajam tak mampu menyembunyikan kekesalan si wanita di counter itu. Karena sang penyalip tampaknya masih tetap berkukuh dan tidak mau beranjak, maka menggelegarlah suara wanita itu membentak dengan telunjuk kanannya seolah-olah ingin menembus kepala si penyalip “I said GO BACK MAN. NOW, GO BACK !”. Dengan muka merah padam kembalilah si penyalip itu ke tempatnya semula dalam antrian.

Suatu pelajaran yang padu tentang disiplin. Disiplin dalam menaati peraturan. Walaupun tak ada terpampang tulisan “PLEASE QUEUE !” atau “PLEASE STAND IN LINE” atau pun rangkaian kalimat lain yang sejenis, orang dianggap sudah sepenuhnya paham bahwa mengantri adalah suatu kewajiban karena mengantri adalah suatu kewajaran dalam kehidupan masyarakat yang beradab. Mudah mengambil kesimpulan bahwa pria penyalip itu sudah dipermalukan oleh si wanita penjaga counter. Benarkah ? Saya kira tidak. Bukankah yang sebenarnya terjadi adalah pria itu sendiri yang tega mempermalukan dirinya ? Dengan melanggar kode etik perilaku yang sudah baku ?

Itu di New York. Suatu kota yang penuh dengan belantara baja, kaca dan aspal. Suatu kota dimana kesantunan seringkali tidak berusia lama, kalau tidak mau dikatakan tidak ada samasekali. Di kota lain kalau kita memasuki toko atau restoran, kita merasa terbiasa disapa dengan “Can I help you Sir (atau Madam) ?”. Di New York jangan terkejut apabila pelayan toko atau restoran menyapa kasar “Whadda ya want ?” dengan aksen yankee yang kental.

Ada juga cara orang mendisiplinkan perilaku kurang baik tanpa berkata satu patah pun. Dan cara itu ternyata sangat efektif untuk lingkungan mereka. Tak perlu bentakan atau kontra bentakan. Apalagi adu mulut sampai adu jotos. Tak perlu samasekali. Cukup dengan diam seribu bahasa. Mungkin kejadian berikut bisa menggambarkannya :

Ketika berjalan-jalan menelusuri deretan toko di Oxford Street di jantung kota London beberapa tahun yl saya melewati suatu halte bus. Seperti biasa terlihatlah antrian panjang orang-orang yang menunggu giliran naik ke atas bus double decker. Ketika itu datanglah dengan separuh berlari seseorang – dari raut wajahnya saya menduga dia mungkin orang Indonesia (atau Thailand, atau Filipina, atau Kamboja, etc dari kawasan Asia Tenggara yang punya kemiripan raut muka) langsung mau naik tangga bus. Orang-orang yang sedang mengantri dengan gaya Inggeris tulen hanya memandang orang itu dengan diam, tak berkata sepatah pun. Cukup dengan memandang saja. Menatap saja. Orang yang “nyalip” itu pastilah merasakan betapa sekian belas pasang mata melihat – bahkan “menatap” – dirinya. Dia pun langsung merasa terpidana sebagai orang yang tak beradab berada di tengah-tengah komunitas beradab. Paling kurang dia tentu merasa sebagai orang yang kurang beradab. Yang belum dapat “diterima” sebagai anggota penuh suatu komunitas beradab seperti layaknya di Inggeris. Dia pun – alhamdulillah sadar atau tersadar, bahwa dia sudah melanggar suatu aturan main yang serius. Serta-merta dia urungkan niatnya dan dengan perlahan dan dengan kepala tertunduk malu ikut mengantri. Kalaulah bisa kita alihbahasakan perilaku para pengantri yang tetap mengunci mulutnya masing-masing itu, mungkin yang ada dalam benak mereka adalah kalimat tak terucapkan “…rasain lu….”. Dan saya yakin itu pulalah yang bergema di batin si penyalip-yang-tidak-berhasil-nyalip tadi itu.

Demikianlah kita lihat interaksi sosial yang self-correcting. Niscaya hal itu hanya bisa berlangsung karena ada kemauan yang kokoh dari setiap anggota masyarakat untuk bersama-sama menjaga keteraturan dalam interaksi sosial sehari-hari.

Bagaimana di tanah air tercinta Indonesia ?

Saya pernah antri di counter RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina) waktu sistem kartu panggil seperti sekarang belum dijalankan. Tiba-tiba dari belakang ada yang nyalip dan langsung kedepan dan meletakkan kartunya diatas counter. Tentulah saya sebagai pengantri yang sudah sampai di counter dan siap menunggu giliran dilayani, merasa bahwa orang itu sudah berlaku tidak senonoh. Oleh karena itu saya pindahkan kartunya ke tempat yang agak jauh, tapi masih di counter itu juga. Kemudian saya tegur orang ybs (seorang pria) dengan berkata “antri dong !”. Orang itu diam saja dan membalas tatapan mata saya dengan tatapan sepasang matanya pula, dengan sinar mata yang tidak mungkin dianggap bersahabat. Tak ada kata “maaf”. Tak ada kepala yang tertunduk malu. Tak ada perilaku beradab sedikit pun. Dan orang-orang yang mengantri pun diam seribu bahasa. Begitupula penjaga counter. Dia juga diuam. Seolah-olah tak ada kejadian apa pun. And business goes on as usual. Tidak ikut menegur tapi juga tidak menyetujui tindakan si penyalip secara tegas.

Disinilah bedanya antara contoh-contoh yang saya sebut diatas tadi dengan kejadian yang baru saja saya alami : contoh-contoh kejadian yang saya sebut diatas tadi berlangsung dalam suatu komunitas yang telah sepakat secara bersama-sma menjaga keteraturan. Keadaan yang baru saja saya alami berlangsung dalam suatu komunitas yang – maaf – belum sepakat menjaga keteraturan. “Comot” seorang pembangkang keteraturan dari komunitasnya dan lepaskan dia ditengah-tengah komunitas yang beradab, maka perilakunya akan terkoreksi secara otomatis. Karena disitu dia tidak punya pilihan lain kecuali ikut didalam tatanan hidup yang penuh keteraturan. Tapi cobalah tegakkan disiplin ditengah-tengah komunitas yang tidak merasa perlu dan tidak merasa butuh dengan keteraturan, maka anda akan berhadapan dengan penolakan, dengan resistance.

Diantara perilaku kurang senonoh lainnya yang mungkin patut disebut disini adalah yang dicontohkan oleh mayoritas pengendara sepeda motor di negeri tercinta ini. Semua orang tentu sudah terbiasa melihat taferil sehari-hari di setiap perempatan jalan yang ada traffic light-nya : motor-motor yang bergerombol jauh melewati garis batas STOP. Begitu terbiasanya kita, sehingga kita tidak merasa perlu lagi menegur perilaku yang tidak benar itu. Kita cukup bergumam pada diri sendiri bahwa itu bukan kewajiban kita. Itu adalah kewajiban sang polantas. Dan motor-motor itu tidak jarang melesat maju walaupun lampu traffic masih merah. Malah salah seorang anak saya sempat dengan bergurau membunyikan klakson mobilnya di perempatan jalan ketika berhenti di lampu merah. Serta merta motor-motor didepan mobilnya langsung melesat kedepan dalam persangkaan bahwa klakson dibunyikan justru untuk memberitahu dia (para pengendara motor) supaya jalan. Padahal lampu traffic belum hijau, masih merah.

Contoh lain mungkin juga angkot yang berhenti seenaknya di tengah jalan (bukan di pinggir jalan) menurunkan, menaikkan dan bahkan ……………menunggu penumpang, sesuatu yang populer disebut “ngetem”. Mereka “ngetem” seenaknya di mana saja. Seringkali lalu lintas menumpuk dibelakangnya, tapi dia tetap saja tidak (mau) hirau dengan teguran-teguran aneka klakson. Barulah apabila penumpang yang ditunggukannya sudah naik, barulah dengan pelahan dia beringsut maju. Respons diam atau berteriak tak ada gunanya sebagai protes. Mengapa ? Karena belum ada kesepakatan untuk bersama-sama menaati peraturan demi terpeliharanya keteraturan. Herankah kita apabila para penentang keteraturan itu justru banyak yang cenderung merasakan semacam euphoria karena berhasil “mematahkan” peraturan dan dengan demikian juga berarti menghancurkan keteraturan ? Dia merasa terangkat martabatnya sebagai orang jagoan yang disegani orang. Jadi ada suatu motivasi bagi sebahagian orang untuk JUSTRU melanggar peraturan dan mewujudkan ketidak-teraturan.

Tempatnya boleh beragam, tapi fenomenanya secara esensial sama saja. Di pintu lift kita pun melihat orang “menyerbu” masuk sebelum orang yang didalam lift keluar secara tuntas. Di kereta api pun kita lihat orang berdesak-desakan lewat pintu kereta api yang sempit. Di ban berjalan tempat kita menunggu kopor-kopor kita di bandara juga demikian halnya. Tak ada budaya menunggu. Tak ada rasa ingin menenggang orang lain. Tak ada akhlak mulia. Walaupun ustadz sampai parau kerongkongannya meneriakkan perlunya menjaga akhlaqul karimah.

Dan mau tidak mau kecenderungan perilaku komunitas seperti itu niscaya berdampak pada bahasanya. Kita sudah terbiasa – misalnya – dengan kata “macet”. Juga kata-kata “berdesak-desakan”, “berduyun-duyun”, “berlomba-lomba”, dsb. Semua kata-kata itu mengerucut pada satu hal : ketidak-teraturan.

Dan dibalik kegempitaannya, ternyata agama pun bisu dalam impotensi-nya mengawal moral anak manusia.

Arifin Abubakar,

Jakarta, 1 Desember 2007