Bandung, 30 November 2007   Enampuluh silam, sekitar 1947-1948, saya duduk di kelas 2 sekolah dasar, yang pada waktu itu sedang menjalani transisi dari sekolah berbahasa pengantar Belanda ke Bahasa Indonesia. Sekolah kami kemudian menyelenggarakan penjualan buku-buku bekas Bahasa Belanda dari perpustakaan sekolah, yang dilakukan pada setiap bulan Desember dan Juni. Ibu saya yang hanya berpendidikan kelas dua SD saja, setelah mengetahui adanya penjualan buku-buku tersebut, langsung memberi saya uang untuk membelinya. Saya tau, keadaan ekonomi orangtua saya sangat pas-pasan karena kami baru saja mengungsi. Sesuai dengan tingkat pendidikan ibu saya, beliau menikmati buku anak-anak yang saya beli itu. Masih teringat adegan-adegan di mana kami berdua asik mengadakan 'diskusi buku' kecil-kecilan. Saya sungguh menikmatinya. Itulah awal saya mulai suka membaca.

Sungguh mujur kemudian kakak perempuan saya menikah dengan seseorang yang dapat dikategorikan sebagai 'kutu buku'. Saya mulai menelusuri koleksi bukunya, hampir semuanya berbahasa Belanda. Mulai dari ensiklopedi Winkler Prins, buku-buku putra remaja ( jongensboeken) dari mana saya pertama kali mengetahui tentang suatu klub sepakbola dengan nama yang aneh: Ajax , sampai kepada buku-buku kebudayaan dan kesenian. Mulailah saya berkenalan dengan nama-nama seperti: Rembrandt, Rodin, van Gogh, Renoir, da Vinci dan karya-karyanya berupa foto yang ditampilkan dalam buku.

Belajar dari pengalaman ini, saya yakin budaya gemar membaca dapat ditumbuhkan dan dibina melalui fasilitasi, pengarahan dan upaya menggairahkan minat dan nikmat membaca – ini semua paling ideal kalau bisa dimulai sedini mungkin. Dalam proses mengajarkan anak untuk mulai menggemari membaca, biarkan dia bebas memilih topik yang disukainya. Kewajiban orangtua hanyalah menjaga agar anak dijauhkan dari buku yang tidak baik bagi usianya. Sepanjang buku-buku itu masih dalam koridor sopan dan baik, berikanlah kebebasan agar ia mulai menjelajahi betapa luasnya dunia buku. Biarkan dia nanti menemukan area yang disukainya.

Banyak orangtua mengeluhkan anaknya yang getol membaca komik. Saya dulu juga pernah getol menggemari kartun-kartun seperti: Petruk-Gareng, Put On, Mutt & Jeff dsb. Kemudian komik bersambung seperti: Mahabharata, Mandrake, Flash Gordon, Sie Djien Kwie, Dick Tracy. Tiada salahnya menggemari komik.

Petualangan saya di SMP-SMA masuk ke cerita silat Kho Ping Hoo. Ibu saya sering mengingatkan agar saya mengerjakan PR sekolah terlebih dulu, baru boleh membaca cerita silat. Kemudian saya menggemari cerita Western dan dilanjutkan ke cerita detektif seperti Sherlock Holmes, Ellery Queen, Miss Marple, Hercule Poirot, Perry Mason, dsb. Seru dan asyik kalau mengingat semua ini. Saya merasa beruntung sudah membaca Gone with the Wind sewaktu saya masih kuliah. Hari ini saya sudah tidak puya stamina lagi untuk melahap buku setebal itu. Boleh jadi gemar membaca saya terbina karena saya bebas memilih cerita-cerita yang saya sukai.

Bagaimana minat baca di tanah air tercinta hari ini? Harus diakui, dengan tersedianya begitu banyak buku dengan aneka ragam topiknya, telah merobah seluruh tatanan budaya baca-membaca tempo doeloe. Toko-toko buku besar dan kecil bertebaran di seluruh penjuru kota besar dan kecil. Ketersediaan bahan bacaan sangat memudahkan orang. Saya senang melihat anak-anak balita sampai usia belasan tahun, di kala liburan 'menyerbu' toko-toko buku, duduk di lantai sambil asyik membaca buku-buku yang notabene seharusnya dibeli. Salut kepada pemilik dan pengelola toko buku yang tentu saja tau bahwa banyak buku akan menjadi lusuh karenanya, tetapi toh membiarkan itu terus berlangsung secara damai. Tentu saja ini suatu sumbangsih bagi pembinaan gemar membaca.

Saya sempat mengamati munculnya taman dan rumah baca kecil-kecil tumbuh di mana-mana. Perpustakaan kecil ini memasang spanduk depan rumahnya yang sederhana berbunyi seperti: "Rumah Baca – tersedia komik, buku dan majalah". Ada pula 'mobil baca' yang keluyuran ke tempat-tempat tinggal para penggemarnya. Hadir pula perpustakaan yang menyediakan fasilitas sewa serta jual-beli buku bekas. Kemudian mulailah era munculnya rumah baca dengan warung kopinya, dari yang sederhana sampai yang mewah. Suburnya pertumbuhan aneka tempat baca menandakan masyarakat kita mulai gemar membaca.

Apakah betul di seluruh penjuru tanah air sudah seperti itu keadaannya. Sayangnya masih belum. Di daerah-daerah terpencil tentu saja masih sangat terbelakang keadaannya. Namun saya yakin, dengan pertumbuhan perekonomian dan pendidikan, pada waktunya akan subur pula pertumbuhan minat bacanya.

Dua inovasi terbesar abad yang lalu, menurut saya adalah: Telepon Selular dan Internet. Dua penemuan teknologi ini telah membawa dampak amat besar di bidang komunikasi dan kehidupan manusia. Terkait dengan budaya membaca, hari ini Internet menyediakan informasi luar biasa, baik keaneka-ragamannya, maupun besarannya. Apa saja dapat diperoleh melalui Internet. Ribuan judul buku dapat diperoleh resensinya dan kemudian dibeli. Ribuan majalah dapat diakses. Bahkan di salah satu website eBook, tersedia secara gratis untuk di-download buku-buku klasik seperti Tom Sawyer, Wuthering Heights dsb. Hari ini, adalah 'sorga' bagi penggemar membaca buku.

Sebagai perbandingan dapat diceritakan di sini bagaimana budaya gemar membaca di negara-negara lain. Di Toronto ada toko buku yang meng-claim dirinya sebagai The Biggest Book Store in the World. Juga di Toronto dan kota-kota lain, di dalam toko buku sudah menjadi pemandangan biasa kalau ada cafe atau coffee-shopnya. Di dalam Indigo Bookstore yang banyak cabangnya, ada Starbuck’s Coffee. Begitu pula di Amerika Serikat, Border’s atau Barnes  & Noble, mengijinkan orang boleh mengambil buku, membacanya sambil minum, mengembalikannya tanpa membeli bukunya. Buku tidak perlu dikembalikan ke raknya, tinggalkan saja di tempat anda membaca dan akan ada petugas nanti yang membereskannya. Petugas seperti ini juga terdapat di dalam perpustakaan-perpustakaan ( Nara sumber: Anwari Arnowo dan Suzy Wallace). Tahun lalu sewaktu berkunjung ke Amerika Serikat, saya pun sempat melongok beberapa perpustakaan di Charlotte , NC maupun Minneapolis , MN . Namun yang paling  berkesan adalah pengalaman saya diijinkan mengintip The New York Public Library – salah satu perpustakaan terbesar di dunia dengan koleksi yang aduhai. Di situ juga ada bagian yang dinamakan Digital Gallery. Waduh, luar biasa.

Tahun 2007, tepat enampuluh tahun kemudian, saya berbahagia menyaksikan cucu semata wayang saya, 6 tahun, berkat perhatian dan bimbingan orangtuanya ia telah mengikuti tapak-tilas kakeknya. Gemar membaca.

Mari kita bersama bina kawula muda berbudaya gemar membaca – demi majunya Bangsa dan Negara kita.

Iklan